"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Sanksi dan Solidaritas Memutuskan Nasib KKN di Sidomukti
Di persimpangan jalan, pilihan sulit harus dibuat. Mana yang lebih penting, tugas akademik atau panggilan hati?"
Setelah mengetahui bahwa Pak Kepala Desa mengetahui rencana mereka dan surat peringatan dari kampus mengancam KKN mereka, Ayu, Dina, Puri, dan Rendra berkumpul untuk membahas situasi yang semakin rumit.
"Kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan KKN ini," kata Ayu dengan nada serius. "Kita tidak bisa terus berpura-pura seolah-olah semuanya baik-baik saja, sementara kita sedang dikejar-kejar oleh Pak Kepala Desa dan terancam sanksi dari kampus."
"Aku setuju," sahut Dina. "Kita punya tiga pilihan: Pertama, kita bisa menyerah pada KKN ini dan kembali ke kampus. Kedua, kita bisa mencoba untuk memperbaiki kinerja KKN kita dan meyakinkan pihak kampus bahwa kita layak mendapatkan kesempatan kedua. Ketiga, kita bisa melanjutkan penyelidikan kita tentang kutukan Srikanti dan kejahatan keluarga Handoko, sambil tetap berusaha untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai mahasiswa KKN."
"Pilihan pertama tidak mungkin," kata Puri. "Kita tidak bisa menyerah begitu saja. Kita sudah terlalu jauh terlibat dalam masalah ini. Kita harus mengungkap kebenaran dan membantu masyarakat desa."
"Pilihan kedua juga sulit," kata Rendra. "Pak Kepala Desa sudah mengetahui rencana kita. Ia tidak akan membiarkan kita melakukan apa pun yang bisa membahayakan kekuasaannya."
"Itu berarti kita hanya punya satu pilihan," kata Ayu. "Kita akan melanjutkan penyelidikan kita tentang kutukan Srikanti dan kejahatan keluarga Handoko, sambil tetap berusaha untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai mahasiswa KKN."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Dina. "Kita tidak bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Kita terlalu sibuk dengan penyelidikan kita untuk memikirkan tentang KKN."
"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi kita harus mencoba. Kita akan membagi tugas kita. Aku dan Rendra akan fokus pada penyelidikan kita, sementara Dina dan Puri akan fokus pada kegiatan KKN."
"Apa kau yakin itu ide yang bagus?" tanya Puri. "Kita semua harus terlibat dalam penyelidikan ini. Ini terlalu berbahaya untuk dilakukan sendirian."
"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mengambil risiko. Kita harus menyelamatkan KKN kita, dan kita harus mengungkap kebenaran."
Setelah berdiskusi panjang lebar, mereka akhirnya sepakat untuk melanjutkan rencana mereka. Ayu dan Rendra akan fokus pada penyelidikan, sementara Dina dan Puri akan fokus pada KKN. Mereka berjanji untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain sebisa mungkin.
Dengan keputusan itu, mereka merasa lega dan bersemangat. Mereka tahu bahwa mereka sedang menghadapi tantangan yang berat, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa mengatasinya bersama-sama. Mereka akan membuktikan kepada pihak kampus bahwa mereka adalah mahasiswa KKN yang bertanggung jawab, dan mereka akan membuktikan kepada Pak Kepala Desa bahwa mereka tidak akan menyerah sampai mereka mengungkap kebenaran. Akankah pembagian tugas ini berhasil, dan bagaimana Dina dan Puri akan menjalankan KKN di bawah tekanan dan pengawasan yang ketat?
Di tengah keterbatasan dan ancaman, semangat pengabdian tetap menyala. Bisakah mereka menunaikan tugas, ataukah kegelapan akan menelan segalanya?"
Dengan Ayu dan Rendra fokus pada penyelidikan rahasia, Dina dan Puri memikul beban untuk menghidupkan kembali program KKN mereka. Tugas ini terasa berat, mengingat mereka harus beroperasi di bawah pengawasan ketat Pak Kepala Desa dan kecurigaan warga yang mungkin setia padanya.
Dina, dengan sifatnya yang ceria dan mudah bergaul, berusaha keras untuk mendekati anak-anak desa dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar di balai desa. Puri, yang lebih tenang dan analitis, fokus pada proyek-proyek yang bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat, seperti membersihkan lingkungan dan membantu meningkatkan fasilitas kesehatan.
Namun, upaya mereka tidak berjalan mulus. Setiap langkah mereka diawasi oleh mata-mata Pak Kepala Desa, yang selalu melaporkan kegiatan mereka. Warga desa, yang ketakutan dan terintimidasi, enggan untuk berpartisipasi dalam program KKN mereka.
Suatu siang, saat Dina sedang mengajar anak-anak di balai desa, Pak Kepala Desa datang berkunjung. Ia tersenyum sinis dan memperhatikan Dina dengan tatapan mengejek.
"Selamat siang, Dina," kata Pak Kepala Desa dengan nada meremehkan. "Saya senang melihat kalian masih semangat menjalankan KKN di desa ini. Tapi saya harap kalian tidak melakukan kegiatan yang mencurigakan atau membahayakan masyarakat desa."
Dina mencoba untuk tetap tenang dan menjawab dengan sopan. "Selamat siang, Pak Kepala Desa. Kami hanya ingin membantu masyarakat desa. Kami tidak melakukan apa pun yang mencurigakan atau membahayakan."
"Bagus," kata Pak Kepala Desa. "Saya akan mengawasi kalian. Jika kalian melakukan kesalahan, kalian akan menyesal."
Setelah Pak Kepala Desa pergi, Dina merasa sangat ketakutan. Ia tahu bahwa ia dan Puri berada dalam bahaya besar. Pak Kepala Desa akan melakukan segala cara untuk menghentikan mereka.
Di sisi lain, Puri menghadapi tantangan yang berbeda. Saat ia sedang membantu membersihkan lingkungan di sekitar sungai, ia menemukan sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang pria sedang membuang sampah ke sungai secara sembunyi-sembunyi.
Puri mendekati pria itu dan bertanya dengan sopan. "Maaf, Pak. Kenapa Bapak membuang sampah ke sungai? Ini bisa mencemari lingkungan."
Pria itu tampak terkejut dan marah. Ia membentak Puri dengan kasar.
"Jangan ikut campur urusanku!" teriak pria itu. "Ini bukan urusanmu!"
Puri mencoba untuk menjelaskan kepadanya tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi pria itu tidak mau mendengarkan. Ia malah mendorong Puri dan mengancamnya.
"Jika kau berani melaporkan ini kepada siapa pun, kau akan menyesal," kata pria itu.
Puri merasa takut dan memutuskan untuk pergi. Ia tahu bahwa ia tidak bisa melawan orang-orang yang kuat dan berkuasa.
Setelah kejadian itu, Dina dan Puri merasa semakin putus asa. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa melanjutkan KKN mereka tanpa bantuan dari orang lain. Mereka membutuhkan sekutu yang bisa mereka percayai. Akankah mereka menemukan seseorang yang bersedia membantu mereka, ataukah mereka akan gagal menjalankan tugas KKN mereka dan terpaksa meninggalkan Sidomukti?.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*