"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Dibalik Kematian
"Terima kasih, Julian." Ucap Bella dengan tersenyum manis pada klien-nya yang memesan satu setelan jas mahal.
"Sama sama, mau sekalian makan siang?" Tutur Julian basa basi dengan salah tingkah.
"Sorry, suamiku sudah menunggu di ruanganku. Maybe next time." Jawab Bella.
Julian tersenyum hangat, pria ini sudah menjadi langganan di butik Bella sejak satu tahun yang lalu. Selain memesan jas untuknya bekerja, ia juga gencar mendekati Bella.
Namun Bella acuh tah acuh menanggapinya. Seperti sekarang ia menghindar karena suaminya. Sebelum menikah pun Bella selalu menolak ajakan Julian.
"Sudah satu tahun, Bell. Tapi kamu justru sudah menikah. Mengejutkan sekali." Lirih Julian.
"Kamu teman baik ku, Julian. Sama seperti Dylan. Aku tidak ingin merusak yang sudah terjalin dengan baik." Lirih Bella dengan wajah sendunya.
Tiba tiba Fabio datang dan berdeham kencang. Bella dan Julian menoleh bersamaan. Julian pun pamit dari sana setelah mengambil pesanannya.
Bella mengikuti Fabio ke ruangannya. Dariush sudah menatapnya tajam. "Sepertinya penggemar istriku banyak." Sindir Dariush.
Fabio pun pamit dari sana. "Yes! Seratus untuk mu sayang! Jelas! Aku cantik, pintar, karirku sukses pasti banyak yang menyukai ku." Sahut Bella dengan sombongnya.
Tangan Dariush menarik istrinya ke pangkuannya. Ia mulai memagut bibir ranum itu dengan penuh nafsu. Bella pun melayaninya, ia menghadap ke suaminya dan memainkan rambut suaminya.
"Aahh." Suara desahan Bella keluar dari bibirnya tak kala satu tangan Dariush masuk ke dalam roknya.
Pagutan mereka tak bertahan lama, setelah Sean muncul tiba tiba. "Astaga kalian ini...! Di hotel bisa kan? Atau di ruangan lain?" Gerutu Sean.
Sontak Bella jadi gelagapan tertangkap basah oleh iparnya ini. Ia berdiri dan merapihkan bajunya. Berbeda dengan Dariush yang cuek tidak perduli, ia menatap adiknya.
"Kenapa lagi Sean?" Tanya Dariush kesal.
"Aku mau mengantar Natasha, dia mau meeting di luar." Ucap Sean.
"Ii-iya boleh, Natasha akan bertemu bu Linda. Kamu bisa menemaninya. Dan tolong...jaga dia. Natasha sahabat baik ku sejak kecil, aku sangat menyayanginya." Lirih Bella.
"Tentu kakak ipar tenang saja, dia aman bersamaku." Jawab Sean dengan tersenyum hangat. Ia pun pamit dari sana.
Dariush berdiri dan mengunci pintu ruangan itu. Bahkan ia mendorong meja untuk menahan pintunya. Bella cukup tercengang atas tingkah konyol suaminya.
"Lanjutkan yang tadi." Dariush membawa istrinya ke meja kerja yang besar itu.
"Aaahh slowly babe, ingat aku lagi hamil aahh."
"I love you." Ucap Dariush di sela sela pacuannya.
Keduanya berpeluh keringat siang menjelang sore itu. Mereka menahan suara rintihan dan desahan sepelan mungkin sebab di ruangan ini tidak kedap suara. Setiap sudut mereka jajal hingga ruangan ini berantakan. Belum lagi pakaian mereka.
Peraduan mekanik itu berakhir di atas sofa panjang. "Astaga! Kamu sih...lihat kan ruangan ku jadi kacau." Gerutu Bella yang masih dibawah suaminya.
"Nanti biar Fabio dan OB yang merapihkannya sayang."
Beruntung Bella menyimpan pakaian ganti di ruangannya. Ia mengganti pakaiannya dulu, sama seperti suaminya. Dariush menghubungi Fabio untuk merapihkan lagi ruangan istrinya.
Saat Fabio masuk ia terperangah melihat kekacauan di dalam. "Oh my God."
"Lakukan Fabio!"
"Baik boss."
Fabio dan OB disana membereskan sisa percintaan pasangan ini. Sedangkan Bella dan Dariush pergi ke caffe di dekat kantornya. Setelah pertempuran panasnya kini perut Bella meminta di isi.
"Makan yang banyak sayang." Dariush memotong steak untuk istrinya dan menyuapinya.
"Pasti...karena ada anak mu di sini." Tunjuk Bella pada perutnya.
-
-
-
Di sinilah Dariush dan Sean berada, setelah menyelesaikan kegiatannya mereka menemui Dave di ruang kerjanya.
"Jadi apa yang kalian mau tanyakan?" Tanya Dave.
"Kematian ayah kami." Ucap Sean dengan wajah yang serius.
Dave menghela nafasnya sebelum menjawab, ia menatap satu satu putra dari mendiang sahabatnya.
Kejadiannya cukup lama mungkin sekitar tiga tahun lalu, ia dan Damian di undang oleh staf pem*rintahan untuk menandatangi proposal yang berkaitan dengan perusahaan mereka masing masing.
Awalnya berjalan baik tanpa ada hambatan sampai sebelum kematian Damian dan Adelaine, orang tua Dariush dan Sean. Namun di tengah perjalanan, Damian menemukan kejanggalan pada perusahaannya.
Rupanya Damian tak sengaja melihat kejadian yang tak ia duga sebelumnya. Yah! Damian melihat seseorang di bun*h di depan matanya oleh orang pem*rintahan.
Sebelumnya ia sudah menyalin data yang ada di perusahaannya dan mereka semua kejadian itu tanpa orang lain tahu. Tapi ternyata ada satu orang yang tahu tentang Damian. Dave berdiri dan mengambil flashdisk juga memberikannya pada Dariush.
Beberapa hari sebelum terjadinya kecelakaan itu, Damian memberikan flashdisk berupa bukti bukti kejahatan orang orang pem*rintahan itu pada Dave.
"Semua bukti ada disana. Kalian bisa membongkarnya. Sejak kejadian itu, Damian dan Adelaine menerima ter*r terus menerus hingga kecelakaan itu terjadi. Asisten ayahmu, Justin melarangku datang ke pemakaman. Karena jika aku datang, Arabella yang menjadi incaran mereka. Sampai sekarang Justin dan orang orangnya masih menjaga Bella dari jauh." Ucap Dave panjang lebar.
DEG
Dariush dan Sean saling menatap, mereka menoleh kembali pada Dave. "Aku akan melindungi istriku dengan nyawaku, kau tidak perlu khawatir, dad." Ucap Dariush dengan sorot matanya yang tajam bak silet.
"Daddy tenang saja, kakak ipar aman bersama Dariush. Ada aku juga. Oke, kita ke rencana berikutnya untuk menangkap orang orang itu. Mereka harus menerima ganjarannya!" Sahut Sean dengan murka.
"Aku lega mendengarnya. Aku titip Bella di sampingmu. Dia aman bersama mu, melihat siapa dirimu. Maafkan aku sudah egois, tapi nyawa Bella terlalu berharga untuk ku dan istriku. Dia anak ku satu satunya." Lirih Dave.
Dariush berdiri dan menghampiri mertuanya yang menangis ia memeluknya dengan hangat. "Dad, tenang saja aku akan menjaga Bella dan mengatur semuanya. Mulai besok aku akan menambah pengawal di rumah ini."
"Terima kasih Dariush, Sean. Kalian mirip sekali dengan Damian." Jawab Dave.
Selesai bicara dengan orang tua Arabella. Sean kembali ke kamarnya untuk beristirahat begitu pula Dariush yang menemui istrinya.
Sebelum masuk ke kamar, ia sudah meminta Fabio mengurus keamanan di rumah ini juga di butik tempat Arabella bekerja. Fabio dan Jay saling bekerja sama mengerjakan perintah bos mereka masing masing.
"Lama banget sih." Rengek Bella yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut suaminya.
Dariush menindih istrinya dan menciumi seluruh wajah cantik nan teduh itu. "Aku akan selalu menjagamu dan anak kita sayang."
"Hmm, aku percaya sama kamu. Jangan tinggalkan aku, babe. Aku membutuhkan mu." Lirih Bella.
Tanpa basa basi lagi Dariush melancarkan aksinya menikmati tubuh istrinya yang sangat candu baginya. Suara lenguhan dan rintihan menggema di kamar ini.
"I love Arabella ahh."