Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pengemis Cinta
Pernikahan adalah sesuatu yang suci dan sakral. Ikatan suci itu ada atas nama cinta. Ketika hubungan suatu pernikahan diperhadapkan dengan gelombang dan badai, haruskah kata perceraian menjadi penyelesaian nya? Bukankah memang badai dalam pernikahan diijinkan Tuhan untuk kita lalui, untuk menguji sekuat apa cinta itu akan bertahan? Kalau perceraian selalu menjadi jalan keluar, maka jangan heran, negara kita ini disebut sebagai negara yang beragama namun angka perceraiannya sangat tinggi.
Seorang istri yang terus mencintai suaminya walaupun tersakiti karena keadaan, bukanlah seorang pengemis cinta. Mengapa harus mengemis pada sesuatu yang memang adalah miliknya? Milik yang sah baik di hadapan Allah dan diakui negara?
Apa arti tulus? Apa arti tegar? Pahamilah dulu arti kata itu, baru kalian akan mengerti mengapa Elina bisa seperti itu.
*********
"Anita, kau tahu pantai ini?" tanya Okan.
Anita menatap layar ponsel Okan. "Elina ada di sana?" Anita terkejut.
"Dia di mana?" Okan jadi tak sabar.
"Ini pantai di Ambon."
"Dia ke sana? Siapa yang ada di sana?"
"Mba Olivia. Dia seorang konselor, saudara Dewi yang diperkenalkan Dewi pada Elina. Aku sudah pernah berkunjung ke sana bersama Dewi, makanya aku tahu pantai ini. Rumah mba Olivia memang dekat pantai."
"Aku akan ke sana."
"Okan, telepon aja dulu. Aku pikir Elina akan segera pulang. Soalnya lusa ada orderan kue untuk pesta pernikahan. Mereka meminta Elina yang membuat kue pengantinnya. Elina tahu kalau hanya dia yang bisa membuat kue pengantin itu. Aku punya nomor telepon mba Olivia." Anita mengambil ponselnya dan memberikan nomor Olivia.
Dengan cepat Okan mencatatnya dan segera menghubungi nomor itu.
"Hallo...." terdengar sapaan dari seberang.
"Selamat siang, ini dengan mba Olivia ya?"
"Iya. Ini dengan siapa ya?"
"Aku Okan. Suaminya Elina. Apakah Elina ada di sana?"
"..........."
"Mba, aku mohon. Aku hampir gila seminggu ini tak ada kabar dari istriku. Aku tahu kalau aku salah telah mengacuhkan dia beberapa hari ini. Aku mohon, mba. Aku ingin ketemu Elina."
"Okan, aku mengerti ibumu adalah wanita yang sudah menjaga dan melindungi mu selama ini. Dia bahkan selalu berusaha agar kau mendapatkan yang terbaik. Namun kau jangan lupa, Elina adalah istrimu. Dia mencintaimu dengan tulus dan setia. Dia kecewa karena kau meragukan kesetiaannya."
"Aku tahu, mba. Aku memang sangat menyayangi ibuku. Aku berada di dua pilihan yang sulit. Aku juga sangat mencintai Elina. Aku tak bisa tanpa dia."
"Elina akan kembali ke Jakarta malam ini. Pesawatnya jam 7 malam. Tunggulah dia di bandara."
"Terima kasih, mba."
Okan memasukan kembali ponselnya di kantong celananya. Wajahnya langsung berseri kembali. Ia menatap Anita yang juga terlihat penasaran.
"Bagaimana?" tanya Anita.
"Elina akan kembali malam ini. Aku akan menunggunya di bandara. Aku permisi dulu ya"
"Okan, aku mohon, jangan membuat Elina bersedih."
Okan mengangguk dan segera meninggalkan toko kue itu.
********
"Merindukanku?" Elina terkejut mendengar perkataan Arkan.
"Ya. Aku merindukan kue dan kopi buatanmu."
Elina tertawa mendengar perkataan Arkan. Tadinya ia pikir Arkan akan mengatakan kalau rasa rindunya itu berhubungan dengan perasaan hatinya pada Elina.
"Apa yang kau lakukan di sini, Arkan? Bagaimana kau bisa menemukan aku?" tanya Elina setelah tawanya reda.
"Aku ada seminar di sini selama 3 hari. Kemarin sore, rombongan kami datang ke tempat ini. Makanya saat melihat postinganmu semalam, aku jadi ingat tempat ini. Aku datang lagi ke sini, berharap boleh ketemu denganmu."
Elina menatap pantai yang ada di depannya. "Aku akan pulang malam ini."
"Rombongan kami juga akan pulang malam ini. Pesawatnya jam 7."
"Sama. Jangan-jangan kita satu pesawat."
Elina membuka ponselnya dan melihat pesawat yang sudah di pesannya. Saat ia mengatakan pada Arkan, jenis pesawat dan nomor penerbangannya, Arkan terkejut karena itu sama dengan pesawatnya.
"Aku bisa punya teman seperjalanan yang menyenangkan."
Elina mengangguk.
"Elina, ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Arkan saat keduanya terdiam beberapa saat.
"Ingin mencari udara yang berbeda saja dengan Jakarta. Dan ternyata di sini sangat menyenangkan. Aku bahkan tak ingin pulang. Namun ada beberapa orderan kue yang harus ku tangani sendiri. Makanya aku harus pulang malam ini."
Arkan menatap Elina yang duduk di sampingnya. Ingin rasanya ia membelai rambut Elina dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Kau sedang memikul beban yang berat?"
Elina mengangguk. "Kau memang sangat pandai membaca isi hatiku."
"Karena aku peduli padamu, Elina."
Elina menatap Arkan tanpa berkedip. "Kau peduli sebagai teman atau sebagai yang lain?"
Arkan membalas tatapan Elina dengan berani. Saat pandangan mereka saling beradu, Elina dapat menemukan jawabannya. Perempuan itu langsung menundukkan wajahnya. "Mengapa harus aku, Arkan? Kau tampan, dokter yang hebat, memiliki karir yang gemilang. Seharusnya kau tak salah membuka hatimu untuk seseorang."
"Cinta tak pernah memilih kepada siapa ia akan berlabuh, Elina. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Bahkan saat aku sudah tahu kalau kau sudah menikah, ternyata aku tak dapat membunuh semua yang tumbuh di hatiku. Aku berusaha untuk menghilangkannya. Bahkan dalam sholat ku, aku memohon pada Allah. Tapi sampai saat ini, aku tak bisa menghilangkannya." Arkan menarik napas panjang. Ada rasa lega dalam hatinya karena akhirnya semua yang ia rasakan dalam hatinya boleh ia ungkapkan.
Elina merasa hatinya tersentuh mendengar pengakuan Arkan. "Terima kasih karena sudah mencintai dan sangat peduli dengan diriku. Namun aku berharap semua ini akan cepat berlalu. Aku ingin tetap bersahabat denganmu. Murni hanya sebagai sahabat tanpa ada perasaan lain. Sayangilah aku sebagai adikmu, Arkan. Aku anak tunggal. Dekat denganmu juga Zeki membuatku seperti memiliki kakak laki-laki."
Arkan mengangguk. "Aku tahu. Kita dapat terus bersahabat karena aku tak akan pernah memaksakan perasaanku padamu. Aku tulus membantumu tanpa ada embel-embel lain di belakangnya."
"Terima kasih, Arkan."
"Elina, apakah kau akan terus bertahan jika memang restu tak juga diberikan oleh Larasati untuk pernikahanmu dengan Okan?"
Elina mengangkat bahunya. "Aku tak tahu. Tapi aku berharap Allah menolongku untuk kuat karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku."
Jadi memang harapan tak pernah ada untukku. Terima kasih Elina untuk kejujuranmu. Aku berharap kau akan bahagia bersama suamimu.
********
Di bandara, Arkan dan 5 temannya turun bersama Elina. Karena banyaknya barang bawaan Elina, Arkan dan dokter Wiliam temannya membantu Elina membawa barang bawaannya. Olivia memang memberikan banyak ole-ole untuknya. Elina juga membelikan beberapa hadiah untuk Anita dan Dewi.
"Elina.....!" Panggil Okan yang sudah menunggu kedatangan Elina sejak 1 jam yang lalu. Hatinya begitu terbakar saat melihat Elina yang keluar bersama dengan Arkan dan seorang lelaki.
"Mas Okan?" Elina terkejut melihat Okan yang ada di sana.
"Aku sampai di sini saja, ya?" Ujar Arkan sambil melepaskan koper Elina. Ia dapat melihat wajah Okan yang merah menahan cemburu. Dokter Wiliam pun meletakan 2 tas besar yang berisi ole-le dari Olivia.
"Terima kasih dokter Arkan, terima kasih dokter Wiliam." Ujar Elina. Arkan tersenyum.
"Sama-sama Elina. Aku pergi dulu, Okan." Pamit Arkan sebelum bergabung dengan rombongan para dokter yang menggunakan seragam yang sama.
"Bagaimana kau bisa bersamanya, Elina?" tanya Okan saat keduanya sudah berjalan menuju ke tempat parkir.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi pagi. Ternyata kami juga berada di pesawat yang sama. Makanya kami juga berada di bandara ini secara bersamaan. Mereka membawakan barang bawaan ku. Itu saja."
Okan memasukan semua barang bawaan Elina ke bagasi mobilnya. Elina langsung masuk ke dalam mobil. Ia merasa sangat lelah.
"Menjauhlah dari Arkan, Elina. Aku merasa kalau dia ingin merebut mu dariku." Kata Okan saat mobil sudah meninggalkan parkiran bandara.
"Aku bukan perempuan murahan yang muda tergoda dengan siapa saja."
"Kau mungkin tidak, tapi dia...."
"Ayolah, mas. Aku capek!" Elina menutup matanya membuat Okan pun menghentikan perkataannya. Hati Elina kesal. Tak ada pelukan hangat dari Okan. Apakah suaminya sudah tak merindukannya lagi?
Saat mereka tiba di rumah, Elina langsung menuju ke kamarnya dan mandi. Ia ingin menyegarkan badannya. Saat ia keluar kamar, dilihatnya Okan baru saja menerima telepon.
"Ibu yang menelepon. Menanyakan apakah aku akan pulang atau tidak. Maklumlah ibu belum terlalu sehat." Okan berkata tanpa ditanya oleh Elina.
Elina tak menanggapi apa yang Okan ucapkan. Ia melangkah ke arah walk in closet dan mengambil daster rumahan berlengan panjang.
"Kau tidak makan?" tanya Okan saat dilihatnya Elina sudah selesai ganti pakaian dan menyisir rambutnya.
"Aku sudah makan tadi di bandara."
Okan melangkah ke arah Elina dan berdiri tepat di depan istrinya itu. Tangannya menyentuh pipi Elina. "Aku merindukanmu."
Elina memejamkan matanya. Sentuhan Okan bagaikan aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhnya.
"Kau pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku. Kau pergi tanpa pamit. Aku seperti orang gila mencari mu, sayang. Aku mohon, jangan pergi lagi seperti ini." Okan membawa Elina ke dalam pelukannya.
"Dan kau mengacuhkan aku selama beberapa hari. Aku ini istrimu, mas. Bukan selingkuhan ataupun wanita simpananmu." Elina melepaskan pelukan Okan.
"Aku tahu kalau aku sudah salah."Okan memegang kedua tangan Elina. "Ibu drop selama 2 hari. Aku juga mengalami tekanan karena proyek yang sudah mengeluarkan anggaran sebanyak 3M akhirnya dihentikan karena berhubungan dengan masalah ijin..Aku bingung, Eli. Antara rumah sakit atau berangkat ke Batam. Aku tak mau membebani mu dengan semua masalah ini. Aku tahu kalau kamu juga sedang punya masalah karena diusir ibu."
"Mas, kita ini suami istri. Bukankah seharusnya baik suka dan duka kita bagi bersama. Kamu pikir aku nggak sakit setiap aku telepon, kamu selalu tak mengangkatnya? Setiap kali aku kirim pesan kamu hanya membaca tanpa membalasnya? Aku rindu dengan semua perhatianmu yang dulu, mas. Aku rindu dengan semua kasih sayang yang selalu kau berikan untukku. Aku merasa kau berubah semenjak ibu menunjukan foto-foto kebersamaan ku dengan Arkan dan Zeki."
Okan menarik Elina kembali dalam pelukannya. Walaupun Elina memberontak namun Okan tetap menahan tubuh Elina. Sampai akhirnya Elina tak memberontak lagi dan membalas pelukan Okan.
"Maafkan aku, Eli. Aku janji tak akan mengulangi semua yang pernah kulakukan padamu. Aku akui kalau aku sangat cemburu. Itu semua karena aku takut kehilanganmu. Kau adalah nafasku, sayang." Okan mencium puncak kepala Elina berulang-ulang. Ia sungguh menyesal apa yang sudah dibuatnya pada Elina.
Saat pelukan mereka sedikit terurai, Okan menunduk dan langsung mencium bibir Elina dengan sangat lembut.
Elina tak mau munafik. Ia merindukan ciuman Okan. Ciuman yang selalu membuatnya bergetar dalam kehangatan dan gairah yang mendalam. Elina tahu, ia bukan mengemis cinta pada Okan. Sebab ia telah mendapatkan cinta Okan. Okan adalah suaminya. Sebagai istri, Elina berusaha untuk terus memelihara ikatan cinta diantara mereka.
"Sayang, aku sangat rindu untuk menyentuhmu." kata Okan sambil lalu mencium leher Elina.
"Aku juga merindukan sentuhan mu, mas."
Okan menarik daster Elina melewati kepalanya dan membuang daster itu secara asal. Ia memeluk tubuh Elina dan membawanya ke ranjang mereka.
Biarlah malam ini Elina dan Okan saling melepaskan kerinduan mereka. Pada dasarnya mereka saling mencintai. Hanya keadaan saja yang membuat mereka sering merasakan luka hati.
Bagaimana kisah ini berlanjut?
Kapan rahasia Susi terkuak? Sabar ya, semua akan terbuka pada akhirnya.
karyanya memang keren²...
mas okan juga hebat otthornya juga hebat
Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️