NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Inspeksi Sang Raja

​Tiga hari setelah "insiden bubur ayam" di kosan, Rania sudah kembali bertugas penuh. Tangannya sudah sembuh total.

Pagi ini, RS Citra Harapan gempar.

​Bukan karena ada wabah atau kecelakaan massal, tapi karena pelataran parkir VIP—yang biasanya cuma diisi Xpander dokter atau Pajero keluarga pasien—kini diduduki oleh iring-iringan tiga mobil sedan hitam mengkilap. Plat nomornya RI sekian atau B dengan angka cantik satu digit.

​"Gila, Dok," bisik Kevin sambil mengintip dari balik tirai UGD. "Itu mobil Rolls-Royce bukan sih? Yang pintunya kebalik itu?"

​Rania menyipitkan mata sambil menyeruput kopinya (yang kali ini dia pegang erat-erat agar tidak tumpah). "Itu Bapaknya Adrian. Pak Wijaya. Pemilik Wijaya Medika Group. Investor utama klinik glowing di atas."

​"Waduh," Kevin menelan ludah. "Tampang bodyguard-nya kayak mau nagih pinjol."

​Suster Yanti berlari tergopoh-gopoh. "Dokter Rania! Dipanggil ke Lantai 4 sekarang juga. Sama Direktur dan... Tamu Besar."

​"Gue?" Rania menunjuk dirinya sendiri. "Ngapain? Gue kan dokter bedah umum, nggak ada urusan sama klinik estetika."

​"Nggak tahu, Dok. Pokoknya Pak Direktur mukanya pucat banget. Kayak mau pingsan. Cepetan, Dok!"

​Rania menghela napas panjang. Firasatnya tidak enak. Sejak pulang dari Bandung, dia merasa ada mata-mata yang mengawasinya.

​"Oke. Doain gue nggak dipecat," kata Rania sambil merapikan jas putihnya yang (tumben) sudah disetrika rapi.

​Lantai 4, Lobi Aura Clinic.

​Suasananya mencekam. Para staf berdiri berjejer kaku seperti tentara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya di sofa beludru.

​Bapak Wijaya (58 tahun) adalah versi tua dari Adrian, tapi tanpa kelembutan sedikit pun. Wajahnya keras, matanya dingin seperti elang, dan dia memancarkan aura kekuasaan yang membuat AC ruangan terasa lebih dingin.

​Di sebelahnya berdiri Adrian. Dia berdiri tegak, kaku, tangannya terkepal di samping tubuh. Wajahnya datar, tapi Rania bisa melihat rahangnya mengeras.

​"Ah, ini dia Dr. Rania," suara Dr. Bambang (Direktur RS) terdengar bergetar saat Rania muncul dari lift.

​Pak Wijaya menoleh pelan. Tatapannya memindai Rania dari atas ke bawah. Tatapan yang sama persis dengan Clarissa, tapi seribu kali lebih mengintimidasi. Tatapan seorang pebisnis yang sedang menilai barang rongsokan.

​"Selamat pagi, Pak," sapa Rania sopan, mencoba tidak terintimidasi.

​Pak Wijaya tidak menjawab salamnya. Dia menoleh ke Adrian.

​"Jadi ini?" tanya Pak Wijaya dingin. "Dokter umum yang kamu bela mati-matian di seminar nasional kemarin? Yang membuat kamu menolak makan malam dengan putri rekan bisnis saya, Clarissa?"

​Adrian menarik napas. "Pa, ini lingkungan profesional. Rania adalah rekan kerja saya."

​"Rekan kerja," ulang Pak Wijaya dengan nada mencemooh. Dia berdiri, berjalan mendekati Rania.

​Rania menahan napas. Parfum pria tua ini mahal dan menyengat, bau uang dan cerutu.

​"Saya dengar banyak hal menarik tentang kamu, Dokter Rania," kata Pak Wijaya. "Katanya kamu dokter yang 'merakyat'. Suka makan di pinggir jalan, tinggal di kos-kosan kumuh, dan punya hobi menentang prosedur standar demi... apa istilahnya? Kemanusiaan?"

​"Saya bekerja sesuai sumpah dokter, Pak," jawab Rania tegas, menatap mata Pak Wijaya. "Keselamatan pasien adalah prioritas utama saya, terlepas dari status ekonomi mereka."

​Pak Wijaya tertawa kecil. Tawa yang kering dan tidak lucu.

​"Sumpah dokter tidak membayar tagihan listrik klinik ini, Nona Muda. Bisnis ini butuh citra. Prestige," Pak Wijaya menunjuk sekeliling klinik mewah itu. "Klinik ini dibangun untuk kalangan elit. Kehadiran dokter yang... kasar dan tidak berkelas seperti kamu di sekitar Adrian, merusak branding yang saya bangun."

​Darah Rania mendidih. Dia sudah biasa dihina, tapi dihina di depan Adrian rasanya sakit sekali.

​"Maaf, Pak," Rania maju selangkah. "Saya mungkin kasar. Saya mungkin miskin. Tapi tangan saya sudah menyelamatkan ratusan nyawa di rumah sakit ini sebelum Bapak taruh satu sen pun di sini. Kompetensi saya tidak ditentukan oleh merek baju saya."

​"Kompetensi?" Pak Wijaya mendengus. "Kamu menyeret Adrian turun ke level kamu. Saya dengar kamu membawanya makan makanan sampah, naik mobil rongsokan, bahkan tidur satu kamar di hotel murah?"

​Rania terbelalak. "Itu fitnah! Hotelnya bintang lima, dan kami terpaksa karena—"

​"Cukup!" bentak Pak Wijaya. Suaranya menggelegar.

​Dia berbalik menatap Adrian.

​"Adrian, Papa sekolahkan kamu ke Korea, Papa biayai spesialis kamu miliaran, bukan untuk melihat kamu bergaul dengan dokter kelas dua yang bahkan tidak bisa merawat dirinya sendiri. Kamu itu aset Wijaya Group. Pasanganmu, rekanmu, semuanya harus mencerminkan nilai perusahaan."

​Pak Wijaya menunjuk pintu keluar.

​"Pecat dia. Atau pindahkan dia ke RS cabang kita di Papua. Jauhkan dia dari lingkungan ini. Kalau tidak, investasi Papa di RS ini Papa tarik hari ini juga. Biar RS ini bangkrut sekalian."

​Dr. Bambang di pojokan nyaris pingsan mendengar ancaman itu.

​Rania terdiam. Dia menatap Adrian.

Dia menunggu.

Menunggu Adrian membelanya seperti di seminar. Menunggu Adrian mengatakan bahwa Rania adalah "partner"-nya.

​Adrian berdiri mematung. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

Rania tahu trauma itu. Trauma anak yang seumur hidup didikte oleh ayahnya yang perfeksionis. Trauma ketakutan akan kegagalan.

​Satu detik. Dua detik. Adrian tidak bicara.

​Hati Rania mencelos. Rasa kecewa yang amat sangat merambat di dadanya.

​"Baik," kata Rania pelan, memecah keheningan. Suaranya serak tapi dia berusaha tidak menangis. "Bapak tidak perlu mengancam RS ini. Teman-teman saya butuh pekerjaan di sini."

​Rania melepas name tag di jas putihnya.

​"Saya akan mengundurkan diri dari tim kolaborasi bedah estetik. Saya akan tetap di UGD, di tempat yang Bapak sebut 'kelas dua'. Saya tidak akan menginjakkan kaki di lantai 4 ini lagi."

​Rania menatap Adrian untuk terakhir kalinya. Tatapan penuh luka.

​"Permisi, Pangeran," sindir Rania tajam.

​Rania berbalik dan berjalan cepat menuju lift.

​"Rania! Tunggu!"

​Itu suara Adrian.

​Adrian akhirnya bergerak. Dia melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam ayahnya.

​"Papa tidak bisa melakukan ini," suara Adrian bergetar, tapi menguat di setiap kata. "Papa tidak bisa mengatur siapa yang berkompeten dan siapa yang tidak berdasarkan asumsi dangkal Papa."

​Adrian berdiri di depan ayahnya, menghalangi pandangan ayahnya ke Rania yang sudah di pintu lift.

​"Rania adalah dokter bedah terbaik di RS ini. Tekniknya kasar, ya. Mulutnya pedas, ya. Tapi dia punya sesuatu yang tidak pernah Papa ajarkan ke saya: Hati."

​Adrian menatap ayahnya lurus-lurus.

​"Selama ini saya nurut sama Papa. Saya jadi dokter, saya ambil spesialis yang Papa mau, saya bangun klinik ini. Tapi saya tidak akan membiarkan Papa menghina orang yang mengajarkan saya untuk menjadi dokter yang sesungguhnya."

​"Kamu berani melawan Papa?" Pak Wijaya menyipitkan mata berbahaya. "Kamu mau fasilitas kamu Papa cabut? Kartu kredit? Mobil? Jabatan?"

​Adrian tersenyum tipis. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit mahalnya, dan kunci mobil sport-nya.

​Dia meletakkan dompet dan kunci itu di meja resepsionis dengan bunyi klak keras.

​"Ambil semuanya, Pa," kata Adrian tenang. "Saya sudah bisa cari makan sendiri. Bubur ayam di depan gang cuma 10 ribu rupiah. Saya mampu beli."

​Pak Wijaya ternganga. Dr. Bambang melongo.

Dan Rania, yang menahan pintu lift agar tidak tertutup, terpaku mendengar itu.

​"Mulai hari ini," lanjut Adrian sambil melepas jas Armani-nya yang mewah dan meletakkannya di atas tumpukan kunci tadi. Kini dia hanya memakai kemeja putih polos yang lengan bajunya digulung. "Saya bekerja sebagai Dokter Adrian. Bukan sebagai putra Pak Wijaya."

​Adrian berbalik, berjalan cepat menuju lift, menyusul Rania.

​Pintu lift tertutup tepat saat Adrian masuk, meninggalkan Pak Wijaya yang wajahnya merah padam menahan amarah di lobi mewah itu.

​Di dalam lift yang turun, keheningan terasa menyesakkan.

​Rania menatap Adrian. Pria itu kini tidak punya mobil, tidak punya kartu kredit, dan mungkin baru saja dicoret dari kartu keluarga. Dia berdiri bersandar di dinding lift, napasnya memburu sisa adrenalin, tapi matanya... matanya terlihat lega. Sangat lega.

​"Lo... lo gila ya?" bisik Rania. "Lo baru aja ngebuang warisan triliunan demi... bubur ayam?"

​Adrian menoleh, menatap Rania sambil tersenyum miring. Senyum anak nakal yang baru pertama kali bolos sekolah.

​"Bukan demi bubur ayam," koreksi Adrian. "Demi kamu. Dan demi harga diri saya."

​"Terus lo pulang naik apa? Jalan kaki?"

​"Mungkin," Adrian mengangkat bahu. "Atau... saya bisa numpang di mobil Honda Jazz butut seseorang? Asal playlist-nya jangan dangdut koplo."

​Rania tertawa. Air mata yang tadi ditahannya akhirnya tumpah, tapi dia tertawa.

​"Mobil gue lagi di bengkel, Ad. Servis radiator."

​"Ya sudah," Adrian menggeser posisinya, berdiri tepat di sebelah Rania. Bahu mereka bersentuhan. "Kita naik angkot. Saya belum pernah naik angkot. Kamu harus ajarin saya caranya bayar biar nggak ditipu supir."

​Pintu lift terbuka di lantai dasar.

​Adrian Bratadikara, Pangeran Bedah Plastik yang jatuh miskin dalam waktu lima menit, melangkah keluar bersama Rania Si Tukang Jagal.

​Mereka siap menghadapi dunia (dan kemacetan Jakarta) dengan tangan kosong.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!