NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan Untuk Putri, Derita Untuk Tamara

"Kenapa, Tam? Kok keringetan?" tanya Devan, menyudutkan Tamara. "Ayo diminum. Kamu kan udah repot-repot beli mahal-mahal. Sayang kalau cuma Putri yang sehat, kamu juga harus sehat biar bisa cari suami kaya."

"A-aku... aku lagi puasa!" alibi Tamara konyol.

Putri tertawa kecil. "Puasa? Tadi pas masuk Kakak bilang haus. Ayo dong, Kak. Tadi Kakak mohon-mohon minta dimaafin. Syaratku cuma satu, Kakak minum ini, baru aku juga minum. Adil kan?"

Putri menyodorkan gelas itu lebih dekat ke bibir Tamara. "Atau Kakak takut? Takut karena isinya... racun?"

Mendengar kata 'racun', pertahanan Tamara runtuh. Rasa panik menguasai dirinya.

"SINGKIRIN ITU!" jerit Tamara histeris. Ia menepis tangan Putri dengan kasar hingga gelas itu terlempar.

PRANG!

Gelas pecah berkeping-keping. Cairan cokelat itu tumpah menggenangi lantai marmer putih, berbuih sedikit, mengeluarkan bau yang semakin menyengat.

Keheningan melanda ruangan, Tamara berdiri dengan napas memburu, menyadari ia baru saja membongkar kedoknya sendiri.

Devan menatap tumpahan itu, lalu menatap Tamara dengan tatapan mematikan.

"Aku udah duga," desis Devan, "kamu bener-bener Iblis, Tamara."

"Bu-bukan! Itu bukan racun!" sangkal Tamara panik, mundur menuju pintu. "Aku cuma... aku cuma nggak suka baunya!"

"Cukup!" bentak Putri.

Putri menunjuk sisa cairan di lantai. "Kami sudah tahu, Kak. Rian udah memberitahu kami semuanya."

Mata Tamara membelalak. "Si bocah sialan itu..."

"Jangan berani-berani kamu sentuh Rian!" ancam Devan, "denger baik-baik, Tamara. Cairan di lantai itu bakal aku ambil sampelnya, aku bakal bawa ke lab. Dan kalau terbukti itu obat penggugur kandungan atau racun..."

Devan mendekatkan wajahnya ke wajah Tamara yang pucat pasi. "Aku akan pastiin kamu dan mama kamu itu membusuk di penjara, atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap istri dan anak aku."

Lutut Tamara lemas. Penjara? Tamat riwayatnya.

"Devan, jangan... please." Tamara mencoba meraih tangan Devan, memohon. "Aku cuma disuruh mama! Ini ide mama!"

Dalam ketakutan, Tamara bahkan tega menjual nama mamanya sendiri.

"Pergi," usir Putri dingin, ia sudah muak. "Bawa sampah-sampah ini keluar dari rumahku. Dan sampaikan ke mama Anggun, jangan pernah coba-coba sakiti anakku lagi. Karena kali ini, aku tidak akan diam, aku akan lapor polisi."

"PERGI!" bentak Devan.

Tamara lari terbirit-birit keluar rumah, meninggalkan keranjang hampers busuk itu. Ia menangis bukan karena menyesal, tapi karena ketakutan setengah mati. Rencananya gagal total, dan sekarang ia berada di bawah ancaman penjara.

Sepeninggal Tamara, Devan segera memanggil pembantu barunya untuk membersihkan lantai dengan hati-hati. Ia kemudian memeluk Putri erat-erat, mencium perut istrinya.

"Kamu hebat, Sayang," bisik Devan, kamu hebat."

Putri bersandar di dada Devan, menghela napas lega. "Tuhan masih melindungi kita, Mas. Lewat Rian."

Besok aku akan jemput Rian," putus Devan tiba-tiba. "Rumah itu udah nggak aman buat dia. Tamara pasti ngamuk ke Rian. Kita harus selamatkan adik kamu."

Putri mendongak, matanya berbinar. "Mas serius?"

"Sangat serius. Rian lebih pantes tinggal sama kita daripada sama dua penyihir itu."

Akhirnya, satu lagi rencana jahat Tamara berhasil mereka gagalkan. Namun, Tamara jelas saja tidak akan tinggal diam melihat kebahagiaan mereka berdua.

***

Malam itu, kediaman keluarga Pradipta terasa seperti berada di dalam kawah gunung berapi yang siap meletus.

Tamara baru saja memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman. Ia berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat pasi dan air mata yang berantakan. Ia ketakutan setengah mati, ancaman Devan soal penjara dan bukti rekaman CCTV terus menghantuinya sepanjang jalan pulang.

"Mama! Ma!" teriak Tamara histeris begitu masuk ke ruang tengah.

Anggun yang sedang duduk gelisah di sofa langsung berdiri. "Gimana? Berhasil? Dia minum?"

"Gagal, Ma! Gagal total!" jerit Tamara sambil menjambak rambutnya sendiri frustrasi. "Mereka tau semuanya! Si Rian ngadu ke mereka! Devan ngancam mau lapor polisi! Aku bisa dipenjara, Ma!"

Anggun terbelalak, wajahnya ikut memucat. "Rian? Rian siapa?"Anggun masih belum sadar Rian siapa yang dimaksud Tamara.

Belum sempat Anggun menyusun rencana pembelaan, suara benda berat yang dibanting keras ke lantai membuat mereka berdua menjerit kaget.

PRANG!

Sebuah guci keramik mahal hancur berkeping-keping di dekat kaki Tamara.

Di puncak tangga, berdiri Brahma. Wajah pria paruh baya itu merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya menyala dengan kemarahan yang sudah tidak dapat dipendam lagi.

Kemarahan yang jauh lebih besar daripada saat ia mengetahui soal perselingkuhan Devan dan anak pertamanya itu.

Di tangannya, Brahma menggenggam ponsel yang baru saja memutar rekaman suara yang dikirimkan Devan.

"Pa-Papa?" cicit Tamara, lututnya gemetar.

Brahma menuruni tangga perlahan. Setiap langkah kakinya terdengar berat dan menakutkan, seperti langkah malaikat pencabut nyawa.

"Binatang," desis Brahma dengan suara rendah yang menggetarkan seisi ruangan. "Kalian berdua bukan manusia. Kalian binatang!"

"Mas, dengerin dulu penjelasan aku..." Anggun mencoba maju, memasang wajah memelas.

"JANGAN MENDEKAT!" bentak Brahma menggelegar.

Brahma berhenti tepat di hadapan Tamara. Ia menatap putri kesayangannya itu dengan pandangan jijik, seolah ia sedang melihat kotoran.

"Papa sudah dengar semuanya," ucap Brahma, mengangkat ponselnya. "Devan kirim rekaman suara saat kamu memaksa Putri minum racun itu. Papa dengar jelas suara kamu yang memaksa, dan suara Devan yang membongkar niat busukmu."

"Pa, itu aku cuma..."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Tamara, tamparan pertama yang pernah Brahma berikan seumur hidup Tamara. Begitu keras hingga Tamara tersungkur ke lantai, sudut bibirnya pecah berdarah.

"Papa." Tamara memegangi pipinya, syok. "Papa tampar aku?"

"Itu belum seberapa dibanding apa yang mau kamu lakukan ke adikmu!" teriak Brahma, air matanya menetes karena saking marahnya. "Kamu mau membunuh, Tamara! Kamu sadar itu?! Itu bukan cuma janin, itu cucu papa! Itu darah daging keluarga Pradipta!"

Brahma mencengkeram bahu Tamara, mengguncangnya kasar.

"Di mana hati nuranimu?! Putri sudah memaafkan kamu yang merebut suaminya, Putri diam saja kamu hina. Dan sekarang, saat dia hamil, saat dia bahagia, kamu mau meracuni dia?! Iblis macam apa yang merasuki kamu?!"

"Ini semua ide Mama!" jerit Tamara, ketakutan melihat papanya mengamuk. Ia menunjuk Anggun yang berdiri mematung. "Mama yang beli obatnya! Mama yang suruh aku kasih ke Putri! Aku cuma nurut sama Mama!"

Brahma melepaskan Tamara dengan kasar, lalu beralih menatap Anggun. Tatapannya berubah dari amarah menjadi kebencian yang dingin.

"Benar itu, Anggun?" tanya Brahma datar.

Anggun gemetar. "Mas... ak-aku."

Anggun kaget, Tamara bisa-bisanya menyalahkan dirinya, padahal semua itu idenya Tamara. Dia cuma setuju dan mengiyakan, Anggun ingin membela diri, tapi Brahma tidak memberinya kesempatan itu.

"CUKUP!" potong Brahma. "Jangan sebut dia anak haram lagi! Satu-satunya yang haram di sini adalah perbuatan kalian!"

Brahma berjalan mundur, menatap kedua wanita itu dengan napas tersengal.

"Selama ini saya diam. Saya pikir dengan membatasi uang kalian, kalian akan sadar. Ternyata saya salah, kalian bukan cuma serakah, kalian jahat, kalian kriminal." Brahma menunjuk pintu keluar. "Keluar!"

Tamara dan Anggun terbelalak. "Maksud Papa?"

"KELUAR DARI RUMAH SAYA!" raung Brahma, suaranya memecah keheningan malam. "Saya tidak sudi tinggal satu atap dengan pembunuh! Angkat kaki kalian dari sini sekarang juga! Bawa baju seperlunya, dan pergi!"

"Mas, kamu gila?! Ini rumahku juga! Kita belum cerai!" teriak Anggun histeris.

Besok surat cerai akan sampai di mejamu," balas Brahma dingin, "dan kamu, Tamara. Jangan harap kamu dapat satu sen pun dari warisan saya. Nama kamu sudah saya coret. Kamu bukan anak saya lagi, anak saya cuma Putri dan Rian."

Mendengar nama Rian, Anggun teringat sesuatu. "Rian! Rian ikut mama!"

Anggun hendak berlari naik ke lantai atas untuk menyeret Rian.

"JANGAN SENTUH RIAN!" Brahma menghadang Anggun dengan tubuhnya. "Kamu mau racuni otak Rian juga kayak kamu racuni otak Tamara? Nggak akan saya biarkan!"

"Rian anakku!"

Rian anak yang baik! Dia yang menyelamatkan Putri dari rencana busuk kalian! Dia yang menelepon Devan!" bongkar Brahma, "kalau bukan karena Rian, mungkin malam ini tangan kalian sudah berlumuran darah cucu saya!"

Anggun ternganga, jadi anak bungsunya yang mengkhianatinya?

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!