NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

"Apa yang terjadi?" Wajah Emalia benar-benar terkejut lantaran melihat banyak sekali penjaga yang tergeletak di setiap sudut rumahnya.

"Ivana," Emalia yang sadar akan putrinya pun dengan buru-buru langsung pergi menghampirinya.

Betapa terkejutnya ia saat ia melihat sekitar, bahwa pintu depan telah terbuka. Dan juga kamar pelayan yang sudah terbuka. "Ivana"

Ema langsung menghampiri kamar putrinya, ia kini hanya bisa luruh di lantai melihat semua kekacauan ini, bahkan ia kini juga harus mendapati Ivana yang tak ada lagi di tempat itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?,"

"Ivana"

"Ivana"

Ema bangun dari duduknya, ia berlari keluar dari rumah, mencari Ivana di setiap celah rumah itu. Ema mungkin bukanlah ibu yang baik untuk Ivana, namun dia tetaplah seorang ibu bagi putrinya. "Apa yang aku lakukan, aku tak pernah selalai ini dalam apa pun." Hal itu benar-benar memberikan tekanan yang berat baginya.

Kaki wanita itu gemetar, kakinya yang tak kuat untuk menopang tubuhnya itu. Kini luruh di atas rumput halaman itu. Tatapannya yang kosong serta jiwa yang terguncang.

"Apa aku....., benar-benar ibu yang gagal?" Emalia menatap ke segala arah.

Kepalanya benar-benar pusing, ia memegang kepalanya dengan kedua tangan sebari mengacak rambutnya. "Ini tidak mungkin, tak mungkin hanya tinggal aku sendiri. Ivana, di mana kau."

"IVANA KAU JANGAN MAIN-MAIN PADAKU."

"KEMBALI KEMARI ATAU KAU AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN YANG JAUH LEBIH BERAT."

"IVANAAAAAAAAA"

*****

Ivana tiba-tiba tersadar dari tidurnya, Ia kemudian duduk dan menatap ke arah jendela. Tampak bulan yang sangat cantik terlihat dari luar sana.

"Aku tiba-tiba teringat pada mama, apakah dia baik-baik saja?, mama, maafkan Ivana. Lagi dan lagi aku hanyalah beban bagi orang lain." Ivana memeluk kedua kakinya, meringkuk dan menangis dalam diam.

"Maaf karena telah menjadi anak yang gagal,"

Ruang hampa yang tak berujung, ruangan kamar yang sunyi itu benar-benar menyatu dengannya. Jiwa yang seperti selalu ingin pergi, namun raga yang terus terikat pada rantai yang tak pernah putus.

Itulah takdir Ivana.

Ia menatap borgol di tangannya, menangis dalam kesunyian yang tak pernah sirna. Menatap setiap bekas luka di badannya yang tak pernah hilang.

"Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin pergi ke tempat yang aku mimpikan. Di mana aku bisa terbang tanpa ada lagi badai yang akan membuat sayapku patah. Aku lelah, benar-benar lelah. Ayah, kakak, tolong bawa aku pergi dari dunia ini. Aku ingin pergi dari sini,"

"Aku menyerah, aku putus asa, maaf kak. Namun aku juga tak ingin menjalani hidup ini." Ivana terus menangis, tanpa ia sadari tangisan itu di dengar oleh Saga. Pria itu sedari tadi mendengarkan di balik tombok depan.

"Menangislah terus Ivana, aku suka tangisanmu itu." Saga tersenyum menyeringai.

Pria itu benar-benar seperti sudah gila, kini benar-benar tak ada ruang lagi bagi Ivana.

*****

Sinar mentari menyinari seluruh penjuru negeri, kini seorang gadis telah terbangun dari tidurnya yang lelap. "Sial, aku benar-benar tertidur." Gadis itu adalah Jane, ia telah terkurung di kamar itu sejak semalam buta bercekcok dengan para pria itu.

Ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Danuel, dia menyuntikkan bius padaku. Benar-benar pria yang licik."

Jane menatap sekitar, ia melihat kamar yang bagus dan tertata rapi dengan interior warna putih dan coklat.

"Enaknya menjadi mereka, sudahlah kaya, banyak uang. Namun mereka masih melakukan hal gila pada seorang wanita, mereka benar-benar payah."

Jane kemudian menatap kasur, tangannya kini sudah tidak di borgol. Ia mengelus kasur itu, menempelkan pipinya di atas kasur yang lembut.

"Ow kasur, mengapa kau sangat-sangat lembut. Aku bahkan tak pernah tidur di tempat yang selembut ini. Aku rasa hotel bintang 5 seperti ini." Jane tersenyum-senyum, ia merasa senang bisa tertidur di atas kasur itu.

Namun tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu, "Tunggu, di mana Rei. Benar juga, dia tak ada di sini,"

"Aku harus mencari mereka berdua dan pergi dari tempat menyedihkan ini." Jane kemudian turun dari ranjang, ia kemudian terjatuh saat itu juga.

"Brukkkkkkkk"

"Aaaaggggghhhh, ini menyakitkan." Jane kemudian menatap kakinya, sebuah rantai mengikatnya, membuatnya tak pergi ke mana pun.

Jane yang begitu kesal akhirnya melampiaskan kekesalannya pada lantai. Ia memukuli lantai itu dengan tangan kanannya seraya mengumpat.

"Sial, benar-benar sial. Aku benar-benar tak menyangka akan berakhir seperti ini."

"Ceklek" Suara pintu kamar terbuka.

Mendengar hal itu sontak membuat Jane menoleh ke sumber suara. Wajahnya berubah menjadi cemberut saat ia melihat jika itu adalah Danuel.

"Memang sial aku hari ini," ujar Jane dengan lirih sebari memalingkan mukanya.

Ia menyiapkan ekspresinya, "Jangan cemberut Jane, ayo coba ke beruntungan sekali lagi." Jane kemudian mengubah wajahnya menjadi raut wajah cerah ceria, penuh dengan senyuman.

Danuel kini berdiri bersandar pada pintu sebari bersedekap. "O hai kakak tampan, senang bisa bertemu dengan mu lagi."

Danuel menatap Jane, gadis itu terkapar dengan posisi tengkurap di lantai, "Kakak, bisakah tolong aku. Aku benar-benar harus pergi ke kamar mandi. Aku mohon." Ucapan Jane itu membuat Danuel tersenyum menyeringai.

Pria itu kemudian mendekat ke arah Jane, menarik lengan gadis itu kebelakang dan memborgol kedua tangan Jane.

Danuel melepaskan rantai di kaki Jane, hal itu seketika membuat gadis itu melongo. "Danuel, jika seperti ini bagaimana caranya aku untuk," Belum selesai Jane melanjutkan ucapannya pria itu sudah terlebih dulu membungkam mulut Jane.

"Biar aku bantu," ucapnya dengan senyuman Evil.

"Apa." Jane sontak langsung syok mendengar hal itu.

Gadis itu di tarik oleh Danuel pergi ke kamar mandi, "Tunggu, kau gila ya. Kenapa kau ikut masuk? Jangan macam-macam ya, atau kau akan aku pukul."

Danuel tersenyum menyeringai, ia kemudian tertawa mendengar hal konyol itu, "Hahahaha, bagaimana kau bisa memukulku. Sedangkan kondisimu saja seperti itu."

"Lah iya juga, namun aku bisa menggunakan kaki," Jane berencana ingin menginjak kaki Danuel. Namun pria itu menghindar darinya.

"Sial."

"Tidak usah cemas, aku tak sejahat itu." Danuel membuka borgol di tangan Jane.

Jane pun langsung terdiam seketika, "Sudah sana masuk! Aku tunggu kau di luar sini." Jane pun hanya diam dan mengangguk.

"Jane, fokus. Kau jangan terkecoh oleh wajahnya yang tampan, kau harus bisa keluar dari sini." Ujar Jane dalam hati kecilnya.

Jane pun masuk ke dalam kamar mandi, namun di sini ia semakin di buat bingung. Pasalnya ia bahkan tak menemukan celah sedikit pun untuk kabur dari sana.

"Ini serius? Bahkan ventilasi pun tidak ada. Lalu bagaimana caranya aku keluar dari sini."

Di luar kamar mandi itu, Danuel kini sedang tersenyum puas. Ia tahu, Jane tak akan bisa kabur darinya. "Cobalah Jane, namun kau tak akan bisa pergi selangkah pun dari Vila ini."

*****

Ivana tak tidur, sejak ia terbangun beberapa jam yang lalu, ia kini duduk di pinggir ranjang, dengan tatapan matanya yang kosong.

Pintu kamar terbuka, terlihat Saga yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. Pria itu membawakannya sepotong roti dan juga susu hangat di atas nampan.

Saga kemudian mendekati Ivana, ia meletakkan nampan itu di atas meja di samping ranjang Ivana.

"Makanlah ini, perutmu tak boleh kosong."

Ivana kemudian menatap nampan itu, "Kau tak suka?," tanya Saga dan di jawab gelengan oleh Ivana.

"Namun sayangnya aku tak akan memberikanmu makanan lain selain Roti ini. Terserah kau mah makan atau tidak itu bukan urusanku." Saga kemudian melangkah pergi.

"Jadi kamu memang lebih senang melihat aku mati perlahan-lahan." Ucapan Ivana membuat langkah Saga terhenti.

"Ada coklat di roti ini, dan kau tahu aku benci akan hal itu."

Saga benar-benar tak terima Ivana mengatakannya, ia kemudian mendorong Ivana. Menjatuhkannya di atas kasur, dan duduk di atas wanita itu bermaksud untuk menguncinya, agar ia tak kabur. Ia kemudian mengambil roti itu dan memaksa Ivana memakan roti coklat itu.

"Siapa peduli kah benci pada coklat. Kau harus makan ini, ini adalah makanan favorit Olivia."

Saga terus memaksa Ivana, ia mencoba memasukkan roti itu ke mulut Ivana. Ivana enggan membuka mulutnya, namun Saga terus memaksanya.

"Makan,"

Saga benar-benar ringan tangan, ia bahkan kini menampar Ivana karena ia tak mau membuka mulutnya. "Kau mau makan ini atau aku buka paksa mulutmu sekarang?."

"Tidak mau ya tidak mau,"

Saga tak peduli, ia terus memaksa Ivana hingga akhirnya ia memakan roti itu. "Uhuk uhuk"

Dengan tangan yang masih di borgol Ivana memegang lehernya. Rasa sakit yang ia rasakan membuat Saga benar-benar tertawa senang.

"Kenapa kau harus sejauh ini kak Saga, jika terus seperti ini aku lebih baik mati."

"Kau tak boleh mati Ivana, kau juga tak boleh bahagia. Aku benar-benar suka ini, kau benar-benar semakin cantik saat menangis seperti ini." Saga mengelus pipi Ivana. Ia menyeka air mata Ivana, namun hal itu semakin membuat Ivana ketakutan

"Kak Olive, sebenarnya pria seperti apa dia ini. Dia tampak seperti moster bagiku," ujar Ivana dalam hati yang kemudian pingsan setelahnya akibat memakan roti yang di berikan oleh Saga.

Saga tersenyum melihat Ivana, ia benar-benar gila. Ia bahkan tertawa setelah menyiksa Ivana. Ia kemudian mengambil susu yang ada di meja dan meminumnya. "Ivana, kau cantik juga ya saat tertidur." Saga mendekatkan wajahnya pada Ivana.

"Kau akan segera menjadi milikku, Ivana"

Saga menepuk pipi Ivana, ia kemudian bangun dan meninggalkan wanita itu. Pintu kamar itu kini kembali menutup.

"Hahhhhh, hahhhhh" Ivana ternyata tak benar-benar pingsan. Untung saja ia hanya makan sedikit roti itu.

"Kak Saga, orang seperti apa dirimu. Kak Olive, pacarmu bukanlah pria normal. Dia benar-benar sangat gila."

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!