Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurikulum "Bad B*tch 101"
Sebelum kami kembali ke dunia nyata yang artinya kembali ke jangkauan radar Damian, kami bersembunyi di balik gudang peralatan kebun yang sudah tua.
"Oke, Freya," kataku sambil melepas sepatu hak tinggiku yang menyiksa. "Sebelum lo ketemu Duke lagi, kita butuh latihan intensif. Anggap ini ospek jurusan 'Anti-Baper'."
Freya menatapku dengan mata bulatnya yang masih agak merah. "Ospek? Baper?"
"Istilah asing. Intinya: Latihan Mental Baja."
Aku mengambil sebuah ranting pohon yang jatuh, menggunakannya sebagai tongkat komando. "Pelajaran pertama: Postur Tubuh. Lo itu cantik, Freya. Tapi cara jalan lo kayak siput yang minta digaremin. Bungkuk, takut-takut, nunduk terus. Itu makanan empuk buat predator kayak Damian."
"Tapi... pelayan harus menunduk saat bertemu majikan," bela Freya pelan.
"Lo bukan pelayan resmi Hartfield. Lo tamu Paman Barney. Dan lebih dari itu, lo manusia. Tegakin punggung lo!" Aku menepuk punggungnya pelan dengan ranting. "Busungin dada! Dagu diangkat! Bayangin lo punya mahkota tak terlihat di kepala lo yang harganya lebih mahal dari seluruh estate ini. Kalau lo nunduk, mahkotanya jatoh. Rugi bandar."
Freya mencoba menegakkan punggungnya. Awalnya terlihat kaku, seperti robot yang olinya kering.
"Rileks dikit. Jangan kayak orang nahan napas," komentarku. "Jalan! Satu, dua, satu, dua. Tatapan lurus ke depan! Jangan liat tanah, di tanah nggak ada duit!"
Kami menghabiskan sepuluh menit hanya untuk latihan berjalan bolak-balik di belakang gudang. Freya tersandung akar pohon dua kali, dan hampir menabrak gerobak pupuk sekali. Tapi perlahan, posturnya mulai berubah. Dia tidak lagi terlihat seperti gadis desa yang ketakutan, melainkan seperti gadis desa yang... sedikit lebih percaya diri (walau masih gemetar).
"Oke, cukup. Lumayan," kataku memberi nilai 6 dari 10. "Sekarang, pelajaran kedua: The Death Glare alias Tatapan Maut."
"Tatapan maut?"
"Iya. Masalah utama lo adalah mata lo terlalu... basah. Terlalu innocent. Kalau Damian natap lo, lo langsung gelagapan. Itu salah. Lo harus bales tatapannya."
Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. "Coba tatap gue. Bayangin gue Damian."
Freya menatapku, lalu sedetik kemudian dia menunduk lagi. "Tidak bisa, Nona. Mata Nona terlalu intens."
"Hadeh. Gue belum apa-apain lo. Gimana kalau Damian beneran?" Aku mengacak rambut frustrasi. "Oke, kita butuh alat bantu visual."
Aku melihat sekeliling, lalu memungut segumpal rumput liar dan beberapa daun lebar. Dengan sedikit kreativitas dan keputusasaan, aku merangkai rumput-rumput itu menjadi semacam wig berantakan, lalu meletakkannya di atas kepala sebuah karung beras bekas yang bersandar di dinding gudang. Aku memetik dua bunga liar berwarna biru gelap, lalu menempelkannya sebagai mata.
"Perkenalkan," kataku sambil menunjuk karung beras itu. "Ini Damian von Hart KW Super."
Freya menahan tawa. "Itu... karung beras, Nona."
"Anggap ini Damian! Lihat matanya yang biru dan kosong itu? Mirip kan?" Aku berdiri di samping karung itu. "Sekarang, latihan simulasi. Gue bakal ngisi suara Damian. Lo harus nolak gue. Paham?"
Freya mengangguk ragu.
Aku berdeham, mencoba menirukan suara berat Damian, yang malah terdengar seperti bapak-bapak radang tenggorokan. "Freya... kemarilah, burung kecilku..."
Freya langsung merinding. "Nona, suaranya seram sekali."
"Fokus! Damian KW lagi ngomong! Jawab dia!"
Freya menarik napas, lalu berkata pelan pada karung beras itu, "Tidak mau, Duke."
"Salah! Lemah banget! Itu bukan nolak, itu kayak ngajak main petak umpet!" protesku. "Damian suka kalau lo nolak malu-malu gitu. Harus tegas! Harus sinis! Coba lagi!"
Aku kembali ke mode Damian KW. "Freya... kenapa kau menjauh? Aku hanya ingin mencekikmu sedikit dengan cintaku..."
Freya menatap karung beras itu. Dia membayangkan wajah asli Damian. Wajah yang tersenyum dingin saat melihatnya hampir tenggelam tadi. Tiba-tiba, ada kilatan amarah di matanya.
"Pergi," kata Freya. Suaranya masih pelan, tapi lebih tajam. "Saya sibuk."
"Bagus! Upgrade dikit lagi! Tambahin bumbu sarkasme!" seruku menyemangati.
Freya mengepalkan tangannya. Dia menatap dua bunga biru di karung itu. "Duke," katanya, kali ini dengan dagu terangkat seperti yang kulatih. "Anda menghalangi matahari. Saya mau menjemur baju. Minggir."
"YES! ITU DIA!" Aku bertepuk tangan heboh. "Itu yang gue cari! Singkat, padat, dan savage! Minggir karena mau jemur baju! Harga diri Duke langsung anjlok ke dasar sumur!"
Freya tersenyum kecil, terlihat bangga pada dirinya sendiri. "Apa... apa itu benar-benar akan berhasil, Nona?"
"Berhasil atau nggak, urusan belakangan. Yang penting lo nggak kelihatan kayak korban lagi," kataku sambil melepas wig rumput dari karung beras. "Tapi, ada satu pelajaran terakhir. Yang paling penting."
Aku mengeluarkan kalkulator imajiner (pakai jari).
"Matematika Kerugian. Setiap kali dia bikin ulah, itung dendanya. Dia natap lo lebih dari 5 detik? Denda pelecehan visual 10 perak. Dia ngalangin jalan lo? Denda gangguan lalu lintas 5 perak. Dia bikin lo nangis? Denda kerusakan emosional 100 perak."
"Tapi saya tidak mungkin menagihnya..."
"Di dalam hati aja, Freya! Tujuannya biar otak lo sibuk ngitung duit, jadi lo nggak sempet ngerasa takut atau baper. Pas lo liat dia, jangan liat 'Duke Tampan yang Menakutkan'. Liat dia sebagai 'Bank Berjalan yang Nunggak Utang'."
Freya terkekeh. Kali ini tawanya terdengar lebih lepas. "Bank berjalan..."
"Nah, gitu dong ketawa. Cantik lo nambah 50% kalau nggak nangis," pujiku tulus. "Sekarang, ayo balik. Lo harus ganti baju sebelum masuk angin, dan gue harus balikin sepatu laknat ini ke neraka asalnya."
Kami berjalan kembali ke arah pondok tukang kebun Paman Barney. Freya berjalan di sampingku. Punggungnya sedikit lebih tegak. Langkahnya sedikit lebih mantap.
Dan di kejauhan, di balkon lantai dua mansion Hartfield, aku bisa melihat siluet seseorang sedang berdiri mengamati kami.
Damian.
Aku menyeringai ke arah siluet itu. Liat aja, Mas Duke. Burung kenari lo udah gue instal ulang software-nya jadi burung elang.