Bagaimana jadinya kalau sad boy bertemu dengan sad girl.
Disarankan membaca Dosenku Suamiku dulu biar feel-nya dapat. Novel ini merupakan squel dari Dosenku suamiku.
"Sayang..... jangan bobo dulu aku mau lagi." ~ Zidane
"Apaan sih Bang, tinggal comot aja langsung."~ Anna
"We....asyik...."~Zidan
"Abaaang.... gubrak"~Anna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisuda
Zidan tengah bersiap untuk memakai baju terbaiknya. Hari ini ia akan di wisuda dan itu menandakan pria itu telah rampung masa kuliah S1. Ada rasa senang dan haru karena bisa lulus lebih cepat dari perkiraan waktu yang diprediksikan.
Keluarga Zidan juga sudah tiba di Malang sejak tadi pagi. Mereka langsung menuju lokasi di mana tempat akan di berlangsung kan.
"Gimana penampilan aku Mah, udah oke." Mama Alin mengangguk dengan mengulas senyum. Walaupun Zidan tersenyum bahagia tetapi ia tahu ada kecewa di matanya karena seseorang yang di harapkan tidak kunjung datang.
"Udah sana masuk dulu, gabung sama mahasiswa yang lainnya."
"Bentar Mah," jawab Zidan datar. Pandangannya terus menyapu kesepenjuru arah. Ia masih berharap Anna akan datang mengingat adiknya telah memberi tahu.
Sepertinya memang terlalu mustahil. Aku tidak lah penting bagimu.
Zidan berwajah lesu melangkahkan kaki ke Auditorium. Acara akan di mulai pukul 08.00 wib itu tandanya masih ada sisa waktu sepuluh menit lagi sebelum di mulai.
Zidane sudah mengambil duduk dengan urutan yang telah di tentukan. Kursi nomer 205 semua di kelompokan berdasarkan jurusan. Zidane juga merasa lega karena ke dua orang tuanya sudah masuk dan duduk di antara wali lainnya.
Anna sebenarnya sudah tiba di lokasi semenjak pagi tadi sebelum semuanya di mulai. Gadis itu ragu antara ingin menyapa atau tetap diam mengamati dari jauh. Anna memilih duduk di luar gedung menunggu acara inti selesai baru kemudian ia akan muncul memberi selamat.
Suasana di auditorium juga sudah di penuhi dengan para calon lulusan. Semua serempak memakai jubah hitam yang senada sehingga agak sulit mengenali wajah orang kalau tidak dari jarak dekat. Tempat duduk yang akan di wisuda di lantai satu sementara orang tua/wali duduk di lantai dua.
Dari tempat nya berada Mama Alin bisa melihat Zidane di barisan antara mahasiswa walaupun dengan jarak jauh, pria itu nampak menonjol karena postur tubuhnya yang jangkung.
Sesaat setelah orang tua Zidane masuk, Mama Alin sempat menelfon anak menantunya itu. Mama Alin tidak menyangka kalau Anna datang dan bahkan gadis itu sekarang sudah di lokasi.
"Mau kemana Mah acara sudah di mulai." Pak Dahlan terlihat bingung melihat istrinya berdiri dan hendak melangkah antusias.
"Anna datang Pa, dia ada di luar. Mama mau suruh dia masuk biar Mama yang tunggu di luar. Zidane butuh suport dari istrinya."
"Ma duduk Ma, biar Papa yang keluar."
Suara lengkingan MC yang menyebut nama Zidanpun menghentikan langkah Pak Dahlan.
"Zidane Nicholas... dengan IPK 3.80."
Baik Pak Dahlan atau Mama Alin tersenyum senang, anaknya ternyata cukup pintar.
***
"Selamat sayang, anak Mama dan Papa sudah lulus." Pak Dahlan dan Mama Alin memeluk putranya dengan bangga.
"Congratulations kaka ganteng."
"Selamat Zidan."
Semua orang nampak antusias menyambut kelulusan Zidane tak terkecuali seseorang yang tengah berjalan mendekat mengamatinya. Namun langkahnya terhenti sebab ada seseorang yang cukup menarik perhatiannya tengah memberi selamat dan juga sebuah bingkisan hadiah.
Gadis itu nampak tersenyum sumringah dan menjabat tangan Zidane sebelum akhirnya menghambur ke dalam pelukan suaminya. Dia adalah Nayla seseorang yang pernah di temuinya waktu di kantor suaminya.
Anna masih terpaku di tempatnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mendekat, gadis itu sudah cukup puas melihat dari jarak yang tidak begitu jauh namun terlihat nyata. Ada rasa sedikit ngilu di hatinya, tatkala suaminya menyambut begitu antusias pelukan hangat Nayla.
Zidane terlihat tersenyum bahagia, Anna senang melihat pemandangan hal ini. Itu artinya dia baik-baik saja tanpa dirinya.
Ah, iya! tentu saja Zidane akan biasa saja tanpa kehadirannya. Apalah aku bagi dia.
Anna mulai berjalan mundur gadis itu membalikkan tubuhnya dan...
Bruk...!!
Anna menabrak seseorang yang tepat berdiri di belakangnya. Sontak suaranya Anna dan laki-laki yang di tabrak pun menyita perhatian sekitar dan Zidane melihatnya.
"Aduh sorry... sorry... nggak sengaja." Anna dan laki-laki itu saling terdiam sejenak sebelum akhirnya terkekeh bersama.
"Yugo..."
"Anna..."
"Hai... kamu wisuda juga?" Anna mengamati pakaian yang di kenakan Yugo sama persis dengan yang Zidane pakai.
"Iya, kamu sendiri ngapain berkeliaran di sini?"
"Owh aku... datang sebagai pendamping suamiku," jawabnya agak ragu mengingat gadis itu belum menemuinya.
"Owh gitu." Yugo tersenyum sekilas sebelum akhirnya pamit berlalu karena sudah di tunggu keluarganya.
Dalam diam Zidane tersenyum senang melihat Anna yang berkata demikian. Anna hendak melangkah maju sebelum akhirnya suara berat Zidane menghentikan langkanya.
"Kamu nggak mau kasih selamat buat suamimu?" Anna yang mendengar suara itu langsung berbalik arah. Pandangan mereka bertemu, dalam seperkian detik mereka saling diam dalam pandangan yang sulit di artikan. Ada rindu di mata ke duanya tapi seolah memberi jarak.
"Congratulations on your graduation hubby," ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Pria itu langsung menyambut uluran tangan istrinya dan menarik hingga tubuh itu berada di dalam pelukan suaminya.
"Terimakasih sudah datang," bisiknya lirih di sela-sela rasa lega yang menyelimuti hatinya. Mereka berpelukan cukup lama dan ke duanya hanya diam saja.
Ehem ehem....
Deheman Icha mengurai pelukan ke duanya.
"Nggak jadi foto-foto nih," ujarnya menginterupsi.
Zidane terkekeh mendengar ocehan adiknya yang jelas menyindir dirinya.
"Foto dong... moment langka ini harus di abadikan," jawabnya semangat.
Mereka mengambil foto berdua cukup banyak, lalu foto bersama keluarga. Setelah sesi foto bersama acara di lanjutkan ke sebuah restoran untuk makan bersama merayakan kelulusannya.
Sepanjang perjalanan ke resto Zidane lebih banyak bertanya. Sedang Anna hanya diam dan menjawab bila ditanya saja. Nayla yang terus ngobrol bersama Icha. Sedang Pak Dahlan dan Mama Alin pamit pulang ke kotanya lebih dulu karena Pak Dahlan ada urusan kantor. Zidane mengajak makan di tempat yang tidak jauh dari hotel dimana Zidane menginap.
"Sampai sini jam berapa?" Zidane mengajukan pertanyaan kembali setelah mereka duduk dan menunggu pesanan di antar ke meja.
Nayla merasa jengah melihat Zidane yang terus memperhatikan gadis bernama Anna itu, gara-gara kehadirannya ia merasa terabaikan oleh Zidane.
"Subuh tadi," jawabnya datar.
"Naik kereta malam-malam? Berani?" tebaknya menginterogasi.
"Dianter kak Hiko."
"Bang Hiko nganter sampai sini?"
"Iya, sekalian mau silaturahmi ke rumah teman tapi dia udah pulang tadi," jawab Anna santai.
"Oh, obrolan mereka terjeda karena pelayan datang membawa pesanan ke meja."
Mereka mulai asyik mengobrol sambil menikmati makan bersama. Nayla dan Icha pamit lebih dulu dan langsung pulang sementara Zidane mengajak Anna untuk menginap satu malam di hotel.