Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Malam harinya sesuai makan malam, Ivana menerima surat dari Jane yang di berikan oleh Rei padanya. Isi dalam surat itu menyatakan :
“Nona Ivana, ini aku Jane. Aku mengubah keputusanku setelah melihat situasinya, kau akan jauh lebih aman jika benar-benar pergi dari sini, agar situasi tak bertambah buruk. Sebelum orang-orang itu kembali datang dan juga sebelum ibu Anda menambah jumlah pasukan keamanan di rumah ini. Aku dan Rei, akan membawamu pergi tepat pada waktu tengah malam.”
Setidaknya, itulah isi surat dari Jane. “Oke Ivana, mungkin ini akan menjadi langkah awalmu yang besar. Mama, maafkan Ivana, namun aku janji akan kembali. Setidaknya sampai kamu mau memaafkanku, lagi pula ada yang harus benar-benar aku tanyakan pada bibi.”
Danuel kini tengah mengintai rumah itu, ia duduk di antara pohon. Tengah menunggu mereka semua lengah untuk kembali melancarkan aksinya. “Danuel, bagaimana di sana?” tanya Agres yang berada jauh di mobil.
Danuel menatap mobil Agres yang berada sekitar 50 meter dari pohon yang ia duduki. “Belum aman, semua pengawal masih terus berjaga,”
Keduanya terus berkoneksi melalui ponsel miliknya, di samping Agres, kini ada Martin. Ia sedang melakukan sesuatu pada laptopnya. “Agres, beri tahu Danuel. Semua cctv di rumah itu sudah aku lumpuhkan total.” Ujar Martin yang lalu di berikan tepuk tangan oleh Agres.
“Keren, ini baru sahabatku.” Agres yang senang itu merangkul temannya.
“Hai, ada apa, beri tahukan padaku jika ada perkembangan.” Tanya Danuel.
“Martin sudah berhasil meretas cctv nya, dia sudah melumpuhkan cctv itu sehingga mati total.”
Danuel yang mendengar itu pun tersenyum menyeringai, “Bagus,”
“Kita bergerak sekarang.” Tanya Agres.
“Jangan sekarang, ini masih terlalu sore. Kita tunggu sampai benar-benar tengah malam.”
Mendengar itu Martin menjadi ragu dengan keputusan yang di ambil oleh Danuel, “Mengapa tidak sekarang saja. Bagaimana jika mereka curiga?”
“Percayalah padaku Martin, kau tidak ingin sampai kita benar-benar hancur kan.” Ucapan Danuel itu membuat tanda tanya bagi keduanya.
“Sebentar!.” Danuel mengambil foto di pekarangan rumah Wingston, tampak di ada seseorang yang mereka kenali berada di tempat itu. Tengah berjabat tangan dengan nyonya Wingston.
Danuel mengirimkan foto itu kepada Agres dan juga Martin, “Bagaimana, kau masih berani kalau sekarang. Bukannya aku takut, namun orang yang ada di sana itu adalah Jenderal angkatan darat. Tuan James, kau masih mau berurusan pada militer?”
“Sial, bagaimana pria itu bisa ada di situ.”
“Aku rasa dia menambah keamanan di rumahnya.” Ujar Danuel sambil terus mengawasi.
Jenderal itu kemudian masuk ke dalam mobil, dan mobilnya pun membawa Jenderal itu pergi. “Bagaimana sekarang?” tanya Agres.
“Dia pergi, cepatlah menunduk. Mobilnya akan melewati kalian.”
Agres dan Martin langsung menunduk, Jenderal itu bukanlah orang sembarangan yang bisa mereka lawan hanya dengan sebuah pistol atau otot. Mobil itu pun melewati mereka, Danuel yang melihat dari atas pohon mengelus dadanya lega.
Danuel kembali memperhatikan rumah Ivana, “Ow hai, gadis kecil. Sepertinya kita akan bertemu lagi sayang.” Danuel rupanya melihat Jane yang pergi menemui Ivana.
Namun itu semua berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan, Jane menampar Ivana yang sedang duduk sendirian di balkon kamarnya. “Yang benar saja, apa gadis itu benar-benar maniac?” Danuel benar-benar menyaksikan hal itu, ia melihat Ivana yang terus di pukul oleh Jane. Kemudian datanglah Emalia, dia justru malah bangga pada Jane. Ia benar-benar sangat puas melihat Ivana yang di siksa.
“Apa-apaan ini, mengapa mereka merundung Ivana, bukankah dia adalah adik Olivia. Namun mengapa dia malah di perlakukan seperti itu, dan juga. Bukankah gadis kecil itu sempat membelanya, lantas mengapa kini malah melakukannya seperti sampah.” Danuel yang semula sangat kagum akan Jane, kini telah berubah.
“Kau ternyata jauh lebih menyedihkan dari apa yang aku pikirkan, kau memang kuat. Namun aku benci melihat hal ini. Rupanya kau jauh lebih buruk dari pada Saga gadis kecil.” Ucap Danuel, ia tampak kecewa melihat perilakunya pada Ivana, meskipun ia juga bukan orang yang baik, ia tetap tak bisa melihat hal itu.
Hingga pada akhirnya tengah malam pun tiba, “ada yang aneh Rei, semua cctv sudah mati saat aku pergi ke ruangan itu.” ucap Jane pada Rei. Kini mereka tengah berada di gudang, membawa beberapa perlengkapan.
“Itu artinya semua benar-benar di pihak kita, mungkin saja saat ini cctv sedang rusak, bukankah itu jauh lebih baik.”
“Kau benar, soal obat yang aku berikan padamu? Kau sudah berikan untuk semuanya kan.”
Rei mengangguk, “ Sudah aku tuangkan semuanya pada makanan para pengawal dan pelayan”
Rei menuangkan obat tidur ke dalam sup yang ia masuk dengan beberapa pelayan lain untuk para pelayan rumah. Saat Rei meletakkan obat itu, tak ada satu pun dari mereka yang melihat atau curiga dengan gelagat gadis itu.
“Kau tidak memakannya kan.” Rei pun menggelengkan kepalanya, “Hei, apa kau pikir aku anak kecil. Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang sebelum ketahuan.” Ujar Rei sebari mengangkat tasnya.
“Rei, kau yakin benar-benar akan ikut?”
“Hem, aku sudah sangat muak di sini. Jujur saja, aku tak tahan melihat nyonya yang selalu merundung nona Ivana seperti itu.”
Jane tersenyum, “Ternyata benar, masih ada orang yang benar-benar manusiawi di rumah ini.”
“Semua orang punya sisi manusiawi Jane, tak hanya aku. Masih banyak yang lainnya.”
“Ya, aku tahu itu. Sudahlah, jangan membuang waktu lagi.”
Keduanya kini keluar dari gudang yang berada di belakang rumah, keduanya kini membawa tas ransel besar di pundak mereka. Mereka pun mengendap-endap masuk ke dalam rumah itu, tampak suasa yang sepi menyelimuti rumah itu. Tampak juga beberapa pengawal rumah yang tergeletak di dapur setelah mereka makan dan pingsan.
"Jane, kau yakin ini akan aman?," Rei tampak tak yakin. Ia seperti masih sangat takut dengan resiko yang mereka ambil ini.
"Sudahlah Rei, kau jangan terus berisik."
Keduanya mengendap-endap hingga akhirnya sampai di kamar Ivana. Jane mengambil kunci dari penjaga yang tertidur itu. Mereka semuanya sebelumnya telah di berikan obat tidur oleh Rei, Jane mengambil kunci itu dan membuka pintu kamar Ivana.
"Jane, kau berhasil. Kau benar-benar berhasil Jane." Ivana benar-benar sangat senang melihat Jane dan Rei yang telah datang.
"Nona, Anda yakin hanya memerlukan ini?" tanya Rei kepada Ivana dan di jawab anggukan oleh wanita itu. Dia tak membawa banyak barang, ia hanya membawa beberapa dalam tas ransel ukuran sedang.
"Sudah tak ada waktu, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya makin kacau," ujar Jane dari ambang pintu.
"Nona biar saya bawakan tas Anda,"
"Tak perlu Rei, aku bisa membawanya sendiri." Ivana mengangkat tas miliknya, Rei pun menggandeng tangan Ivana. Mereka pun keluar dari kamar itu.
"Kalian sudah siap?." Tanya Danuel kepada kedua temannya.
"Sudah." Mereka kini memakai topeng hitam, mereka mengendap-endap masuk ke dalam rumah itu.
Saat mereka bertiga masuk, ketiga wanita itu pun keluar dari kediaman Wingston. “Nona Ivana, kau baik-baik saja?” tanya Rei pada Ivana, dan di balas anggukan oleh wanita itu.
“Jangan panggil aku nona, panggillah aku Ivana.”
Rei menggeleng, ia tak akan mau memanggilnya nama. Bukan karena dia majikan, namun Ivana jauh lebih tua darinya. Tak sopan jika dia hanya memanggilnya nama. “Tidak, Anda jauh lebih tua dariku.”
“Baiklah, kalau begitu. Panggillah aku kakak, jangan nona lagi, kau mengerti.”
“Hem,” Rei pun mengangguk, mereka bertiga pergi menyusuri jalanan komplek.
Di sisi lain, kini Danuel, Agres dan Martin telah masuk, mereka benar-benar di buat terkejut dengan semua pengawal rumah itu yang tergeletak di lantai. “Apa-apaan ini, mengapa mereka semua luruh di lantai,” ujar Agres yang di balas gelengan kepala oleh Martin.
“Sudahlah, jangan terkecoh oleh ini, kita harus tetap waspada,” ucap Danuel sebari pergi ke arah lantai dua.
Danuel langsung berlari saat ia melihat kamar Ivana telah terbuka, ia mencari wanita itu di seluruh penjuru ruangan. Namun tak ada batang hidung wanita itu di kamar itu. “Ada apa Danuel, kau tak menemukan dia?” tanya Martin yang heran melihat wajah syok di muka Danuel.
“Cek semua kamar, mungkin wanita itu bersembunyi di kamar lain!.”
Mendengar perkataan Danuel keduanya pun langsung mengecek setiap kamar. Namun tak ada satu pun yang menunjukkan bahwa ada wanita itu di sana. “Danuel, kita sudah mengecek semuanya, dan memang tak ada wanita itu di mana pun.”
“Ini aneh,”
“Maksudmu?”
“Para pengawal itu, mereka tak mungkin tertidur seperti itu, dan juga tak mungkin tak ada rolling. Ini adalah wingston.”
“Kau benar, ini semua terasa sangat janggal.”
Ivana, Rei dan Jane kini telah sampai di jalan raya, “Jane, kita harus ke mana sekarang?.”
“Kita terpaksa harus menunggu bus, tak ada cara lain untuk sampai ke desa,”
Rei membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar, “Kau gila, kita akan tertangkap oleh para pengawal itu jika kita tak cepat bergerak.”
“Tenanglah Rei, kau mau ke mana memangnya. Kau pikir ada tengah malam begini, tunggulah setidaknya sampai jam 5 pagi.”
“Jane, coba pikirlah yang lebih masuk di akal. Efek obat itu hanya sebentar, tak akan lama dari ini mereka pasti akan segera bangun. Coba pikirkanlah Jane, ada orang di luar sana yang tengah mengincar nona Ivana.”
“Kakak Rei, panggil aku kakak.”
“Ya, baiklah. Kakak.”
Jane memegang kepalanya dengan kedua tangan, “Sial, aku tak memikirkan sampai sejauh ini.”
“Kau benar Rei, terlebih lagi jarak New York ke Samoa itu jauh. Sial, kita harus bagaimana sekarang.”
Rei kemudian terpikirkan sesuatu di otaknya, “Kita akan truk box, aku akan meminta tumpangan pada supir.”
Ivana mundur beberapa langkah setelah mendengar bahwa mereka akan pergi dengan menggunakan truk box. “Tidak, aku tidak mau,” Ivana terjatuh ke aspal, ia memegang kepalanya dan mulai menggila.
“Tidak, jangan truk box, kepala ku sakit.”
“AAAAGGGHHHHHH,”
Thor