"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pak Sanjaya terdiam dan terpaku mendengar pengakuan sekretaris barunya yang mengaku hamil. Pikirannya kacau, karena setahunya ia baru dekat dengan perempuan itu selama satu bulan terakhir ini.
“Apa maksudmu mengatakan kamu hamil, sementara kita baru saling mengenal satu bulan yang lalu?” tanyanya sinis.
“Bapak lupa ya, waktu kita check-in di hotel? Bapak tidak memakai pengaman. Sekarang aku sudah telat datang bulan… aku yakin aku memang hamil,” suaranya manja sambil menyentuh bahu Pak Sanjaya.
“Tapi itu belum tentu kamu hamil! Itu kan baru dugaan kamu saja,” bantah Pak Sanjaya dengan nada tegas.
“Kalau begitu, kita periksa saja ke dokter kandungan,” katanya cepat, suaranya tetap lembut namun mengandung keyakinan. “Supaya Bapak bisa melihat sendiri dan percaya kalau saya benar-benar hamil.”
“Saya tidak punya banyak waktu. Sekarang saya harus mengejar istri saya,” ucap Pak Sanjaya tergesa gesa. “Saya harus menjelaskan semua tentang apa yang sudah dia lihat.”
Sanjaya pergi begitu saja tanpa memedulikan ucapan sekretarisnya. Pikirannya kini hanya tertuju pada istrinya. Melihat Pak Sanjaya meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun membuat nya merasa kesal.
“Ihhh, kenapa sih dia pergi begitu saja? Apa gunanya Mona itu buatnya?” gerutunya kesal.
Bagas berdiri tak jauh dari sana, mengamati keributan yang terjadi antara Mona dan Sanjaya dengan sorot mata puas. Setelah memastikan Sanjaya benar-benar pergi, ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Langkahnya tenang saat mendekati perempuan yang sejak tadi berdiri dengan wajah kesal—dia adalah orang yang ia bayar untuk memainkan perannya.
“Bagus, akting kamu meyakinkan. Rencana kita berhasil menghancurkan Mona,” sahut Bagas.
“Tapi sepertinya Pak Sanjaya tidak percaya kalau aku hamil,” ucapnya.
Bagas mengibaskan tangannya seolah menepis hal sepele. Sudut bibirnya terangkat tipis, matanya memancarkan kepuasan.
“Itu tidak penting , apakah dia percaya atau tidak,” ucapnya tenang. “Yang jelas, apa yang Mona lihat barusan sudah cukup untuk melukainya.”
Perempuan itu tersenyum miring, suaranya terdengar dingin dan penuh kepuasan.
“Iya, kamu benar. Aku yakin Mona sekarang pasti benar-benar hancur,” katanya sinis. “Apalagi setelah melihat suaminya selingkuh di depan matanya sendiri.”
Bagas menatapnya serius, nadanya rendah namun penuh penekanan.
“Makanya, tugas kamu sekarang buat Sanjaya benar-benar meninggalkan Mona. Pastikan dia menjauh darinya,” ucapnya tegas. “Aku ingin semua dendamku terbalaskan.”
“Kamu tenang saja. Untuk menggoda Sanjaya itu sangat mudah buatku. Lagipula, Sanjaya memang mata keranjang dan jelas tertarik pada perempuan seksi sepertiku.” jelasnya dengan percaya diri
Bagas mengangguk pelan, raut wajahnya tampak puas.
“Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada urusan yang harus aku selesaikan,” ucapnya singkat
Setelah itu, Bagas pergi meninggalkan wanita suruhannya dan bergegas menemui Karin. Di kepalanya sudah tersusun rencana lain—ia berniat memberi tahu Karin bahwa saat ini Mona dan ayahnya sedang terlibat pertengkaran hebat, berharap kabar itu semakin memperkeruh keadaan.
Bagas segera meraih ponselnya dan membuka kontak Karin. Jemarinya bergerak cepat di layar, lalu sebuah pesan pun terkirim.
“Karin, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
Karin yang menerima pesan dari Bagas sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas. Pekerjaan di hadapannya masih menumpuk dan tak mungkin ia tinggalkan begitu saja.
“Maaf, aku tidak bisa bertemu. Kalau memang ada hal penting, kamu bisa menyampaikannya lewat telepon tanpa harus bertemu denganku,” balas Karin.
“Baiklah, Karin. Kalau kamu tidak bisa bertemu denganku,” tulis Bagas, “aku hanya ingin memberi tahu bahwa Mona dan papamu sedang bertengkar. Situasi ini bisa kamu manfaatkan untuk membuat Mona semakin hancur.”
“Apa lagi rencanamu? Aku tidak mau jadi boneka mainanmu,” balas Karin dengan nada tegas. “Jangan coba-coba mengendalikan ku.”
“Karin… aku cuma ingin kamu membuat papah kamu semakin membenci Mona,” tulis Bagas lebih tenang. “Katakan yang sebenarnya pada papa mu, kalau Mona adalah penyebab kematian Bu Sinta. Aku yakin Papa kamu akan marah besar dan akhirnya meninggalkan Mona. Itu balasan yang pantas atas semua yang sudah Mona lakukan.”
“Bukankah kamu ingin menghancurkan Mona? Jadi tunggu apa lagi, Karin. Ayo manfaatkan kesempatan ini,” serunya.
“Apa yang kamu katakan memang benar. Sepertinya ini sudah saatnya semua kejahatan Mona dibongkar. Namun sebelum aku mengatakan kebenaran itu kepada Papa, aku akan melaporkan Mona ke kantor polisi dan menyerahkan semua bukti kejahatannya. Jadi, setelah aku berbicara dengan Papa, polisi bisa langsung menangkapnya.”
Bagas menyunggingkan senyum puas, sorot matanya mengeras penuh keyakinan.
“Itu ide yang cemerlang, Karin,” katanya singkat namun tajam. “Aku setuju.”
“Ya sudah. Besok aku akan datang ke kantor polisi dan menyerahkan semua bukti bukti nya” ucap Karin mantap.
***************
( Dirumah Mona )
Sesampainya di rumah, Pak Sanjaya langsung menemui Mona dan berusaha menjelaskan semuanya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apa pun dengan sekretarisnya, bahkan kabar tentang wanita hamil itu sama sekali tidak benar.
“Mah, Mamah harus percaya sama Papah, ya… Papah gak selingkuh,” ucapnya, berusaha menjelaskan semuanya.
Mona menatap Sanjaya dengan mata yang memerah, suaranya bergetar menahan amarah.
“Cukup, Pah. Aku sudah melihat semuanya sendiri… bagaimana Papah bisa bermesraan dengan sekretaris itu di depan mataku. Semua foto kalian berdua di kamar hotel… aku sudah tahu.”
“Foto… foto apa, Mah?” tanya Sanjaya, raut wajahnya penuh kebingungan.
Mona yang tersulut amarah dan cemburunya memuncak, melemparkan semua foto itu ke arah Sanjaya. Foto-foto itu memperlihatkan suaminya tidur berdua di hotel dengan sekretarisnya tanpa sehelai pakaian.
“Kamu lihat sendiri foto itu,” katanya tegas, suaranya bergetar karena marah.
Pak Sanjaya menatap foto-foto mesranya dengan sekretaris nya di hotel malam itu, rasa terkejut membekap wajahnya. Bagaimana mungkin foto-foto itu bisa tersebar dan sampai ke tangan Mona? Pikirannya berkecamuk, mencoba menebak siapa sebenarnya yang telah menjebaknya.
“Mah, sepertinya ada yang menjebak Papah,” ucap Sanjaya, nada suaranya campur antara cemas dan bingung.
“Apa? Kamu bilang dijebak, tapi di foto itu jelas terlihat kamu sangat menikmati malam itu dengan sekretaris mu,” sahut Mona, suaranya tajam penuh kemarahan.
"Emang, Mah… saat itu aku khilaf. Tapi kenapa… kenapa foto itu bisa sampai ke tanganmu? Aku yakin… pasti ada orang di luar sana yang ingin menghancurkan kita!" tegas Pak Sanjaya, suaranya bergetar antara marah dan putus asa.
"Tapi siapa yang ingin menghancurkan kita? Mamah nggak punya musuh. Ini cuma akal-akalan mu supaya mamah nggak marah, iya kan." Suaranya datar, tapi tatapannya menusuk.
"Sudahlah! Kalau kamu nggak percaya, biar papah yang buktikan sendiri siapa orang yang menjebak papah.
Tiba-tiba ponsel Mona bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, membuat wajahnya seketika pucat.
“Ini baru permulaan, Mona. Tunggu saja kehancuranmu akan segera datang. Jadi Bersiaplah.”
"****Bersambung"****
Siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan tersebut?
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak