Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syamsul
Seminggu berlalu
Tidak terasa sudah seminggu berlalu Norma mendiami kediaman nyaman ini bersama sang buah hati. Hari-harinya di lalui dengan hati yang sedikit lapang tanpa ada tekanan dari mertua dan adik iparnya. Tapi di sudut hatinya masih ada rasa mengganjal karena sang suami_Syamsul, tak kunjung menghubunginya.
Sebagai wanita yang telah di tinggal lumayan lama karena kepergian Syamsul untuk mencari nafkah sebagai TKI, tentu ada rasa rindu juga khawatir. Belum lagi masalah kontrak rahim yang belum di ketahui suami, pasti hati kian cemas. Takut di salahkan dan perasaan cemas lainnya.
Yang menjadi pikiran Norma saat ini adalah bagaimana nantinya saat sang suami pulang, lalu dirinya hamil. Pasti Syamsul akan bertanya, meminta penjelasan. Lalu apa yang akan menjadi alasannya?
Disini harga dirinya sebagai seorang istri dan ibu di pertaruhkan. Dan harga diri sang suami akan di pertanyakan. Sesungguhnya tidak ada yang mau dalam keadaan seperti ini. Saat di tawarkan dan di tekan Mariah kala itu Norma menolak keras, tapi takdir memang tidak bisa di tebak. Tiba-tiba putri semata wayangnya kecelakaan, dan disitulah kelemahan Norma. Terkait biaya yang tidak sedikit, tekanan dari mertua, membuat Norma di titik terendah. Berakhir menyetujui tawaran mertua.
"Mak, Nuri masuk rumah dulu ya. Ini sudah kotor baju Nuri" ucap Nuri menunjukkan baju yang kotor.
Sedari pagi gadis kecil itu bermain di luar rumah, memberi ayam makan jagung dan bermain masak-masakan. Nuri begitu bahagia tinggal di tempat baru, karena bisa mengekspresikan diri tanpa takut pada Nenek dan Tantenya. Jika tinggal di sana, ruang geraknya di awasi. Semua yang di lakukan serba salah.
Sedangkan Norma menyapu halaman yang banyak sampahnya, dari daun kering berguguran akibat tadi malam angin yang lumayan kuat. Sementara untuk tugas memasak akan di handle oleh Buk Syam, karena memang tugasnya sehari-hari. Terkadang Norma hanya membantu seadanya.
"Uy, cemot nya muka anak mamak. Sudah sana, cuci tangan pakai sabun ya, lepas tu ganti pakaian" ujar Norma menggeleng kepala.
"Baik mamak yang comel" balas Nuri, tangannya membentuk hormat di samping alis.
Norma tersenyum melihat tingkah anaknya. Hati ibu mana yang tidak senang melihat anak yang dulunya berkebutuhan khusus sekarang sudah sehat, ceria dan bahagia. Tidak ada kebahagian lain lagi yang Norma inginkan. Meski belum tahu apa yang terjadi di kemudian hari, terpenting saat ini putri semata wayangnya sudah sehat, normal seperti anak yang lain.
.
Norma yang sedang menyapu halaman melihat kendaraan memasuki area huniannya. Tak lama mobil berhenti, pria paruh baya keluar, menutup pintu mobil. Lalu menuju ke arah Norma.
"Assalamualaikum" sapa Suryo, supir Syakir.
"Wa'alaikum salam. Mari Pak" Norma berjalan terlebih dahulu menuju bangku di bawah pohon mangga.
Norma beranjak "Bapak biasa minum apa?" tanya Norma.
"Tidak perlu bersusah payah Buk. Saya hanya sebentar. Begini Buk Norma, kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan pesan dari Bapak Syakir, bahwa Hasil pemeriksaan kesehatan Buk Norma sudah keluar dan hasilnya bagus, tidak ada masalah apa pun. Dan.... Anda di minta mempersiapkan fisik dan mental karena besok akan di lakukan In Vitro Fertilization (IVF-Bayi tabung).
"Ha?!.." Norma terkejut, merasa waktunya terlalu cepat.
"Apa ada masalah Buk?" tanya Suryo.
"Em.. Tidak Pak, baiklah. Apa besok harus di rawat inap atau bagaimana?" tanya Norma gugup.
"Terkait itu akan di jelaskan oleh Bapak Syakir nantinya. Kalau begitu saya permisi dulu!" angguk sopan Suryo, lalu beranjak, berjalan menuju mobil.
Di kursi tampak ponsel tergeletak, Norma beranjak menyusul Suryo.
"Pak, ini ponsel Anda ketinggalan!" ucap Norma setengah berteriak.
"Eh iya, terima kasih. Oh iya, ini ada titipan dari Bapak Syakir" Suryo mengulurkan paperbag, di sambut Norma tanpa bertanya.
"Permisi!" Suryo menuju pintu, membuka lalu duduk di belakang kemudi.
Mobil perlahan meninggalkan hunian asri ini. Norma berbalik, menuju tangga rumah panggung.
Tiba di kamarnya, Norma membuka paperbag. Norma mengeluarkan dress panjang motif bunga Daisy, lengan balon, warna kuning pastel. Hijab warna senada dan bross kecil.
Norma memasukkan kembali dress beserta hijab tersebut. Lalu keluar kamar.
****
Sementara wanita paruh baya dan wanita muda menatap sinis, melihat area hunian rumah panggung.
"Tuh kan Buk, benar tebakan ku. Pria yang mengontrak rahim si Norma tidak lain adalah pria tua" Norma memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Bagaimana Ria, sudah berhasil dirimu rekam?" tanya Mariah tanpa menghiraukan ucapan Daria. Dia lebih tertarik dengan hasil rekaman.
"Sudah Buk. Ah... Aku sudah tak sabar membuat gempar warga gang RW kampung kita tentang prilaku Norma yang terlihat sundal di Video ini." Daria tertawa menang.
Ya, Daria sudah merencakana ini semua dengan sangat teliti. Dirinya akan mengirimkan rekaman video pada tetangga mereka di kampung, berharap Norma akan di kucilkan, di hina sedemikian rupa oleh para warga. Dengan begitu, para warga akan prihatin dengan keluarga mereka, terutama dengan Syamsul. Suami yang banting tulang menjadi TKI tapi istrinya di kampung malah bermain gila dengan pria tua.
"Kau benar! Semua orang pasti akan menggunjing wanita bodoh itu" balas Mariah penuh ambisi "Apa langkah selanjutnya?" tanyanya lagi.
"Itu biar menjadi urusanku. Ibuk tinggal terima beres saja" Jawab Daria tersenyum lebar.
"Ya sudah, ayo!" ajak Mariah.
Kedua ibu dan anak ini melenggang menuju rumah panggung.
.
Daria melihat wanita paruh baya sedang membawa kantong kresek, lalu dirinya mendekati wanita tersebut.
"Permisi Mak Cik" sapa nya basa basi.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Buk Syam.
"Apa kak Norma ada di rumah?" tanyanya seolah tidak tahu.
"Ada. Sebentar saya panggilkan dulu. Kalian berdua silahkan masuk" balas Buk Syam. Lalu menaruh kantong berisi sampah ke dalam tong sampah, lalu berbalik menuju area belakang.
Buk Syam masuk melalui pintu dapur.
"Bu... Eh, nak Norma, itu di depan ada yang mencari anda" ujar Bu Syam seraya mencuci tangan.
Norma yang sedang meracik bumbu menghentikan kegiatannya.
"Siapa Mak Cik?" tanyanya menatap Buk Syam.
"Saya tidak mengenalnya, tapi mereka sepertinya ibu dan anak" balasnya, mengelap tangannya di ujung baju daster.
Norma mengangguk mengerti, mengetahui siapa yang di maksud.
"Maaf ya Mak Cik, bisa tolong awasi Nuri sebentar? Jangan biarkan di menuju area ruang tamu!" ucapnya pelan.
"Baiklah" setuju Buk Syam tanpa banyak tanya.
.
Daria dan Mariah masuk rumah, di sambut dengan ruangan yang dingin.
"Wah, bisa besar kepala wanita bodoh itu Buk!, lihatlah rumah ini walaupun terlihat biasa dari luar tapi di dalamnya cukup mewah. Pasti jadi ratu wanita itu, tapi sayang... Ratu dari raja yang tua" bisik Daria tertawa pelan.
"Kamu benar. Biarkan Dia menikmati hidup barunya ini, tapi itu tidak akan bertahan lama. Berakhir menangis darah karena di ceraikan Abang mu, belum lagi hinaan para warga kampung" tambah Mariah menggebu.
.
Usai membuat minuman, Norma menuju ruang tamu, membawa nampan minuman dan cemilan.
Melihat kedatangan Norma, baik Daria maupun Mariah saling melirik. Melihat penampilan Norma terlihat lebih layak. Mengenakan daster motif warna maroon, cardi bahan knit, di padukan bergo warna hitam. Tidak seperti biasanya yang kulit wajah terlihat kusam, daster warna yang sudah kusam. Tak jarang ada tambalan di beberapa bagian yang sobek.
Norma menaruh minuman di atas meja.
"Wah... Bagus betul baju yang di kenakan kak Norma. Pasti di belikan Tuan Syakir itu ya?" tanya Daria lembut.
"Saya kurang tahu. Beberapa pakaian sudah tersedia di almari" jawab Norma terlihat santai "Buk, Ria, apa kabar?" tanya Norma sopan.
"Kami baik. Bagaimana keadaan Nuri?" tanya Mariah datar, mencoba sok perhatian.
"Alhamdulillah berangsur pulih. Silahkan di minum Buk, Ria" ujarnya lagi.
Sambil minum dan makan cemilan, mata Ria jelalatan melihat area ruang tamu yang terkesan simple, elegan namun mewah. Tak menyangka jika rumah yang dari luarnya terlihat biasa saja ternyata di dalamnya cukup mewah.
"Bagaimana wajah pria pemilik kebun durian itu kak? Apa tampan?" Daria sungguh penasaran.
"Saya belum bertemu dengannya Ria"
Mariah meletakkan gelas yang airnya tinggal setengah ke atas piring di meja.
"Cih! Dasar tukang pembuat! Padahal aslinya sudah bertatap muka. Tua pula orangnya. Pasti malu mengatakan kebenarannya." batinnya jijik.
"Oh begitu. Tapi yang penting Nuri bisa sembuh karena pengorbanan kakak dan berkat tawaran dari Ibuk" Ucap Daria santai. Norma hanya tersenyum kecut.
"Ibuk tidak ingin berbasa-basi lagi. Dan dirimu juga pasti sudah mengetahui maksud dan tujuan kami berdua kesini" ucap Mariah pelan, lembut... Yang di buat-buat.
"Ya Buk, saya mengerti" Norma merogoh saku dasternya, mengeluarkan amplop coklat, menaruhnya ke atas meja.
Daria dan Mariah menahan nafas melihat amplop tebal tersebut. Uang yang di impikan sudah di depan mata, ingin berlonjak girang tidak mungkin juga di hadapan Norma. Keduanya hanya saling pandang, tersenyum samar.
"Berapa jumlahnya ini Norma? Tampaknya tebal, apa tak terlalu banyak?" Mariah terlihat enggan.
"Di dalam sini ada empat ratus juta Buk. Bukankah Ibuk ingin merenovasi rumah? Tapi Buk, tolong ya sekalian di tutupi untuk penggadaian kebun orang tua saya" ucap Norma percaya saja.
"Soal kebun orang tua mu yang di gadaikan pasti akan langsung ibuk tebus, dirimu tenang saja. Baiklah kalau begitu kami balik dulu" Mariah beranjak, di ikuti Daria.
"Nanti saja pulangnya Buk, makan dulu. Tadi Mak Cik Syam memasak sup daging, gulai ikan terubuk dan sambal belacan" ucap Norma.
"Kami sebetulnya sudah sarapan tadi, tapi ya tak baik juga menolak rezeki" Mariah kembali duduk, Daria memutar bola matanya mendengar alasan klasik ibunya.
Kalau begitu saya ke belakang dulu.
Norma menyiapkan makanan, memasukkan ke dalam talam (Dulang, nampan). Lalu membawa ke depan. Buk Syam yang melihatnya diam saja.
tiba di ruang tamu, Norma menaruh nampan ke atas meja. Iya menggelar karpet motif ketupat ke lantai, lalu mengambil nampan dan menaruhnya ke karpet.
"Ayo Buk, Ria, di makan dulu." Norma menuangkan air ke dalam gelas.
Mariah tanpa membuang waktu langsung menyendokkan nasi, lauk pauk ke dalam piringnya dalam porsi besar. Sangat jarang sekali makan masakan enak begini, karena daging dan ikan terubuk lumayan mahal di kampung mereka. Pun, ikan terubuk sangat langka.
"Ibuk, jangan makan banyak-banyak!" kode Daria malu.
Norma hanya tersenyum.
Setelah ritual makan siang itu, kedua ibu dan anak itu berniat pulang.
"Nor, ibuk tidak bisa membantu mencuci piring, bapak mu kurang sehat, jadi tidak bisa di tinggalkan terlalu lama." ujar Mariah.
"Hati-hati disini kak. Titip salam sama Nuri, jika ada waktu luang nanti aku dan Ibuk akan main kesini" Daria tersenyum manis.
"Iya, nanti kakak sampaikan. Hem... Daria, apa bang Syamsul ada menghubungi mu?" tanya Norma.
Daria menarik pelan ujung lengan dress Mariah, menatap memberi kode. Dirinya bingung memberi alasan.
"Tidak ada Nor, Ibuk juga tidak habis fikir. Kemana dirinya hingga hilang kabar begini. Kalau dia menghubungi esok atau entah bila, ibuk akan memberitahukan pada mu" ucapnya terlihat seolah kesal pada sang putra.
Norma hanya mengangguk.
"Sudah tidak usah terlalu di fikirkan. Kerjakan tugas terakhir mu. Jangan buat pengusaha durian itu marah jika kau gagal membuahi. Ya sudah kalau begitu kami balik dulu" ucap Mariah mulai kembali ketus.
Keduanya mengenakan sandal, lalu turun tangga. Setelahnya meninggalkan hunian Norma tanpa mengucap salam.
Norma menghela nafas berat menatap kepergian mertua dan iparnya. Sedikitpun mereka tidak ada ingin melihat Nuri, hanya basa-basi menanyakan kabar. Setelahnya larut melihat uang yang terlihat tebal.
.
******
.
Setelah satu dua jam menempuh perjalanan pulang, akhirnya oplet yang di tumpangi Daria dan Mariah tiba, berhenti di depan gang Duku.
Ibu dan anak itu segera turun, membayar ongkos.
Sebelum tiba di rumah, Mariah terlebih dahulu ke warung untuk membeli beberapa keperluan rumah. Kebetulan banyak ibu-ibu yang juga berbelanja, jadi bisa untuk Mariah sekalian pamer. Sedang Daria menunggu di luar, duduk di bangku teras.
"Dari mana dirimu Yah?" tanya Wiyah, Mariah menatap temannya.
"Ini, aku baru dari ke hunian baru Norma." ucap Mariah pelan, dengan gaya sok elegannya Mariah menuju sudut warung, mengambil keranjang belanja.
"Ha?! Dia ada rumah baru? Biar betul kau ni, bila pula Dia pindahnya?" tanya Wiyah penasaran, lalu menatap keranjang Mariah.
.
Jangan lupa like dan komentarnya 🙏