NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Awal Penderitaan

Nana bersimpuh di pusara sang ibu yang masih basah. Dia menangis tanpa henti. Ibu yang selama 40 tahun hidup, harus tiada karena sakit kanker.

Nana dibujuk ayahnya untuk pulang, ia lantas melepaskan diri dari terkaman tangis yang tak pernah hilang karena kehilangan sosok malaikat.

Tapi, sesampainya di rumah, sang ayah bilang ingin nikah lagi. Sontak membuat Nana murka.

“Ayah ngomong apa barusan?” suara Nana bergetar, tapi matanya menyala marah.

Ayah menarik napas panjang, seolah sudah menyiapkan kalimat itu sejak lama. “Ayah tidak mau hidup sendirian, Nak. Rumah ini terlalu sepi. Ayah butuh teman, butuh seseorang yang merawat—”

“Merawat?” potong Nana cepat. “Baru saja Ibu dikubur! Tanahnya bahkan belum kering! Dan Ayah sudah mikirin nikah lagi?”

Ayah terdiam. Tangannya yang mulai berkeriput menggenggam lututnya sendiri. Ada rasa bersalah, tapi juga keras kepala yang sulit dibantah.

“Ibu kamu juga pasti nggak mau lihat Ayah sendirian,” ucapnya pelan. “Kamu nanti punya dunia sendiri. Kalau sudah menikah, Ayah bagaimana?”

Kata-kata itu menampar Nana lebih keras daripada apa pun.

“Ibu bahkan belum sempat pulang dari rumah sakit tanpa rasa sakit,” gumam Nana, suaranya pecah. “Dia bertahan, Ayah. Sampai detik terakhir masih mikirin kita. Lalu Ayah… dengan mudahnya mengganti?”

Air mata kembali jatuh, tapi kali ini bukan hanya karena duka — ada amarah, kecewa, dan rasa dikhianati.

“Ayah nggak mengganti siapa pun,” ucap Ayah lirih. “Ibu tetap ibu kamu. Tidak ada yang bisa menggantikan.”

Nana berdiri. Kursi ruang tamu berderit. Nafasnya memburu.

“Kalau Ayah nikah, berarti Ayah memang menggantikan,” katanya tegas. “Dan aku tidak siap. Bukan sekarang. Bukan dalam waktu dekat. Bukan saat harum bunga di makam Ibu masih ada.”

Sunyi menyelubungi keduanya. Hanya suara detik jam di dinding, dan tangis Nana yang perlahan menurun tapi tak berhenti.

Ayah menatap lantai. “Perempuan itu… sudah lama Ayah kenal. Dia janda. Baik. Bisa mengurus rumah.”

Kata “perempuan itu” membuat dada Nana sesak.

“Jadi, Ayah sudah merencanakannya sejak lama?” bisik Nana dingin. “Saat Ibu sakit? Saat kita bolak-balik rumah sakit? Ayah sudah mikirin calon baru?”

Ayah tergagap. “Tidak begitu maksudnya—”

“Sudah,” Nana mengangkat tangan. “Aku capek.”

Ia melangkah ke kamar ibu, meski tahu tiap sudut ruangan itu penuh kenangan: selendang yang masih tergantung, aroma obat, bantal yang masih berlekuk.

Di sana, ia duduk di tepi ranjang. Menekan wajahnya di telapak tangan.

“Bu,” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Kenapa pergi secepat ini? Dan kenapa Ayah… berubah secepat itu?”

Seolah menjawab, hanya keheningan yang datang.

Di sisi lain, sang ayah bernama Fandi itu mendapatkan telepon dari Isna, calon istri yang sempat dibahas tadi. Panggilan itu datang tiba-tiba, membuat tangannya gemetar.

“Assalamu’alaikum, Pak,” suara Isna terdengar manis — tapi ada ketegangan yang disembunyikan.

“Waalaikumsalam… Isna, aku masih belum tenang. Ibu Nana baru—”

“Justru karena itu,” potong Isna cepat. “Kita harus segera menikah. Kalau tidak, aku juga yang malu. Orang-orang sudah tahu kamu sering ke rumah, mereka curiga. Nama baik aku juga harus dijaga.”

Ayah menarik napas berat. “Isna, tolong pahami. Anak aku belum siap. Aku juga belum—”

“Terlalu lama nunggu!” nada suara Isna berubah tajam. “Kalau Bapak mundur, berarti Bapak mempermainkan aku.”

Hening sejenak. Fandi merasa jantungnya berdetak tak karuan.

“Aku punya sesuatu,” lanjut Isna pelan, kali ini dingin. “Dan kalau Bapak tidak menikahi aku dalam bulan ini… aku sebar.”

“Apa maksudmu?” suara Ayah lirih, nyaris berbisik.

Isna mengirimkan sebuah pesan. Notifikasi WhatsApp berbunyi. Tangan Ayah bergetar saat membuka.

Video.

Dirinya. Bersama Isna. Di kamar penginapan yang mereka gunakan diam-diam ketika istrinya masih sakit.

Wajahnya memucat.

“Isna…” suaranya parau. “Kamu gila? Ini bisa menghancurkan hidup aku!”

“Makanya jangan main-main,” jawab Isna tanpa rasa bersalah. “Bapak itu kepala desa. Orang-orang percaya. Hormat. Kalau video ini tersebar… habis sudah semuanya.”

Ayah terdiam. Lututnya lemas. Ia duduk kembali, memegangi kepala.

“Aku tidak bermaksud menyakiti kamu,” katanya lemah. “Waktu itu… aku lagi tertekan. Ibu Nana sakit. Aku sendirian. Kamu datang—”

“Alasan,” potong Isna. “Aku juga butuh kepastian. Aku sudah korbankan banyak hal. Kalau Bapak tidak bertanggung jawab, aku pastikan semua orang tahu siapa bapak sebenarnya!"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!