Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Nilam edan
"Ini kita tidak ada bergerak mencari tau?" Maharani menata Purnama yang masih tetap anteng menggosok pakaian.
"Tidak perlu bergerak karena nanti info akan datang sendiri." jawab Purnama santai saja.
"Ayo lah kita gerak mencari tahu apa yang telah terjadi, kan kita bisa mencari tahu dengan cara seperti detektif seperti itu loh." Nilam juga mengajak Purnama untuk bergerak.
"Halah sudah diam saja dan tidak usah protes karena yang tahu akan masalah ini adalah aku." Purnama tidak ingin di bantah.
"Kan kau pernah bilang kalau ingin punya agensi yang menampung banyak arwah lalu menolong para manusia yang memang membutuhkan, tapi ini mau bergerak saja kok malas." protes Maharani.
"Ah belum tentu juga akan terwujud karena aku untuk menguasai diri saja sangat sulit masih." sahut Purnama yang ragu dengan mimpi dia sendiri.
"Berarti tekad yang ada di dalam dirimu kurang kuat, kau harus punya tekad yang kuat agar keinginan itu bisa terwujud dengan baik." Nilam memberikan semangat.
"Apa kau cari pacar saja biar ada yang memberikan semangat hidup." usul Maharani.
"Kan sudah ada yang mau melamar dia, malah ada dua pria dan aku lebih suka pada Lukas sih." sahut Nilam.
"Nah sekarang kau tinggal pilih saja mau Zidan atau mau dengan Lukas." ujar Maharani.
Purnama masih cuek saja seolah tidak peduli karena dia juga tidak ingin berhubungan dengan pria untuk saat ini, sebab menurut Purnama mereka hanya tertarik dengan rupa yang ada di luar saja dan mereka masih belum memahami siapa purnama dan bagaimana tabiat gadis ini ketika sudah kumat menjadi siluman ular.
Mungkin banyak para pria yang sangat tertarik ingin bersama dengan Purnama tapi bisa saja nanti ketika mengetahui bagaimana wujud Purnama ketika berubah menjadi siluman ular maka mereka bisa saja minder dan kemudian melarikan diri, Purnama sudah hafal dengan para tabiat manusia seperti itu karena mereka hanya mencintai rupa yang ada di luar saja.
Nanti saat tahu ada kekurangan maka pasti perlahan mereka akan mundur dan melarikan diri, ungkapan cinta yang selama ini selalu keluar dari mulut mereka pasti akan padam dengan sendirinya dan tidak ada lagi niat untuk bersama karena mengetahui bahwa Purnama bukan manusia biasa seperti para manusia lain.
Purnama tidak ingin patah hati sehingga dia memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun juga, ini malah ada perjodohan antara dia dan Zidan sehingga Purnama masih ragu antara mau memilih atau menolak karena dia juga tidak paham apakah nanti Zidan akan bisa menerima fakta bahwa dia adalah siluman ular.
Semua harus di pikirkan dengan matang dan Purnama juga masih harus menekan perasaan nafsu ketika melihat para manusia yang berkeliaran di desa ini, sebab hasrat ingin memakan mereka semua ada di dalam diri dan dia harus mengendalikan perasaan itu agar tidak semakin bablas selalu memakan mereka semua dengan buas.
"Ayo lah yuk, sekalian jalan-jalan menikmati malam gitu." ajak Maharani kembali karena Purnama masih tetap menggosok pakaian.
"Assalamualaikum." Arya pulang dengan keranjang kosong Karena dia sudah selesai mengantar baju milik para pelanggan.
"Waalaikumsalam." Purnama menjawab ketus karena dia masih kesal kepada Arya.
"Masih banyak yang mau kakak gosok ya? mau di bantu atau tidak." Arya berusaha mendekat.
"Tidak usah."
"Ya sudah, aku mau ke pos ronda kalau begitu." Arya berpamitan lagi karena dia ingin kumpul dengan yang lain juga.
"Main saja kau bisa nya, memang cocok kau jadi manusia biasa yang sama sekali tidak ada guna." kesal Purnama kepada Arya.
Arya tidak menjawab karena memang benar apa yang di katakan oleh Purnama bahwa manusia biasa bisa membuat beban di pikiran dia, lagi pula nanti bila menjawab malah akan kena banting sehingga lebih baik diam dan tidak menjawab ucapan Purnama yang terkadang sangat menyakiti hati bagi yang mendengar ucapan tersebut.
"Ayo lah kita keluar juga mencari udara segar." Purnama mengajak Maharani dan juga Nilam.
"Oke, aku semangat sekali kalau di ajak keluar seperti ini karena bisa mencari udara segar dan juga pria tampan." Nilam bersorak.
"Kuntilanak juga butuh hiburan kan ya bukan hanya menangis saja di pohon rambutan." ujar Maharani.
"Nanti lelah menangis malah di kira musang, kadang aku heran kenapa musang itu bisa menangis seperti kita." kesal Nilam.
"Iya, membuat citra kuntilanak menjadi buruk saja." sahut Maharani.
"Mana dia juga bau pandan, seolah dia memang sangat terobsesi dengan kuntilanak musang sialan itu." Nilam kesal sekali karena dia pernah mau di tembak saat sedang menangis karena di kira musang.
Purnama rasa ingin tertawa mendengar ucapan para kuntilanak ini karena mereka memang hampir mirip dengan musang, tawa mereka memang tidak sama tapi tangis yang begitu persis membuat manusia kadang salah paham dan mengira para kuntilanak adalah musang tapi kemudian saat musang yang menangis maka mereka mengira itu adalah kuntilanak.
Nilam memang kesal bukan main karena dia pernah akan di tembak oleh Pak RT karena di kira adalah musang saat sedang menangis di pohon rambutan malam itu, memang sepak terjang kuntilanak satu ini tidak bisa menemukan hal yang benar karena selalu ada saja hal gila yang dia lakukan.
"Andai saja Pak RT tau kan ya kalau malam itu yang menangis adalah kuntilanak maka dia pasti tidak akan berani lagi." Maharani tertawa.
"Sampai sekarang kalau aku ketemu dengan dia rasa ingin ku tarik kumis nya itu." kesal Nilam.
"Kumis yang seperti aspal itu ya." Purnama juga tertawa.
"Hihihiii...kurang ajar adik mu itu, masa kumis Pak RT di bilang mirip aspal." Nilam tertawa kencang.
"Lah memang hitam dan besar, bahkan aku tidak bisa melihat bibir atas dia." celetuk Purnama.
Maharani dan Nilam kian tertawa mendengar ucapan Purnama barusan tentang kumis pak RT yang begitu lebar dan juga hitam, benar apa yang di katakan oleh Purnama bahwa kumis Pak RT sudah mirip seperti aspal yang ada di jalanan.
"Kalau dia mau nen sama istri nya pasti nyangkut ya." ujar Nilam sambil membayangkan.
"Untuk apa suami nen sama istri? kan yang nen adalah anak." Purnama yang polos jadi bingung.
"Hemm kau tidak tau sih, tunggu besok punya suami maka baru bisa nen." jelas Nilam.
"Iya kah, Ran?" Purnama menatap Rani.
"Ya mana aku tau, aku ini gadis ya!" sengit Maharani sewot.
Purnama masih tampak memikirkan ucapan Nilam tentang suami yang nen, ada rasa penasaran dan juga ada rasa bingung karena menurut dia yang bisa nen adalah anak saja, memang otak polos Purnama hancur karena di cuci oleh Nilam.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.