NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang tak di undang

Mitsuki keluar dari apartemennya tanpa jubah shinobi atau pelindung dahi. Ia mengenakan kaos putih polos, jaket denim biru longgar, dan celana kargo hitam. Penampilannya sangat "normal", kecuali kulitnya yang seputih porselen dan matanya yang terlalu jernih.

​Ia berjalan menyusuri trotoar, membiarkan tangannya berada di dalam saku.

​“Manusia di dunia ini menghabiskan 30% waktu libur mereka untuk mengonsumsi hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan,” batin Mitsuki sambil menatap sebuah toko yang menjual merchandise pahlawan.

​Langkahnya terhenti di depan sebuah toko tanaman. Matanya tertuju pada sebuah pot kecil berisi sukulen yang bentuknya meliuk-liuk unik.

​"Itu namanya Snake Plant (Lidah Mertua), Nak," ucap penjual toko, seorang wanita tua yang ramah. "Sangat kuat, bisa bertahan hidup meski kau lupa menyiramnya."

​"Mirip denganku," gumam Mitsuki pelan. Ia membeli tanaman itu. Ia merasa perlu merawat sesuatu yang hidup yang tidak menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofisnya.

​Saat jam makan siang mendekat, Mitsuki memutuskan untuk pergi ke supermarket besar. Ia ingin mencoba membuat sesuatu yang disebut Izuku sebagai "Katsudon"—makanan yang konon bisa meningkatkan semangat.

​Di lorong bumbu dapur, ia melihat seorang wanita paruh baya berambut hijau yang tampak sedang kebingungan memilih merek tepung. Mitsuki mengenalinya seketika dari foto yang pernah diperlihatkan Izuku.

​"Bibi Midoriya?" sapa Mitsuki dengan nada datar namun sopan.

​Inko Midoriya tersentak, hampir menjatuhkan belanjaannya. Ia menoleh dan matanya membelalak. "Oh! Kamu... kamu teman Izuku yang memenangkan festival itu, kan? Mitsuki-kun?"

​"Ya," Mitsuki membungkuk hormat. "Senang bertemu Anda lagi, Bibi."

​Inko segera mendekat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran sekaligus kekaguman. "Ya ampun, terima kasih banyak sudah menjaga Izuku! Aku melihatmu di TV, kau sangat hebat, tapi bibi sangat khawatir saat melihat ledakan-ledakan itu. Apa kau terluka? Apa kau sudah makan?"

​Rentetan pertanyaan itu membuat Mitsuki sedikit bingung. Di duniaku, orang tua jarang bertanya 'apa kau sudah makan' setelah pertempuran hidup dan mati. "Aku baik-baik saja, Bibi. Aku sedang mencoba membeli bahan untuk membuat Katsudon."

​Inko tersenyum hangat, matanya berkaca-kaca. "Katsudon? Itu makanan kesukaan Izuku! Mari, biar Bibi bantu pilihkan bahan yang terbaik. Jangan beli merek itu, yang ini jauh lebih segar."

​Tanpa disadari, Mitsuki berakhir di dapur apartemen keluarga Midoriya. Inko bersikeras mengajarinya cara memasak yang benar.

​"Izuku sedang pergi latihan lari pagi dengan All Might," ucap Inko sambil memotong bawang. "Dia anak yang keras kepala, mirip sekali dengan ayahnya. Tapi sejak dia berteman denganmu, dia terlihat lebih... tenang. Lebih percaya diri."

​Mitsuki memperhatikan cara Inko bergerak. Gerakannya tidak efisien seperti ninja, penuh dengan langkah-langkah yang tidak perlu, tapi ada "energi" lain di sana. Energi perlindungan.

​"Bibi," panggil Mitsuki. "Kenapa Anda tidak melarangnya menjadi pahlawan? Anda tahu dia terus-menerus mematahkan tulang jarinya."

​Inko terhenti. Ia meletakkan pisaunya, wajahnya berubah sendu. "Setiap kali dia terluka, hatiku rasanya hancur, Mitsuki-kun. Aku ingin dia aman di rumah. Tapi... melihat matanya saat dia bicara tentang menyelamatkan orang, aku sadar bahwa melarangnya sama saja dengan mematikan jiwanya."

​Inko menatap Mitsuki. "Kau juga sama, kan? Kau punya mata yang terlihat seolah kau sedang memikul rahasia yang berat. Kau juga punya seseorang yang menunggumu pulang?"

​Mitsuki terdiam. Ia memikirkan Orochimaru. Apakah ayahnya "menunggunya" dengan cara yang sama seperti Inko menunggu Izuku? Ataukah ayahnya hanya menunggu "data"?

​"Aku punya seseorang," jawab Mitsuki akhirnya. "Tapi dia lebih suka menungguku di dalam kegelapan daripada di meja makan."

​Sore harinya, Izuku pulang dan terkejut setengah mati melihat Mitsuki sedang duduk di meja makannya, memakan Katsudon bersama ibunya.

​"Mitsuki-kun?! Kenapa kau ada di sini?!" teriak Izuku, wajahnya merah padam karena malu melihat rumahnya yang sederhana.

​"Ibumu mengajariku cara membuat 'makanan matahari', Izuku," ucap Mitsuki sambil menyuap nasi.

​Setelah makan, keduanya duduk di balkon apartemen, melihat matahari terbenam di cakrawala Musutafu.

​"Ibu sangat menyukaimu," ucap Izuku sambil menghela napas. "Dia bilang kau anak yang sangat sopan, meskipun agak 'misterius'."

​"Ibumu luar biasa, Izuku," balas Mitsuki. "Dia tidak punya Quirk yang kuat untuk bertarung, tapi dia memiliki aura yang bisa membuat musuh paling kejam sekalipun ingin meletakkan senjatanya. Itu adalah jenis kekuatan yang belum pernah aku lihat sebelumnya."

​Izuku tersenyum, menatap langit. "Itulah alasan aku ingin menjadi pahlawan. Untuk melindungi senyuman seperti itu."

​"Izuku," Mitsuki menoleh. "Tentang magang nanti... aku telah memutuskan. Aku tidak akan mengambil tawaran dari agensi besar atau agensi yang dikirim 'ayahku'."

​"Lalu kau akan ke mana?"

​"Aku akan pergi ke tempat yang paling tidak terduga," ucap Mitsuki. "Aku akan pergi ke agensi Fat Gum di Distrik Esu. Aku ingin belajar tentang 'empati' dan bagaimana pahlawan bekerja di jalanan sempit, bukan hanya di bawah lampu sorot."

​Izuku tertegun. "Fat Gum? Itu agensi yang sangat sibuk dengan kasus-kasus kriminal jalanan. Kau yakin?"

​"Ya. Karena di sana, aku tidak akan diperlakukan sebagai juara satu," Mitsuki berdiri, membawa pot sukulennya. "Aku akan diperlakukan sebagai manusia yang sedang belajar."

​Saat Mitsuki berjalan pulang malam itu, ia merasa diikuti. Bukan oleh penjahat biasa, melainkan oleh sesuatu yang lebih halus.

​Ia berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip. "Kau bisa keluar sekarang," ucap Mitsuki pada bayangan di gang.

​Sesosok pria berpakaian hitam dengan topeng gagak muncul salah satu pesuruh Orochimaru yang disusupkan ke dunia ini. "Tuan Orochi ingin tahu... kenapa Anda menolak penawarannya? Anda butuh fasilitas laboratorium untuk menjaga stabilitas sel Anda."

​Mitsuki menatap pria itu dengan mata kuning yang mendadak berubah menjadi predator. Ular-ular kecil muncul dari balik lengan bajunya.

​"Katakan pada Ayah," desis Mitsuki. "Sel-ku stabil bukan karena cairan kimia, tapi karena aku mulai menyukai udara di sini. Jika dia terus mengirim 'bayangan' untuk mengikutiku, aku akan memastikan bayangan itu tidak akan pernah kembali ke lubangnya."

​Pria itu gemetar, lalu menghilang ke dalam kegelapan. Mitsuki melanjutkan perjalanannya, memeluk pot tanamannya erat-erat. Hari liburnya telah usai, dan ia baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya.

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!