Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima kasih
Kenop pintu itu berputar dengan satu putaran lambat yang terasa seperti satu abad, diakhiri dengan bunyi klik pelan yang menggema di koridor sunyi. Pintu terbuka, menampakkan Darian yang berdiri menjulang di ambang batas.
Wajahnya adalah kanvas kosong yang dipahat dari marmer, tetapi matanya berkilat dengan badai yang baru saja Queenora dengar gemuruhnya. Ia tahu Queenora telah mendengar semuanya.
Queenora tidak bisa bergerak. Kakinya seolah terpaku di lantai, dan setiap sel di tubuhnya berteriak untuk lari, tetapi tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Darian tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Ia hanya menatap Queenora, tatapannya menelanjanginya, menguliti setiap lapisan pertahanan tipis yang coba ia bangun. Keheningan itu lebih menakutkan daripada teriakan. Akhirnya, ia melangkah masuk ke koridor, gerakannya terkendali namun sarat dengan ancaman.
“Apa yang kau dengar?” tanyanya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, tetapi setiap suku katanya tajam seperti serpihan es.
Queenora menggeleng cepat, bibirnya gemetar.
“Tidak… saya tidak mendengar apa-apa, Tuan. Saya hanya kebetulan lewat.”
Sebuah dengusan sinis keluar dari bibir Darian. Ia tahu Queenora berbohong. Ia bisa melihatnya di mata gadis itu yang membelalak ketakutan.
“Satu aturan lagi untukmu, Queenora,” desisnya, melangkah lebih dekat hingga Queenora harus menempelkan punggungnya ke dinding yang dingin.
“Rumah ini punya banyak dinding. Tapi tidak satu pun dari dinding itu yang memberimu hak untuk menempelkan telingamu di sana. Kau bukan bagian dari keluarga ini. Kau adalah staf. Ingat itu.”
“Saya mengerti, Tuan. Maafkan saya.”
“Aku tidak butuh maafmu,” potongnya tajam.
“Aku butuh kepatuhanmu. Kembali ke duniamu. Kamarmu, dan kamar anak itu. Jangan pernah keluar dari batas itu lagi kecuali dipanggil. Apa kau paham?!”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan masuk kembali ke ruang kerjanya, menutup pintu dengan bunyi debam keras, meninggalkan Queenora gemetar di koridor yang terasa semakin dingin dan menyesakkan.
Vonis yang baru saja ia dengar.
"Kau penyebabnya."
Kalimat itu terus terngiang di telinganya, bukan lagi sebagai bisikan Darian untuk mendiang istrinya, melainkan sebagai cap panas yang dicapkan pria itu pada putranya sendiri. Dan entah bagaimana, Queenora merasa kebencian itu juga menetes kepadanya.
***
Dua hari berikutnya berlalu dalam kebekuan yang semakin dingin. Darian tidak lagi menampakkan diri. Queenora hanya mendengar langkah kakinya yang berat di malam hari atau melihat piring kosong di wastafel dapur saat Bi Asih membersihkannya di pagi hari.
Pria itu telah membangun benteng yang lebih tinggi, dan Queenora tidak punya keinginan sedikit pun untuk mencoba memanjatnya. Dunianya kini benar-benar hanya dua pintu di ujung koridor.
Fokusnya seratus persen tercurah pada Elios. Bayi itu adalah mataharinya di tengah musim dingin yang tak berkesudahan ini.
Siang itu, saat Queenora sedang menimang Elios yang baru saja selesai menyusu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tubuh bayi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Rengekannya pun terdengar berbeda, lebih lemah, lebih merajuk.
Queenora menempelkan punggung tangannya ke dahi Elios. Hangat. Terlalu hangat. Kepanikan dingin mulai merayap di perutnya.
“Bi Asih!” panggilnya sedikit lebih keras dari yang ia niatkan.
Tak lama, Bi Asih muncul dengan wajah bertanya. “Ada apa, Nona?”
“Bi, tolong rasakan. Tuan Muda Elios badannya panas sekali,” kata Queenora, suaranya bergetar.
Bi Asih menyentuh dahi Elios dan keningnya langsung berkerut.
“Astaga, iya. Sepertinya demam. Saya carikan termometer dulu.”
Beberapa saat kemudian, Bi Asih kembali dengan termometer digital. Angka yang muncul di layar kecil itu mengonfirmasi ketakutan mereka: 38.5 derajat Celcius.
“Kita harus panggil dokter,” kata Bi Asih panik.
“Saya akan telepon Tuan Darian.”
“Jangan!” cegah Queenora cepat. Ia teringat tatapan dingin Darian, perintahnya yang absolut. Mengganggunya karena masalah ini terasa seperti menandatangani surat pemecatan.
“Mungkin… mungkin ini hanya demam biasa. Kita bisa coba kompres dulu. Kalau dalam beberapa jam tidak turun, baru kita hubungi Tuan.”
Bi Asih tampak ragu, tetapi melihat keyakinan di mata Queenora, ia akhirnya mengangguk.
“Baiklah, Nona. Saya siapkan air hangat dan waslap.”
Malam itu menjelma menjadi medan perang sunyi bagi Queenora. Ia tidak kembali ke kamarnya sama sekali. Dengan telaten, ia menyeka dahi, leher, dan ketiak Elios dengan kain basah yang hangat. Bayi itu terus merengek gelisah, tidurnya terganggu. Setiap setengah jam, Queenora memeriksanya, memastikan ia tidak kedinginan atau kepanasan.
Di tengah malam, pintu kamar terbuka tanpa suara. Darian berdiri di sana, siluetnya kaku dalam cahaya remang dari lampu tidur. Ia pasti mendengar rengekan Elios yang tak kunjung berhenti.
“Ada apa?” tanyanya singkat, nadanya datar seperti biasa, tetapi ada secercah kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Elios... maksud saya Tu-Tuan muda Elios demam, Tuan,” jawab Queenora pelan dan terbata, tidak mengalihkan perhatiannya dari Elios.
“Suhunya sempat naik, tapi sekarang sudah mulai stabil. Saya terus mengompresnya.”
Darian melangkah mendekat, menatap putranya yang tampak rapuh di dalam boks. Wajahnya mengeras.
“Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa tidak panggil dokter?”
“Saya pikir ini masih bisa ditangani, Tuan. Saya tidak mau mengganggu Anda,” jawab Queenora jujur.
“Kalau sampai pagi tidak membaik, saya akan melapor.”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, mengamati. Queenora bisa merasakan tatapannya menusuk punggungnya, menganalisis setiap gerakannya. Ia melihat cara Queenora mengganti kompres dengan lembut, cara ia berbisik menenangkan Elios, cara ia mengusap punggung mungil itu dengan gerakan memutar yang sabar.
Darian tidak pergi. Ia menarik kursi dari sudut ruangan dan duduk di sana, dalam diam, menjadi penjaga yang canggung di kerajaannya sendiri. Dia tidak menawarkan bantuan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menonton dalam diam.
Jam demi jam berlalu. Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh napas Elios yang sedikit berat dan suara kain basah yang diperas. Darian menyaksikan dedikasi yang hening itu. Ia melihat kantung mata Queenora yang semakin menghitam. Ia melihat punggung gadis itu yang pasti sudah pegal karena terus membungkuk di atas boks bayi.
Dan di tengah keheningan malam itu, sesuatu dalam diri Darian mulai terkikis. Dinding es yang ia bangun dengan susah payah mulai retak. Ia melihat seorang ibu, bukan seorang karyawan.
Darian melihat cinta yang tulus dan tanpa pamrih, bukan sebuah fungsi yang dibayar. Ia teringat kata-katanya yang kejam di ruang kerja, kebencian yang ia tumpahkan pada bayi tak berdosa itu. Rasa bersalah yang tajam menghantamnya. Anak ini, putranya, sedang berjuang, dan satu-satunya orang yang berada di sisinya sepanjang malam adalah wanita asing yang terus-menerus ia sakiti dengan kata-kata dan sikap dinginnya.
Menjelang fajar, keajaiban kecil terjadi. Rengekan Elios berhenti. Napasnya menjadi lebih dalam dan teratur. Queenora menyentuh dahinya sekali lagi. Panasnya sudah hilang, berganti dengan kehangatan, suhunya sudah kembali normal. Ia menghela napas lega yang begitu dalam, bahunya yang tegang akhirnya merosot.
Quuenora menoleh dan terkejut mendapati Darian masih di sana, matanya yang tajam menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Iya segera menundukkan kepalanya menghindar tatapan mata dingin itu.
“Suhunya sudah turun, Tuan,” lapor Queenora, suaranya serak karena lelah.
“Dia sudah tidur nyenyak sekarang.”
Darian bangkit dari kursinya, berjalan mendekati boks. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Elios, sama seperti yang dilakukan Queenora semalaman. Ia merasakan sendiri kebenarannya. Putranya baik-baik saja.
Pria itu kemudian mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Queenora yang lelah. Keheningan membentang di antara mereka, tetapi kali ini terasa berbeda. Tidak lagi canggung atau penuh permusuhan. Ada sesuatu yang baru di udara, sesuatu yang rapuh.
“Terima kasih,” ucap Darian.
Hanya satu kata. Diucapkan dengan suara rendah dan sedikit serak. Tapi bagi Queenora, kata itu terdengar seperti ledakan kembang api di tengah keheningan. Itu adalah kata pertama yang Darian ucapkan kepadanya yang tidak mengandung perintah, hinaan, atau batasan. Itu adalah sebuah pengakuan.
Queenora hanya bisa mengangguk, terlalu terkejut untuk merespons dengan kata-kata.
Momen singkat yang hangat itu, sebuah gencatan senjata tak terduga dalam perang dingin mereka pecah seketika. Ponsel Darian yang tergeletak di meja bergetar, layarnya menyala dan memancarkan cahaya biru ke wajahnya.
Ia meliriknya sekilas, dan perubahan di wajahnya terjadi begitu cepat dan drastis. Wajahnya yang baru saja melunak kini kembali mengeras menjadi topeng es dan amarah. Di layar ponselnya, satu nama bersinar seperti tanda bahaya. Ibu Estrel.