"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Emas
Matahari siang itu tidak menghangatkan; ia membakar.
Cahayanya jatuh tegak lurus ke halaman belakang Panti Asuhan St. Jude, memanaskan tanah berdebu hingga udara di atasnya tampak bergelombang. Di tengah terik yang menyengat itu, aku dan Lily berdiri di depan tali jemuran kawat yang sudah berkarat, melakukan ritual harian kami: menjemur sisa-sisa martabat kami.
Tanganku yang kasar memeras selembar seprai tua. Warnanya yang dulu mungkin putih kini telah berubah menjadi abu-abu kekuningan yang menyedihkan, penuh dengan noda pulau-pulau kecil yang tidak bisa hilang meski disikat sekuat tenaga.
"Tarik ujungnya, Kak," kata Lily dari seberang, suaranya terdengar riang meski keringat sudah membasahi pelipisnya.
Kami membentangkan kain basah itu. Bau sabun colek murahan menguar ke udara, bercampur dengan bau tanah kering.
"Kau terlalu bersemangat untuk ukuran orang yang sedang dihukum matahari," gumamku, menjepit kain itu dengan jepit kayu yang sudah lapuk.
"Karena aku yakin mereka akan datang," sahut Lily keras kepala. "Firasatku tidak pernah salah."
Aku baru saja hendak membalas dengan komentar sarkas tentang betapa seringnya firasatnya salah, ketika suara itu terdengar.
Itu bukan suara yang biasa kami dengar di sini.
Telinga kami sudah terlatih dengan suara truk sampah pemerintah yang mesinnya berbatuk-batuk seperti penderita TBC, atau suara knalpot motor butut pengantar galon yang memekakkan telinga. Suara-suara kasar untuk tempat yang kasar.
Tapi suara ini berbeda.
Ini adalah dengungan rendah. Halus, bertenaga, dan mengintimidasi. Seperti suara harimau besar yang sedang mendengkur pelan sebelum menerkam mangsanya.
Aku berhenti bergerak. Tanganku membeku di udara, masih memegang jepit jemuran.
"Kak..." Lily menurunkan seprai di tangannya, matanya membulat. "Dengar itu?"
Beberapa anak panti lain yang tersisa—anak-anak kecil yang terlalu muda untuk kabur dan terlalu bodoh untuk mengerti situasi—mulai berlarian dari dalam gedung menuju halaman depan. Mereka berteriak-teriak, menunjuk ke arah gerbang.
"Mobil! Ada mobil besar!" teriak salah satu dari mereka.
Firasat buruk yang dingin merayap naik di punggungku, melawan panasnya matahari. Itu adalah rasa mual yang sama yang kurasakan dua belas tahun lalu di depan gerbang besi.
"Jangan ke sana, Lily," perintahku.
Tapi Lily sudah menjatuhkan cuciannya ke tanah berdebu. "Itu pasti mereka! Donatur itu!"
Dia berlari menuju halaman depan. Aku mengumpat pelan, lalu mengejarnya.
Saat aku sampai di beranda depan yang ubinnya sudah pecah-pecah, pemandangan di hadapanku membuat langkahku terhenti seketika.
Sebuah mobil memasuki halaman panti kami yang gersang.
Itu bukan sekadar mobil. Itu adalah sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat. Cat bodinya begitu mengkilap dan licin hingga memantulkan bayangan bangunan panti yang kumuh dengan kejernihan yang menyakitkan. Di bawah sinar matahari, mobil itu tampak seperti alien, sebuah benda asing dari galaksi lain yang tersesat mendarat di tempat pembuangan sampah.
Mobil itu bergerak pelan, anggun, seolah-olah tidak menjejak tanah. Roda-rodanya yang besar melindas kerikil dan lubang-lubang jalan dengan penghinaan yang tenang.
Ciprat!
Salah satu ban mobil itu melindas genangan lumpur sisa hujan semalam. Cipratan lumpur cokelat yang kotor melompat naik, menodai bodi samping mobil yang hitam sempurna itu.
Melihat lumpur itu menempel di sana, aku merasakan kepuasan yang aneh sekaligus ketakutan yang mendalam. Kemewahan itu baru saja ternoda oleh realitas kami. Tapi aku tahu, noda itu bisa dihapus dalam semenit. Sedangkan noda kemiskinan di sekeliling mobil itu... itu permanen.
Mobil itu berhenti tepat di tengah halaman. Mesinnya mati, menyisakan keheningan yang tiba-tiba dan mencekam.
Anak-anak panti terdiam, mundur selangkah dengan mulut ternganga. Bahkan anjing liar di seberang jalan berhenti menggonggong. Aura kekuasaan yang memancar dari benda mati itu begitu kuat hingga membungkam segalanya.
Lily berdiri di sampingku, meremas tangannya dengan gugup sekaligus antusias. "Indah sekali..." bisiknya.
Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada pintu penumpang belakang. Kaca jendela mobil itu gelap, hitam pekat, menyembunyikan siapa pun yang ada di dalamnya.
Tapi aku tahu.
Sesuatu dalam darahku berdesir, sebuah peringatan purba. Siapa pun yang ada di dalam sana, mereka tidak datang untuk memberi sumbangan. Mereka datang untuk mengambil sesuatu.
Dan benar saja, pintu mobil itu mulai terbuka.
Seorang pria berseragam—bukan satpam kumal, tapi sopir dengan topi dan sarung tangan putih bersih—keluar dari kursi depan. Dia bergerak dengan efisiensi robotik, berjalan memutar untuk membuka pintu penumpang belakang sebelah kanan.
Pintu berat itu terbuka.
Sepasang kaki jenjang berbalut heels berwarna krem menjejak tanah berdebu.
Seorang wanita turun. Dia mungkin berusia lima puluhan, tapi uang telah membekukan waktunya. Kulitnya halus terawat, rambutnya yang berwarna champagne blonde disanggul rendah dengan jepit mutiara yang harganya mungkin bisa merenovasi seluruh atap panti ini.
Itu Eleanor Vane.
Dia mengenakan gaun sutra selutut dengan blazer senada. Dia berdiri di sana, di tengah halaman kami yang gersang, tampak seperti angsa putih yang tersesat di kandang babi.
Hal pertama yang dilakukannya bukan tersenyum atau menyapa. Tangannya yang lentik, dihiasi cincin zamrud besar, bergerak naik. Dia mengeluarkan sapu tangan sutra dari tas tangannya dan menutupi hidung serta mulutnya.
Gerakan itu halus, mungkin dia bahkan tidak sadar melakukannya. Tapi bagiku, itu adalah tamparan. Dia menghirup udara yang sama dengan kami, tapi baginya, udara kami adalah racun.
"Ya Tuhan..." bisiknya pelan, matanya menyapu bangunan panti yang retak-retak dengan tatapan ngeri.
Tapi Eleanor bukan alasan jantungku berhenti berdetak.
Alasannya ada di pintu sebelah kiri.
Pintu itu terbuka sendiri dari dalam, didorong dengan tegas.
Seorang pria turun.
Dia tinggi. Jauh lebih tinggi dari ingatanku dua belas tahun lalu. Bahunya lebar, terbungkus sempurna dalam setelan jas three-piece warna charcoal yang dijahit khusus. Kemeja putih di baliknya begitu kaku dan bersih hingga tampak menyilaukan di bawah matahari. Rompinya mengancing sempurna di torso-nya yang tegap.
Ciarán Vane.
Dia tidak menutupi hidungnya seperti ibunya. Dia tidak memandang ngeri pada bangunan panti.
Faktanya, dia tidak melihat panti itu sama sekali.
Dia berdiri di samping mobil, dan hal pertama yang dia lakukan adalah mengangkat pergelangan tangan kirinya. Dia melihat jam tangan perak yang melingkar di sana, mengetuk kaca arloji itu sekali dengan jari telunjuknya, seolah menghitung berapa detik waktunya yang berharga telah terbuang di tempat sampah ini.
Wajahnya...
Tuhan, wajah itu.
Dia tampan, tentu saja. Fitur wajahnya tajam seperti dipahat dari es, dengan rahang tegas dan hidung mancung yang angkuh. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, tidak ada satu helai pun yang berani keluar dari jalurnya.
Tapi bukan ketampanannya yang membuatku terpaku. Bukan itu yang membuat napasku tercekat di tenggorokan.
Itu adalah betapa bersih-nya dia.
Dia terlihat steril. Dia terlihat utuh. Tidak ada retakan di kulitnya, tidak ada noda di pakaiannya, tidak ada beban di pundaknya. Dia berdiri di sana, di tengah debu dan kemiskinan kami, tapi entah bagaimana dia tampak tidak tersentuh. Seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang memisahkan dirinya dari kotoran dunia kami.
Aku menunduk menatap tanganku sendiri. Kuku-kukuku kotor dengan tanah hitam. Kulitku kasar dan kering. Bajuku bau keringat dan sabun murah.
Melihatnya berdiri di sana membuatku merasa bukan hanya miskin, tapi juga kotor. Seperti virus penyakit yang seharusnya dikarantina agar tidak menulari kesempurnaannya.
Saat itulah, Ciarán menurunkan tangannya. Dia mendongak.
Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, matanya bertemu dengan mataku.