Laura adalah seorang wanita karir yang menjomblo selama 28 tahun. Laura sungguh lelah dengan kehidupannya yang membosankan. Hingga suatu ketika saat dia sedang lembur, badai menerpa kotanya dan dia harus tewas karena tersengat listrik komputer.
Laura fikir itu adalah mimpi. Namun, ini kenyataan. Jiwanya terlempar pada novel romasa dewasa yang sedang bomming di kantornya. Dia menyadarinya, setelah melihat Antagonis mesum yang merupakan Pangeran Iblis dari novel itu.
"Sialan.... apa yang harus ku lakukan???"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELFY EL NUX
Mendengar namanya di panggil, Adler menoleh ke belakang. Mulut Adler terbuka lebar, saat melihat Kekasihnya, diangkut oleh dua Iblis berbadan besar.
"Edith.... kenapa kau selalu sial?" Adler sudah tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menatap Edith yang dibawa kereta kuda melewatinya.
"HUAAAAA.....ADLEERRRR....." Edith meraih-raih Adler yang dilewati oleh kereta kuda yang mengangkutnya.
Adler mulai berlari mengejar kereta kuda itu. Dia melihat seseorang berambut perak dengan mata abu-abu di dalam sana. "Louis? Bukan! Dia bukan manusia!"
"TUAN!!!" Adler melompat-lompat agar terlihat dari jendela kereta kuda itu.
Beruntung baginya, karena pemuda itu merespon panggilan Adler. "Hentikan kereta kudanya" Ucap Pemuda itu pada salah satu Pengawal di sebelahnya.
Kereta kuda itu melambat dan berhenti. Napas Adler terlihat dengan jelas jika dia terengah-engah. Adler membungkuk dihadapan pria itu saat pria itu turun dari kereta kudanya.
"Hei! Itu....Itu Pangeran Elfy!" Suara sorakan terdengar dari arah belakang Adler.
"Pangeran Elfy?" Adler tau tentang nama itu.
Nama sosok Iblis berdarah Elf yang ditakuti oleh seluruh wilayah Manusia. Nama yang digadang-gadang sebagai mesin pembunuh medan perang. Elfy El Nux, Pangeran ketujuh yang membunuh seluruh pesaingnya untuk menjadi pewaris Kerajaan Iblis.
Adler mendonggakkan kepalanya menatap wajah Pemuda berambut perak itu.
Telinga yang runcing menjadi pertanda yang paling jelas jika dia bukan manusia. Bulu matanya yang lentik, menunjukkan betapa cantik wajahnya. Hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas, menggambarkan betapa sempurnanya wajah dari keturunan terakhir bangsa Elf yang tersisa.
SYUNGGGGGG!
Gejolak mana antara Adler dan Elfy bertabrakan, itu membuat siapapun yang memiliki kepekaan terhadap mana bisa merasakannya dengan jelas. Putra Count, si Pembuat Onar itu satu-satunya yang memiliki kepekaan tinggi terhadap mana. Dia bergidik, merasakan atmosfer di sekitarnya berubah. "Apa yang terjadi?" Putra tertua Count itu mengintip ke arah keramaian yang tak jauh darinya.
Elfy merasakan ancaman dari Adler. Begitupun Adler, dia merasakan ancaman dari keberadaan Elfy. Mereka berdua adalah musuh alami yang tidak bisa dibantah. Naluria mereka mengatakan, untuk segera membiasakan sosok di hadapannya.
Seringaian muncul perlahan dari wajah Elfy "Kau..."
"HUAH! ADLERRR! TOLONG AKUUU!" Edith tiba-tiba menyela. Dia muncul dari jendela dengan wajah konyolnya.
Adler tidak bisa berkata-kata melihat wajah Edith yang mengenaskan dibalik jendela itu. Adler meletakkan telapak tangan kanannya di depan dada kirinya. "Tuan, maafkan saya. Dia adalah kekasih saya, bisakah Anda melepaskannya?" Adler menundukkan pandangannya.
Dia tidak ingin mengambil resiko besar karena akan berdampak buruk pada Edith. Terlebih lagi, saat ini banyak orang yang sedang melihatnya.
Elfy menoleh ke arah Edith. "Oh, jadi Healer itu sudah diimprint? Kenapa dia terlihat sebebas itu?" Batin Elfy membelakangkan rambut peraknya yang sedikit panjang.
Elfy melepaskan pheromon miliknya dan itu cukup membuat Adler tersentak. Mengeluarkan pheromon dengan tiba-tiba seperti itu, tidak lebih dari sekedar ancaman. Dahi Adler sudah berkerut. "Lepaskan dia" Ucap Elfy menunggu reaksi Edith.
Edith mencium aroma yang segar dan sejuk dari arah Elfy. "Apa dia pakai parfum yang mirip dengan Adler? Seperti aroma rosemary? Atau pinus ya, tapi keknya.... enakan parfumnya Adler?" Edith menoleh dan menunjukkan raut bingungnya, karena mencoba mendefinisikan aroma itu.
Enfy tersenyum pada Edith. Edith langsung memalingkan wajahnya karena terpesona dengan wajah dan tampan serta cantik itu.
Edith turun dari kereta kuda sambil membungkukkan punggungnya dan merangkul Adler sambil membungkuk disebelahnya.
Elfy sadar jika Edith belum diimprint oleh Adler. "Mengklaimnya, belum tentu memilikinya. Kita pasti akan bertemu lagi nona" Elfy melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam kereta kuda.
"Apa maksudnya itu?" tanya Edith atas ucapan Elfy pada Adler. Ucapan Elfy tidak ditujukan pada Edith. Ucapan itu, ditujukan pada Adler. Adler yang paham dengan ucapan itu menjadi kesal.
Dia kembali berdiri tegak di sebelah Edith dan menunjukkan raut khawatirnya pada Edith. Ini pertama kalinya bagi Edith melihat alis Adler yang turun seperti itu. "Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Edith memegang kedua pipi Adler.
Adler memeluk Edith dengan tiba-tiba. "Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku masih belum siap dengan segalanya" Ucap Adler.
Putra Pertama Count itu mendengar ucapan Elfy dengan jelas. Dia menutup hidungnya karena tidak kuat dengan aroma dominan yang membuatnya tercekik. "Bukankah ini seru? Aku penasaran apa yang akan terjadi jika Pangeran Elfy sudah seperti itu. Apa akan ada pembantaian lagi?" Putra tertua Count itu, kini memiliki tujuan baru. Dia akan mengikuti kemana Adler dan Edith pergi.
...♥︎♡♥︎...
Perasaan Adler jadi berantakan. Dia malas untuk berjalan. Dia meminta Edith untuk istirahat dan makan siang dulu. Di tambah, hujan turun dengan lebat saat mereka baru keluar dari tempat makan siang. Pakaian Adler sudah basah sebagian.
Adler melirik ke arah Edith yang mengulurkan telapak tangannya ke arah hujan. Telapak tangan Edith terlihat basah. Adler hanya bisa menikmati suasana itu dengan keadaan hati yang buruk.
"Air hujannya tidak berbeda. Sungguh sama" Di sisi lain, Edith takjub dengan hujan yang terjadi di dunia ini.
"Kenapa berbicara seperti itu?" Tanya Adler ikut menengadahkan tangannya pada hujan.
Entah sudah berapa lama Adler tidak merasakan sensasi air hujan yang jatuh ditelapak tangannya langsung. "Seperti ini, rasanya rintikan hujan? Apa kau menyukainya?" Selama ini, kedua tangan Adler selalu bersarung tangan. Dia menoleh ke arah Edith.
Edith menunjukkan senyuman manisnya yang membuat hati Adler menjadi lemah. Jantungnya kembali berdebar. "Kenapa dadaku seperti ini saat melihatnya? Apa ini karena sihir Iblis yang ku serap? Mungkin, ini efek sampingnya?" Adler memegang dada kirinya.
Edith melihat Adler yang meremas pakaiannya sendiri. "Kenapa? Dingin?" Tanya Edith mengulurkan kedua tangannya.
Adler menatap kedua tangan kecil itu, kemudian menoleh ke arah Edith. "Iya" Jawab Adler memberikan kedua tangannya pada Edith.
Edith mengenggam kedua tangan Adler yang lebih besar darinya. Dia tersenyum kaku. "Ini tidak bisa. Begini saja..." Edith menyatukan kedua tangan Adler kemudian mengosok-gosoknya.
Itu terlihat lucu di mata Adler. Adler terkekeh ringan. "Astaga,.... apa benar begini caranya menghangatkan tangan seseorang yang kedinginan?" Tanya Adler merentangkan kedua lengannya dan membekap Edith. "Nah, ini lebih baik" Ucap Adler memberikan senyuman sombongnya dan memejamkan matanya mencium aroma Edith yang lembut saat bercampur dengan aroma lembab hujan yang khas.
"Hais.... itu karena tanganmu aja yang kegedean!" Ucap Edith mengosok kedua tangannya.
Adler merilekskan tubuhnya, dia menyandarkan dagunya di kepala Edith. "Edith...." Panggil Adler dengan lirih.
"Kenapa?"
"Apa kau sungguh mau bersamaku?" Tanya Adler sembari memegang kedua tangan Edith. Edith menatap tangan yang lebih besar dari telapaknya itu.
"Apa ini yang kau khawatirkan Adler?" Edith mendongakkan kepalanya untuk melihat Adler.
Adler menatap Edith. "Ya" Jawab Adler.
"Kau sudah menyelamatkanku. Aku tidak mengenal dunia ini dengan baik. Kau satu-satunya harapan bagiku bisa hidup dan mengubah takdirku...."