Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 32
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 35 menit menggunakan mobil fasilitas dari Ethan, kini sampailah Fery di rumah para penduduk yang setiap bagian dari rumah warga ini hampir memiliki bentuk yang sama, setiap rumah tampak berjejer dan hanya dipisahakan tanaman bunga yang sudah mulai mekar, suasana ini benar-benar menyejukkan, belum lagi rumputan hijau tampak menghiasi dan terbentang disetiap halaman.
Fery mematikan mesin mobil dan memarkirkannya di halaman rumah minimalis dengan dua lantai yang didominasi warna putih dan jendela kaca yang nampak di setiap bagiannya, menambah kenyamanan bagi pemilik rumah, Fery melihat asap yang masih sedikit terlihat keluar dari cerobong bagian atap, pemilik rumah ini ternyata kedinginan juga pikirnya. Fery berharap kedatangannya tidak mengganggu penghuninya.
Fery berjalan perlahan di malam yang dingin ini, dari jendela Fery melihat lampu di rumah ini sudah padam, ini bukan untuk yang pertama kalinya Fery mengunjungi rumah ini, jadi tidak heran kalau Fery sudah hapal setiap bagian dari bangunan ini, perlahan Fery membuka pagar yang terbuat dari kayu yang tingginya hanya sebatas pinggangnya.
Langkah tegap kaki yang di balut sepatu hitam mengkilap itu terus menapaki taman rumah, di mana banyak tanaman bunga tulip yang sudah siap bersemi, seingatnya dulu bunga-bunga cantik ini tidak ada di sini, Yogi maupun Hani tidak hobi bercocok tanam, tapi hari ini rumah ini dipenuhi tanaman indah. Luar biasa si kawan, pikirnya.
Ting Tong! Ting Tong (Anggap aja itu bunyi bel gaess)
"Siapa sih, malam-malam gini bertamu?" Pemilik rumah kesal, dilihatnya jam sudah hampir pukul dua waktu setempat, Yogi memakai sandal rumahnya dan keluar dari kamar, dengan mata yang masih setengah terpejam ia berjalan menuju pintu utama.
Ting ! Tong!
Suara itu juga membangunkan Alice, tanpa sepengetahuan Papanya, Alice keluar kamar dengan membawa boneka Doraemon.
"Sebentar, mengganggu saja."
Yogi menggerutu, dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, Yogi membuka pintu.
"Lama sekali? Apa kau mau aku membeku di depan rumahmu?"
Suara ini mengejutkan Yogi, rasa ngantuk yang tadi melanda, sudah hilang begitu saja, Yogi mengucek kedua matanya, berharap ini hanya mimpi belaka.
"Ka-ka-kau...."
"Kenapa? Kau seperti melihat hantu saja."
Tanpa dipersilahkan, Fery masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi dan gelap ini, Yogi menutup pintu dan menarik tangan Fery. Sampai Fery melongos melihat tingkah aneh Yogi.
"Ke-kenapa kau ke sini?" Tanya Yogi terbata, apa jadinya kalau Fery tahu selama ini Suci tinggal dengannya? Sudah lebih dari tiga kali Fery bertanya tentang Suci, tapi Yogi pura-pura tidak tahu. Habislah mereka kali ini.
Fery menarik tangannya, "malam ini aku tidur di sini, aku benar-benar lelah, aku mau istrahat," ucap Fery.
"Tunggu! Kalau begitu tidurlah di sini!" Yogi menunjuk sofa.
"Kau mau aku kedinginan di sini? Lagi pula masih ada kamar yang kosong kan? Aku juga pernah tidur di kamar itu!" Fery menunjuk kamar yang ada di lantai dasar.
"Sudah jangan membantah, tidurlah di sini. Besok pagi-pagi sekali kau harus sudah keluar dari rumah ini!" Yogi menarik paksa dan mendorong sampai Fery duduk di sofa.
"Kau mengusirku?"
"Aku cum---
"Daddy...."
Alice datang memeluk kaki Yogi, anak ini masih ngantuk, ia merengek kepada Papanya.
"Daddy, ayo kita tidul lagi...."
"Kenapa Alice keluar kamar?"
"Ayo tidul lagi dad huaaaaaa
Yogi panik dan menggendong Alice, saat itu Alice tidak sengaja menjatuhkan boneka Doraemonnya.
"Tidurlah di sini! Ingat jangan cari kamar lain!"
Yogi memberi peringatan, kemudian ia membawa Alice kembali ke kamar mereka yang ada di lantai dua.
"Apa dipikirnya aku sudah jatuh miskin? Apa anak itu takut aku mengambil sesuatu di rumah ini?" Fery tidak habis pikir melihat tingkah Yogi.
Boneka Doraemon itu menarik perhatian Fery, ia mengambil dan memperhatikannya.
"Sepertinya boneka ini tidak asing, pasar malam itu," Fery teringat boneka Doraemon milik Suci, "kenapa aku tidak boleh ke kamar itu?"
Karena penasaran, Fery berjalan menuju kamar yang ada di lorong rumah ini, ia memegang handle pintu dan membukanya, namun pintu ini terkunci dari dalam.
"Anak itu, kalau pintunya dikunci, kenapa dia khawatir aku mengambil sesuatu yang berharga dari sini?" Fery memutar badan, ia menuju kamar lain tepat di depan kamar itu, kebetulan kamar tamu ini tidak dikunci, Fery masuk dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sudah sepuluh menit berlalu, Fery belum juga memejamkan mata, ia masih memegang boneka Doraemon milik Alice, tiba-tiba Fery merasa gerah, ia menanggalkan bajunya dan hanya menyisakan celana jeans kaos hitam tanpa lengan di tubuhnya.
Disaat seperti ini, rasa haus melanda tenggorokannya, Fery keluar dari kamar dan tanpa sepengetahuan pemilik rumah, ia berjalan menuju dapur, rumah ini sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya di dapur.
Fery masih berdiri dan membuka lemari pendingin, ia menenggak air mineral tanpa menutup pintu lemari pendingin yang tingginya sedikit melebihi tinggi tubuhnya, sehingga tidak ada yang bisa melihat wajahnya.
Suci memasang telinga, seperti merasa mendengar langkah kaki, hari gini siapa yang keliaran di rumah ini? pikirnya.
Setelah mengikat rambutnya secara asal dan sembarangan, dengan masih memakai baju tidur karakter Doraemon ini, Suci keluar dan membuka dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Gadis ini celingukan menatap kesembarang arah.
"Jangan-jangan itu maling?"
Mendadak Suci menjadi takut, saklar lampu rumah ini ada di balik lemari pendingin, dan itu terlalu jauh, telinganya menangkap suara dari arah dapur, secara perlahan Suci berjalan menuju dapur.
Benar saja, Suci melihat ada tubuh tegap sedang menghadap kulkas, Yogi tidak setegap itu, Suci menelan ludah dengan susah payah, memikirkan cara menangkap basah maling itu.
"Pudding mangga buatanku, jangan-jangan dimakan maling itu?" gumam Suci sembari berjinjit semakin dekat dengan laki-laki berkaos hitam ini, saat jaraknya semakin dekat, dengan cepat Suci meraih sapu dan memukul punggung si maling yang saat itu sedang numpang makan pudding gratis.
"Rasakan ini, maling! Maling...."
Bug...bug....bug....
"Uhuukkk Uhukkkk," Fery terkejut saat diserang dari belakang, ia juga tersedak karena memakan pudding ini tanpa ijin dari pemiliknya.
"Maling...! Maling...!
Suci berteriak di malam hari dan digelapnya ruangan itu, ia memukul punggung Fery dengan gagang sapu, cahaya dari kulkas itu redup saat Fery sudah menutup pintunya, tanpa melihat siapa yang memukulnya, dengan satu kali gerakan ia berbalik arah, merebut gagang sapu, menghempaskannya ke lantai dan mengunci orang yang memukulnya.
Fery mengunci pelan kedua tangan orang yang sudah memukulnya, dua tangan Suci di kunci ke belakang punggung Suci yang saat ini sudah memunggunginya, sementara satu tangan Fery melingar di leher Suci, sampai Suci memberontak.
"Aku, bukan maling!"
Deg.........
"Suara ini?" Suci tidak lagi memberontak, ini tidak mungkin pikirnya.
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah