Cerita pengabdian untuk negeri tercinta
Kisah perjalanan hidup Panji Watugunung sang Pendekar Pedang Naga Api membaktikan diri untuk negeri tercinta yang berada diambang kehancuran karna perebutan kekuasaan antara putra putra raja
Di balik perjalanan hidup, ada kisah cinta yang melibatkan Dewi Anggarawati putri Kadipaten Seloageng dan dua adik seperguruannya
Kepada siapakah cinta Panji Watugunung akan berlabuh?? Bagaimana perjalanan nya sebagai pendekar muda jagoan dunia persilatan?
Simak kisah selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Panji Watugunung melesat turun ke arah orang berpakaian hitam yang mengaku sebagai Hantu Tanpa Muka
Hantu Tanpa Muka adalah salah satu sesepuh sebuah perguruan aliran hitam yang bernama Gunung Kematian. Dia di tugaskan oleh pemimpin Gunung Kematian yang bernama Dewa Maut untuk mengumpulkan harta di wilayah Kahuripan Barat atau Panjalu untuk persiapan perang.
"Bedebah!! "
teriak Hantu Tanpa Muka melompat mundur mendapat serangan dari Watugunung.
"Bunuh dia"
Segera anak buah Hantu Tanpa Muka mengurung Panji Watugunung sambil mencabut senjata masing-masing
Lalu serentak mereka mengeroyok Watugunung.
Sambil menyiapkan kuda kuda, Panji Watugunung menatap ke 7 anak buah Hantu Tanpa Muka.
Ajian Sepi Angin tingkat tinggi langsung di pakai saat sebuah pedang milik anak buah Hantu Tanpa Muka menebas kearah leher
Watugunung mundur selangkah, lalu bergerak seperti kilat, sedikit merunduk menghindari sabetan pedang, lalu menghantam dada orang yang menyerangnya.
Bukkkkk...
Seketika penyerang terlempar ke belakang dengan dada lebam dan langsung tewas setelah muntah darah segar akibat kerasnya pukulan Watugunung
Sebuah sapuan kaki memutar, mengarah pada pinggang orang di sebelah,
Belum sempat menghindar, tendangan keras Watugunung dengan cepat menghajar pinggang orang itu, membuat rasa sakit bukan main, dan orang itu terhuyung-huyung.
Hantu Tanpa Muka terkejut melihat dalam dua gebrakan dua anak buahnya tak berdaya.
Sisa anak buah Hantu Tanpa Muka segera berputar dan membentuk formasi pedang
Gerakan formasi pedang saling isi benar benar merepotkan.
Panji Watugunung harus bergerak cepat menghindari sabetan pedang bertubi-tubi
Setelah 10 jurus, Panji Watugunung mundur dua langkah, dan mencabut Pedang Naga Api.
Hawa panas Pedang Naga Api segera menyelimuti udara di sekitar tempat pertarungan
Lalu Panji Watugunung melesat cepat, memapak formasi pedang anak buah Hantu Tanpa Muka
Tringgg..
Loncatan bunga api akibat benturan pedang membuat pertarungan semakin mengerikan.
Hanya dua kali benturan, pedang anak buah Hantu Tanpa Muka hancur. Kualitas pedang mereka jauh di bawah pedang pusaka.
Begitu pedang lawan hancur, Panji Watugunung segera membabatkan Pedang Naga Api ke arah anak buah Hantu Tanpa Muka.
Breeettt..
Sabetan pedang berhawa panas membuat semua anak buah Hantu Tanpa Muka mundur, namun dua orang terlambat beberapa detik.
Mereka berdua melotot saat pedang berhawa panas menebas tubuh mereka.
Aaarghhh..
Hanya itu saja yang keluar dari mulut mereka, saat tertebas dan langsung ambruk dengan dada dan perut sobek besar. Mereka tewas.
Melihat anak buahnya berjatuhan, Hantu Tanpa Muka segera memutar tongkat dengan hiasan kepala setan pada ujungnya.
Angin menderu kencang kearah Panji Watugunung.
Lelaki itu tersenyum sambil melompat ke udara, menghindari angin dingin yang menghantam tanah
Blarrrrr
Panji Watugunung melayang turun, tiga orang anak buah Hantu Tanpa Muka segera melesat bermaksud menyerang nya
Begitu menjejak tanah, dengan kaki kanan jongkok dan kaki kiri melebar, Panji Watugunung membabatkan pedang ke tanah.
Sreeetttttt
Hawa panas bercampur debu beterbangan melesat cepat menghadang tiga orang anak buah Hantu Tanpa Muka yang terkejut , namun saat mereka sibuk menghindari , tiba tiba Panji Watugunung sudah di depan mereka dan menyabetkan pedang.
Dua orang langsung roboh, dan seorang lagi terpelanting terkena imbas tenaga dalam tingkat tinggi, tubuhnya melayang menghantam tanah.
Panji Watugunung kini berjarak dua tombak dari Hantu Tanpa Muka
'Bedebah ini rupanya punya ilmu tinggi, aku harus hati-hati'
Ucap Hantu Tanpa Muka dalam hati sambil mengalirkan tenaga dalam nya ke tangan.
Asap hitam pekat segera keluar menyelimuti tangan Hantu Tanpa Muka, tongkat di tancapkan ke tanah.
Merasa hawa dingin membeku terasa di udara, Panji Watugunung segera memindahkan pusat tenaga dalam pada tangan kirinya. Seketika tangan kiri Watugunung berwarna merah menyala.
Hantu Tanpa Muka menghantamkan kedua tangannya ke arah Panji Watugunung
"Tinju Dewa Kematian
Chiaaatttttt..."
Dua sinar hitam disertai asap hitam bergulung-gulung menerabas cepat
Panji Watugunung memindahkan pedang di punggung, lalu mengambil kuda kuda kuat dan mendorong tangan kiri nya memapak kearah sinar hitam bergulung-gulung dari Hantu Tanpa Muka
"Tapak Dewa Api tingkat 4
Hiyaaaaaatttttt..."
Sinar merah melesat dari tangan kiri Watugunung
Blarrrrr..
Ledakan dahsyat terjadi saat dua tenaga dalam tingkat tinggi berbenturan.
Hantu Tanpa Muka pucat melihat Ajian andalan nya dengan mudah di tangkis.
Dari dalam topengnya, kakek tua itu mendesis geram.
'Pemuda tengik ini benar benar tanguh'
Hantu Tanpa Muka segera mencabut tongkatnya, mengalirkan tenaga dalam ke tongkat membuat tongkat besi memancarkan aura kegelapan.
Kemudian Hantu Tanpa Muka melesat memukul kepala Panji Watugunung yang segera menggeser posisi tubuhnya ke samping.
Pukulan Hantu Tanpa Muka hanya menyambar angin kosong, tubuh kakek tua itu berputar, dengan kecepatan tinggi kaki kanan mengincar pinggang Watugunung. Kali ini Panji Watugunung tidak menghindar tapi menangkis kaki dengan pukulan tangan kiri.
Benturan tinju dan kaki tak terelakkan lagi.
Kaki Hantu Tanpa Muka terasa sakit seperti patah.
Hantu Tanpa Muka segera mundur. Setelah benturan tadi, dia menyadari bahwa pemuda itu memiliki tenaga dalam 2 tingkat di atasnya.
Setara dengan Dewa Maut,Pemimpin Gunung Kematian.
Hantu Tanpa Muka segera berpikir untuk melarikan diri.
Setelah menemukan jalan, Hantu Tanpa Muka kembali mengeluarkan jurus pamungkas nya.
Sinar hitam bergulung-gulung kembali menyerang Panji Watugunung, tapi Watugunung berhasil meredam dengan Tapak Dewa Api tingkat 5.
Akibatnya sinar kemerahan dari tangan kiri Watugunung mampu memotong Tinju Dewa Kematian dari Hantu Tanpa Muka, dan terus bergerak cepat kearah lelaki tua bertopeng misterius itu.
Karena terlalu cepat, Hantu Tanpa Muka terlambat beberapa detik. Sinar merah menghantam lengan kiri nya
Hantu Tanpa Muka terlempar ke belakang dan menghantam tanah.
Dari sudut bibirnya, darah merah kehitaman tanda luka dalam mengalir.
Hantu Tanpa Muka merogoh kantong bajunya, mengambil dua pisau kecil berwarna hitam dan melemparkannya ke arah Panji Watugunung
Sring sringggg
Hawa dingin pekat di rasakan oleh Panji Watugunung menuju ke tubuhnya.
Pendekar muda itu melompat ke udara, menghindari senjata rahasia Hantu Tanpa Muka
Pisau melesat menancap dalam pada pohon, seketika pohon menjadi kehitaman tanda terkena racun.
Panji Watugunung yang melihat kearay pohon terkesiap dan mendarat di tanah agak jauh.
Tapi Hantu Tanpa Muka sudah tidak ada di arena pertarungan.
'Hemmmm,
Setan tua itu sudah kabur rupanya'
Ada suara merintih dari salah satu anggota kelompok Hantu Tanpa Muka.
Panji Watugunung mendekati suara itu, seketika pemilik suara pucat.
"Ampuni aku pendekar, aku mengaku salah.
Tolong jangan bunuh aku"
Hemmmmm
"Jelaskan siapa kau, dan apa tujuan mu?
Kalau kau berani menipu , ku pastikan besok pagi kau sudah di neraka"
Dengan ketakutan, anak buah Hantu Tanpa Muka menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang Gunung Kematian, mereka di utus pemimpin mereka untuk merampok harta di wilayah Panjalu. Tujuannya untuk persiapan biaya perang dari Jenggala.
"Tolong jangan bunuh aku pendekar,
tolong lepaskan aku"
Hemmmmm
"Pergilah, kalau sampai aku melihat mu lagi, akan kupastikan itu hari terakhir kau melihat matahari"
Dengan tertatih tatih, anak buah Hantu Tanpa Muka berjalan meninggalkan tempat itu. Sebentar saja tubuh nya sudah hilang ditelan kegelapan malam.
Panji Watugunung segera masuk ke dalam rumah tempat berkumpulnya anak buah Hantu Tanpa Muka.
Memeriksa harta yang terkumpul, kemudian mengambil beberapa kantong kepeng perak dan emas. Lalu melesat menuju rumah kakek tua di ujung wanua.
Hari menjelang pagi.
Panji Watugunung masuk ke dalam rumah tanpa bersuara.
Dewi Anggarawati masih tertidur pulas.
Panji Watugunung merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu setelah memasukkan kantong kepeng ke dalam buntalan kain.
Tak berapa lama dia pun tertidur.
Pagi itu wanua kecil bernama Rangkuh gempar..
6 orang berpakaian hitam khas hantu dengan topeng seram tewas di rumah kosong bekas kediaman keluarga Lurah Rangkuh.
Di dalam rumah kosong itu terdapat harta benda.
Segera Lurah Rangkuh dan Jagabaya mengamankan barang dan melaporkan kejadian itu ke Pakuwon.
Panji Watugunung di bangunkan Dewi Anggarawati. Setelah mencuci muka dan sarapan dengan singkong rebus mereka meninggalkan Wanua Rangkuh dengan segala kehebohan nya.
Tak lupa Panji Watugunung memberikan 20 kepeng perak kepada kakek tua pemilik rumah.
Mereka berdua memacu kudanya ke arah barat menuju perbatasan Kabupaten Gelang-gelang..
**
Sementara itu, rombongan Juragan Karsa yang di kawal Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sudah memasuki wilayah Gelang-gelang dari sisi Utara.
Tidak ada gangguan berarti selama perjalanan kecuali di daerah Kunjang saat mereka di cegat begal. Namun itu bukan hal sulit untuk Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
"Ki Sarwana, kira kira untuk ke ibukota kabupaten Gelang-gelang, kita perlu waktu berapa lama?" tanya Ratna Pitaloka.
"Besok tengah hari kita sudah sampai di ibukota Gelang-gelang nisanak.
Kenapa aku merasa nisanak berdua ingin segera bergegas ke ibukota Gelang-gelang?", tanya Ki Sarwana..
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang saling berpandangan dan segera kompak menjawab
"Rahasia Ki"
.
.
.
.
.
.
.
*bersambung*