NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — ATURAN YANG TIDAK DITANYA

​Pagi di Desa Wanasari tidak datang dengan kicau burung atau sinar matahari yang hangat. Pagi di sini merayap perlahan, seperti maling yang ragu-ragu. Kabut tebal yang semalam memeluk desa masih enggan pergi, hanya menipis sedikit menjadi selubung abu-abu yang membuat jarak pandang tak lebih dari sepuluh meter.

​Nara terbangun dengan kepala berdenyut. Ia butuh beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada. Atap genteng tanpa plafon. Aroma kayu tua. Dan dengkuran halus di sebelahnya.

​Ia menoleh. Lala masih tertidur pulas. Aneh. Biasanya, gadis itu paling susah bangun pagi. Tapi pagi ini, Lala tampak sangat tenang. Terlalu tenang. Kulitnya terlihat lebih segar, pipinya merona merah muda, kontras dengan Nara yang merasa energinya terkuras habis meski baru tidur beberapa jam.

​Ingatan tentang suara bisikan dan langkah kaki semalam kembali menghantui Nara. Ia menatap punggung Lala. Apakah itu cuma mimpi? batinnya. Atau halusinasi karena capek?

​Nara bangkit, melangkah keluar kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Siska yang sedang melipat mukena di sudut ruangan. Lantai tegel terasa dingin menusuk telapak kaki, sensasi beku yang menjalar naik hingga ke tulang kering.

​Di ruang tengah, ia menemukan Dion sedang duduk di kursi rotan, menatap pintu hitam di ujung lorong itu lagi. Di tangannya ada buku catatan kecil bersampul kulit—jurnal pengamatannya.

​"Belum kebuka juga?" tanya Nara, suaranya serak khas bangun tidur.

​Dion menoleh, kaget. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Nggak. Gue coba intip lagi tadi subuh. Gelap total. Tapi baunya, Nar... lo cium nggak sih?"

​Nara mengendus udara. "Bau apa? Lembap?"

​"Bukan. Bau pandan," bisik Dion. "Tapi pandan yang udah layu, yang biasa dipake buat mandiin jenazah."

​Nara merinding, tapi ia segera menepisnya. Sebagai ketua, ia tidak boleh terlihat goyah oleh takhayul di hari pertama. "Itu mungkin bau hutan, Yon. Banyak tanaman liar. Jangan overthinking."

​Dion hanya mengangkat bahu, tidak yakin. Ia mencatat sesuatu di jurnalnya dengan tulisan tangan yang sedikit gemetar.

​Pukul delapan pagi, mereka berkumpul di teras joglo. Rencana hari ini adalah sowan—berkunjung secara formal—ke rumah Pak Wiryo untuk membicarakan program kerja.

​Raka keluar dari kamar laki-laki dengan wajah kusut. Rambutnya berantakan, dan ia terus memijat tengkuknya.

​"Lo sakit, Rak?" tanya Lala yang muncul dengan wajah cerah, sudah berdandan rapi dengan lipstik merah bata yang sedikit terlalu tebal untuk ukuran KKN di desa terpencil.

​"Nggak enak badan," gumam Raka. Ia menghindari tatapan mata Lala. "Semalem gue mimpi aneh banget."

​"Mimpi basah ya?" goda Bima sambil mengikat tali sepatunya.

​Raka tidak tertawa. Ia justru terlihat terganggu. "Bukan basah kayak gitu, Bim. Gue mimpi... tenggelam. Airnya dingin banget, gelap, tapi anget di saat yang sama. Terus ada yang narik kaki gue ke dasar. Rasanya nyata banget. Pas bangun, kaki gue kram."

​Lala tertawa renyah, suara tawanya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ia berjalan melewati Raka, jarinya menyentuh lengan pemuda itu sekilas. Sentuhan yang ringan, namun membuat Raka tersentak kaget seperti tersengat listrik statis.

​"Makanya jangan lupa doa," kata Siska datar, keluar membawa nampan berisi gelas kopi saset. "Di sini hawanya beda."

​Mereka berangkat menuju rumah Pak Wiryo dengan berjalan kaki. Desa Wanasari di siang hari tampak normal, namun ada keganjilan pada ritme kehidupannya.

​Warga desa beraktivitas—ada yang menjemur gaplek, ada yang menganyam bambu—tapi semuanya dilakukan dalam senyap. Tidak ada teriakan anak-anak bermain, tidak ada ibu-ibu yang ngerumpi sambil mencari kutu. Ketika rombongan mahasiswa lewat, aktivitas itu berhenti sejenak. Mata-mata tua dan muda mengikuti langkah mereka. Tatapan itu bukan tatapan permusuhan, melainkan tatapan kepemilikan. Seperti seseorang yang sedang memeriksa barang yang baru saja mereka beli.

​Rumah Pak Wiryo terletak di pusat desa, tepat di depan Balai Desa yang bangunannya sudah miring dimakan usia. Pak Wiryo menyambut mereka di pendopo, duduk bersila di atas tikar anyaman yang halus. Di sebelahnya, ada Mbah Sakir, seorang kakek tua renta dengan kulit keriput yang seolah meleleh menutupi matanya yang buta sebelah.

​"Duduk, Nak, duduk," Pak Wiryo melambai ramah. "Anggap saja rumah sendiri."

​Nara memimpin teman-temannya duduk melingkar. Ia membuka buku catatannya, bersiap mempresentasikan program kerja.

​"Jadi begini, Pak," mulai Nara formal. "Kami dari universitas memiliki beberapa program utama. Penyuluhan kesehatan, bimbingan belajar anak SD, dan perbaikan sanitasi..."

​Pak Wiryo mengangkat tangan, menghentikan kalimat Nara dengan senyum yang tak berubah. "Program itu bagus, Nak Nara. Sangat bagus. Tapi di Wanasari, ada hal-hal yang lebih penting daripada sekadar teori buku."

​Nara terdiam. "Maksud Bapak?"

​"Desa ini tua," suara Mbah Sakir tiba-tiba terdengar. Suaranya kering seperti gesekan daun mati. Mata butanya menatap lurus ke arah Bima, meski secara medis ia tidak mungkin melihat. "Tanah ini punya napas. Punya mau."

​Pak Wiryo berdeham pelan, mengambil alih pembicaraan. "Betul. Kami senang kalian mau membantu. Tapi ada tata krama—unggah-ungguh—yang harus dijaga agar 'tuan rumah' tidak marah."

​"Kami pasti sopan, Pak," potong Bima percaya diri, membusungkan dada. "Kami dididik beretika."

​Pak Wiryo menatap Bima lama, lalu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya sedikit miring. "Tentu. Tapi aturan di sini tidak tertulis di buku kampus kalian."

​Suasana di pendopo itu mendadak turun beberapa derajat. Angin yang berhembus membawa bau kemenyan samar.

​"Pertama," Pak Wiryo mengangkat satu jari. Kukunya panjang dan hitam. "Jangan keluar rumah setelah kentongan berbunyi dua belas kali. Lewat tengah malam, desa ini bukan milik manusia."

​Dion mencatat cepat di buku kecilnya. Larangan 1: Jam malam.

​"Kedua," jari kedua terangkat. "Di desa ini, menolak rezeki adalah pantangan besar. Jika warga memberi, dimakan. Jika warga menuang, diminum. Menolak suguhan sama dengan menolak perlindungan."

​Siska mengernyit sedikit. Ia khawatir soal kehalalan makanan, tapi ia diam saja.

​"Ketiga," Pak Wiryo mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah menjadi bisikan serak. "Jangan pernah tidur sendirian di ruangan gelap. Dan jangan pernah... menyebut nama orang yang sudah meninggal dengan suara keras di malam hari. Mereka bisa merasa dipanggil."

​Keheningan yang tidak nyaman menyelimuti mereka. Aturan-aturan itu terdengar klise seperti cerita horor murahan, tapi cara Pak Wiryo menyampaikannya—dengan tatapan mata yang tak berkedip—membuatnya terasa seperti ancaman vonis mati.

​"Dan satu lagi," tambah Mbah Sakir, giginya yang tinggal dua terlihat kuning saat ia menyeringai. "Jangan menuruti nafsu saat sedang takut. Takut itu pintu. Nafsu itu kuncinya."

​Sebelum ada yang sempat bertanya arti kalimat membingungkan itu, Bu Kanti muncul dari dalam rumah. Ia membawa nampan besar berisi teko tanah liat dan piring berisi jajan pasar. Ada kue cucur yang berminyak, ketan hitam, dan beberapa potong daging yang tampak seperti dendeng basah.

​"Monggo, diunjuk," kata Bu Kanti. Suaranya lembut, mendayu. Ia meletakkan nampan di tengah lingkaran. "Ini teh bunga telang campur rempah khusus. Resep keluarga turun-temurun. Bagus untuk stamina."

​Cairan di dalam gelas tanah liat itu berwarna ungu pekat, hampir hitam. Uapnya mengepul, membawa aroma manis yang tajam bercampur bau tanah.

​Nara merasa perutnya sedikit mual mencium baunya, tapi ia ingat aturan nomor dua. Ia mengambil gelas itu. "Terima kasih, Bu."

​Semua mengambil gelas masing-masing. Raka, Lala, Dion, Siska. Mereka meminumnya sedikit demi sedikit. Rasanya sepat, manis, dan meninggalkan rasa panas di tenggorokan.

​Hanya Bima yang tidak menyentuh gelasnya.

​Bima meletakkan gelas itu kembali ke nampan dengan sedikit kasar hingga bunyinya beradu. Ia mengeluarkan botol minum tumbler mahalnya dari tas. "Maaf, Pak, Bu. Saya lagi program diet atlet. Nggak boleh minum manis sembarangan. Saya bawa air sendiri."

​Hening.

​Senyum Pak Wiryo tidak hilang, tapi matanya menjadi dingin. Beku. Bu Kanti berhenti bergerak; tangannya yang sedang merapikan piring kue terdiam kaku di udara.

​"Nak Bima," kata Pak Wiryo pelan. "Air desa ini menghidupi kami ratusan tahun. Menolaknya... bisa bikin badan kaget."

​"Nggak apa-apa, Pak. Saya jaga fisik," jawab Bima enteng, meneguk air mineralnya sendiri. Ia tidak peka terhadap ketegangan yang merambat di udara, atau mungkin ia terlalu sombong untuk peduli.

​Bu Kanti perlahan menarik tangannya kembali. Ia menatap Bima dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa lapar. "Ya sudah. Kalau itu maunya Nak Bima. Semoga... kuat."

​Pertemuan itu berakhir canggung. Mereka pamit undur diri. Saat berjalan kembali ke posko KKN, matahari sudah tinggi, tapi panasnya tidak menyengat kulit, melainkan membuat keringat lengket yang tidak nyaman.

​"Sombong banget sih lo, Bim," tegur Lala. "Kan nggak enak sama Pak Kades."

​"Apaan sih? Gue atlet, La. Minuman gituan gulanya tinggi, belum lagi higienisnya. Liat tuh gelasnya, kayak ada lumutnya," cibir Bima.

​"Tapi lo ngelanggar aturan tadi," kata Dion cemas. "Aturan nomor dua."

​"Aturan takhayul," dengus Bima. Ia menepuk dadanya yang bidang. "Liat gue. Sehat walafiat. Nggak ada yang—"

​Bima berhenti berjalan.

​Wajahnya yang tadi merah karena panas, tiba-tiba memucat drastis. Ia memegang perutnya.

​"Bim?" panggil Nara.

​"Bntar..." suara Bima tercekat. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya dalam hitungan detik. "Perut gue... anjing, sakit banget."

​Bima membungkuk, lalu jatuh berlutut di tanah berdebu. Ia muntah.

​Bukan muntahan makanan biasa. Bima memuntahkan cairan bening yang sangat banyak, berlendir, dan... berambut.

​Siska menjerit. Nara mundur selangkah, menutup mulutnya dengan tangan. Di antara genangan muntahan itu, terlihat gumpalan-gumpalan rambut hitam panjang yang kusut, seolah Bima baru saja menelan satu gulungan rambut dari saluran air yang mampet.

​"Bima!" Raka dan Dion panik, memapah tubuh Bima yang kini menggigil hebat.

​"Panas... perut gue panas..." rintih Bima. Matanya melotot, urat-urat lehernya menonjol. Atlet yang paling kuat di antara mereka itu kini tampak rapuh seperti kertas basah.

​Dari kejauhan, di beranda rumah Pak Wiryo, Bu Kanti berdiri mematung memperhatikan mereka. Ia tidak berlari menolong. Ia hanya berdiri, mengelap tangannya ke kain jarik dengan gerakan lambat dan metodis, seolah sedang membersihkan noda yang tak terlihat.

​"Bawa ke posko! Cepat!" perintah Nara, suaranya bergetar.

​Saat mereka menyeret Bima yang setengah sadar, Nara merasakan sesuatu. Desa ini tidak sedang menyambut mereka. Desa ini sedang mencerna mereka. Dan Bima, dengan arogansinya, baru saja mengajukan diri sebagai hidangan pembuka.

​Nara menoleh sekilas ke arah hutan di belakang desa. Di batas pepohonan yang gelap, ia melihat bayangan. Sosok tinggi, hitam, tanpa kepala, berdiri diam di antara dua pohon jati besar. Sosok itu tidak bergerak, tapi Nara tahu, benda itu sedang mengawasi.

​Aturan telah dilanggar. Pintu telah diketuk. Dan kini, penghuni Wanasari mulai membukanya lebar-lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!