Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam yang tadinya hangat, penuh dengan canda tawa yang menggema di seluruh ruangan, seketika berubah. Udara terasa membeku, menusuk hingga ke sumsum tulang. Alexander, yang tengah menikmati perannya sebagai kucing putih kesayangan keluarga Dimitri, merasakan hawa dingin yang tidak wajar merayapi tulang punggungnya. Bulu halusnya meremang, insting kucingnya memperingatkan bahaya yang tak terlihat.
Tatapan mata hijau zamrudnya yang tajam mengarah pada satu sosok: maid muda yang sedang melangkah dengan gerakan tergesa, nyaris tak menyentuh tanah. Gerakannya bagai siluman yang menebar ancaman dalam kegelapan malam. Siapakah dia sebenarnya? Apa yang disembunyikannya di balik wajah polosnya?
"Sreett ...!" Bunyi kalung berlian kecil yang melingkar di lehernya bergesekan, nyaris tak terdengar di tengah keheningan malam. Alexander melompat lincah dari sofa berbulu halus yang menjadi tempat favoritnya. Sentuhan lembut sofa yang biasanya menenangkan kini terasa menggelitik, menambah geliat resah di hatinya. Ada sesuatu yang sangat salah.
Maid itu menghilang di balik pintu samping yang menuju taman belakang, lalu menghentikan langkahnya tepat di sudut terpencil. Cahaya bulan yang pucat menari-nari di wajahnya, menampakkan ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Alexander bisa merasakan aura ketakutan yang terpancar darinya.
"Halo, Tuan ...," bisiknya lirih, suaranya bergetar bagai dedaunan yang diterpa badai. "Saya sudah mendapatkan informasi terbaru tentang wanita itu. Dia kembali datang ke mansion Dimitri, tapi kali ini bersama seorang temannya. Tuan Muda Arkana juga pulang lebih cepat dari biasanya." Laporan itu bagai petir di siang bolong bagi Alexander.
Jantung Alexander mencelos, dadanya terasa sesak. Aroma pengkhianatan menusuk indranya, memicu mual yang pahit. Ia membayangkan lidah menjilat amplop berisi uang, aroma amis keserakahan dan kekuasaan yang begitu menjijikkan. Apakah ada yang berani mengkhianati keluarga Dimitri demi uang?
"Ya, Tuan ...," lanjut maid itu, keringat membasahi pelipisnya. Baunya tercium samar oleh indra penciuman tajam Alexander. Ia bisa merasakan ketakutan yang mendalam dari wanita itu. Apakah ia hanya pion dalam permainan yang lebih besar?
"Saya akan terus memantaunya dan memberikan laporan secepatnya. Dan sepertinya Tuan Muda Arkana sangat tertarik dengan wanita yang menyelamatkan baby Alexie."
Geraman rendah lolos dari bibir Alexander. Cakarnya mencengkeram tanah, kuku-kuku tajamnya menusuk telapak kaki. Ia ingin melompat, menerkam, mencabik-cabik pengkhianatan ini hingga tak bersisa. Amarahnya bergejolak, namun ia tahu ia harus mengendalikan diri.
Namun, logika menahannya. Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga Dimitri? Ia harus mengungkap kebenaran, walau apapun yang terjadi.
Nasib buruk menghampiri. Kaki Alexander tak sengaja menyenggol pot kecil berisi tanaman lavender yang ada di belakangnya.
"Brak!"
Suara pecahan keramik dari pot itu memecah keheningan, menggema di telinga Alexander bagai guntur di siang bolong. Aroma tanah basah dan lavender menguar, bercampur aduk dengan aroma pengkhianatan yang memuakkan.
Maid itu tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia berputar cepat, matanya liar mencari sumber suara yang bisa saja mengancam nyawanya. Wajahnya pucat pasi, ketakutan terpancar jelas dari matanya.
Alexander ikut membeku, jantungnya berdebar tak karuan. Ia bersembunyi di balik pot bunga mawar yang besar, berharap kegelapan melindunginya. Ia adalah Alexander Dimitri, seorang CEO sekaligus sebagai keluarga mafia yang disegani, kini terjebak dalam tubuh seekor kucing. Ironi yang menyakitkan.
"Eh tunggu dulu! Gue kan kucing, ngapain juga harus sembunyi!" keluhnya kesal saat menyadari jika dirinya sekarang hanyalah seekor kucing.
Lalu dengan santai ia keluar dari tempat persembunyiannya dan mengeong keras supaya menarik perhatian maid itu. Ia akan menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki: penyamarannya.
Tak berapa lama, mata maid itu menemukannya. Ekspresinya berubah drastis. Dari tadinya terkejut dan ketakutan, menjadi lega dan jijik bercampur jadi satu. Alexander bisa melihat penghinaan di matanya.
"Hanya kucing bodoh," desisnya sinis, nada bicaranya penuh penghinaan. Ia menarik napas dalam-dalam, aroma lavender dari parfumnya menguar, berusaha menenangkan diri. Ia mencoba menyembunyikan ketakutannya, namun Alexander bisa menciumnya dengan jelas.
Ia memungut ponselnya, jari-jarinya gemetar saat menempelkannya kembali ke telinga.
"Maaf, Tuan ... tadi hanya kucing ceroboh yang menjatuhkan pot bunga." jelasnya, nada suaranya dibuat setenang mungkin. "Saya akan melanjutkan laporan nanti Tuan."
Mata Alexander menyipit, menatap tajam maid itu. Pesan ancaman terpancar jelas dari tatapannya. "CK! Beraninya kau berkhianat di keluarga Dimitri, maka bersiaplah menuju alam baka!" Ia tidak akan membiarkan pengkhianatan ini lolos begitu saja.
Setelah maid itu pergi meninggalkan taman, Alexander masih bertahan di sana, ia menatap pecahan pot bunga yang berserakan. Aroma tanah dan lavender terasa hambar di lidahnya. Ia merasa dikhianati, marah, dan tidak berdaya.
Ia harus memperingatkan Arkana. Tapi bagaimana caranya? Ia hanyalah seekor kucing. Siapa yang akan mempercayainya?
Dengan langkah berat, ia kembali ke mansion. Aroma menggugah selera dari ruang makan menusuk hidungnya, namun tak mampu membangkitkan selera makannya lagi, pikirannya masih terpaku sama apa yang baru saja ia dengar.
________&&________
Di ruang makan, cahaya lilin menari-nari di wajah orang-orang yang berkumpul. Tawa dan canda memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat dan akrab. Namun, di balik semua itu, Alexander tahu ada bahaya yang mengintai.
"Astaga, Devano! Kau ini memang tidak bisa berhenti membuat lelucon, ya?" Laudya tertawa, suaranya renyah, Aroma parfumnya yang lembut menguar, bercampur dengan aroma masakan yang lezat.
"Harus dong, Mommy! Hidup ini terlalu singkat untuk diseriusi terus," balas Devano, matanya berbinar nakal. "Apalagi kalau di dekat wanita-wanita cantik seperti ini." Lanjutnya dengan senyum lebar. Alexander mendengus dalam hati. Devano memang tidak pernah berubah.
"Hati-hati, kak Dev. Nanti Kak Arkana ngamuk lho," bisik May, pipinya merona merah.
"Abaikan saja pria dingin itu?" sahut Devano santai, melirik Arkana yang duduk di ujung meja dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Arkana hanya menatap tajam sekilas kearah sahabat lanutnya itu tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Cintya yang sedang menyuapi baby Al dengan telaten dan penuh kasih sayang. Ada sesuatu yang aneh dengan tatapan Arkana pada Cintya.
"Al pintar sekali makannya," puji Cintya, senyumnya merekah, menampakkan lesung di pipinya. Menambah kesan manis pada senyumnya, membuat hati Arkana bedesir aneh.
"Dia memang anak yang luar biasa," sahut Antony, yang juga memperhatikan cara Cintya memperlakukan cucunya. Matanya memancarkan kebanggaan pada cucu satu-satunya itu. "Kami sangat beruntung bisa memilikinya." lanjutnya dengan senyum tipis.
"Dan kami juga sangat beruntung bisa mengenal kalian berdua yang luar biasa menjaga dan merawat cucu kami," timpal Laudya, matanya menatap Cintya dan May bergantian. "Kalian sudah Mommy anggap sebagai putri mommy sendiri," lanjutnya tulus.
"Terima kasih Mommy," sahut Cintya terharu, lalu tersenyum tulus. May ikut mengangguk dan tersenyum tulus pada neneknya baby Al.
Alexander hanya diam membisu. Ia memilih duduk di bawah meja, merasakan dinginnya lantai marmer. Aroma makanan yang lezat tak mampu menarik perhatiannya. Matanya terus mengawasi maid muda yang kini sedang melayani dengan senyum palsu yang menjijikkan menurut Alexander.
Anastasya menatap penuh selidik pada sang suami, ia tahu pasti ada yang tak beres. Perlahan ia mendekati Alexander dan ikut duduk di lantai berdempetan dengan Alexander. Alexander tersenyum saat melihat sang istri mendekat. Hanya Anastasya yang bisa memahami dirinya saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Anastasya dengan bahasa kucing, bahasa rahasia yang hanya mereka berdua yang paham.
Alexander menghela napas panjang. Ia akan menceritakan semuanya pada Anastasya. Ia membutuhkan bantuannya.
Bersambung...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus