Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.
Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.
Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Lagi-lagi Shafira menoleh dan tersenyum, kemudian ia mengangguk. Ia tidak bohong, dahulu ia memang menyukai Erick dan menjaga pernikahannya demi wasiat ibunya. Namun, akhirnya ia bisa berpikir jernih, karena jika tidak bahagia dalam pernikahannya, maka keinginan ibunya pun sia-sia.
“Aku sudah mencintainya sejak pertama kali melihatnya di rumah sakit waktu itu, makanya aku setuju menikahinya sebagai perdamaian! Walaupun, Erick sudah membunuh kedua orang tuaku, dan ia tidak dimasukkan ke dalam penjara, semua karena pernikahan itu!” ucapan Shafira sebagai sindiran sekaligus jawaban telak yang menyudutkan Wulan.
Seharusnya Wulan sadar dengan keadaannya, yang menikah hanya karena cinta lama, padahal cinta seseorang bisa berubah kapan saja. Namun, hutang keluarga Erick kepada Shafira tidak terhitung. Bahkan, seharusnya membalasnya dengan nyawa. Semua yang dilakukan Wulan tidak ada apa-apanya. Sungguh, perbuatan Erick, dan mamanya di masa lalu benar-benar salah.
“Oh, ya, Shafira! Aku juga mencintai Erick sudah sejak lama juga ... jauh lebih lama dari kamu!”
“Lalu?”
“Eum ... Bagaimana kalau mulai sekarang kita baikan dan bekerja sama seperti perintah Erick pada kita?”
“Kerja sama seperti apa yang kamu inginkan? Apa kita akan sama-sama membagi tugas rumah tangga atau sama-sama membagi tugas melayani dan membahagiakan Erick? Apa kamu bisa menjamin tidak akan cemburu kalau aku bersikap mesra? Jujur saja kalau aku, sudah terbiasa melihat kemesraan mu dengan Erick!”
Lagi-lagi Shafira mengucapkan semua kenyataan dengan tegas, membuat Wulan kembali tersudut. Bener apa yang dikatakan Shafira kalau Wulan tidak bisa menjamin tidak cemburu bila Erick bersikap mesra kepada Shafira.
“Ingat Wulan, kita akan tinggal dalam satu rumah ... apa yang aku lakukan kepada Erick tentu kamu bisa melihatnya kapan saja, tapi aku sudah terbiasa melihat apa yang dilakukan Erick padamu selama ini! Jadi, aku pikir kamu tidak akan kuat! Apa kamu yakin bisa bertahan?”
Wulan terlihat semakin gelisah, seolah-olah sikap arogannya menghilang, “Lalu, bagaimana menurutmu apakah salah satu diantara kita harus bercerai?”
“Boleh saja, tapi ... siapa yang akan mengajukan perceraian, kamu atau aku?” pertanyaan Shafira kembali menyudutkan Wulan.
“Shafira ...! Kumohon, kamu jangan memperlihatkan kemesraan di depanku, bagaimana? Aku sangat mencintai Erick dan tidak akan bercerai darinya!”
“jadi, cuma kamu yang boleh memperlihatkan kemesraan di rumah ini? Apa itu adil? Seharusnya kalau kamu mencintai Erick, maka kamu harus bersabar!” Shafira berkata dengan kesal, ia hampir saja meninggalkan Wulan pergi.
“Bukankah kamu bilang sudah terbiasa melihat kemesraanku dengan Erick?” kata Wulan, membuat Shafira membatalkan langkahnya, “Lalu kenapa kamu keberatan?”
Shafira berdecak keras, lalu ia berkata, “Wulan! Kamu juga harus ingat bahwa dulu, Erick bersikap seperti itu karena ingin menceraikan ku, tetapi pada kenyataannya sekarang tidak! Jadi, kalau kamu memintaku untuk tidak bersikap mesra dengannya itu salah!”
“Dari mana kamu tahu kalau Erick ingin bercerai darimu dengan cara seperti itu?”
“Oh, ayolah! Jangan mengira aku tidak tahu apa-apa soal kalian semua! Dasar munafik!”
“Shafira!”
“Ya! Aku tawarkan sesuatu yang layak untuk kamu pertimbangan!”
Setelah itu, Shafira menyatakan mau bekerja sama dengan Wulan, asalkan Wulan mau menjadi seseorang yang tertindas hingga Erick menilainya sebagai wanita kasar. Tentu Erick tidak akan mempertahankan pernikahan dengan Shafira yang berubah jahat.
Wulan menerima tawaran itu dengan senang hati dan ia bersedia seandainya Shafira berbuat kasar padanya agar Erick menilainya sebagai wanita yang buruk.
Shafira menyeringai puas, ketika ia mendapati Wulan begitu mudahnya diajak bekerja sama. Selain cara untuk mempermudah perceraiannya, di lain sisi ia bisa sekaligus membalas dendam pada Wulan atas kematian calon bayinya.
Ia tidak peduli apakah Erick sudah tidur atau belum sebab pria itu tidak turun lagi setelah pergi makan malam tadi. Lagipula, ia ingin tidur sendiri.
Setelah itu Shafira pergi ke kamar dan ia memilih untuk kembali merebahkan diri. Sekarang sudah larut malam untuk menelepon Riyan atau Ardan. Ia merasa tidak pantas bila menghubungi laki-laki, karena ia masih berstatus sebagai seorang istri.
Keesokan harinya barulah ia mengirim pesan kepada Riyan dan juga Ardan. Apabila mereka sudah menemukan seorang pengacara yang cocok, maka ia siap bertemu di tempat yang mereka janjikan.
Shafira begitu senang karena pesannya pada Ardan, terbalas dengan cepat dan secara langsung merekomendasikan seorang pengacara yang bagus.
Namun, begitu pesan Shafira terbaca oleh Riyan, laki-laki itu langsung menghubunginya.
“Hai! Shafira gimana kabarmu, apa sudah benar-benar baikan?” katanya begitu teleponnya tersambung.
“Aku baik! Jangan kuatir! Oh, ya! Siapa pengacara itu?” tanya Shafira saat Riyan langsung menghubunginya.
“Ah, kamu ini kenapa buru-buru? Tapi baiklah! Aku merekomendasikan Essan, dia temanku juga, aku akan mengirimkan nomor teleponnya, biar kamu bisa menghubungi kalau mau membuat janji!”
Ternyata, dua laki-laki itu mengakui jika pengacara yang direkomendasikan kepadanya itu adalah teman mereka. Mereka menyebutkan nama yang sama.
“Baiklah, terima kasih!”
Shafira tersenyum, setelah menutup telepon. Ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia keluar kamar dan mencium bau masakan yang berasal dari dapur. Ia mendapati Wulan tengah sibuk di sana. Wanita itu sedang menggoreng sesuatu.
Shafira sempat tercengang melihat pemandangan langka itu, ternyata Wulan bisa melakukannya dengan baik. Tanpa sepengetahuan Shafira dan Erick, Wulan sudah belajar memasak begitu keras, saat Shafira di rawat selama beberapa hari di rumah sakit.
“Apa makananku sudah siap? Aku akan pergi hari ini, aku ingin kamu menyiapkan semua keperluanku! Sepertinya sepatuku juga kotor, sudah lama tidak pernah kupakai. Apa kamu bisa mencucinya, Wulan?” kata shafira dengan bersuara cukup keras di samping madunya yang tengah menggoreng telur.
Wulan menoleh dengan kesal ia merasa diperalat oleh Shafira, sama seperti yang dilakukan dirinya dulu kepadanya. Namun, ia tersenyum dengan terpaksa, semua ini ia lakukan demi mempertahankan pernikahannya.
“Baiklah, aku akan membersihkan sepatumu ... dan sebentar lagi makananmu akan siap, kamu bisa menunggu di meja makan saja!” katanya ramah.
“Oke!” kata Shafira sambil tersenyum puas, ia kemudian duduk di meja makan menunggu makanannya, sambil memainkan ponsel.
Pada saat itu, Erick turun sambil membenarkan dasinya. Melihat laki-laki itu kerepotan, Shafira tersenyum dan mendekatinya. Ia membantu Erick merapikan dasi laki-laki itu, lalu, ia menepuk bahunya lembut sambil berkata dengan suara yang lembut juga.
“Erick, kau tampan sekali ... aku tidak salah dulu jatuh cinta padamu!” Shafira berkata, sambil melirik Wulan yang tengah menyiapkan sarapannya di meja makan.
“Aku tahu kamu menyukaiku, karena itu kamu tidak menolaknya waktu Ibuku memintamu untuk menikahi ku ya kan?” sahut Erick.
“Kamu benar sekali Sayang!” kata Shafira sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Erick, lalu mencium bibirnya. Lagi-lagi ia melakukannya sambil melirik Wulan yang kini tengah menarik salah satu kursi dan ia duduk di sana, dengan wajahnya yang pucat.
Dalam hati Shafira tersenyum, Ia tidak menyangka ternyata senikmat ini balas dendam yang dilakukan kepada madunya. Namun, itu saja sudah cukup terlihat siapa pemenangnya. Ia bukanlah wanita jahat seperti yang dilakukan Wulan serta ibu mertuanya.
“Kamu terlihat rapi hari ini, apa kamu mau pergi?” tanya Erick pada Shafira yang terlihat sangat cantik dengan riasan wajah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Ya, aku mau jalan-jalan sebentar, aku sudah lama nggak pergi ke mall buat beli baju, sekarang aku sudah kuat melakukannya sendirian!”
“Aku akan menemanimu!” kata Erick sambil mengeluarkan kartu debit yang sama seperti yang diberikannya pada Wulan.
Wulan melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya itu, tapi ia menahan diri demi gengsi. Tiba-tiba Shafira berjalan mendekatinya dan saat ia sedang minum, wanita itu menabrak kursinya. Gelas air minum terlempar hingga pecah dan airnya mengenai baju Wulan hingga basah.
“Ahk!” pekik Wulan langsung berdiri dan melihat pada pakaiannya yang basah.
“Shafira! Kamu sengaja melakukannya, kan? Apa kamu kurang puas? Aku sudah cape dari pagi menyiapkan sarapan untuk kalian, tapi ini balasanmu?” kata Wulan panik.
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
syabas kak thor