Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Berduri
Persiapan pernikahan antara Alexander Eduardo dan Almira Nindya berlangsung seperti sebuah operasi militer—cepat, efisien, dan penuh tekanan. Di mata publik, Alex sedang mencoba "membersihkan" skandal dengan tindakan ksatria. Namun, di balik dinding kaca penthouse yang mewah, suasana jauh dari kata romantis.
Almira merasa seperti sebuah manekin yang sedang dipasangi berbagai perhiasan mahal. Setiap hari, perancang busana ternama datang ke apartemen untuk melakukan pengepasan gaun pengantin. Alex memilihkan bahan sutra terbaik dari Italia dan renda dari Prancis, seolah-olah kemewahan kain itu bisa menutupi luka yang menganga di hati calon pengantin wanitanya.
"Kau tampak sangat cantik, Almira," ucap Alex suatu sore, berdiri di ambang pintu saat Almira mencoba gaun pengantin putih yang menyapu lantai.
Almira hanya menatap pantulannya di cermin. Wajahnya datar, matanya kosong. "Cantik menurut Anda, atau cantik menurut standar sosial yang ingin Anda pamerkan?"
Alex mendekat, menyentuh pinggang Almira yang kini mulai sedikit menebal. "Aku melakukannya untuk melindungimu. Mengapa sulit sekali bagimu untuk melihat itu?"
"Melindungi saya dengan cara mengikat saya selamanya dalam nama yang saya benci?" balas Almira getir. "Anda tidak sedang melindungi saya, Alex. Anda sedang menandai wilayah Anda."
Ketegangan itu semakin memuncak ketika sore harinya, sebuah paket misterius tiba untuk Almira. Paket itu dibungkus kertas hitam tanpa nama pengirim. Karena para penjaga sudah diperintahkan untuk memeriksa setiap barang, paket itu sempat ditahan, namun entah bagaimana, salah satu pelayan baru—yang merupakan orang suruhan Elara—berhasil meletakkannya di meja rias Almira.
Dengan tangan gemetar, Almira membuka kotak tersebut. Di dalamnya bukan berisi perhiasan, melainkan salinan dokumen wasiat rahasia atas nama Richard Eduardo, ayah Alex. Ada pula sebuah surat kaleng yang ditulis dengan tinta merah tajam.
“Jangan tertipu dengan topeng pahlawannya, Almira. Bacalah pasal 12 ayat 4. Alex tidak menikahimu karena cinta atau tanggung jawab. Dia menikahimu karena itu satu-satunya cara dia bisa mencairkan dana abadi keluarga sebesar dua triliun rupiah yang hanya bisa diakses jika dia memiliki ahli waris dari darah yang sah. Kau dan janinmu hanyalah kunci untuk brankasnya.”
Almira membaca dokumen wasiat itu berkali-kali. Di sana tertulis jelas dalam bahasa hukum yang dingin bahwa kekuasaan penuh atas aset Eduardo Group hanya akan jatuh ke tangan Alexander jika ia memiliki keturunan dalam ikatan pernikahan yang sah. Jika tidak, saham itu akan dibagi kepada dewan direksi—termasuk keluarga Elara.
Dunia Almira seketika runtuh. Rasa mual yang biasanya muncul karena kehamilan kini datang karena rasa jijik yang luar biasa. Selama ini, ia mengira meskipun Alex kasar, setidaknya ada sisa-sisa nurani yang membuatnya ingin bertanggung jawab. Namun ternyata, segalanya hanyalah soal angka. Segala sikap posesif Alex, pencariannya ke desa, dan bahkan sujudnya di puskesmas, kini tampak seperti akting kelas atas demi harta triliunan rupiah.
Malam itu, Alex pulang dengan membawa buket bunga lili putih kesukaan Almira. Ia tampak lebih cerah, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat karena pernikahan akan segera dilaksanakan lusa.
"Almira, aku membawa ini untukmu," ucap Alex dengan senyum tipis yang jarang diperlihatkan.
Almira tidak membalas senyuman itu. Ia berdiri di tengah ruang tengah, memegang lembaran dokumen wasiat yang baru saja ia terima. Ia melemparkan dokumen itu ke dada Alex.
"Berapa harga kepala saya dan bayi ini, Alex? Dua triliun? Atau lebih?" suara Almira bergetar hebat karena amarah.
Alex mengambil dokumen itu, matanya membelalak saat melihat isinya. "Almira, dari mana kau mendapatkan ini?"
"Itu tidak penting! Yang penting adalah kebenarannya! Anda menikah saya bukan karena ingin menebus dosa, bukan karena peduli pada ibu saya, tapi karena Anda butuh ahli waris untuk menguasai perusahaan ini sepenuhnya! Anda menggunakan saya sebagai mesin penghasil uang!"
"Dengarkan aku dulu!" bentak Alex, arogansinya kembali muncul karena merasa terpojok. "Wasiat itu memang ada, tapi itu bukan alasan utamaku—"
"Bohong!" Almira berteriak, air mata kini tumpah membanjiri pipinya. "Semua yang Anda lakukan adalah manipulasi. Anda sujud di kaki saya di puskesmas itu hanya karena Anda takut kehilangan 'kunci' brankas Anda! Anda benar-benar monster yang paling menjijikkan yang pernah saya temui!"
Alex mencengkeram lengan Almira, mencoba menenangkannya, namun Almira meronta dengan liar. "Jangan sentuh saya! Jangan pernah sentuh saya dengan tangan yang penuh dengan keserakahan itu!"
"Cukup, Almira!" suara Alex menggelegar, memenuhi ruangan. "Ya, aku tahu soal wasiat itu! Tapi apa kau pikir aku butuh dua triliun itu untuk hidup mewah? Aku sudah punya segalanya! Aku melakukan ini untuk memastikan Elara dan ayahnya tidak mengambil alih perusahaan yang dibangun ayahku! Jika mereka berkuasa, mereka akan menghancurkanmu dan ibumu dalam semalam!"
"Jadi Anda merasa menjadi pahlawan dengan cara menipu saya?" Almira tertawa histeris. "Anda dan Elara sama saja. Kalian hanya peduli pada kekuasaan. Saya dan bayi ini hanyalah pion di antara kalian."
Penderitaan batin Almira mencapai puncaknya malam itu. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang duri-durinya semakin menusuk dalam. Ia ingin lari, tapi ia tahu ke mana pun ia pergi, Alex akan menemukannya. Ia ingin memberontak, tapi nyawa ibunya masih berada di bawah kendali pria ini.
Alex menatap Almira dengan pandangan yang kompleks—campuran antara kemarahan, rasa bersalah, dan obsesi yang semakin gelap. "Kau boleh membenciku, Almira. Kau boleh menganggapku iblis. Tapi pernikahan ini akan tetap terjadi. Kau akan menjadi Nyonya Eduardo, dan anak itu akan lahir sebagai ahli waris sah. Aku tidak akan membiarkanmu atau siapa pun menggagalkan ini."
"Anda bisa menikahi raga saya, Alex. Tapi Anda tidak akan pernah mendapatkan apa pun dari saya selain kebencian," bisik Almira dengan nada dingin yang membuat Alex merinding.
Alex tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari ruangan, mengunci pintu kamar dari luar—sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa arogansinya telah kembali sepenuhnya untuk menutupi rasa sakitnya. Ia segera menelepon tim keamanannya.
"Cari tahu siapa yang mengirimkan paket itu ke kamarku. Jika itu Elara, pastikan dia menyesal telah bernapas hari ini," perintah Alex dengan suara sedingin es.
Di dalam kamar, Almira jatuh terduduk di balik pintu. Ia memeluk perutnya yang kini terasa sangat berat. Ia merasa sangat kesepian di dunia yang luas ini. Ibunya sedang sekarat secara perlahan di Singapura, dan pria yang akan menjadi suaminya adalah orang yang mungkin hanya mencintai apa yang ada di dalam rahimnya, bukan dirinya.
"Maafkan Ibu, Nak... Ibu membawamu ke dunia yang penuh dengan kebencian," isaknya dalam kegelapan.
Hubungan mereka kini telah mencapai titik di mana cinta—jika memang pernah ada—telah terkubur di bawah tumpukan dokumen hukum dan ambisi. Obsesi Alex kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya; ia tidak lagi hanya ingin memiliki Almira, ia ingin menguasainya secara total agar gadis itu tidak bisa lagi menyakitinya dengan kata-kata tajam atau pelarian.