Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Gelap dan Undangan Maut
Han Luo kembali ke gubuknya seperti hantu yang menyelinap masuk ke dalam kuburan. Dia segera menutup palang pintu, memastikan celah jendela tertutup rapat, dan mengaktifkan Pernapasan Kayu Mati ke tingkat maksimum untuk menyembunyikan fluktuasi energi apa pun yang mungkin bocor.
Dia meletakkan kotak kayu berisi Ulat Sutra Es Rohani di atas meja reyotnya. Hawa dingin merembes keluar dari kotak itu, membuat lapisan es tipis di permukaan kayu meja.
"Suhu ruangan terlalu panas untukmu," gumam Han Luo.
Dia membongkar lantai kayu di bawah tempat tidurnya, menggali lubang kecil di tanah yang lembap, dan menanam kotak itu di sana. Tanah di bawah gubuk ini memiliki sirkulasi yin yang cukup baik karena posisinya yang terlindung dari matahari.
"Tidurlah. Produksi sutramu akan menjadi modal pertamaku untuk membeli Pil."
Sekarang, perhatiannya beralih ke benda kedua.
Biji Hitam Misterius.
Benda itu tergeletak di telapak tangannya, tampak tidak berbahaya, seperti kerikil sungai biasa. Namun, Han Luo bisa merasakan Sutra Seribu Wajah-nya beresonansi pelan setiap kali bersentuhan dengan biji ini.
"Kau bukan tanaman biasa," bisik Han Luo. "Kau punya aura penyamaran. Apakah kau... tanaman parasit?"
Han Luo mengambil pot tanah liat bekas yang retak di sudut ruangan. Dia mengisinya dengan tanah dari halaman belakang, lalu menanam biji itu. Tidak ada reaksi.
Dia mencoba meneteskan air. Tidak ada reaksi
Dia mengiris ujung jarinya dengan belati, membiarkan setetes darah segar jatuh ke atas tanah pot itu.
Sreeet.
Tiba-tiba, tanah itu bergetar. Biji itu tidak tumbuh ke atas menjadi tunas hijau. Sebaliknya, sebuah tentakel hitam kecil setipis rambut muncul, melambai-lambai seolah mencari sumber darah itu, lalu menyerapnya dengan rakus.
Sesaat kemudian, "tunas" itu berubah warna dan bentuk. Warnanya menjadi cokelat seperti tanah, teksturnya kasar. Ia menyamar menjadi gumpalan tanah biasa. Jika Han Luo tidak melihatnya langsung, dia tidak akan tahu ada tanaman di sana.
Anggrek Wajah Hantu - Variasi Purba.
Analisis Han Luo: Tanaman ini memimik lingkungan sekitarnya. Dia memakan darah dan Qi untuk tumbuh. Di masa depan, getahnya mungkin bisa digunakan sebagai bahan baku untuk membuat topeng kulit manusia yang lebih sempurna daripada sekadar manipulasi otot.
"Menarik," Han Luo menyeringai. "Kau sama sepertiku. Parasit yang bersembunyi."
Han Luo menyimpan pot itu di tempat yang terkena sedikit sinar bulan, lalu mulai bermeditasi untuk memulihkan Qi-nya.
Tiga Hari Kemudian.
Papan Pengumuman Misi di Aula Luar dikerumuni oleh murid-murid.
"Misi Pembersihan Hutan Kabut Hantu! Dipimpin oleh Kakak Senior Liu Ming!" "Hadiahnya 10 Batu Roh! Dan kita boleh menyimpan 30% hasil buruan!" "Tapi Hutan Kabut Hantu itu berbahaya... banyak sisa-sisa kultivator jahat."
Han Luo berdiri di pinggiran kerumunan, membaca poster itu.
Target Misi: Memburu kelompok sisa 'Sekte Tengkorak Darah' yang bersembunyi di pinggiran hutan.
Han Luo tahu kebenarannya. 'Sekte Tengkorak Darah' itu hanyalah umpan.
Tapi bagi Han Luo, ini adalah tiket emas.
Di Hutan Kabut Hantu itulah, Fang Yu—Tuan Muda Sekte Iblis Darah—sedang terluka parah setelah dikhianati oleh bawahannya sendiri. Di novel asli, Long Tian menyelamatkan Fang Yu (secara tidak sengaja) dan kemudian membunuhnya karena Fang Yu tidak tahu terima kasih.
Han Luo punya rencana lain. Dia tidak akan menyelamatkan Fang Yu sebagai "Pahlawan". Dia akan menyelamatkannya sebagai "Iblis".
Han Luo melangkah maju menuju meja pendaftaran.
Di belakang meja, duduk seorang murid pengikut Liu Ming yang menatap Han Luo dengan jijik. "Nama? Kultivasi?"
"Han Luo. Pembentukan Qi Tingkat 3."
Murid itu tertawa mengejek. "Tingkat 3? Kau mau jadi makanan serigala? Minimal Tingkat 4 untuk ikut!"
Han Luo tidak marah. Dia meletakkan 2 Batu Roh di atas meja—suap yang menyakitkan tapi perlu.
"Aku punya pengalaman berburu, Kakak Senior," kata Han Luo dengan wajah polos. "Aku bisa menjadi penunjuk jalan atau pembawa barang. Dan... jika ada bahaya, aku bisa berlari paling cepat untuk memancing binatang buas menjauh dari Kakak Senior sekalian."
Kata kuncinya: Umpan.
Mata murid itu berbinar. 2 Batu Roh adalah uang saku tambahan yang lumayan, dan memiliki umpan hidup yang sukarela mendaftar adalah bonus.
"Bagus. Kau sadar diri," murid itu menyapu batu roh itu ke sakunya. "Datanglah ke Gerbang Utara besok pagi. Jangan terlambat, atau kami tinggal."
Han Luo membungkuk hormat dan mundur.
Saat dia berbalik, senyum polosnya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan dingin yang menusuk.
Nikmatilah arogansimu selagi bisa. Di dalam hutan, status murid sekte tidak akan menyelamatkan leher kalian.
Keesokan Harinya.
Kabut tebal menyelimuti Gerbang Utara. Sepuluh orang murid luar telah berkumpul, dipimpin oleh Liu Ming yang mengenakan jubah putih bersih dan membawa pedang berkilauan. Dia terlihat seperti pangeran yang sedang piknik, bukan orang yang mau masuk ke hutan mematikan.
"Dengar!" Liu Ming berbicara tanpa turun dari kudanya. "Tugas kalian adalah melindungi sisi kiri dan kanan. Jika ada bahaya, lindungi aku dan Nona Su. Mengerti?"
Nona Su adalah murid perempuan cantik yang menempel di sisi Liu Ming. Han Luo mengenalnya sebagai salah satu "Target Harem" Liu Ming yang gagal didapatkan.
"Mengerti, Kakak Senior!" seru para murid penjilat.
Han Luo berdiri di belakang, membawa tas besar berisi perbekalan tim (tugas kuli). Dia diam, mengamati.
Tim bergerak masuk ke dalam hutan.
Satu jam berlalu. Suasana hutan berubah drastis. Pohon-pohon menjadi lebih rapat, bengkok, dan berlumut hitam. Kabut semakin tebal, membatasi jarak pandang hingga sepuluh meter.
Hutan Kabut Hantu.
"Berhenti!" Liu Ming mengangkat tangan.
Di depan mereka, ada jejak pertarungan. Pohon-pohon tumbang, tanah hangus, dan ada noda darah segar yang belum kering.
"Darah manusia," kata Liu Ming, turun dari kudanya untuk memeriksa. "Dan ada aura jahat... Sepertinya sisa-sisa Sekte Tengkorak Darah ada di dekat sini."
Jantung Han Luo berdesir.
Bukan. Itu bukan Sekte Tengkorak Darah. Itu adalah jejak pelarian Fang Yu.
"Kalian bertiga," Liu Ming menunjuk Han Luo dan dua murid lemah lainnya. "Periksa semak-semak di arah jam dua. Kami akan menunggu di sini."
Dua murid lain tampak ketakutan, tapi tidak berani membantah. Han Luo, sebaliknya, mengangguk patuh.
Ini adalah kesempatan yang dia tunggu. Momen untuk memisahkan diri.
Han Luo berjalan masuk ke dalam semak-semak yang rimbun. Begitu dia yakin dia sudah tidak terlihat oleh rombongan Liu Ming karena kabut tebal, dia tidak memeriksa jejak.
Dia berlari.
Dia mengaktifkan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Kakinya tidak menyentuh tanah, meluncur di atas akar-akar pohon. Dia berbelok tajam ke arah berlawanan, menuju koordinat yang dia ingat dari novel: Gua Air Terjun Tersembunyi.
Sambil berlari, Han Luo merogoh jubahnya. Wajahnya mulai terasa panas.
Tulang pipinya menonjol, matanya menyipit, dan auranya berubah menjadi dingin dan tua. Dia mengeluarkan jubah hitam cadangan dari tas penyimpanannya dan mengenakannya.
Murid luar "Han Luo" telah menghilang. Yang berdiri di tengah hutan sekarang adalah Sarjana Mo.
"Bertahanlah, Fang Yu," bisik Han Luo, suaranya kini terdengar serak dan berat berkat manipulasi pita suara. "Investor utamaku tidak boleh mati semudah itu."