Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Swari menundukkan.kepalanya saat melihat Pria yang enam tahun lalu membawanya pergi ke Kanada dan kini duduk di hadapannya sebagai pemegang nasib proyek besar kakaknya.
Baskara Mata tajamnya justru berkilat, seolah ia sudah tahu bahwa mangsa yang ia cari selama enam tahun ini akhirnya masuk ke dalam sarangnya.
"Silakan duduk, Tuan Navy. Kita bisa mulai sekarang," suara Baskara terdengar berat dan penuh otoritas, memecah keheningan yang mencekam bagi Swari.
Navy mengangguk dan mempersilakan Swari untuk berdiri di depan layar proyektor.
Dengan tangan yang sedikit gemetar di bawah meja, Swari berusaha sekuat tenaga mempertahankan profesionalismenya.
Ia menarik napas dalam, mencoba fokus pada data dan sketsa di hadapannya.
"Selamat pagi. Untuk proyek Grand Mahameru, konsep yang saya tawarkan adalah Zen-Modernism,"
Swari memulai penjelasannya dengan suara yang awalnya bergetar perlahan menjadi stabil dan penuh keyakinan saat ia mulai masuk ke zona keahliannya.
Ia membedah detail interior, pemilihan material, hingga pencahayaan yang akan memberikan kesan mewah namun tetap menenangkan.
Selama presentasi, mata Baskara tidak sedetik pun lepas dari wajah Swari.
Bukan pada layar proyektor, melainkan pada bibir Swari yang bergerak dan binar kecerdasan di matanya yang dulu penuh ketakutan.
Setelah Swari selesai melaksanakan presentasi, tiba-tiba ruangan hening sejenak.
Baskara perlahan menutup map di depannya, lalu bangkit dari duduknya.
Ia berjalan perlahan mengitari meja, langkah sepatunya yang mahal terdengar begitu dominan di ruangan yang sunyi itu.
"Penjelasan yang menarik, Nona Swari," ucap Baskara sambil berhenti tepat di samping Swari. Hawa dingin dari tubuh pria itu seolah merambat ke kulit Swari.
"Tapi saya punya standar yang sangat spesifik untuk BSG."
Baskara menoleh ke arah Navy yang tampak menunggu reaksi sang investor.
"Tuan Navy, desain ini sangat mendetail. Agar tidak ada distorsi komunikasi selama eksekusi proyek. Lebih baik jika Konsultan Swari berada di bawah pengawasan langsung tim saya. Mulai hari ini, Swari akan berkantor di gedung perusahaan saya sampai proyek ini selesai."
Tanpa peringatan, Baskara langsung menggenggam erat pergelangan tangan Swari.
Sentuhan itu membuat Swari tersentak, memori malam di pesawat kembali menghantamnya.
"Maaf, Tuan Baskara," Navy berdiri dengan wajah mengeras, aura protektifnya bangkit.
"Meskipun Anda adalah investor utama, saya tidak menjual orang. Swari adalah adik saya dan karyawan tetap di sini. Segala koordinasi bisa dilakukan melalui meeting rutin."
Baskara menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak mencapai matanya.
Ia menatap Navy dengan tatapan yang merendahkan.
"Tuan Navy, mari kita bicara realistis. Apakah Anda ingin perusahaan Anda bangkrut hanya karena satu ego kecil? Saya bisa menarik seluruh dana BSG dalam satu jentikan jari."
Suasana diruang meeting langsung panas dan Navy tampak siap meledak saat itu juga.
Swari bisa melihat keringat dingin di pelipis kakaknya.
Ia tahu posisi Navy sulit; nasib ratusan karyawan bergantung pada proyek ini.
"Pak Navy, tidak apa-apa. Biar saya ikut," potong Swari tiba-tiba.
Ia menatap Navy, memberikan kode agar kakaknya tidak menghancurkan segalanya.
"Swari, tapi—"
"Aku akan baik-baik saja, Pak. Ini hanya pekerjaan," ucap Swari yang ingin meredakan emosi kakak iparnya.
Baskara tidak menunggu jawaban Navy lebih lanjut.
Ia langsung menarik tangan Swari dengan paksa menuju pintu keluar.
Swari sempat menyambar tasnya yang tergeletak di meja dengan tangan satunya yang bebas.
Baskara menyeretnya keluar dari ruang meeting, melewati koridor kantor yang penuh dengan tatapan bingung para karyawan.
Swari hanya bisa menunduk, menahan malu sekaligus takut.
Begitu sampai di lobi lantai tiga, Baskara mendorong menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka dan ia berjalan mendekati Swari yang menundukkan kepalanya.
"Enam tahun, Swari. Kamu pikir kamu bisa lari dariku selamanya?" bisik Baskara sambil mendekat, memojokkan Swari ke dinding lift.
Ting!
Pintu lift terbuka dengan denting yang nyaring.
Baskara tidak memberikan kesempatan bagi Swari untuk bernapas, apalagi bernegosiasi. D
engan cengkeraman yang masih kokoh di pergelangan tangannya, ia menuntun Swari keluar menuju lobi utama di mana mobil Rolls-Royce hitam miliknya sudah menunggu di depan pintu kaca.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri," desis Swari saat mereka sampai di samping mobil.
Baskara tidak menyahut, ia membukakan pintu belakan
"Masuk, atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih memalukan di depan umum. Swari menghela napas panjang dan masuk ke dalam jok kulit yang dingin itu.
"Tuan Baskara, saya bisa naik taksi ke kantor Anda. Saya tahu alamatnya," ucap Swari tegas begitu Baskara duduk di sampingnya.
Baskara melonggarkan dasinya, gerakannya tenang namun berbahaya.
"Kamu sudah pernah melarikan diri sekali di Toronto, Swari. Aku tidak akan membiarkan ada lubang kedua dalam rencanaku."
Ia kemudian menoleh ke arah kaca spion tengah.
"Gandi, ke perusahaan sekarang."
"Baik, Tuan," sahut Gandi patuh.
Mobil itu meluncur halus membelah kemacetan Jakarta.
Di dalam mobil, keheningan terasa sangat mencekik.
Swari menggenggam erat tas kerjanya di atas pangkuan, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung antara dirinya dan pria di sampingnya.
Ia bisa merasakan tatapan Baskara yang intens menyisir profil wajahnya dari samping.
"Kamu banyak berubah, Swari. Rambutmu, caramu bicara dan sorot matamu. Kamu bukan lagi wanita yang ingin melompat ke sungai itu."
Swari menoleh, memberanikan diri menatap mata elang itu.
"Waktu mengubah segalanya, Tuan Baskara. Dan trauma memiliki caranya sendiri untuk membentuk seseorang menjadi lebih keras."
"Termasuk caramu mencuri uang dariku dan menghilang begitu saja di Kanada?"
"Itu bukan mencuri. Itu adalah biaya 'penyelamatan' paksa yang Anda lakukan. Saya hanya mengambil apa yang saya butuhkan untuk bertahan hidup setelah Anda menculik saya ke negeri asing," balas Swari tanpa gentar.
Baskara terdiam sejenak. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya saat melihat keberanian Swari.
Wanita ini jauh lebih menarik daripada bayangannya selama enam tahun ini. Namun, sebuah pikiran melintas di benaknya tentang pencarian Gandi tentang "bendera putih" dan rumah dengan aroma melati.
"Swari, kenapa malam itu kamu ingin mati?" tanya Baskara tiba-tiba, suaranya merendah.
Jantung Swari mencelos. Bayangan wajah mendiang Pradutha dan malam terkutuk itu kembali melintas. Ia tidak mungkin memberi tahu Baskara tentang pemerkosaan itu.
"Itu bukan urusan Anda," jawab Swari dingin sambil membuang muka ke arah jendela.
Tak lama, mobil memasuki pelataran gedung pencakar langit dengan logo raksasa BSG.
Gedung ini adalah simbol kekuasaan Baskara. Swari merasa seperti domba yang masuk ke kandang singa.
Begitu turun, Baskara tidak lagi menyeretnya, namun ia berjalan sangat dekat di belakang Swari, seolah memastikan tidak ada celah bagi wanita itu untuk berbelok arah.
Mereka naik ke lantai paling atas, area eksekutif yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.
"Gandi, siapkan meja kerja untuk Nona Swari di dalam ruanganku. Pasang partisi kaca jika dia butuh privasi, tapi pastikan dia tetap dalam jangkauan pandanganku," perintah Baskara begitu mereka masuk ke ruangan kantornya yang luas.
"Di dalam ruangan Anda?!" Swari terperanjat. "Ini tidak profesional! Saya butuh ruang koordinasi dengan tim desain, bukan menjadi pajangan di kantor Anda!"
Baskara duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan angkuh.
"Di sini, aku yang menentukan apa yang profesional dan apa yang tidak. Proyek Grand Mahameru bernilai triliunan, Swari. Aku tidak ingin konsultan utamanya mendadak 'menghilang' lagi."
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor