Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berganti Bulan
Sebulan berlalu sejak operasi itu.
Krisna sudah tidak lagi tergantung pada kursi roda. Jalannya masih pelan, sesekali harus berhenti karena pusing ringan, tetapi dokter bilang pemulihannya sangat baik. Luka di kepalanya mengering, hanya menyisakan bekas samar yang bisa ditutupi rambut.
Rumah besar keluarga Kusuma menyambutnya sore itu saat ia resmi dipulangkan.
Karpet tebal. Wangi bunga segar. Semua terlihat akrab… setidaknya menurut ingatannya yang tersisa.
Ardian berdiri di depan pintu, menepuk bahu anaknya pelan.
“Selamat datang kembali di rumah, Nak.”
Krisna tersenyum tipis. Ada hangat di dadanya ketika mendengar kata “rumah”, meski ada ruang kosong yang tak bisa ia jelaskan.
“Terima kasih, Pa.”
Ana menuntunnya masuk, terlampau hati-hati seolah anaknya masih rapuh dan bisa pecah kapan saja. “Kalau merasa pusing, bilang. Jangan banyak stres dulu.”
Krisna mengangguk.
Tetapi dunia tidak pernah benar-benar menunggu orang pulih sepenuhnya.
Keesokan harinya, ruang kerja Ardian dipenuhi berkas. Grafik, laporan keuangan, dan beberapa surat perjanjian menumpuk di meja.
“Kamu memang belum harus langsung terjun,” ujar Ardian, meski matanya menyimpan harapan besar. “Tapi perusahaan butuh kehadiranmu. Direksi juga harus lihat kalau pewaris Kusuma masih berdiri.”
Krisna menatap tumpukan dokumen itu lama-lama.
Aneh.
Angka-angka itu terasa akrab. Strategi bisnis juga terasa melekat di kepalanya, seolah otaknya tahu arah pulang.
Tetapi pada saat yang sama, ada ruang lain yang kosong—bagian hidup yang seperti pernah penuh, namun kini menguap tanpa jejak.
“Aku… siap mencoba,” katanya akhirnya. “Aku tidak mau selamanya dilihat sakit.”
Ardian tersenyum puas.
.
Sore itu, Krisna berdiri di balkon, menatap langit yang mulai oranye.
Angin menerpa wajahnya.
Entah kenapa, bayangan sawah, jalan tanah, dan suara perempuan tertawa kecil melintas sekilas di kepalanya.
Ia memijit pelipis.
“Aneh… kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal…” gumamnya.
Namun ketika mencoba menangkap bayangan itu—yang tersisa hanya hampa.
Di kejauhan, gedung pencakar langit memantulkan cahaya.
Krisna menarik napas dalam-dalam.
Besok, ia akan kembali ke kantor.
Besok, ia akan dikenalkan ulang sebagai penerus Kusuma Group.
Dan tanpa ia sadari…
Di desa yang jauh dari gemerlap kota, seorang perempuan dengan perut empat bulan tengah berjuang sendirian — membawa bagian hidupnya yang hilang.
Anak mereka.
Perut Lia mulai tampak membulat di balik daster longgar. Setiap pagi ia bangun lebih cepat dari matahari, membantu Bu Surti di dapur, menanak nasi, menjemur pakaian, lalu duduk sebentar ketika pusingnya datang seperti gelombang kecil.
“Lia, istirahat dhisik,” Bu Surti menatapnya cemas.
Lia tersenyum, senyum yang dipaksakan tenang. “Aku kuat, Bu. Wong dedeknya juga anteng kok.”
Namun malam-malamnya sering diisi mual, punggung nyeri, dan sunyi yang membuat dadanya sesak. Di antara doa yang ia panjatkan, nama lelaki itu selalu muncul tanpa izin.
Mas Wijaya.
Suara mesin berat menggeram dari arah sawah.
“Brummm....”
Lia menghentikan langkah. Di pematang, beberapa truk menurunkan tumpukan pasir, batu, dan besi panjang. Patok merah kini sudah berubah menjadi barisan material yang seolah-olah berkata: ini bukan milik kalian lagi.
Beberapa ibu-ibu berkerumun. Ada yang menangis diam-diam. Ada yang hanya memandang kosong.
Pak Wiryo berdiri dengan tangan mengepal. “Dulu sawah iki sing nyekolahke kowe, Lia… saiki arep digusur sakcepete,” suaranya parau.
Lia menggenggam lengan ayahnya. “Nanti pasti ada jalan, Pak…”
Padahal ia sendiri tidak tahu jalan itu di mana.
Tetangga mulai berbisik.
“Itu gara-gara laki-laki kota itu.”
“Lia ditinggal pas hamil, sekarang sawah ilang.”
“Wong wedok kok gelem wae…”
Setiap bisikan seperti batu kecil dilemparkan ke punggungnya.
Lia menunduk, mengusap perutnya pelan. “Maaf ya, Nak… Ibu cuma punya keberanian. Hartanya tidak ada…”
Malamnya, ia duduk di serambi rumah, menatap langit tanpa bintang. Angin terasa dingin, tapi perutnya hangat oleh denyut kecil kehidupan di dalamnya. Ia membayangkan wajah anaknya — mungkin mirip mata lelaki itu, mungkin tidak. Namun ia tahu satu hal: Anak ini akan lahir tanpa nama yang diakui siapa pun.
Ia menarik napas panjang. “Kalau Ayahmu lupa sama kita… Ibu tetap tidak akan lupa.”
Besoknya, truk datang lagi.
Besi-besi dipukul, tanah dikupas, suara alat berat terdengar seperti dentuman takdir yang tak bisa dibantah.
Warga bertahan sebisanya: menegur, memprotes, menolak tanda tangan. Namun kekuatan surat dan stempel selalu menang atas suara mereka.
Lia berdiri di tepi sawah. Di kejauhan, padi muda tercabut bersama akarnya.
Ia sadar—bukan hanya suaminya yang diambil darinya.
Desanya pun perlahan ikut direnggut.
.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti sungai yang dipaksa berbelok.
Suara mesin, teriakan mandor, dan debu proyek menjadi latar baru desa mereka. Pohon randu di tepi sawah ditebang, tanah dipasang garis-garis kapur putih, seolah-olah seseorang sedang menggambar ulang nasib mereka tanpa bertanya dulu.
Di pos ronda, lelaki-lelaki desa berkumpul. Wajah mereka legam oleh matahari dan kesal yang ditahan.
“Kepala desa wis ora bisa diajak ngomong,” keluh Pak Wiryo pelan. “Katanya semua sudah sah secara hukum.”
“Padahal kita tanda tangan apa, juga ora ngerti,” timpal tetangga lain. “Cuma dikasih gula, beras, uang seratus ribu… saiki sawah melayang.”
Mereka terdiam. Laki-laki tua merasa kalah, bukan hanya secara harta, tapi harga diri.
Lia datang membawa termos teh dan beberapa pisang rebus. Tangannya gemetar sedikit, namun langkahnya mantap.
“Silakan, Pak,” ucapnya lembut.
Mereka menyambutnya dengan hangat. Tidak semua orang mencibirnya — banyak juga yang diam-diam iba dan kagum karena ia tetap tegar meski ditinggal dalam keadaan hamil.
“Lia iki pancen kuat,” gumam salah satu ibu yang lewat. “Wes ora ono sing iso dibandingke.”
Malamnya, rumah Pak Wiryo menjadi tempat orang berkumpul. Membahas satu hal:
Apa mereka akan diam… atau berdiri?
“Kita ora duwe pengacara, ora duwe uang,” kata seseorang. “Tapi paling tidak, jangan biarkan mereka seenaknya di tanah leluhur kita.”
Doa panjang dipanjatkan malam itu. Tidak gaduh, tidak berapi-api. Hanya sunyi yang khusyuk dan air mata yang jatuh tanpa suara.
Sementara itu, Lia mulai menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sawah, kelahiran.
Ia merapikan baju bayi kecil hasil jahitannya sendiri. Warna lembut, benangnya tidak rapi, tapi penuh cinta. Ia menyelipkan satu nama dalam doanya setiap kali meraba kain itu:
Kriss.
Nama yang sederhana, gabungan masa lalu dan masa depannya. Nama yang akan ia berikan walau siapa pun nanti menanyakan siapa ayah anak itu.
Suatu sore, perutnya mengeras tiba-tiba. Rasa nyeri merambat ke punggung, membuatnya berhenti melangkah.
Bu Surti panik. “Lia?!”
Lia tersenyum menenangkan. “Ora apa-apa, Bu… dedeknya cuma minta disapa.”
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Lia menangis bukan karena sawah, bukan karena cercaan orang—melainkan karena rasa takut yang amat manusiawi:
Bagaimana kalau ia harus melahirkan tanpa sosok yang dulu menggenggam tangannya?
Ia memeluk perutnya, membisikkan doa.
Di kejauhan, lampu proyek tetap menyala terang, mesin tetap meraung, desa tetap terjaga bukan karena ramai… tetapi karena cemas.