Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: FITUR BARU, KONFLIK LEGACY, DAN PATCH NOTES HATI
Disclaimer: Bab ini mengandung pembaruan tak terduga dari sistem lama, kode emosional yang belum sepenuhnya ter debug, dan satu percobaan yang bisa saja merusak segalanya.
Enam minggu dalam "Beta Version".
Hidup Ardi dan Kinan mulai menemukan ritme yang menyerupai kenyamanan. Mereka sudah punya rutinitas tanpa nama: Selasa dan Kamis ko working di perpustakaan, Jumat malam culinary disaster di dapur Kinan, Minggu pagi jalan kaki ke pasar tradisional (yang berakhir jadi dokumenter mini tanpa kamera). Mereka sedang membangun sesuatu yang menyerupai "normal".
Tapi sistem lama masih menyisakan bug.
Bug #1: "Notifikasi Mantan"
Suatu sore, saat mereka sedang menyusun strategi konten untuk kampanye digital wellness, ponsel Kinan berbunyi. Notifikasi dari Instagram Story. Sebuah nama yang membuatnya membeku: Raka Pratama sang youtuber podcaster mantan pacarnya.
Ardi melihat perubahan ekspresi di wajah Kinan. "Apa?"
"Mantan gue," jawab Kinan singkat, mematikan layar. "Nge view story gue."
"Lo nge view balik?"
"Belum. Nggak mau."
Tapi Ardi melihat caranya menggigit bibir bawah. Ada sesuatu yang belum selesai di sana.
Bug #2: "File Tertinggal"
Di sisi Ardi, bug muncul dalam bentuk lebih abstrak: inspirasi yang macet. Sudah tiga minggu dia tidak bisa menulis lagu baru. Setiap kali mencoba, yang keluar hanya potongan lirik tentang "algoritma" dan "kebohongan" tema lama. Seolah otaknya masih terjebak dalam narasi lama mereka, sementara hatinya sudah bergerak ke tempat yang lebih tenang.
"Gue kayak nggak bisa nulis hal yang baru," keluhnya pada Kinan saat mereka duduk di taman kampus. "Semua masih tentang pertarungan. Padahal sekarang… sekarang damai."
"Mungkin karena lo terbiasa mencipta dari konflik," kata Kinan. "Seperti gue dulu terbiasa mencipta dari kurasi. Sulit beralih."
Pembaruan Tak Terduga: "Raka_v2.0"
Bug itu menjadi krisis ketika Raka bukan sekadar melihat story, tapi mengirim pesan langsung.
Raka: "Liat kamu akhir-akhir ini. Berbeda. Baik-baik aja?"
Pesan yang sederhana, tapi beracun. Seperti kode jahat yang mencoba menginfeksi sistem baru.
Kinan menunjukkan pesan itu ke Ardi. "Gue harus balas nggak?"
"Terserah lo. Itu hidup lo."
"Tapi ini ngaruh ke…kita."
Ardi menarik napas. Ini ujian pertama bagi "stabilitas" mereka. "Balas aja kalau lo pengin. Tapi jujur sama diri lo sendiri: lo ngerasa apa waktu liat namanya?"
Kinan berpikir lama. "Gue ngerasa… penasaran. Kayak pengin liat dia sekarang seperti apa. Tapi juga ngeri, takut nostalgia itu boomerang."
"Mungkin lo perlu liat,biar bisa benar-benar close tab-nya," usul Ardi, meski hatinya tidak sepenuhnya yakin. Ini risiko.
Konflik Legacy: Pertemuan yang Dikhianati oleh Waktu
Kinan setuju bertemu Raka untuk kopi singkat, "sekadar tutup chapter dengan baik". Ardi memilih untuk tidak ikut. "Ini urusan lo sama masa lalu lo."
Tapi pertemuan itu berjalan berbeda dari yang dibayangkan.
Raka ternyata sudah berubah.Bukan lagi youtuber flamboyan, tapi terlihat lelah, bahkan sedikit lusuh. Podcast nya sedang sepi.
"Dengar kamu lagi jadi wajah digital wellness. Ironis ya," kata Raka dengan senyum getir. "Dulu kamu yang paling paranoid sama aesthetic."
"Orang berubah," jawab Kinan singkat.
"Aku juga.Aku… capek, Kin. Semua jadi perform. Aku kangen… yang asli."
Kalimat itu menyentuh sesuatu di dalam Kinan. Bukan karena dia masih punya perasaan, tapi karena dia melihat bayangan dirinya yang dulu di dalam Raka: performer yang kelelahan.
Pulang dari pertemuan, Kinan dalam keadaan gelisah. Bukan karena ingin kembali ke Raka. Tapi karena dia diingatkan betapa mudahnya terjebak dalam performa, dan betapa dekatnya dia dengan jurang itu setiap hari.
Kinan menceritakan semuanya pada Ardi. Tapi kali ini, ada jarak.
"Lo kayak…nggak peduli," kata Kinan akhirnya, frustasi.
"Bukan nggak peduli.Gue cuma percaya sama lo," sahut Ardi.
"Tapi gue butuh lo care! Butuh lo sedikit cemburu, sedikit khawatir! Ini menunjukkan lo nggak… invested!"
Itu adalah kesalahpahaman klasik: Kinan mengartikan kepercayaan Ardi sebagai ketidakpedulian. Sedangkan Ardi mengira dengan memberi kebebasan, dia menunjukkan cinta.
Sistem yang baru stabil itu menunjukkan retakan.
Mereka memutuskan untuk masuk ke"safe mode" sebuah percakapan tanpa emosi tinggi, hanya fakta dan kebutuhan.
Kinan: "Gue butuh reassurance, Ard. Bukan karena gue ragu sama lo, tapi karena gue trauma sama masa lalu. Gue butuh lo aktif kasih tau bahwa lo ada di sini."
Ardi:"Gue ngerti. Tapi gue trauma dengan drama. Gue takut kalau gue cemburu atau posesif, itu bakal jadi awal dari siklus toxic. Gue coba cari cara tengah."
Mereka menemukan solusi teknis yang konyol namun bekerja: sebuah sistem kode.
Jika Kinan butuh reassurance, dia akan mengirim emoji 🛠️ (tool). Ardi akan merespons dengan 🔧 (membetulkan) dan mengirim pesan singkat yang menenangkan.
Jika Ardi merasa kewalahan dengan ekspektasi, dia akan mengirim emoji 🌧️ (hujan). Kinan akan merespons dengan ☂️ (payung) dan memberi ruang.
Sistem kode itu absurd, tapi berfungsi. Itu adalah patch darurat untuk menutupi bug komunikasi mereka.
Beberapa hari setelah insiden Raka, Ardi muncul di depan apartemen Kinan membawa sebuah keyboard mini USB dan headphone splitter.
"Apa ini?" tanya Kinan.
"Kita nggak bakal ngobrol," kata Ardi. "Kita bakal… ngedengerin musik bareng. Satu playlist. Satu headphone buat lo, satu buat gue."
Mereka duduk di lantai balkon, menyambungkan headphone masing-masing ke splitter. Ardi memutar playlist berjudul "No Lyrics, Just Vibes" berisi instrumental dari film-film, soundscape hutan, dan musik ambient.
Tidak ada kata-kata selama satu jam penuh. Hanya musik, langit Jakarta yang berwarna jingga senja, dan bahu yang bersentuhan.
Di menit ke-47, Kinan memegang tangan Ardi. Tidak erat. Hanya meletakkannya di atasnya, seperti konfirmasi: Aku masih di sini.
"Bug" yang Menjadi Fitur
Keesokan harinya, Kinan membuka laptopnya. Dia tidak membuka Instagram atau email. Dia membuka software desain, dan mulai membuat sesuatu yang sama sekali baru: ilustrasi digital sederhana tentang dua karakter pixel duduk berbagi headphone.
Dia tidak membuatnya untuk konten. Dia membuatnya untuk dirinya sendiri. Lalu, dia cetak dan tempel di dinding kamarnya.
Ardi, yang melihatnya, akhirnya menemukan inspirasinya kembali. Dia tidak menulis tentang konflik atau algoritma. Dia menulis lagu instrumental pendek berjudul "Splitter" tentang keindahan berbagi satu sumber suara dengan seseorang, dan menemukan harmoni di dalamnya.
Update Resmi ke "Beta Version 0.9"
Mereka tidak mengumumkan apa pun ke publik.Tapi dalam sistem internal mereka, mereka telah menginstal pembaruan penting.
Patch Notes (Internal):
· Perbaikan Bug: Kerentanan kecemasan pasca-pertemuan mantan telah di-tambal dengan komunikasi berbasis kode.
· Peningkatan Fitur: Menemukan cara baru untuk terhubung tanpa kata-kata (musik bersama, aktivitas paralel).
· Fitur Baru: Kemampuan untuk mencipta ulang dari kedamaian, bukan hanya dari konflik.
· Known Issues: Masih ada ketakutan akan stagnasi. Namun, sistem sekarang lebih resilient terhadap crash.
LAST LINE: Di suatu sore yang biasa-biasa saja, mereka duduk kembali di warung kopi Klotok. Kinan mengirim emoji 🛠️ ke Ardi tanpa alasan yang jelas. Ardi membalas dengan 🔧 dan secangkir kopi susu yang didorongnya mendekat ke Kinan. Tidak ada kata-kata. Hanya senyum kecil. Mereka sedang belajar bahwa terkadang, memperbaiki hubungan bukan tentang menambahkan fitur-fitur romantis yang baru dan spektakuler, tetapi tentang menulis patch notes yang jujur untuk bug-bug lama, dan bersedia menginstalnya bersama-sama meski proses updatenya lambat, membosankan, dan penuh dengan restart yang tak terhindarkan.