Ketika membuka matanya, Jian Lushi mendapati dirinya berada di hutan belantara, seorang diri.
Ternyata jiwanya bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis petani malang, yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan dirinya.
Setelah berhasil memutuskan hubungan dengan keluarga pemilik asli, Lushi bepergian jauh untuk memulai hidup baru.
Hingga akhirnya Lushi bertemu dengan seorang duda, yang terus memaksa ingin menikahinya.
"Jadilah ibu dari anak-anakku."
"Ayo menikah."
"Mulai sekarang, aku kekasihmu."
Mohon dukungannya... (dalam proses revisi)
Terimakasih...🫶🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah_sakabian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tamu tak Diundang
...----------------...
Di desa.
Semenjak kepergian Lushi, gadis yang di anggap beban dan tidak di sukai seluruh anggota keluarga Jian. Kehidupan keluarga Jian tetap sama saja, tidak mengalami berubah menjadi lebih baik. Bahkan setiap hari selalu ada masalah, adu mulut, dan cekcok di keluarga itu.
Lumiao yang dulunya selalu di manjakan, kini harus mulai belajar mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ibu... Sampai kapan? Dan kemana lagi kita harus mencari gadis mati itu? Sudah tiga bulan lebih kita mencarinya, tapi tidak pernah menemukan petunjuk apapun." keluh Lumiao.
Saat ini dia tengah membantu mencuci pakaian bersama Bu Jian. Meskipun asal-asalan, yang penting dia sudah berusaha seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu.
"Mana ibu tau." jawab Bu Jian sambil mendengus tidak senang.
"Kalau ibu tau, ibu sudah membawanya (uangnya) kembali sejak awal." imbuh Bu Jian.
Awalnya, hampir setiap hari selama seminggu, mereka mendatangi kota kabupaten untuk mencari Lushi. Tapi pencarian mereka tidak membuahkan hasil apapun.
Setelah itu mereka melakukan pencarian tiap akhir pekan. Dan akhir-akhir ini hanya Lusan yang ke kabupaten, untuk mencari Lushi. Namun tetap saja tidak menemukan jejak persembunyian Lushi.
"Apa mungkin gadis mati itu, benar-benar sudah mati akibat di siksa majikannya?" tanya Lumiao sekaligus memberikan tebakan yang memungkinkan.
"Akan lebih baik, jika tebakan itu benar." gumam Bu Jian pelan. Sebenarnya dia juga mengharapkan hal seperti itu benar-benar terjadi.
Tapi jika dia ingat dengan benar. Gadis mati itu tidak bisa mati dengan semudah itu. Karena sewaktu gadis itu masih kecil, dia pernah beberapa kali ingin melenyapkan Lushi. Tapi anehnya gadis itu tidak pernah bisa mati, ada saja sesuatu yang membuat gadis itu selamat.
"Jika gadis mati itu belum mati. Kemungkinan besar dia tidak lagi ada di kabupaten." ucap Bu Jian setelah berpikir keras.
Lumiao yang mendengar perkataan ibunya, langsung memikirkan sesuatu.
"Bu. Maksud ibu, gadis mati itu pergi ke kota lain?" tanya Lumiao bersemangat.
"Apa kita perlu mencari ke kota lain?" imbuhnya lagi dengan mata berbinar.
Bukankah itu suatu kebetulan dan keberuntungan. Jika harus mencari gadis itu ke kota lain, dia akan menjadi orang pertama yang mengajukan diri. Karena dari dulu, dia sangat ingin bisa bepergian ke kota-kota besar lainnya.
"Ibu bisa mengandalkanku. Sedari kecil aku sudah berani dan pintar. Aku tidak takut bepergian jauh, dan tidak malu bertemu banyak orang." ucap Lumiao membanggakan dirinya.
"Meskipun kau pintar dan berani, tetap saja kau seorang gadis. Mana boleh pergi jauh sendirian." ucapan Bu Jian langsung membuat Lumiao cemberut.
"Jika harus pergi jauh, itu harus kakak laki-lakimu. Atau, ibu sendiri yang akan pergi untuk menemukannya." lanjut Bu Jian tanpa mengalihkan tatapannya dari ember cucian.
Jadi tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi, dan semengerikan apa mata wanita itu.
Setelah mendengar kelanjutan ucapan ibunya, mata Lumiao menunjukan sedikit harapan.
Bukankah jika ibu yang pergi, dia juga bisa mengikuti ibunya. Benar, mulai sekarang dia harus lebih bisa menyenangkan hati ibunya. Agar ketika saatnya tiba, ibunya tidak bisa menolak keinginannya.
Memikirkan ini, Lumiao menjadi semakin bersemangat. Sambil tersenyum, tangannya mulai bergerak teratur untuk mengucek pakaian.
Kembali ke ibu kota.
Sore itu nyonya Luo membawa putra keduanya, untuk mengunjungi rumah Lushi.
Dia ingin membuka lebar-lebar mata putranya. Serta menyadarkan otak putranya, yang baru berfungsi seperempatnya itu. Betapa nyaman dan damainya, jika dia bisa menikah dan menempati rumah Lushi.
"Ming'er, cepat pakai baju yang sudah ibu pilihkan." titah nyonya Luo. Pada putra keduanya yang baru selesai mandi, setelah benar-benar bangun dari tidurnya dan makan siang.
"Sisir rambutmu yang rapih. Jangan meninggalkan kesan awut-awutan dan tidak terawat. Atau gadis Jian tidak akan pernah melirikmu." imbuh nyonya Luo. Karena putra keduanya biasanya malas menyisir rambut.
"Tsk. Ibu ini, kenapa cerewet sekali. Aku tidak jadi pergi saja kalau begitu." Ming er mendesis tidak suka.
Sedari tadi, bahkan semenjak mengenal gadis Jian itu, ibunya yang sudah cerewet menjadi semakin banyak bicara. Yang di bicarakan selalu tentang gadis Jian, gadis Jian, dan gadis Jian.
Memangnya kenapa kalau dia sedikit malas dan sedikit berantakan? Bukankah pria semakin terlihat keren, jika sedikit berantakan seperti ini. Pacar-pacarnya saja suka dengan penampilannya yang seperti ini. Pasti gadis Jian Jian itu juga akan langsung bertekuk lutut padanya.
"Tidak, tidak ada. Kita harus pergi sekarang juga." nyonya Luo sudah mulai menaikan nada bicaranya.
Hanya di suruh menyisir rambut agar terlihat rapi, kenapa malah ngambek.
Akhirnya dengan dorongan dan paksaan dari nyonya Luo, ibu dan anak itu sampai juga di depan gerbang rumah Lushi.
"Lihat. Jika kau bisa menikah dengan gadis Jian, kau akan tinggal di rumah ini. Bahkan bisa menjadi milikmu." bisik nyonya Luo pada putranya.
Pemuda yang di panggil Ming'er itu, memandangi gerbang rumah di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. Ada sedikit keinginan, tapi juga ada keengganan yang tak terlukiskan.
"Ayo ketuk pintunya," perintah nyonya Luo, sambil mendorong bahu putranya.
Tok tok tok
"Gadis Jian, apa kau ada di rumah? Ini bibi Luo yang datang." teriak nyonya Luo setelah putranya mengetuk pintu gerbang.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu gerbang terbuka dari dalam.
Ketika pintu terbuka, Lushi melihat nyonya Luo yang sudah siap dengan senyum menyanjungnya. Sedangkan di belakang nyonya Luo, ada pemuda yang menatapnya dengan tatapan yang membuat Lushi tidak nyaman.
...----------------...
perasaan baru baca bentar tau2 dah selesai aj nih chapter /Sob/
nak mau lagi /Whimper/