NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selesai satu

Udara di sekitar meja mereka seolah membeku, mengkristal di sekitar kata-kata kejam itu. Waktu terasa melambat bagi Queenora.

Ia bisa melihat butiran debu menari-nari di bawah cahaya lampu neon yang redup, mendengar dengung kulkas minuman di sudut kedai, merasakan getaran lantai kayu saat seseorang berjalan di belakangnya. Namun, semua itu lenyap dalam sekejap ketika suara kursi yang diseret paksa di atas ubin pecah memecah keheningan.

BRAKK!

Pintu kedai kopi itu terdorong terbuka dengan kasar, membentur dinding di belakangnya dan membuat lonceng kecil di atasnya berdentang panik. Darian berdiri di ambang pintu, siluetnya menantang cahaya sore yang kelabu.

Pria tidak tampak marah dalam artian berteriak atau mengamuk. Tidak, ia jauh lebih menakutkan dari itu. Ia adalah personifikasi dari badai yang tenang sebelum menghancurkan segalanya, matanya berkilat dingin, rahangnya mengeras, dan setiap otot di tubuhnya menegang seolah siap menerkam.

Ayah Queenora dan Arya terlonjak kaget, wajah angkuh mereka seketika berubah pias.

“Siapa kau?” bentak Arya, mencoba mempertahankan sisa-sisa keberaniannya, meskipun suaranya sedikit bergetar.

Darian tidak menjawabnya. Pandangannya terkunci pada Queenora, memeriksa setiap inci gadis itu untuk memastikan tidak ada luka, sebelum beralih ke dua pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian yang begitu pekat hingga terasa seperti benda fisik.

“Karma?” desis Darian, suaranya rendah dan serak, lebih mengancam daripada teriakan mana pun. Ia melangkah maju perlahan, setiap langkahnya mantap dan penuh tujuan.

“Kalian akan belajar arti kata itu yang sebenarnya.”

Tepat di belakang Darian, dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam masuk ke dalam kedai, kehadiran mereka langsung menyedot seluruh sisa udara di ruangan kecil itu. Mereka bergerak tanpa suara, memosisikan diri di kedua sisi meja, menjebak ayah dan kakak Queenora.

Mata Ayah Queenora melebar ngeri, kesombongannya menguap seperti embun di pagi hari.

“Ini… ini tidak seperti yang kaupikirkan, Tuan. Ini hanya masalah keluarga.”

“Masalah keluarga?” Darian kini berdiri tepat di samping meja, menjulang di atas mereka. Ia menoleh pada Queenora dan mengulurkan tangannya.

“Tasmu.”

Queenora, yang masih sedikit terkejut, menyerahkan tas selempangnya tanpa ragu. Darian membukanya, mengambil alat perekam kecil itu, dan mematikannya. Ia menggenggam benda itu seolah sedang menggenggam jantung musuh-musuhnya.

“Rekaman ini,” kata Darian, matanya kembali menatap tajam pada ayah Queenora.

“Pengakuan kalian atas penganiayaan yang menyebabkan keguguran, akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari dan membusuk dipenjara.”

“Kau tidak punya bukti!” pekik Arya panik, mencoba berdiri, tetapi salah satu pengawal Darian meletakkan tangan berat di bahunya, mendorongnya kembali ke kursi dengan mudah.

Darian tertawa kecil, tawa tanpa humor yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Oh, aku punya lebih dari cukup. Dan aku bisa membeli keadilan yang tidak akan pernah bisa kalian beli.” Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya kini hanya bisikan maut.

“Nikmati kopi kalian. Ini mungkin minuman terakhir yang kalian nikmati di luar sel penjara yang akan mengurungmu seumur hidup.”

Darian menegakkan tubuhnya dan menoleh pada Queenora, sorot matanya melembut seketika.

“Ayo pergi.”

Queenora bangkit, kakinya terasa seperti jeli, tetapi ia memaksa dirinya untuk berjalan tegak melewati dua pria yang telah menjadi sumber mimpi buruknya seumur hidup.

Untuk pertama kalinya, ia melihat mereka bukan sebagai monster yang tak terkalahkan, melainkan sebagai pria-pria kecil yang menyedihkan dan ketakutan. Saat ia melewati mereka, ia tidak merasakan kebencian atau ketakutan. Hanya kehampaan. Mereka tidak lagi memiliki kuasa atas dirinya.

Di luar, udara terasa lebih segar, seolah ia baru saja keluar dari sebuah makam. Darian membukakan pintu mobil untuknya, menunggunya masuk sebelum ia sendiri duduk di kursi pengemudi.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut saat mobil melaju meninggalkan kedai kopi kumuh itu.

Queenora mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan.

“Aku… lega.”

Darian meraih tangannya yang dingin dan menggenggamnya erat.

“Ini baru permulaan, Quuenora. Kau harus kuat.”

Darian mengeluarkan ponselnya dengan satu tangan, menekan nomor panggil cepat.

“Halo, Pak Tirtayasa? Aku Darian. Aku punya rekamannya. Pengakuan penuh atas penganiayaan dan penyebab keguguran. Aku mau tuntutan pidana diajukan besok pagi. Gunakan semua sumber daya yang kita punya. Aku tidak mau ada celah sedikit pun. Hancurkan mereka.”

Queenora mendengarkan percakapan itu, merasakan beban berat yang selama ini menghimpit dadanya perlahan terangkat. Keadilan. Itu bukan lagi sekadar kata hampa. Keadilan untuk dirinya. Keadilan untuk bayinya yang tak pernah sempat ia dekap.

***

Perjalanan kembali ke rumah terasa sunyi. Keheningan yang nyaman, bukan yang canggung. Saat mobil memasuki gerbang mansion yang megah, Queenora merasa ini adalah kali pertama ia benar-benar pulang. Bukan sebagai ibu susu, bukan sebagai korban yang butuh perlindungan, tetapi sebagai dirinya sendiri.

Adreine sudah menunggu di ambang pintu, wajahnya penuh kecemasan yang sirna begitu melihat Queenora turun dari mobil dengan selamat. Wanita paruh baya itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan cepat ke arah Queenora dan menariknya ke dalam pelukan hangat yang terasa seperti rumah.

“Ibu bangga padamu, Nak,” bisik Adreine di telinganya.

“Sangat bangga.”

Air mata yang sejak tadi ditahan Queenora akhirnya tumpah. Ia membalas pelukan itu, menangis tanpa suara di bahu wanita yang telah menjadi ibunya dalam segala hal yang berarti.

Malam itu, setelah makan malam yang tenang dan memastikan Elios tertidur lelap di ranjangnya, Queenora duduk sendirian di ruang keluarga.

Darian sedang di ruang kerja, menyelesaikan urusan hukum dengan pengacaranya. Rumah itu damai, tetapi pikiran Queenora masih berpacu. Satu pertempuran telah dimenangkan, tetapi perang dengan Estrel masih menanti.

“Kau terlihat lelah.” Suara lembut Adreine membuatnya menoleh. Wanita itu membawa dua cangkir teh kamomil hangat dan duduk di sampingnya.

“Tidak Nyonya hanya saja… banyak yang terjadi,” jawab Queenora, menerima cangkir itu dengan senyum kecil.

Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati kehangatan teh. Lalu, Adreine meletakkan cangkirnya dan menatap Queenora dengan tatapan serius.

“Ada sesuatu yang harus kau lihat,” kata Adreine pelan.

“Sesuatu yang Ibu simpan sejak lama, menunggu saat yang tepat. Dan Ibu rasa, saat itu adalah sekarang.”

Adreine bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari kayu antik di sudut ruangan. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir yang sudah agak usang. Ia membawanya kembali dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kopi di depan Queenora.

“Apa ini, Bu?” tanya Queenora penasaran.

Adreine menghela napas panjang, matanya menyiratkan kesedihan yang dalam.

“Dulu, kau merasa hidup dalam bayang-bayang Luna. Kau merasa harus bersaing dengan kenangan tentang wanita yang sempurna. Tapi kesempurnaan itu, Nak, sering kali hanyalah topeng yang paling menyakitkan.”

Adreine mendorong kotak itu lebih dekat ke arah Queenora.

“Di dalam kotak ini… ada kebenaran tentang Luna. Bukan sebagai istri Darian atau putri Estrel, tapi sebagai seorang wanita.” Adreine membuka tutup kotak itu perlahan.

Di dalamnya, terikat dengan pita sutra yang sudah pudar, ada setumpuk surat yang menguning.

“Ini surat-surat yang ia tulis untukku. Surat-surat yang mengungkapkan segala hal yang tidak pernah bisa ia katakan dengan lantang.”

1
Nar Sih
lanjutt kakk 💪💪
Nar Sih
ahir nya queen up lgi
Nar Sih
💪💪kak lanjutt
Nar Sih
ya ampun. kasihan luna waktu itu ya ,punya ibu yg jht banget
Nar Sih
semangatt queen 💪tunjukan klau kebenaran tentang diri mu yg jdi korban bisa menang melawan kejhtn mereka
Nar Sih
ahir nya rencana mu berhasil queenora kakakdan ibu mu tertangkap sdh
Nar Sih
lanjutt kakk ,cerita smakin seru👍
Realrf: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Nar Sih
💪💪darian dan queen
Nar Sih
ini pasti ulah si mantan ibu mertua jht mu darian
Jj^
semangat update Thor 🤗
Realrf: ma aciwww 😍😍😍😘
total 1 replies
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!