NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemegang Kendali

Beberapa hari setelah rapat itu, nama Dara mulai sering muncul di layar ponsel Arman.

Bukan sebagai pesan pribadi.

Sebagai agenda.

Meeting request.

Conference call.

Review draft kerja sama.

Semua tampak profesional. Semuanya punya alasan sah.

Namun frekuensinya tidak.

Arman mengatur rapat-rapat kecil yang seharusnya bisa diwakilkan. Ia meminta klarifikasi yang seharusnya bisa diselesaikan lewat email. Ia muncul di lantai kantor Valencia Group lebih sering daripada yang diperlukan. Dan setiap kali— ia memastikan Dara yang menanganinya.

Dara tahu. Ia membaca polanya sejak permintaan ketiga. Pria seperti Arman tidak menyia-nyiakan waktu tanpa motif. Dan motif itu bukan lagi murni bisnis. Maka ia mengubah cara bermain. Ia tidak menolak. Ia tidak menjauh terang-terangan.

Ia justru menjadi… lebih rapi.

Jawaban emailnya selalu tepat waktu—tidak cepat, tidak lambat. Nada bahasanya semakin formal. Tidak satu pun kalimat yang bisa ditarik ke wilayah pribadi.

Saat Arman mencoba membuka percakapan ringan sebelum rapat, Dara sudah membuka laptop dan berkata, “Kita mulai saja. Waktu kita terbatas.”

Di lift, jika Arman berdiri di sampingnya, ia menjaga jarak setengah langkah. Tidak kasar. Tidak ramah. Netral.

Itu yang membuat Arman gelisah. Bukan penolakan yang ia hadapi, melainkan ketiadaan celah.

Suatu sore, setelah diskusi yang berjalan lebih lama dari rencana, Arman menutup map dan berkata, “Untuk efisiensi, mungkin kita bisa lanjutkan ini sambil makan malam. Saya reservasi...”

Dara mengangkat mata. “Terima kasih,” katanya sopan. “Tapi saya tidak mencampur kerja dan sosial.”

Tidak dingin. Tidak tajam. Tapi final.

Arman terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya, egonya seperti disentuh. Ia tersenyum tipis, mencoba menyelamatkan posisi. “Tentu. Profesional.”

Dara mengangguk. Lalu berdiri.

Saat ia berjalan pergi, punggungnya tegak. Tidak tergesa. Tidak memberi ruang untuk diikuti.

Namun di dalam dirinya sendiri, ada getaran yang tidak ingin ia akui.

Karena ia tahu, Arman bukan pria yang mudah menyerah. Dan ia sengaja sedang memancingnya semakin jauh ke wilayah yang tidak seharusnya.

Permainan jarak baru saja dimulai. Dan kali ini, Dara yang memegang kendali.

.

Sore itu juga, kota penuh sesak.

Anggi baru saja keluar dari butik, menenteng dua kantong belanjaan, ketika ponselnya berdering. Ia berhenti sebentar untuk menjawab, lengah hanya beberapa detik.

Cukup bagi seseorang untuk menyenggolnya.

Ketika ia tiba di kasir toko berikutnya dan hendak membayar, wajahnya berubah.

Dompetnya hilang.

“Tidak mungkin…” gumamnya panik sambil mengaduk tas.

Kartu, uang, identitas—semua ada di sana.

Antrian mulai tidak sabar. Kasir memandang dengan alis terangkat. “Maaf, Mbak, kalau belum siap...”

“Aku… aku bayar. Tunggu sebentar,” suara Anggi terdengar rapuh. Ia menggeledah tasnya lagi, sia-sia.

Sebuah suara tenang terdengar dari samping. “Sekalian dengan saya.”

Anggi menoleh.

Seorang perempuan berdiri di sana, mengenakan blazer ramping dan heels elegan. Wajahnya terlalu cantik untuk disebut biasa. Terlalu tenang untuk disebut asing.

“Kartu atau tunai?” tanya perempuan itu sambil menyerahkan kartu pada kasir.

Anggi menatapnya terbengong.

“Tidak, aku tidak bisa...”

“Anggap saja pinjaman,” katanya ringan. “Mall bukan tempat yang ramah untuk panik.”

Setelah transaksi selesai, Anggi masih berdiri terpaku. “Terima kasih. Aku… aku akan transfer. Atau...”

“Tidak perlu sekarang,” perempuan itu menyela. “Aku juga sedang terburu-buru.”

Baru saat itu Anggi benar-benar menatap wajahnya. Jantungnya terasa seperti dijatuhkan dari ketinggian. Mata itu. Garis bibir itu. Cara ia berdiri. Terlalu mirip. “Maaf…” suara Anggi bergetar, “kita… pernah bertemu?”

Perempuan itu menatapnya sejenak. Sangat singkat. Lalu tersenyum kecil, sopan, bukan akrab.

“Sepertinya tidak.” Ia meraih tasnya, lalu menambahkan, “Semoga dompetmu segera ditemukan.”

Dan pergi.

Anggi berdiri kaku, napasnya tertahan. Itu wajah yang sama dengan perempuan yang dulu sering duduk di ruang makan rumahnya… menunduk… diam… tidak pernah melawan.

Tapi ini...berbeda.

Ini versi yang asing. Terlalu kuat. Terlalu hidup. Terlalu sempurna.

Di dalam mobil yang melaju meninggalkan mall, Dara menyandarkan kepala sebentar ke sandaran kursi. Lampu kota bergeser pelan di balik kaca, seperti potongan-potongan dunia lama yang tak lagi ia miliki.

Danu meliriknya dari kursi pengemudi. “Kamu tahu tidak,” katanya santai, “menolong adik mantan suami di pusat perbelanjaan itu… terdengar seperti adegan sinetron prime time.”

Dara menghela napas kecil.

“Jangan mulai.”

“Serius,” lanjut Danu. “Kurang apa lagi? Tinggal hujan turun, lalu kalian berpelukan.”

Dara menatapnya datar.

“…kamu ingin turun dari mobil sekarang?”

Danu tertawa, ringan, sengaja.

“Baik, baik. Tapi kamu harus akui—wajah Anggi tadi? Seperti melihat hantu yang pakai lipstik mahal.”

Bibir Dara bergerak, hampir tanpa sadar. Sebuah senyum kecil lolos. “Kau menikmati kekacauan ini,” katanya.

“Tidak,” Danu menggeleng, masih tersenyum. “Aku menikmati saat kamu tidak lagi terlihat seperti perempuan yang pernah ditinggalkan.”

Dara terdiam sesaat.

Mobil melambat di lampu merah.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Danu lebih pelan.

Dara menatap jalan di depan.

“Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi… aku tidak lemah.”

Danu mengangguk, lalu berkata ringan lagi, “Bagus. Karena kalau kamu mulai menangis, aku tidak punya tisu. Hanya playlist lagu galau.”

Dara terkekeh pelan. Dan di antara segala dendam, strategi, dan masa lalu yang menghantui, tawa kecil itu terasa seperti napas pertama setelah lama tenggelam.

.

Malam itu, begitu tiba di rumah, Anggi langsung mencari Anggun. “Mama… aku melihat dia.”

Anggun yang sedang menata vas bunga menoleh cepat. “Siapa?”

“Zizi.”

Vas di tangan Anggun hampir terlepas. “Itu tidak mungkin,” katanya cepat, terlalu cepat. “Kau salah lihat.”

“Aku tidak mungkin salah,” desak Anggi. “Dia membayar belanjaanku. Suaranya, wajahnya...”

“Diam,” potong Anggun, suaranya sedikit lebih tinggi. “Zizi sudah tidak ada di hidup kita.”

Anggi menelan ludah. “Tapi Mama… dia terlihat seperti...”

“Mirip bukan berarti sama,” Anggun berkata, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Anggi. Tangannya gemetar saat ia meletakkan vas.

Arman keluar sambil merapikan dasi, matanya otomatis tertuju ke televisi yang masih menampilkan wajah Dara Valencia. Ia berhenti melangkah.

Anggi menoleh cepat.

“Kak, lihat itu… mirip Zizi, kan?”

Arman menghela napas pendek, seperti sudah lelah dengan pertanyaan itu. “Itu Dara,” Katanya tegas. “Bukan Zizi.”

Nada suaranya bukan ragu, lebih seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya sendiri untuk yakin.

Anggun menatap layar lagi, lalu ke Arman. “Kamu yakin?”

“Sangat,” jawab Arman cepat. “Aku bertemu dia. Bicara langsung. Cara dia berdiri, cara dia menatap… itu bukan perempuan yang pernah tinggal di rumah ini.”

Anggi menggigit bibirnya. “Tapi dia menolongku di mall kemarin. Tatapannya...”

“Zizi tidak pernah menatap orang seperti itu,” potong Arman. “Zizi selalu menunduk.”

Hening jatuh di ruang keluarga.

Di layar, Dara tersenyum tipis kepada wartawan. Senyum yang tidak meminta disukai—hanya mengabarkan bahwa ia tahu nilainya sendiri.

Anggun memeluk lengannya.

“Kalau begitu kenapa rasanya… tidak tenang?”

Arman tidak menjawab.

Matanya tetap terpaku pada televisi. Di dadanya, ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman.

Bukan karena ia percaya itu Zizi.

Melainkan karena sebagian dari dirinya takut… kalau ia salah.

Sementara jauh di tempat lain, Dara Valencia sedang menatap pantulan dirinya di kaca mobil.

Dan tersenyum tipis. Karena permainan sudah mulai masuk ke wilayah keluarga.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!