Alissa Moon seorang yatim piatu yang tumbuh di sebuah panti asuhan, ia memiliki kecerdasaan yang luar biasa hingga mampu menghidupkan dirinya sendiri semenjak remaja, berkat beasiswa yang di dapatkan, Alissa telah menyelesaikan pendidikan diusia dini. Selain itu, Alissa memiliki kelebihan berbeda, gadis itu bisa membaca masa lalu dan mengetahui masa depan seseorang.
Hingga suatu waktu, Alissa di hadapkan pada hubungan sepasang kekasih yang pelik, Alrescha Nero sangat mencintai Arabella Kalista, kekasihnya. Sayangnya gadis itu tidak mencintai Alrescha, ia menyukai saudara tirinya bernama Georgi Nero, membuat Alissa percaya di dunia ini manusia adalah makhluk yang tidak tahu diri dan paling egois.
Namun hal tak terduga terjadi, Alissa tidak bisa melihat dan membaca masa depan serta masa lalu Alrescha, namun anehnya setiap kali pria itu berada dalam bahaya, Alissa selalu ada disana, terjerat di dalam takdir yang membuatnya terjebak untuk melindunginya, hingga akirnya Alissa mencinta Alrescha sekalipun ia sadar, jika pria itu masih bertahan pad Arabella yang sudah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon della meyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Episode : 33] Menjadi tidak berguna.
"Abel kenapa kau bicara sembarangan, aku semalam minum bersama dengan Ken, setelah Ken pergi aku melanjutkan olahraga pagi" ucap Alrescha pada kekasihnya, membuat Alissa terpana diam sembari melanjutkan sarapanya.
"Apakah itu benar Ken?" Tanya Arabella kearah calon adik iparnya, namun Ken tak kunjung menjawab, ia memandang kakaknya dengan penuh pertanyaan sebelum menganggukan kepala untuk menyetujuinya.
"Iya, kami ada di Bar tadi malam, kakak juga disana setelah aku kembali" terusnya dengan nada dingin, Ken mengepalkan kedua tanganya saat melihat reaksi kakaknya serta Alissa.
"Kalau benar begitu, kenapa kalian panik sekali" kekeh Arabella dengan memaksakan tawanya, namum Alrescha dan Alissa diam saja, rasanya sangat asing bagi Alissaa untuk berada di situasi ini, sedari awal ia sudah merelakan hatinya untuk mengalah saja, tapi kenapa berkali-kali Alissa memantapkan diri untuk pergi, namun Alrescha Nero selalu merecoki.
"Sudahlah Abel, kau mau sarapan apa?" tanya Alrescha dengan kalimat tenang.
"Entahlah, aku tidak mau makan yang berat-berat" balas Arabella saat memandangi menu yang sedang di baca Kekasihnya.
Hingga sarapan pagi itu, terjalin cukup damai, bahkan Alissa bisa melihat bagaimana perhatianya Alrescha pada kekasihnya, pria itu sangat hangat, sayangnya Arabella tidak tulus mencintainya.
"Apa kau yakin pulang sendirian?" tanya Ken dengan gurat khawatir yang begitu jelas ia berikan pada Alissa.
"Aku yakin, kenapa kau berlebihan sekali" ucap gadis itu saat memasukan barang ke bagasi mobil, bahkan Ken tengah membantu untuk menutupi mobil itu, Alissa terpaksa pulang saat hampir sore, karna Kenderick meminta sopir pribadinya untuk menjemput dari kota sebagai kesepakatan mereka, tentu selain menyetujuinya tak ada lagi yang bisa Alissa lakukan, karna berdebat hanya akan membuat kepulanganya semakin lama.
Alissa ingin memasuki kabin penumpang. namun matanya terpaku kearah atas sembari mendongakan kepala, ia melihat Alrescha beridiri di balkon Villa saat memandangi dirinya, rasanya kejadian dini hari yang hanya Alissa ketahui, membuat jangungnya berdebar kencang untuk sekedar menatap.
Alissa mengurungkan niatan untuk masuk, ia keluar dan berdiri tegap di tepi mobil, matanya menatap kearah alrescha sembari membungkukan badan untuk salam perpisahan mereka, meskipun Alissa ingin sekali disini, tapi nampaknya hubunganya dan Alrescha terlanjur asing, jadi bertahanpun akan membuat kecangungan.
Alrescha memasukan tanganya ke celana gantung, ia hanya mampu menghela nafas dengan berat, seraya memandangi Alissa yang berpamitan pulang, kenapa ia merasa tidak terima ketika gadis itu kembali, rasanya Alrescha ingin Alissa lebih lama lagi, tapi apa yang bisa ia putuskan saat menjatuhkan perintah yang telah menyakiti gadis itu.
"Aku pergi dulu Ken" terus Alissa saat memandangi Ken yang berdiri diantara mereka.
"Hati-hati di jalan Lisa" sambung Kendrick ketika mengulas senyum hangatnya.
Alissa memasuki mobil untuk pergi dari sana, ia duduk di kuris belakang seorang diri dengan hati berat meninggalkan Alrescha dengan pekerjaan yang tidak terselesaikan di Villa ini. Baru saja gadis itu berlau, mata Ken mendongak melihat kakaknya, bahkan ia mulai tidak menyukai kakaknya itu, perlahan Alrescha pergi meninggalkan balkon ketika Arabella sedang menghampiri. "Sayang, kenapa kau banyak diam hari ini?" tanya Arabella pada kekasihnya.
"Tidak, aku hanya lelah saja" ucap Alrescha sambil lalu.
"Apa mau aku temani tidur siang?"
"Tidak Abel, aku ingin sendiri. Kau di SPA saja, aku sangat lelah hari ini " hingga Arabella terdiam kaku ketika lagi-lagi ia di tolak pria itu.
*
Alissa memandangi perjalanan selama pulang ke Jakarta, kemarin ia masih mendengus kesal ketika melihat akses jalan yang tidak sesuai dengan harapan, bahkan ia begitu jengkel saat mengetahui bagaimana bisa Alrescha membuat Villa mewah di tengah hutan, tapi setelah mengetahui alasan utama pembangunan ini, membuat Alisaa sadar jika sebenarnya Alrescha Nero masih memiliki hati seperti manusia, bisnis ternyata tak membuat pria dingin itu kehilangan jati dirinya, bahkan akibat kekesalan semata, Alissa bisa salah sangka dan malah membencinya, sungguh membuat Alissa malu sekali pada Alrescha.
Brak.....
"Ada apa tuan?" panik Alissa saat sopirnya berhenti secara mendadak, bahkan tangan Alissa bertumpu ke kursi kemudi untuk menahan dirinya yang hampir terjatuh ke depan.
"Maaf Nona.......ada seorang wanita yang tiba-tiba mencegat jalan kita" ucap pria itu hingga membuat Alisaa menyipitkan mata mengakses penglihatanya. "Saya akan turun sebentar........ anda tunggu saya di mobil" pria itu berlalu keluar meninggalkan Alissa sesegera mungkin, Alissa melihat wanita paruh baya dengan kondisi pucat pasi serta pakaian lusuh yang ia gunakan, Alissa tidak tahu perdebatan apa yang terjadi diantara sopir Ken dan ibu parubaya itu, yang jelas wanita itu terlihat memohon sekali.
Alissa menapakan kakinya di badan jalan, ia menghampiri mereka sembari bertanya ada apa. "Ada apa Tuan" tanya Alissa hingga membuat wanita itu berlari kearahnya, sambil mengenggam kedua tanganya dengan penuh harap.
"Nona, tolong saya, saya mohon bantu anak saya" ucapnya dengan air mata yang sudah berderai, bahkan di mata itu saja membuat Alissa melihat jika anak gadisnya tengah sakit di rumah. Tapi mereka tidak memiliki akses kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit, bahkan Alissa tidak berfikir jika ada rumah sakit terdekat di kawasan ini, paling tidak hanyalah puskemas yang kurang fasilitas.
"Ayo masuk bi. Pak ayo kita kerumah bibi ini" ucap Alissa ketika menuntun wanita itu untuk pergi ke mobil, bahkan sopir Ken di buat terpaku atas sikap Nona Alissa, sebenarnya ia sangat ingin membantu, tapi karna dia harus mengantarkan nona Alissa dengan selamat, membuatnya cukup takut.
Siapa yang tahu jika wanita itu benar-benar orang baik, tidakah gadis itu terlalu ceroboh memberikan pertolongan pada orang asing tanpa mencurigainya, bahkan selain mengikuti perintah ia tidak tahu harus menolal seperti apa.
Mobil itu masuk ke perkampungan, bahkan mata Alissa di buat terdiam saat anak-anak di kawasan ini berlari mengejar mobil yang ia tumpangi, seolah akses kendaraan sangat langka masuk ke perkampungan ini, sebenarnya daerah mana yang sedang Alissa kunjungi, bagaimana bisa sejauh ini dan bahkan tidak ada kehidulan masyarakat yang cukup layak.
Alissa turun dari mobil untuk masuk ke rumah berbata yang ada di depan matanya, ia melihat jendela rumah terbuat dari jaring kawat untuk penahanya, nampaknya atap itu sudah tidak layak lagi di gunakan sebagai tempat berteduh, bahkan cahaya bisa tembus ke dalam rumah menjadi sekumpulam bulat-bulat yang ada di lantai semen, Alissa tidak bisa membayangkan bagaiman jadinya jika tiba-tiba hujan? Tapi jawaban itu ia temukan saat melihat mata bibi yang sedang manangis barusan, jika hujan mereka akan meletakan sebuah wadah di sepanjang rumah untuk menampung kebocoran, bahkan ini sangat tidak cocok di jadikan tempat tinggal, tapi lihat di rumah ini, banyak kepala sebagai penghuninya, ada kakek nenek, saudara perempuanya, suaminya, dan saudara suaminya, serta anaknya dan anak-anak dari beberapa pasangan suami istri lagi, sebenarnya apa pekerjaan pemerintah hingga tidak menyadari di pelosok wilayah indonesia masih banyak rumah yang belum mendapatkan renovasi layak dari pajak, bahkan pendidikan, kesehatan, listrik, dan air bersih nampaknya sulit mereka akses.
"Noela, apa mentari sudah bisa di bawa ke puskesmas" putus seseorang yang tiba-tiba ada disana, ketika supir Kenderick membawa gadi bernama Mentari untuk ke mobil.
"Sudah Tuan Joe, syukurlah Nona baik itu mau membantu" uncap bibi Noela ketika memperkenalkan Alissa pada Tuan Joe, yang merupakan pengurus di kampung ini.
"Nona....anda bukannya"
"Saya Alissa Moon Tuan, saya sekretaris utama perusahaan Nero, saya yang menginap kemarin di Villa"
"Oh benar, astaga Nona, terimakasih banyak atas bantuan anda, saya hampir putus asa dan ingin meminta bantuan ke Tuan Alrescha lagi, padahal beberapa minggu lalu saya sudah meminta gaji untuk membeli beras untuk masyarakat disini" ucapanya dengan sungkan, membuat Alissa seperti tertampar atas apa yang sudah ia lakuakan.
Apa gunanya memiliki kemampuan melihat masa depan dan masa lalu seseorang, jika Alissa mrngabaikan bagian pentingnya menjadi manusia, ia bahkan baru menyadari bagaimana besarnya perkembangan Villa yang Alrescha dirikan itu untuk ekonomi masyarakat di perdesaan ini, tidakah ini terlalu sakit pada dirinya sendiri, bahkan untuk dirinya yang selalu pintar serta luar biasa mengagumkan, menjadi tidak berguna, ketika tidak bisa bersimpati pada kehidupan orang yang masih kekurangan.
"Maaf tuan, saya permisi" Alissa berlalu dari hadapan beliau ketika menahan bulir air mata bersalah yang hampir saja terjatuh. Ia berlalu pergi ketika warga desa membuka jalan setelah membuat kerumunan untuk melihat kehadiranya.
Up dong thor🙏🙏🙏
semangat Thor aku padamu🤗