NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kilau Murahan di Jok Kulit

Cahaya matahari pagi menusuk masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di penthouse kawasan SCBD itu, tapi Alana merasa kedinginan. Ia terbangun dengan kepala berdenyut, bukan karena sisa alkohol dari pesta kelulusannya semalam, melainkan karena ingatan yang menolak pergi. Suara itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Mas... pelan-pelan."

Suara Siska. Sahabatnya sejak semester satu kuliah. Sahabat yang ia traktir makan siang hampir setiap hari karena uang sakunya pas-pasan. Sahabat yang semalam ia mohonkan pekerjaan kepada ayahnya.

Alana duduk di tepi ranjang king size-nya, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya pucat. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Ia ingin percaya bahwa ia salah dengar. Mungkin itu efek kelelahan. Mungkin Siska memanggil "Pak" dan akustik ruang kerja ayahnya yang kedap suara membiaskan bunyinya. Tapi insting Alana, bagian kecil di sudut otaknya yang selama ini ia abaikan demi kenyamanan hidup, berteriak bahwa ia tidak salah.

Ia menyeret kakinya keluar kamar menuju ruang makan. Aroma kopi arabika yang kuat dan roti panggang memenuhi udara, disiapkan oleh asisten rumah tangga yang datang pagi-pagi buta. Di ujung meja marmer panjang yang bisa memuat dua belas orang itu, Hendra Wardhana duduk sendirian.

Ayahnya tampak sempurna seperti biasa. Kemeja putih yang disetrika kaku, rambut yang disisir rapi dengan pomade mahal, dan kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Ia sedang membaca berita ekonomi di tablet, satu tangan memegang cangkir espresso.

"Pagi, Pa," sapa Alana. Suaranya terdengar serak.

Hendra tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan jarinya di layar tablet. "Pagi. Kamu bangun siang. Padahal Papa mau ajak kamu ke kantor hari ini. Katanya mau belajar pengelolaan aset?"

Nada bicaranya datar, tanpa kehangatan. Itulah Hendra. Efisien, transaksional, dan dingin. Dulu Alana mengira itu wajar bagi seorang pebisnis properti sukses yang harus menjaga wibawa. Sekarang, Alana menatap ayahnya dengan lensa baru. Apakah dinginnya sikap itu karena kehangatannya sudah habis diberikan pada wanita lain? Pada Siska?

"Kepala Alana agak pusing," jawabnya sambil menarik kursi. Ia menuangkan air putih dengan tangan sedikit gemetar.

"Minum obat. Jangan manja. Dunia bisnis tidak peduli kamu pusing atau tidak," sahut Hendra tajam, akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menatap putrinya sekilas, tatapan menilai yang membuat Alana merasa kecil. "Oh ya, soal temanmu itu... siapa namanya? Siska?"

Jantung Alana berhenti berdetak sesaat. Ia meremas gelas kaca di tangannya. "Ya? Kenapa dengan Siska?"

"Papa sudah suruh HRD siapkan kontrak percobaan. Dia bisa mulai minggu depan di divisi pemasaran. Anaknya terlihat... ambisius. Cukup gigih untuk ukuran orang yang tidak punya koneksi."

Pujian itu terasa seperti tamparan. Hendra jarang memuji orang. Jika ia menyebut seseorang "gigih", itu artinya ia melihat kegunaan dalam diri orang itu. Atau dalam kasus ini, mungkin ia melihat hal lain.

"Terima kasih, Pa. Siska pasti senang," Alana memaksakan senyum. Rasanya perih di sudut bibir.

"Hm," Hendra berdiri, merapikan kemejanya. "Papa harus berangkat. Ada pertemuan dengan investor dari Singapura. Pak Ujang sakit hari ini, jadi Papa nyetir sendiri."

Hendra mengambil kunci mobil dari meja konsol, lalu berhenti sejenak. Ia meraba saku jas dan celananya dengan kening berkerut. "Sial."

"Kenapa, Pa?"

"Ponsel kedua Papa tertinggal di mobil semalam. Sepertinya jatuh di sela jok belakang waktu Papa pulang dari... pertemuan larut malam itu."

Alana tahu "pertemuan" yang dimaksud. Ayahnya bilang ada urusan mendadak sebelum pesta dimulai, dan baru muncul saat acara sudah setengah jalan bersamaan dengan kedatangan Siska. Alana menelan ludah.

"Papa buru-buru. Tolong kamu ambilkan di garasi. Kuncinya di sini. Nanti antar ke lobi bawah, Papa tunggu di mobil."

Sebelum Alana sempat menjawab, Hendra sudah melempar kunci mobil Alphard hitamnya ke atas meja makan dan melangkah pergi menuju lift pribadi, meninggalkan wangi parfum maskulin yang mahal namun kini terasa menyesakkan bagi Alana.

Alana menatap kunci itu selama beberapa detik. Ia tidak ingin turun. Ia tidak ingin masuk ke mobil itu. Tapi kakinya bergerak sendiri, dipandu oleh rasa penasaran yang menyakitkan.

Lift membawa Alana turun ke lantai basement khusus penghuni penthouse. Garasi itu sunyi, hanya terdengar dengung samar mesin pendingin udara sentral. Deretan mobil mewah berjejer: Mercedes, Porsche, dan Alphard hitam yang sering digunakan ayahnya untuk urusan harian.

Alana menekan tombol kunci. Lampu mobil berkedip, diikuti bunyi *bip* yang menggema. Ia membuka pintu penumpang belakang sebelah kiri. Posisi favorit ayahnya.

Interior mobil itu berbau kulit premium bercampur aroma samar rokok yang coba ditutupi pengharum mobil. Alana masuk, berlutut di atas karpet beludru tebal. Ia meraba sela-sela jok kulit captain seat yang lebar itu.

Tangannya menyentuh permukaan dingin ponsel. Itu dia. Ponsel hitam tipis yang jarang ayahnya keluarkan di rumah. Alana memungutnya. Layarnya gelap, terkunci. Ia tidak tahu sandinya, dan ia tidak berani mencoba menebak.

Saat ia hendak menarik tangannya kembali, ujung jarinya menyenggol sesuatu yang lain. Sesuatu yang kecil, keras, dan tajam.

Alana mengerutkan kening. Ia merogoh lebih dalam ke celah pertemuan antara sandaran punggung dan dudukan kursi. Jarinya menjepit benda itu dan menariknya keluar ke bawah cahaya lampu kabin yang redup.

Napas Alana tercekat.

Di telapak tangannya, tergeletak sebuah anting. Bukan berlian, bukan emas murni. Itu adalah anting perak imitasi berbentuk tetesan air dengan batu zirkonia murah yang kilaunya terlalu mencolok.

Alana mengenali anting ini. Ia mengenalnya dengan sangat baik.

Bulan lalu, ia dan Siska jalan-jalan ke sebuah bazar di mal. Siska menatap anting ini lama sekali tapi tidak membelinya karena harganya seratus lima puluh ribu—jatah makannya untuk tiga hari. Alana, dengan entengnya, membelikan anting itu untuk Siska.

*"Bagus banget, Lan! Gue bakal pakai ini kalau ada acara spesial doang,"* kata Siska waktu itu dengan mata berbinar.

Acara spesial.

Tangan Alana gemetar hebat. Anting ini tidak mungkin jatuh dari saku Hendra. Anting ini jatuh dari telinga seseorang yang duduk di kursi ini. Seseorang yang mungkin menyandarkan kepalanya, atau tertawa, atau melakukan hal lain di kursi belakang mobil ayahnya.

Apa yang dilakukan Siska di mobil ayahnya? Kapan? Semalam Siska datang naik taksi online—atau setidaknya itu yang dia katakan. Jika Siska menumpang mobil Hendra, kenapa mereka harus berpura-pura datang terpisah?

Visualisasi liar mulai membanjiri benak Alana. Jok kulit ini, aroma parfum vanilla manis yang kini samar-samar tercium di antara bau kulit... itu wangi tubuh Siska. Parfum isi ulang yang sering Siska semprotkan berlebihan.

Alana merasa mual. Perutnya bergejolak. Ia ingin melempar anting itu, tapi ia menahannya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga logam murah itu menusuk kulit telapak tangannya, memberikan rasa sakit fisik yang ia butuhkan untuk tetap sadar.

Ponsel di tangan kirinya bergetar, membuatnya terlonjak. Sebuah pesan masuk di layar yang menyala. Karena fitur privasi, isi pesan tidak terlihat, hanya nama pengirimnya:

*S.K.*

Alana tidak bodoh. S.K. Siska Kartika.

Ia keluar dari mobil dengan napas memburu, membanting pintu sedikit terlalu keras. Ia berdiri di garasi yang sunyi, memegang bukti pengkhianatan di tangan kanan dan alat komunikasi pengkhianatan itu di tangan kiri.

"Non Alana?"

Alana tersentak. Sopir pengganti, seorang pria muda yang baru bekerja dua bulan, berdiri di dekat pintu akses tangga darurat dengan wajah bingung.

"Bapak sudah menunggu di lobi, Non. Katanya ponselnya lama sekali?"

Alana harus berpikir cepat. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun melihat wajahnya yang mungkin sedang menahan tangis atau amarah. Ia menarik napas panjang, memasang topeng wajah datar yang sering ia lihat dipakai ayahnya.

"Ini," Alana menyerahkan ponsel ayahnya kepada sopir itu. "Tolong antarkan ke Papa. Bilang saya sakit perut, harus ke kamar mandi sebentar. Saya tidak bisa turun."

"Baik, Non."

Begitu sopir itu menghilang, Alana kembali masuk ke lift. Ia tidak menekan tombol lantai penthouse. Ia menekan tombol 'Tahan Pintu' dan merosot ke lantai lift yang dingin. Ia membuka kepalan tangan kanannya. Anting murahan itu kini sedikit bengkok karena remasannya.

Ia merogoh saku celana tidurnya, mengambil ponselnya sendiri, dan mencari kontak Siska. Ia menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar tiga kali sebelum suara riang itu menjawab.

"Halo, Tuan Putri! Gimana *morning after*-nya? Masih *hangover* nggak? Gila sih pestanya pecah banget semalam."

Alana memejamkan mata. Nada bicara itu... begitu polos, begitu akrab. Seolah-olah Siska adalah saudari yang paling peduli di dunia.

"Sedikit pusing, Sis," jawab Alana. Suaranya terdengar jauh lebih tenang dari perasaannya. Ia mewarisi bakat sandiwara ayahnya, rupanya. "Eh, *by the way*, lo ada barang yang ilang nggak semalam?"

Hening sejenak di ujung telepon. Sangat singkat, tapi Alana bisa mendengarnya. Jeda mikro di mana seorang pembohong sedang mengalkulasi jawaban.

"Barang? Nggak deh kayaknya. Dompet ada, hp ada. Kenapa emang?"

"Nemu anting di karpet ruang tengah. Yang bentuk tetesan air itu. Yang gue beliin."

"Oh!" Suara Siska naik satu oktaf. "Ya ampun, iya! Gue cariin pas sampe kosan tadi malem, kirain jatoh di taksi. Syukur deh kalau ketemu di rumah lo. Simpenin ya, Lan. Itu anting keberuntungan gue."

*Di rumah lo.* Siska berbohong. Alana menemukannya di dalam mobil, terhimpit di sela jok belakang, bukan di karpet ruang tengah. Jika anting itu jatuh di ruang tengah, Siska tidak akan panik. Tapi Siska langsung mengiyakan lokasi palsu yang Alana berikan. Itu artinya Siska tidak tahu di mana antingnya jatuh, dan dia takut jika Alana tahu lokasi sebenarnya.

"Oke. Gue simpenin," kata Alana dingin.

"Makasih ya, Lan. Lo emang terbaik. Oh ya, bokap lo udah bilang belum soal kerjaan? Gue deg-degan nih."

Kata 'bokap lo' meluncur begitu saja dari mulut Siska, seolah dia tidak memanggil pria itu dengan desahan manja beberapa jam yang lalu.

"Udah. Selamat ya, minggu depan lo mulai," ujar Alana.

"AAA! Serius?! *Thank you* Alana! Nanti gue traktir bakso deh kalau gaji pertama turun!"

"Gak usah," potong Alana. Ia berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin lift. Matanya yang tadi sendu kini menajam, mengeras. "Simpan aja uang lo. Lo bakal butuh."

Alana memutus sambungan telepon sepihak. Ia kembali menatap anting di tangannya. Anting ini bukan lagi simbol persahabatan. Ini adalah peluru. Dan Alana baru saja mulai mengisi amunisinya.

Ia memasukkan anting itu ke dalam saku, lalu kembali ke kamarnya. Ia tidak jadi tidur kembali. Ia membuka laptop, membuat folder baru dengan nama 'Skripsi Revisi'—nama yang membosankan agar tidak ada yang membukanya—dan mulai mengetik tanggal serta kejadian hari ini.

Jika Siska ingin bermain api di rumahnya, dan ayahnya ingin bermain gila di belakangnya, Alana tidak akan menyiram mereka dengan air. Ia akan membiarkan mereka terbakar, tapi ia harus memastikan dirinya tidak ikut hangus.

Alana mengambil kotak perhiasannya, menyembunyikan anting murah itu di bawah tumpukan kalung emas. Kilau murahan itu terkubur, tapi dosanya baru saja terangkat ke permukaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!