NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepala Sekuat Baja

Karaeng Fatimah terpaku di dalam mobil, napasnya terhembus pendek-pendek, seakan dadanya ditekan oleh beban yang tak kasatmata. Pemandangan di hadapannya terasa ganjil sekaligus menghina martabatnya. Di Wilayah Kota Jakarta yang ramai, di bawah cahaya lampu jalan yang memantulkan kilau dingin pada aspal basah, mobil dinasnya hancur seperti mainan rapuh—kaca depan retak, bodi penyok, dan jejak kekerasan tertinggal tanpa rasa bersalah.

Bagaimana mungkin seseorang berani bertindak sejauh itu?

Ia adalah Wakil Kapten Tim Polisi Kriminal, seorang perempuan yang namanya dikenal di lingkungan kepolisian, bukan hanya karena ketegasan, melainkan karena ketajaman naluri dan keberaniannya menghadapi dunia gelap. Namun malam ini, kehormatan itu seolah diinjak-injak. Amarah yang sejak tadi tertahan—amuk batin yang dipicu oleh urusan dengan Fauzan Arfariza—kini menemukan sasaran. Api itu menjalar dari ulu hati ke ujung jari-jarinya.

Dengan gerakan tegas, Karaeng Fatimah membuka pintu mobil, melompat turun ke aspal, lalu menunjuk lurus ke arah sosok yang berdiri paling depan—seorang pria bertubuh besar, berkepala botak, dengan tatapan dingin seperti besi.

“Apa yang ingin kamu lakukan?” suaranya menggema, keras dan jernih, menembus deru kendaraan yang melintas.

Di sisi lain, Fauzan Arfariza keluar dari mobil dengan langkah santai. Sejak pandangan pertamanya menyapu barisan orang-orang itu, ia telah memahami segalanya. Aura yang kasar, formasi yang disengaja, dan keberanian sembrono—semua mengarah pada satu nama yang familiar: Romy Tampubolon. Orang-orang ini bukan kebetulan. Mereka diutus.

Namun Fauzan tidak tergesa. Justru, sudut bibirnya terangkat tipis. Orang-orang buta ini telah memilih sasaran yang keliru. Mereka menantang seseorang dari keluarga Karaeng, dan itu selalu berujung pada penyesalan. Dalam ketenangannya, Fauzan berdiri di samping Karaeng Fatimah, menyandarkan diri pada keteguhan sikap, menonton seolah malam hendak menyuguhkan sebuah sandiwara.

Karaeng Fatimah melangkah maju setengah langkah, matanya menyapu satu per satu wajah di hadapannya. “Kalian semua, jongkok! Tangan di atas kepala! Aku polisi.”

Perintah itu tegas, tak memberi ruang tawar-menawar. Namun pria berkepala botak itu baru saja menginjakkan kaki di Kota Jakarta. Nama dan jabatan tidak berarti apa-apa baginya. Tatapannya yang cabul merayap tanpa malu pada tubuh Karaeng Fatimah, seakan hukum hanyalah lelucon.

Dengan senyum mengejek, ia bersuara, “Gadis kecil, kamu polisi? Kenapa tidak sekalian bilang kamu Kapten Tim Polisi Kriminal?”

“Kau dengar baik-baik,” jawab Karaeng Fatimah, nada suaranya mengeras seperti baja yang ditempa. “Aku Wakil Kapten Tim Polisi Kriminal. Letakkan senjata kalian. Sekarang.”

Tawa meledak dari dada pria botak itu, kasar dan penuh penghinaan. “Membosankan,” katanya sambil menggeleng. “Bohongmu kecil sekali. Wakil Kapten? Tidak ada roh. Kalau kau Wakil Kapten, maka aku Kepala Biro!”

Gelak tawa menyambut ucapannya dari barisan di belakang. Pada saat itulah seorang pria berambut pirang, bertubuh lebih kecil, melangkah maju. Matanya berkilat dengan nafsu yang tak disembunyikan. “Saudara Kepala Baja,” katanya sambil menjilat bibir, “gadis kecil ini terlalu cantik. Kenapa kita tidak membawanya saja? Bersenang-senang sebentar, ya?”

“Gagasan bagus,” jawab Kepala Baja tanpa ragu. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat. “Saudara-saudara, patahkan kaki anak itu,” ia menunjuk ke arah Fauzan, “dan bawa gadis ini. Malam ini, kita semua akan bersenang-senang.”

“Siap!” teriak beberapa suara serempak.

Pria pirang itu sudah lama terpesona. Mendapat perintah, ia langsung melangkah, tangannya terulur seperti cakar, menyambar ke arah Karaeng Fatimah.

Pada saat itulah Fauzan teringat pada pemeriksaannya sebelumnya. Ia tahu, perempuan di sampingnya bukan sekadar aparat berseragam. Sejak kecil, Karaeng Fatimah telah menempa diri dalam dunia bela diri. Meski belum menembus ambang sejati seorang pendekar, kekuatannya jauh melampaui orang kebanyakan. Energi Vital mengalir stabil dalam tubuhnya, selaras antara Keseimbangan dan Kestabilan—fondasi yang jarang dimiliki.

Amarah yang telah mencapai puncaknya akhirnya meledak.

“Cari mati!” raung Karaeng Fatimah.

Dalam satu tarikan napas, ia mengangkat kakinya. Tumit tinggi sepanjang sepuluh sentimeter melesat cepat, membelah udara malam dengan desis tajam. Belum sempat mata manusia mengagumi garis kaki yang lurus dan kokoh itu, tendangan telah menghantam perut pria pirang tersebut.

Tubuh itu terangkat dari tanah, terlempar ke belakang seperti karung kosong, lalu jatuh menghantam aspal dengan bunyi tumpul tepat di depan Kepala Baja.

“Ahhh!”

Jeritan itu memecah malam. Pria pirang itu menggeliat di tanah, wajahnya memucat, keringat dingin membanjiri dahinya. Rasanya seolah isi perutnya hancur berantakan. Ia berguling, merintih, memeluk perutnya yang berdenyut hebat.

Kepala Baja menyipitkan mata. Ada secercah keterkejutan, namun tidak sampai menggoyahkan kepercayaan dirinya. “Gadis kecil, jadi kau praktisi?” katanya dengan seringai. “Menarik.”

Ia melangkah maju setapak, bahunya yang lebar tampak seperti dinding tak tergoyahkan. “Ayo,” tantangnya sambil mengangkat dagu. “Datanglah bersama. Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan.”

Di sisi Karaeng Fatimah, Fauzan Arfariza tetap tenang. Tatapannya tajam, menembus kerumunan, seakan menilai satu per satu takdir yang akan jatuh malam ini. Dalam diamnya, ia tahu: ini baru permulaan. Energi Vital bergetar halus di udara, dan roda nasib telah mulai berputar.

Malam Kota Jakarta pun menahan napas, menunggu benturan berikutnya.

---------------

Bab 16: Kepala Baja (lanjutan)

Fauzan Arfariza berdiri di sisi Karaeng Fatimah dengan sikap nyaris acuh tak acuh. Sejak awal, keberadaannya sama sekali tidak diperhitungkan oleh Kepala Baja. Di mata pria botak itu, Fauzan hanyalah pemuda berwajah bersih, bertubuh ramping, tampak seperti kaum terpelajar yang bisa dipukul mati hanya dengan satu tamparan. Sosok semacam itu, menurut logika jalanan, tidak layak masuk dalam daftar ancaman.

Maka seluruh perhatian para berandalan pun tertuju pada Karaeng Fatimah.

Dengan teriakan kasar dan sorak penuh nafsu, mereka menyerbu bersamaan. Pada awalnya, tangan kosonglah yang mereka andalkan, mencoba mengepung dan menekan dari berbagai arah. Namun segera mereka menyadari bahwa perempuan di hadapan mereka bukan sasaran empuk. Tubuh Karaeng Fatimah bergerak lincah, pukulan dan tendangannya terukur, penuh tenaga, seolah ia telah menempuh latihan panjang sejak kanak-kanak.

Satu demi satu, para berandalan terhuyung.

Melihat hal itu, mereka mulai mengeluarkan senjata. Pipa besi berkilat di bawah lampu jalan, bilah pisau memantulkan cahaya dingin. Namun bahkan dengan alat-alat itu, mereka tetap bukan tandingan. Karaeng Fatimah bagai pusaran badai kecil; setiap gerakannya mengandung ledakan kemarahan yang telah lama tertahan.

Beberapa menit berlalu. Di atas aspal, tubuh-tubuh bergelimpangan. Rintihan, jeritan, dan umpatan bercampur menjadi satu simfoni kekalahan. Tidak satu pun dari mereka yang masih mampu berdiri dengan layak.

Sekitar lima puluh hingga enam puluh meter dari lokasi itu, sebuah SUV hitam terparkir diam. Di dalamnya, Romy Tampubolon duduk bersandar, menatap pemandangan itu dengan sorot mata yang gelap.

Di sampingnya duduk seorang pria setengah baya mengenakan kacamata hitam besar. Dadanya terbuka sebagian, memperlihatkan tato ular kobra yang melingkar garang. Dialah penguasa wilayah bawah tanah di kawasan ini, bos besar dari Kepala Baja dan anak buahnya. Karena kekejamannya, orang-orang memanggilnya Cobra.

Melihat anak buahnya satu per satu tumbang di tangan seorang perempuan, Romy Tampubolon mengernyit. “Saudara Cobra,” katanya dengan nada agak gusar, “orang-orangmu ini benar-benar tak berguna. Bagaimana mungkin mereka bahkan tak bisa mengalahkan seorang wanita?”

Cobra mengisap cerutu di tangannya dengan tenang, menghembuskan asap perlahan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. “Untuk apa terburu-buru?” ujarnya datar. “Mereka hanya ikan kecil. Yang benar-benar ahli di bawahanku adalah Kepala Baja.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh keyakinan. “Sejak kecil, dia berlatih bela diri di Kuil Shaolin. Ia menguasai aliran keras, terutama jurus kepala bajanya. Kepalanya hampir kebal terhadap senjata tajam. Kalau saja beberapa hari lalu ia tidak melumpuhkan anak orang kaya di utara, dia tak akan datang padaku untuk berlindung.”

Sudut bibir Cobra terangkat. “Tenang saja. Bocah itu sedang bermain kucing-kucingan dengan perempuan itu. Tak lama lagi, dia akan benar-benar bergerak.”

Mendengar itu, Romy Tampubolon akhirnya mengendur. Ia mengambil sebuah tas kerja hitam dari samping kursi, lalu menyerahkannya. “Saudara Cobra, ini dua ratus juta Rupiah seperti yang kita sepakati. Aku hanya ingin kaki bocah itu patah.”

“Lempar saja ke dalam mobil,” jawab Cobra tanpa ragu. “Aku, Cobra, selalu menepati janji.”

Namun tiba-tiba, alisnya berkerut. Tatapannya kembali tertuju pada Karaeng Fatimah di kejauhan. “Perempuan itu… kenapa tampak agak familiar?”

Ia sebenarnya mengenal Nona Muda Keluarga Karaeng. Di dunia jalanan, hukum pertama adalah membuka mata selebar-lebarnya dan tahu siapa saja yang tidak boleh disentuh di Kota Jakarta. Kesalahan kecil bisa berujung pada kehancuran total.

Sayangnya, jarak mereka cukup jauh, dan dari sudut pandang itu yang terlihat hanyalah punggung Karaeng Fatimah. Rasa familier itu muncul sekilas, namun wajahnya tak terbaca jelas.

Romy Tampubolon melambaikan tangan dengan ceroboh. “Untuk apa memikirkan hal sepele?” katanya. “Dia hanya perempuan yang mengendarai carry rusak. Latar belakang apa yang bisa dia miliki?”

Cobra tertawa kecil. Benar juga. Para putra kaya dan nona bangsawan di Kota Jakarta selalu mengendarai mobil mewah bernilai jutaan Rupiah. Siapa yang mau menyentuh carry tua seperti itu?

Tak seorang pun dari mereka membayangkan bahwa mobil sederhana itu justru sengaja digunakan oleh Nona Muda Keluarga Karaeng demi menemani Fauzan Arfariza.

Di sisi lain, melihat semua anak buahnya tumbang, Kepala Baja melangkah maju dua langkah. Wajahnya menampilkan senyum congkak. “Gadis kecil, kemampuanmu memang tidak buruk,” katanya. “Semakin pedas seorang wanita, semakin nikmat rasanya. Kau benar-benar sesuai dengan seleraku.”

Ia menggeleng perlahan. “Tapi dengarkan baik-baik. Apa pun yang terjadi, kau bukan tandinganku. Lebih baik kau datang dengan patuh ke pelukanku. Aku tak akan memperpanjang urusan hari ini.”

“Pergi ke neraka!” raung Karaeng Fatimah.

Tangannya terangkat, tinjunya melesat lurus menghantam wajah Kepala Baja.

Namun pria botak itu hanya menyeringai dingin. Ia sedikit menundukkan kepala, menyambut pukulan itu dengan dahi dan tengkoraknya yang keras.

Plak!

Suara benturan terdengar nyaring. Kepala Baja tetap berdiri tak bergeming, seolah tak terjadi apa-apa. Sebaliknya, Karaeng Fatimah terpaksa mundur beberapa langkah.

Rasa panas menyengat menjalar di tangannya. Seakan tulangnya retak. Ia mengangkat tangan itu dan melihat tinjunya yang semula halus kini membengkak.

Kepala Baja mengusap kepalanya sambil tertawa. “Bagaimana, gadis kecil? Sekarang kau tahu betapa hebatnya jurus Kepala Baja, bukan?”

Namun sifat keras kepala Karaeng Fatimah tak memungkinkan dirinya mengaku kalah. Ia mendengus dingin dan kembali menyerang.

Kali ini, ia tidak menggunakan tinju, melainkan kaki. Dari atas, tendangan keras ia lepaskan, penuh tenaga dan kemarahan.

Fauzan Arfariza yang menyaksikan dari samping hanya bisa menggeleng pelan. Jurus kepala baja itu jelas bukan sekadar pameran. Namun Karaeng Fatimah tetap memilih menyerang kepala. Dalam benaknya terlintas satu pikiran sederhana: sasaran bisa diubah, tetapi saat ini, amarah telah menutup pertimbangan.

Tendangan itu pun menghantam.

Krak!

Kepala Baja sama sekali tidak terluka. Sebaliknya, hak tinggi sepuluh sentimeter itu patah seketika.

Karaeng Fatimah tidak siap menghadapi hasil tersebut. Saat menarik kembali kakinya, satu kaki lebih tinggi dari yang lain. Tubuhnya oleng, hampir jatuh ke tanah.

Ketika akhirnya ia berhasil menyeimbangkan diri, sebuah wajah besar penuh nafsu sudah berada tepat di hadapannya.

Dan sebuah tangan besar berbulu terulur, mengarah lurus ke dadanya.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!