[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [30]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Bukan hanya batin saja, mental pun akan di uji dalam sebuah hubungan....
...-Haiden Atmaja-...
Pagi hari telah tiba, Iris dan Celine sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, sedangkan Zhein dan Kenneth masih tertidur di ruang tamu dengan wajahnya yang memar.
"Ken sama Zhein udah lo bangunin?" tanya Iris.
"Belum sempet Ris, gue lagi beresin dulu baju," jawab Celine.
"Oh yaudah biar gue aja yang bangunin," ucap Iris.
"Iya," ujar Celine yang masih sibuk membereskan bajunya.
Iris melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuruni anak tangga untuk membangunkan Zhein dan Kenneth yang mungkin saat ini masih tertidur pulas.
Namun saat menuju ruang tamu, Iris melihat Kenneth yang sudah terbangun dengan pakaian seragam dan rambut basahnya menandakan dia baru saja mandi, Iris melihat Kenneth juga sedang mengompres Zhein.
"Udah siap-siap Ken?" tanya Iris sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah Kenneth.
"Udah," jawab Kenneth yang masih sibuk dengan Zhein.
"Zhein kenapa?" tanya Iris yang melihat wajah pucat Zhein.
"Kayaknya demam Ris, badannya panas banget," jawab Kenneth.
"Demam?" tanya Iris.
"Iya," jawab Kenneth.
Iris mengecek kening Zhein yang lumayan panas, menandakan ucapan Kenneth itu tidak berbohong apalagi wajah pucat Zhein sudah terlihat jelas.
"Bawa ke rumah sakit aja ken," ucap Iris.
"Gak perlu, ini cuman demam aja," sahut Zhein di sela-sela percakapan antara Iris dan Kenneth.
"Ya udah gue anter pulang aja," ucap Iris.
"Di rumah Zhein gak ada siapa-siapa Ris, lo tega ninggalin pacar lo?" tanya Kenneth secara tiba-tiba.
"Lo udah tau?" tanya Iris.
"Malem tadi baru aja di kasih tau sama Zhein," jawab Kenneth.
"Oh, yaudah bagus kalau udah tau, cuman lo aja yang tau?" tanya Iris.
"Iya, cuman gue aja, gak ada yang lain lagi," jawab Kenneth.
"Kenapa nyembunyiin hubungan kalian?" tanya Kenneth.
"Gue sama Zhein udah sepakat buat gak ngasih tau hubungan ini, coba bayangin aja kalau satu sekolah tau hubungan ini bisa jadi gue bahan buly para penggemar Zhein," jawab Iris sambil bergidik ngeri.
"Iya juga ya, serem, tapi cepat atau lambat hubungan kalian bakalan diketahui banyak orang," ucap Kenneth.
"Iya gue tau, gue udah siapin mental sama batin kok, tapi seengganya buat awalan gue mau adem ayem dulu," ujar Iris.
"Ris. Ken udah bangun belum?" teriak Celine dari atas tangga, di sela-sela percakapan antara dirinya dan Kenneth.
"Udah lin." sahut Iris.
"Celine juga udah tau soal hubungan gue sama Zhein," ucap Iris.
"Oh ya?" tanya Kenneth.
"Iya, sama kayak lo tau nya malam tadi," jawab Iris.
"Ayo berangkat Ris, gue udah siap," ajak Celine.
"Em, kayaknya gue gak sekolah dulu deh lin," ucap Iris.
"Lah kenapa?" tanya Celine.
"Tuh," jawab Iris sambil menatap kearah Zhein yang sedang terbaring lemah.
"Zhein kenapa?" tanya Celine.
"Demam," jawab Iris.
"Masa?" tanya Celine sambil mengecek suhu tubuh Zhein melalui keningnya.
"Panas," ucap Celine saat sudah mengecek suhu tubuh Zhein.
"Yah, gimana dong? gue gak ada temen," sambung Celine.
"Ya mau gimana lagi? mau di bawa ke rumah Zhein tapi di sana gak ada siapa-siapa," ucap Kenneth.
"Heem, yaudah deh kasian juga Zhein butuh istirahat," ujar Celine.
"Tolong izinin gue ke guru ya," ucap Iris.
"Iya, pasti, lagi gak mau becanda soal beginian gue, udah cukup malem juga,* ujar Celine.
"Soal Sherin gimana?" tanya Iris.
"Nanti gue WA aja, sekarang belum kepikiran," jawab Celine.
"Yaudah sono pergi, keburu kesiangan, nanti lo di hukum," ucap Iris.
"Bilang aja mau berduaan kan lo?" tanya Celine.
"Gue lagi baik sama lo lin ngingetin biar gak kesiangan, lo suka su'udzon sama gue," jawab Iris.
"Iya deh iya, makasih ya udah di ingetin," ucap Celine.
"Kapan mau berangkat?" tanya Kenneth yang sejak tadi mengompres Zhein.
"Sekarang lah," jawab Celine.
"Ken, kalau ada apa-apa bilang ke gue," ucap Zhein.
"Siap pak ketua," ujar Kenneth.
"Lo kira gue tua apa?" tanya Zhein.
Sedangkan Iris yang mendengar perkataan Kenneth itu langsung diam mematung, dia sedang mencerna perkataan Kenneth yang baru saja keluar dari mulutnya.
Pak ketua? Zhein? apa maksudnya? tanya Iris dalam hati.
"Beda beberapa minggu sama gue, jadi boleh lah gue bilang bapak," jawab Kenneth.
"Kenapa Ris?" tanya Celine yang melihat Iris melamun.
"Tadi gue denger ken bilang pak ketua, ke siapa?" tanya Iris.
"Ke Zhein," jawab Kenneth.
"Zhein?" tanya Iris sambil menatap ke arah Zhein yang sedang memejamkan matanya.
"Iya, kenapa emang nya? Zhein belum cerita sama lo Ris?" tanya Kenneth. Sedangkan Iris hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Udah, lo cepet pergi deh, gak usah jadi tukang kompor," ucap Zhein.
"Siapa juga yang jadi tukang kompor?" tanya kenneth.
"Lo!" ucap Zhein.
"Oke, oke, gue persilahkan kalian berdua," ucap Kenneth.
"Inget ya, kalau ada apa-apa langsung telpon gue," ujar Zhein.
"Iya, iya, bawel banget," ucap Kenneth.
"Udah ken ayo," ajak Celine sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah Iris.
Meninggalkan Iris yang sedang mencerna perkataan Kenneth tadi.
Zhein? ketua? Sherin? tanya Iris dalam hati.
"Ris," panggil Zhein sambil menggenggam tangan Iris yang berada di sampingnya.
"Eh, iya kenapa?" tanya Iris.
"Gue mau bubur," jawab Zhein sambil tersenyum cengengesan.
"Yaudah gue beli ke depan dulu," ucap Iris sambil melangkahkan kakinya untuk keluar rumah.
"Lo mau keluar pake seragam?" tanya Zhein.
Dalam seketika langkah Iris langsung terhenti, dia baru ingat dirinya masih memakai seragam sekolah.
"Eh, iya gue lupa," jawab Iris cengengesan, dirinya langsung melangkahkan kaki ke kamarnya untuk mengganti baju.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗