NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22_GARIS TIPIS BERNAMA SEMBURU

Pagi itu, koridor sekolah cukup ramai. Jam istirahat baru saja dimulai. Siswa berlalu-lalang, suara tawa bercampur obrolan ringan memenuhi udara.

Nayla berjalan sambil membaca catatan di tangannya. Kepalanya sedikit menunduk, fokus. Ia tidak melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan.

“Eh—”

Tubrukan kecil tak terhindarkan.

Buku Nayla terjatuh. Ia refleks menunduk, tapi seseorang lebih cepat mengambilnya.

“Maaf, gue nggak lihat,” kata seorang cowok sambil menyerahkan buku itu.

Nayla mengangkat kepala. “Nggak apa-apa.”

Cowok itu tersenyum. Tinggi, rapi, dengan senyum yang mudah membuat orang merasa nyaman.

“Lo Nayla, kan? Yang sekelas sama Dani?” tanyanya santai.

“Iya,” jawab Nayla, sedikit heran tapi tetap ramah.

“Gue Aldo. Kita sekelas pas mapel tambahan kemarin.”

“Oh,” Nayla mengangguk. “Iya, aku ingat.”

Mereka berdiri agak ke samping, menghindari arus siswa lain.

“Lo keliatan capek,” ujar Aldo. “Tugas numpuk?”

Nayla tertawa kecil. “Banget. Rasanya mau tidur seminggu.”

Aldo ikut tertawa. “Kalau gitu, jangan lupa istirahat.”

Percakapan itu biasa saja. Ringan. Tidak ada yang istimewa. Kecuali bagi satu orang yang berdiri beberapa meter dari sana.

Azka.

Ia berhenti melangkah begitu melihat pemandangan itu.

Nayla yang tertawa kecil. Cara tubuhnya sedikit condong ke depan saat berbicara. Tatapan matanya yang santai.

Dan Aldo.

Azka tidak mengenalnya dekat. Tapi cukup untuk tahu, cowok itu terlalu dekat. Dadanya mengeras.

“Apa yang lo liatin?” tanya Dion sambil menyusul.

Azka tidak menjawab.

Devan dan Raka ikut berhenti, mengikuti arah pandang Azka. Mereka melihat Nayla dan Aldo berbincang.

“Oh,” gumam Raka. “Itu Nayla.”

“Kenapa Azka mukanya kayak mau nabrak orang?” celetuk Dion.

Devan menghela napas pelan. “Lo cemburu?”

Azka melirik tajam. “Ngaco.”

Tapi matanya kembali ke arah Nayla.

Saat Nayla tertawa lagi, lebih lepas, tangan Azka mengepal tanpa sadar.

Tidak lama, bel berbunyi. Aldo mengangguk kecil ke arah Nayla. “Duluan, ya.”

“Iya,” jawab Nayla.

Ia berbalik, berjalan ke arah kelas. Langkahnya ringan. Tidak tahu bahwa dari kejauhan, seseorang menatapnya dengan emosi yang belum pernah ia kenali sebelumnya.

***

Sepulang sekolah, Nayla berjalan ke parkiran.

Ia berhenti saat melihat mobil hitam mengilap itu terparkir di tempat biasa. Kaca jendelanya turun perlahan.

“Masuk,” kata Azka singkat.

Nayla ragu sepersekian detik, lalu membuka pintu penumpang dan duduk.

Mobil melaju.

Tidak ada suara selama beberapa menit. Hanya bunyi mesin dan jalanan sore.

“Kamu kenal cowok tadi?” tanya Azka tiba-tiba.

Nayla menoleh. “Siapa?”

“Yang di koridor.”

“Oh. Aldo,” jawab Nayla jujur. “Teman sekolah.”

Azka mengangguk. “Dekat?”

“Biasa aja,” Nayla menjawab tenang.

Azka tidak berkata apa-apa lagi. Tapi rahangnya mengeras.

Nayla melirik sekilas. Ia menangkap sesuatu yang berbeda. Bukan marah. Bukan dingin. Gelisah. Tapi ia memilih diam.

Mobil berhenti di depan rumah. Nayla turun lebih dulu.

“Kamu nggak ikut?” tanya Nayla saat melihat Azka belum turun.

“Aku keluar lagi,” jawab Azka.

“Oh,” Nayla mengangguk. “Aku mau ke pantai sama Dani sama Sena.”

Azka menoleh cepat. “Pantai?”

“Iya. Cuma bentar.”

“Jam berapa pulang?”

Nayla terdiam sejenak. “Sore.”

Azka mengangguk singkat. “Hati-hati.”

Itu bukan larangan. Tapi bukan juga ketidakpedulian.

Nayla masuk ke rumah dengan perasaan aneh.

***

Pantai sore itu tidak terlalu ramai.

Angin laut menyapu wajah, membawa aroma asin yang menenangkan. Nayla duduk di pasir bersama Dani dan Sena. Mereka melepas sepatu, membiarkan kaki terbenam.

“Gila, ini yang gue butuhin,” kata Sena sambil meregangkan tangan.

Dani mengangguk. “Kepala gue hampir pecah sama tugas.”

Nayla tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, pikirannya benar-benar lepas.

Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, tertawa, sesekali berhenti mengambil foto. Nayla merasa ringan. Seolah semua tekanan sekolah, rumah, dan pernikahan rahasia itu menjauh untuk sementara.

“Nay?” panggil seseorang.

Nayla berhenti melangkah. Ia menoleh.

Arvin.

“Eh?” Nayla kaget. “Kamu?”

“Iya,” Arvin tersenyum. “Nggak nyangka ketemu di sini.”

Dani dan Sena saling pandang. Sena menyenggol lengan Nayla pelan, senyum usil muncul.

“Kita ke sana dulu,” bisik Dani.

Mereka menjauh, meninggalkan Nayla dan Arvin berdiri berhadapan.

“Kamu sering ke sini?” tanya Nayla.

“Kadang,” jawab Arvin. “Kalau butuh mikir.”

Nayla tertawa kecil. “Aku juga.”

Mereka berjalan pelan, sejajar. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk berbincang.

Angin membuat rambut Nayla tergerai. Arvin menatap ke depan, tapi sesekali melirik.

“Kamu kelihatan beda dari sekolah,” kata Arvin.

“Beda gimana?”

“Lebih… bebas.”

Nayla terdiam. Kata itu mengenai sesuatu di dalam dadanya.

“Di sekolah, aku harus kuat,” ucapnya pelan. “Di sini, aku cuma pengen tenang.”

Arvin mengangguk. “Kalau kamu mau cerita, nggak apa-apa.”

Nayla tersenyum kecil. “Makasih.”

Beberapa meter dari mereka...

Seseorang berdiri di dekat mobil hitam, tangan di saku, mata menajam.

Azka.

Ia tidak berniat mengikuti. Tidak juga berniat memata-matai. Ia hanya… ingin memastikan.

Namun apa yang ia lihat membuat napasnya tertahan.

Nayla berjalan di samping Arvin. Rambutnya tertiup angin. Senyumnya kecil, tapi nyata. Tidak dibuat-buat. Dan Arvin terlalu dekat.

Azka melangkah maju tanpa sadar, lalu berhenti.

Tangannya mengepal. Kenapa dadanya sesak? Kenapa kepalanya panas?

Ia melihat Arvin menunduk sedikit, mengatakan sesuatu yang membuat Nayla tersenyum lagi. Senyum yang jarang Azka lihat. Dadanya terasa seperti diremas.

Di kejauhan, Dani dan Sena memperhatikan dengan perasaan campur aduk. Mereka juga melihat Azka.

“Azka?” gumam Sena pelan.

Dani menelan ludah. “Ini nggak beres.”

Azka melangkah satu langkah lagi. Wajahnya dingin. Matanya gelap.

Dan saat Arvin tanpa sadar menyentuh lengan Nayla, bukan menggenggam, hanya sentuhan ringan—

Azka berhenti. Seluruh dunia seakan mengecil pada satu titik.

Detik itu juga, Nayla menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Angin laut berhembus lebih kencang. Suara ombak menghantam karang terdengar keras, seolah ikut menegangkan suasana.

Nayla membeku.

Azka berdiri tak jauh dari Sana.

Angin pantai membuat ujung bajunya berkibar, tapi tubuhnya terasa kaku. Matanya tidak lepas dari sosok Azka yang berdiri beberapa meter di depan mereka. Wajah itu datar, dingin, tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat jantung Nayla berdetak lebih cepat.

Azka tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak juga berpaling. Ia hanya menatap.

Arvin menyadari perubahan itu. Ia mengikuti arah pandang Nayla, lalu melihat Azka.

“Oh,” gumamnya pelan.

Suasana yang tadi ringan mendadak menegang.

“Nayla… itu siapa?” tanya Arvin, nada suaranya hati-hati.

Nayla menelan ludah. “Teman.”

Jawaban itu keluar begitu saja. Pendek. Aman.

Tapi Azka mendengarnya. Dan entah kenapa, kata itu justru menusuk.

Ia melangkah mendekat. Langkahnya tenang, tapi auranya membuat udara terasa berat. Pasir berderak pelan di bawah sepatunya.

“Nayla,” panggil Azka.

Nada itu rendah. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Arvin refleks berdiri lebih tegak.

“Iya?” jawab Nayla.

“Kita pulang.”

Bukan permintaan. Bukan juga ajakan.

Arvin melirik Nayla. “Gue—”

“Sekarang,” ulang Azka, tanpa melirik Arvin sama sekali.

Nayla menarik napas. “Aku pamit dulu.”

Arvin mengangguk pelan. “Iya.”

Tidak ada drama. Tidak ada perdebatan.

Tapi tatapan Azka ke arah Arvin sebelum berbalik, tajam, dingin, dan penuh peringatan.

Dani dan Sena menghampiri Nayla.

“Kita balik juga,” kata Dani cepat.

Nayla mengangguk. “Aku duluan.”

Azka sudah berjalan ke arah mobil. Nayla menyusul dengan langkah cepat. Begitu ia masuk, pintu ditutup agak keras.

Mobil melaju meninggalkan pantai. Tidak ada suara untuk beberapa menit.

Nayla memeluk tasnya. Jantungnya masih berdebar.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Nayla akhirnya.

Azka tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam setir kuat-kuat.

“Aku kebetulan lewat.”

“Boong,” potong Nayla pelan.

Azka terdiam sejenak. “Aku mau pastiin kamu pulang.”

Nayla menoleh. “Terus kenapa marah?”

Azka menghela napas kasar. “Aku nggak marah.”

“Kamu dingin.”

“Itu beda.”

Nayla menggeleng pelan. “Kamu lihat aku sama Arvin, terus kamu berubah.”

Azka menekan rem sedikit lebih keras dari perlu.

“Dia siapa?” tanya Azka.

“Teman.”

“Cowok.”

“Iya.”

Azka terdiam lagi. Rahangnya mengeras.

“Kamu kelihatan nyaman,” ucap Azka akhirnya.

Nayla menatap ke depan. “Aku berhak.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Azka menoleh tajam.

“Kamu istri aku,” katanya rendah.

Nayla menoleh cepat. “Dan kamu suami yang sering bikin aku ngerasa sendirian.”

Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan sepi. Azka menatap Nayla. Matanya gelap, emosinya bercampur.

“Aku nggak suka liat kamu sama dia,” ucapnya jujur, tanpa nada tinggi.

Nayla terdiam.

“Itu bukan urusan kamu,” balas Nayla pelan.

Azka tertawa pendek, pahit. “Semua yang nyangkut kamu, itu urusan aku.”

Nayla menatapnya. “Kamu cemburu?”

Azka membeku.

Detik itu terasa lama.

“Apa salahnya kalau iya?” jawab Azka akhirnya.

Nayla terdiam. Dadanya bergetar.

Mobil kembali melaju. Tidak ada yang bicara sampai mereka sampai rumah.

Malam itu, Nayla berdiri lama di depan jendela kamarnya. Ombak pantai masih terngiang di kepalanya. Tatapan Azka terus menghantuinya.

Dan di kamar lain, Azka meninju bantalnya frustasi.

Ia baru menyadari satu hal yang menakutkan. Perasaannya pada Nayla, bukan lagi sekadar tanggung jawab atau gengsi.

Dan jika ia terlambat menyadarinya, seseorang bisa merebut Nayla darinya.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!