Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 17
"Menjijikkan," desisnya saat kursi rodanya tertahan oleh barisan kasim di depan pintu kamar Yuhan.
"Mohon ampun, Pangeran Kelima. Maharani memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang masuk," ucap Kepala Kasim dengan gemetar.
Lian nyaris berbalik pergi karena kesal, namun tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Sebagai seorang praktisi tingkat tinggi, ia merasakan getaran energi yang sangat dahsyat, hampir tidak stabil, memancar dari dalam kamar.
"Energi ini... dia dalam bahaya!" batin Lian.
Tanpa peringatan, Mu Lian mengerahkan tenaga dalam Tian Di-nya. Gelombang udara dingin menyapu lorong, membuat para kasim dan dayang pingsan seketika. Wu Sheng dengan sigap membantu mendorong kursi roda Mu Lian menerobos pintu kayu jati yang tebal.
"Yang Mulia!" teriak Mu Lian.
Pemandangan di dalam kamar membuatnya terkesiap. Yuhan tergeletak di samping ranjang, tak sadarkan diri. Di lantai, terdapat percikan darah segar dan sisa-sisa bongkahan kecil batu suci merah yang telah hancur.
Lian memaksakan diri untuk berdiri, meski kakinya masih sangat lemah. Ia merengkuh tubuh Yuhan ke dalam pelukannya. Tubuh wanita itu terasa sangat panas, hampir membakar kulit Lian.
"Wu Sheng, bantu aku memindahkannya ke ranjang!" perintah Lian cepat.
Lian segera duduk bersila di belakang Yuhan, menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung wanita itu. Ia menyalurkan energi dinginnya untuk menekan ledakan energi merah yang mengamuk di dalam tubuh Yuhan.
"Napasmu, Yuhan! Ikuti aliranku!" bisiknya di dekat telinga Yuhan.
Lian menyadari sesuatu yang mustahil. Yuhan sedang mengalami loncatan kultivasi langsung ke tingkat ketiga, Zhou Qi, tingkat awal.
Bagaimana bisa? pikir Lian tak percaya. Tubuhnya terlalu lemah, dia tidak pernah berlatih fisik, dan masih ada sisa racun di dalamnya. Ini seperti menuangkan lautan ke dalam sebuah cangkir kecil!
Beberapa saat kemudian, napas Yuhan mulai stabil. Matanya perlahan terbuka, menemukan dirinya berada dalam dekapan Mu Lian, dengan Wu Sheng yang berjaga dengan cemas di ujung ranjang.
"Kau... kenapa kau di sini?" tanya Yuhan dengan suara serak. Ia segera memeriksa dirinya dan menyadari kekuatannya telah berlipat ganda. Ia kini berada di tingkat ketiga.
Mu Lian melepaskan tangannya dari punggung Yuhan, matanya menatap tajam pada pecahan batu di lantai. "Dari mana kau mendapatkan Batu Suci Merah itu, Yang Mulia Maharani? Di dunia ini, mendapatkan batu biru saja harus mempertaruhkan nyawa di gua terdalam. Batu merah... itu adalah legenda yang sangat langka."
Yuhan terdiam sejenak, otaknya berputar cepat. Ia tidak mungkin mengatakan tentang dimensi ajaibnya.
"Itu... pemberian mendiang Ayahanda Kaisar sebelum beliau wafat. Beliau memintaku menyimpannya untuk saat darurat," bohong Yuhan, mencoba tetap tenang.
Mu Lian mengerutkan kening, kecurigaannya tidak berkurang. "Mendiang Kaisar? Beliau tahu Dantian-mu telah rusak sejak kecil. Memberimu batu ini sama saja dengan memberimu racun mematikan. Kecuali..."
Mu Lian teringat Zao Yun. Hatinya kembali terbakar. "Kecuali kau melakukan sesuatu yang lain semalam untuk menyeimbangkan energi ini. Apakah... apakah kau melakukan kultivasi ganda dengan Zao Yun?"
Yuhan tertegun melihat wajah Mu Lian yang tampak menahan geram. Ada kilatan kecemburuan yang begitu nyata di balik setengah topeng peraknya. Yuhan ingin tertawa, namun ia harus menjaga wibawanya sebagai Maharani.
"Lancang!" Yuhan bangkit dari ranjang, meskipun tubuhnya masih sedikit lemas. "Apa kau pikir aku seorang Maharani cabul yang akan menyerahkan tubuhku pada sembarang orang, hah!"
Yuhan melangkah maju, mendekati Mu Lian hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Bukankah kau sendiri yang membuktikan keperawananku malam itu, Pangeran Mu Lian? Apa kau sudah lupa sentuhanmu sendiri hingga menuduhku tidur dengan gundik rendahan itu?"
Wu Sheng segera berlutut dengan kepala tertunduk dalam. "Mohon ampun, Yang Mulia Maharani! Pangeran hanya mencemaskan keselamatan Anda!"
Mu Lian terdiam, wajahnya yang tertutup topeng memerah hingga ke telinga. Ia merasa malu sekaligus lega, namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengaku kalah.
"Hamba... hamba memohon pengampunan atas kelancangan hamba," ucap Mu Lian dengan suara rendah.
Yuhan menatap wajah Mu Lian. Luka bakar di wajah suaminya itu kini tinggal menyisakan bayangan tipis, hampir mendekati kesempurnaan. Dengan gerakan yang menggoda sekaligus dominan, Yuhan mendekat dan tiba-tiba menggigit daun telinga Lian dengan lembut.
"Ugh..." Lian tersentak, seluruh tubuhnya menegang. Sensasi panas menjalar ke seluruh sarafnya.
Yuhan berbisik di telinganya, "Lain kali jika kau menuduhku lagi, aku akan memastikan kau tidak akan bisa duduk di kursi rodamu dengan tenang."
Yuhan melepaskan gigitannya, tersenyum penuh kemenangan melihat Mu Lian yang mematung dengan wajah yang benar-benar merah padam. Wu Sheng yang melihat kejadian itu hanya bisa menunduk semakin dalam, tak berani bernapas.
"Keluarlah. Tunggu aku di Aula Keharmonisan," perintah Yuhan sambil berjalan menuju lemari pakaiannya. "Aku akan berganti pakaian. Ada banyak kepala menteri yang menungguku hadir di sidang pagi ini."
Mu Lian tidak berkata apa-apa. Ia segera memberi isyarat pada Wu Sheng untuk mendorongnya keluar. Di luar kamar, Mu Lian menyentuh telinganya yang masih terasa panas.
Wanita ini... benar-benar iblis berbaju sutra, batin Lian, namun di sudut hatinya, sebuah senyum kecil tak sengaja muncul.