NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Melamar

Bu Lastri yang sedari tadi mengintip dari balik celah pintu, tak lagi mampu menahan binar bahagia di matanya. Ia melangkah masuk dengan senyum yang begitu cerah, seolah baru saja memenangkan undian terbesar dalam hidupnya.

"Ibu setuju dengan semua yang kamu lakukan, Dimas," suara Bu Lastri memecah keheningan yang intim di antara mereka berdua.

Dimas dan Zora refleks merenggangkan pelukan. Wajah Zora sudah semerah kelopak mawar, sementara Dimas berdeham pelan, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sempat runtuh.

"Ibu tidak peduli jika Zora tidak punya sanak keluarga di dunia ini," lanjut Bu Lastri sambil menggenggam tangan Zora dengan penuh kasih. "Justru karena itu, biarkan Ibu dan Dimas yang menjadi duniamu. Zora, Ibu ingin menyampaikan keinginan Ibu yang selama ini Ibu simpan rapat-rapat... Ibu ingin kalian berdua menikah."

Keheningan seketika menyergap kamar itu. Zora terpaku, detak jantungnya yang tadi melambat kini kembali berpacu liar karena syok. "P-pernikahan, Bu? Tapi saya..."

"Ibu tahu ini mendadak," potong Bu Lastri lembut. "Tapi Ibu tidak melihat wanita lain yang lebih pantas mendampingi anak Ibu yang kaku ini selain kamu."

Dimas menatap ibunya dengan tatapan tak percaya, lalu beralih pada Zora yang tampak kebingungan. Ada desir aneh di dadanya,sebuah keinginan yang ia sendiri takut untuk mengakuinya.

"Bu, Zora baru saja pulih. Jangan menekannya," ucap Dimas membela, meski sebenarnya hatinya sendiri sedang bergejolak hebat.

Zora menunduk, jemarinya meremas kain sprei. "Maafkan saya, Bu... saya sangat menghargai niat baik Ibu. Tapi untuk saat ini, saya... saya belum bisa menjawabnya. Saya butuh waktu untuk berpikir."

Kekecewaan sempat melintas di wajah Bu Lastri, namun ia adalah wanita yang cerdik. Ia tahu tidak bisa memaksa burung yang baru belajar terbang untuk langsung masuk ke sangkar emas.

"Baiklah, Ibu tidak akan memaksa untuk langsung menikah," ucap Bu Lastri dengan nada kompromi yang cerdik. "Bagaimana kalau kita ambil jalan tengah? Kalian bertunangan saja dulu. Hanya untuk saling mengenal lebih dalam, tanpa ikatan yang terlalu berat. Setelah Zora benar-benar siap, baru kita lanjut ke jenjang pernikahan."

Dimas dan Zora tersentak secara bersamaan. Mereka saling melempar tatapan,sebuah komunikasi tanpa kata yang sarat akan kebingungan.

Dimas menatap mata cokelat Zora yang jernih, mencoba mencari alasan untuk menolak. Namun, bayangan saat ujung jarinya menyentuh kulit hangat gadis itu semalam justru kembali muncul, melumpuhkan logika yang selama ini ia agungkan. Sementara Zora, ia ingin menolak karena merasa tak pantas, namun kehangatan perlindungan Dimas tadi membuatnya seolah kehilangan kata-kata.

"Kenapa diam? Kalian tidak punya alasan untuk menolak 'perkenalan' ini, kan?" goda Bu Lastri, seolah sudah mengunci semua pintu keluar bagi mereka berdua.

Dimas menghela napas panjang, ia melirik Zora sekali lagi,menunggu penolakan dari bibir gadis itu. Namun, saat Zora hanya diam dengan wajah yang merona, Dimas sadar bahwa pertahanannya benar-benar telah runtuh.

"Jika Zora setuju... aku tidak punya alasan untuk membantahmu, Bu," jawab Dimas akhirnya dengan suara rendah yang terdengar seperti menyerah pada takdir.

Zora mendongak, terpana mendengar jawaban Dimas. Ia terjebak dalam skenario yang paling tidak ia duga: menjadi tunangan dari mantan dosennya sendiri yang sangat dingin, namun mampu membuatnya merasa paling berharga di dunia.

**

Malam itu, hawa dingin sisa hujan masih merayap di sela-sela jendela kamar Zora. Bu Lastri telah lama undur diri, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara dua jiwa yang kini terikat oleh kata 'perjodohan'.

Dimas masih berdiri di posisi yang sama, menatap Zora yang duduk di tepi ranjang dengan jemari yang terus bertautan cemas. Setelah cukup lama hanya suara detak jam dinding yang terdengar, Dimas akhirnya menghela napas panjang,sebuah helaan napas yang terdengar seperti melepaskan beban logika yang selama ini ia pikul.

"Zora," suara Dimas rendah, membelah kesunyian. "Aku tahu permintaan Ibu tadi mengejutkanmu. Begitupun aku. Awalnya, aku berpikir untuk menerima ini hanya karena aku tak tega melihat Ibu terus berharap. Dia sangat menginginkan seorang menantu, dan dia memilihmu."

Zora mendongak, matanya yang bening menatap Dimas dengan gurat kesedihan yang samar. "Hanya karena kasihan pada Ibu, Pak?"

Dimas melangkah mendekat, perlahan ia berlutut di depan Zora agar tinggi mereka sejajar,sebuah gestur yang sangat tidak lazim dilakukan oleh seorang pria seangkuh Dimas. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Zora, mencoba menyalurkan kesungguhan yang selama ini terkunci di balik sikap dinginnya.

"Awalnya mungkin iya. Tapi saat aku melihatmu di sana tadi, aku sadar... aku pun tak punya alasan untuk menolak," ucap Dimas dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

"Aku telah mengenalmu sejak lima tahun lalu di kampus. Aku melihatmu tumbuh dari seorang mahasiswi yang gigih hingga menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang. Kita sudah saling mengenal lebih dari sekadar nama. Jadi... mari kita jalani takdir Tuhan ini."

Dimas meraih tangan Zora yang gemetar, menggenggamnya dengan telapak tangannya yang hangat dan lebar.

"Zora, menikahlah denganku. Aku memang pria yang kaku dan mungkin membosankan. Tapi aku berjanji padamu, di hadapan Tuhan, aku akan memuliakanmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk diriku sendiri. Kamu tidak perlu lagi menanggung beban dunia ini sendirian."

Mendengar kalimat itu, pertahanan Zora runtuh. Matanya berkaca-kaca, kristal bening mulai jatuh membasahi pipinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya yang keras dan sepi, ada seseorang yang secara terang-terangan mengatakan ingin menjadi tempatnya bersandar. Ada seseorang yang menginginkannya bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena keberadaannya.

"Tapi Pak... saya hanya gadis yatim piatu. Saya tidak punya keluarga yang bisa memberikan kehormatan untuk keluarga Bapak," bisik Zora dengan suara yang serak karena tangis.

"Keluargamu adalah aku, Zora. Kehormatanmu adalah namaku," tegas Dimas tanpa ragu. Ia menghapus air mata di pipi Zora dengan ibu jarinya, lalu memberikan sebuah tatapan yang begitu intens hingga membuat Zora merasa seolah waktu berhenti berputar. "Katakan ya, dan aku akan menjagamu seumur hidupku."

Zora terpesona oleh ketulusan yang memancar dari mata pria di hadapannya. Secara perlahan, seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata, Zora mengangguk pelan. Sangat pelan, namun cukup bagi Dimas untuk menarik napas lega.

Dimas tersenyum tipis,sebuah senyuman yang sangat langka yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati Zora. Ia menarik tangan Zora, berniat untuk mengecup kening gadis itu sebagai segel perjanjian mereka malam itu.

Namun, baru saja bibir Dimas hampir menyentuh kening Zora, pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit dengan suara derit yang tajam. Sebuah bayangan melintas di koridor, diiringi suara benda jatuh yang cukup keras dari arah dapur.

Dimas seketika berdiri tegak, matanya kembali menajam dan waspada. "Siapa di sana?!"

Kira-kira siapa yang mengintip ya? Apa bu Lastri atau mungkin MIra?jawabannya ada di bab berikutnya.

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!