NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Kecil yang Berarti

Sejak kejadian itu, Lestari lebih berhati-hati. Setiap kali pegang barang yang bisa pecah, dia pegang erat banget. Setiap kali jalan di lantai yang licin, dia jalan pelan banget. Setiap kali beresin ruang kerja Adriano, dia pastikan dulu Adriano lagi nggak di situ.

Takut bikin salah lagi.

Takut bikin masalah lagi.

Takut... takut dipecat.

Tapi ada yang berubah.

Adriano.

Pria itu... mulai sering memperhatikan Lestari.

Bukan perhatian yang aneh. Bukan perhatian yang bikin risih.

Tapi perhatian yang... halus.

Hari Rabu sore. Lestari lagi angkat galon air buat isi dispenser di ruang tamu. Galon nya berat banget, Lestari angkat sambil meringis, punggung nya sakit.

"Lestari."

Suara berat dari belakang.

Lestari noleh. Adriano berdiri di tangga, baru turun dari lantai dua, masih pake kemeja kerja tapi udah nggak pake dasi.

"Jangan angkat sendiri. Panggil Pak Budi."

"Eh... t-tapi Pak Budi lagi ke luar beli kebutuhan dapur, tuan..."

"Kalau dia nggak ada, panggil sopir. Kalau sopir juga nggak ada, tunggu sampe ada yang bisa bantu. Jangan angkat sendiri."

"Tapi... tapi ini cuma galon, tuan. Saya bisa kok..."

Adriano turun tangga, jalan deket. Ambil galon dari tangan Lestari, angkat sendiri, pasang ke dispenser. Gampang banget buat dia. Nggak pake effort.

"Kamu masih pulih dari luka kemarin. Jangan maksain."

Lestari diem. Ngeliat perban di telapak tangan nya, sekarang udah mulai kotor, tapi dia belum ganti karena... karena sayang. Perban yang dipasang Adriano.

"Terima kasih, tuan..."

Adriano nggak jawab. Jalan lagi. Masuk ke ruang kerja.

Lestari berdiri di ruang tamu, masih bingung.

Kenapa... kenapa dia ngelakuin itu?

Kenapa dia peduli?

Mbak Endah lewat, bawa nampan teh. Ngeliat Lestari masih bengong. "Kenapa? Kaget dibantu Tuan Adriano?"

"Iya, Mbak... aku... aku nggak nyangka..."

Mbak Endah senyum. "Tuan Adriano itu sebenernya baik. Cuma dia nggak bisa nunjukin dengan kata-kata. Dia nunjukin dengan perbuatan. Makanya pelayan-pelayan di sini betah kerja sama dia. Dia nggak pernah marah-marah tanpa alasan. Dia nggak pernah ngerendahin orang. Dia... dia cuma dingin karena dia nggak tau gimana cara deket sama orang."

Lestari manggut-manggut pelan.

Dia mulai ngerti.

Adriano itu... bukan pria yang jahat.

Dia cuma... nggak tau cara nunjukin perasaan nya.

Kayak es batu yang keras di luar. Tapi kalau dicairkan... ada air yang lembut di dalem.

 

Jumat pagi.

Jam tujuh.

Keluarga Nattakusuma lagi sarapan bareng di ruang makan.

Nyonya Vanesa duduk di ujung meja, makan roti gandum sama telur rebus, baca koran ekonomi. Adriano duduk di samping kanan nya, makan nasi goreng buatan Mbak Endah sambil buka laptop, liat email kantor.

Lestari lagi di dapur, bantu Mbak Endah beresin piring-piring kotor.

Adriano nengok ke arah dapur. "Lestari."

Lestari kaget. Keluar dari dapur. "I-iya, tuan?"

"Kamu udah sarapan?"

"Sudah, tuan. Saya sarapan dari rumah..."

Bohong.

Lestari belum sarapan. Dari rumah dia cuma minum air putih. Nggak ada beras di kontrakan. Kemarin beras habis, uang nya belum cukup buat beli beras lagi. Gaji baru turun tanggal lima, masih sepuluh hari lagi.

Tapi dia nggak mau ngaku. Malu.

Adriano natap Lestari beberapa detik. Mata nya... mata nya kayak tau Lestari bohong.

"Duduk. Sarapan di sini."

"Eh? T-tapi tuan, saya sudah..."

"Duduk."

Nada nya nggak marah. Tapi firm. Nggak bisa dibantah.

Lestari menelan ludah. Duduk di kursi paling ujung, jauh dari Adriano sama Nyonya Vanesa.

Mbak Endah langsung ambil piring, taro nasi goreng, telur mata sapi, sama kerupuk. Taro di depan Lestari.

Lestari liat piring itu. Perut nya langsung bunyi. Krucuk krucuk. Keras.

Malu banget.

Nyonya Vanesa ngeliat Lestari sekilas dari balik koran. Turunin koran nya. "Anggap aja keluarga."

Suara nya dingin. Tapi... nggak ada nada ngeledek. Nggak ada nada sinis.

Cuma... dingin.

Lestari nunduk. "Terima kasih, nyonya..."

Mulai makan. Pelan. Hati-hati. Takut bikin suara berisik.

Tapi di dalam hati... hati Lestari penuh banget.

Penuh rasa syukur.

Ini pertama kali nya... pertama kali nya dia makan bareng orang yang nggak ngehina dia. Orang yang nggak bilang "kamu nggak usah makan banyak-banyak" kayak Wulandari.

Orang yang... Menganggap dia kayak manusia.

Lestari menggigit bibir bawah. Mata nya panas. Hampir nangis.

Tapi dia tahan. Nggak boleh nangis di sini. Nanti dikira aneh.

Tiba-tiba pintu depan kebuka keras. BRAK.

"PAGIIII KELUARGAKUUUU!"

Suara ceria, kenceng, nyaring.

Masuk cowok muda, umur dua puluh tujuh tahun, tinggi, kurus, rambut nya gondrong sampe bahu, pake kaos gambar anime, celana training, sendal jepit. Muka nya... muka nya mirip Adriano, tapi lebih cerah. Lebih hidup.

Dewangga Nattakusuma. Adik Adriano.

Dewangga langsung loncat duduk di kursi samping Adriano, ambil roti dari piring Adriano, gigit.

"Pagi, Bang. Muka lo kusut amat kayak rambut Oma." Dewangga ketawa sendiri. "Gue tau kok. Real Madrid tadi malem kena bantai Barcelona tiga dua. Rafinha bos cetak dua gol. Apes lu, Bang."

Adriano ngeliat Dewangga dengan tatapan datar. "Yaelah, tim ampas. Kalo masih ada Ronaldo beda cerita tuh. Sayang nya udah pindah."

"Ronaldo?" Dewangga ngakak. "Pemain beban! Bagus Messi lah kalo masih ada bisa sepuluh kosong."

Adriano naikin alis. "Apa lo? Jelek-jelekin idola gue? Mau berantem? Sini lo, adik durjana."

"Messi legend, Bang. Ronaldo mah... ah udahlah, lo nggak ngerti sepak bola."

"Gue nggak ngerti? LO yang nggak ngerti! Ronaldo itu raja udara, raja tendangan bebas, raja..."

"Raja apa? Raja diving?"

"Eh, jaga omongan lo!"

Dewangga ketawa lagi. Ambil pisang dari piring buah di meja. Kupas. Makan pisang nya. Kulit pisang nya... dilempar ke Adriano.

Kena muka Adriano.

Hening sebentar.

Adriano pegang kulit pisang di muka nya. Turunin pelan.

Natap Dewangga dengan tatapan... tatapan yang nggak bisa dibaca.

"Lo... lo baru aja lempar kulit pisang ke muka gue?"

Dewangga nyengir. "Iya. Kenapa?"

Adriano ambil kulit pisang dari piring nya sendiri. Lempar balik ke Dewangga.

Kena jidat Dewangga.

"ASUUU!" Dewangga ambil kulit pisang lagi. Lempar.

Adriano menghindar. Kulit pisang kena laptop. "Eh, laptop gue!"

"Bodo amat!"

Mereka berdua berdiri. Lempar-lemparan kulit pisang kayak anak kecil. Dewangga ketawa-ketawa. Adriano... Adriano juga senyum dikit. Senyum tipis yang jarang banget muncul.

Lestari ngeliat dari kursi nya. Mulut nya setengah terbuka. Bingung. Ini... ini keluarga kaya kok kayak gini?

Mbak Endah bisik dari belakang. "Biasa. Mereka emang kayak gitu. Berantem tapi bukan berantem beneran. Cuma... main-main aja."

Nyonya Vanesa ngangkat tangan. "CUKUP."

Suara nya keras. Tegas.

Adriano sama Dewangga langsung diem. Masih pegang kulit pisang di tangan.

"Kalian berdua itu sudah dewasa. Tapi kelakuan masih kayak anak SD. Berantakin meja makan. Malu saya punya anak kayak kalian."

Tapi... Nyonya Vanesa senyum tipis.

Senyum yang... hangat.

Adriano duduk lagi. Beresin laptop nya. Dewangga duduk, nyengir lebar.

"Maaf, Mah. Tapi ini salah Bang Adriano duluan. Dia yang mulai ngomongin Ronaldo."

"Kamu yang mulai ngomongin Madrid kalah."

"Karena Madrid emang kalah."

"Tapi kamu yang..."

"CUKUP." Nyonya Vanesa berdiri. "Saya mau ke salon. Kalian beresin sendiri meja nya." Terus jalan keluar.

Adriano sama Dewangga saling pandang.

Terus ketawa bareng.

Dewangga bangun, tepuk pundak Adriano. "Udah, Bang. Gue ke kampus dulu. Nanti malem kita lanjut debat lagi ya. Gue bawa bukti statistik Messi lebih hebat dari Ronaldo."

"Bawa aja. Gue udah siapin data Ronaldo lebih konsisten."

Dewangga ketawa lagi. Terus noleh ke Lestari. "Eh, kamu siapa?"

Lestari kaget. Langsung berdiri. "S-saya Lestari, tuan. Asisten rumah tangga baru..."

"Oh. Salam kenal. Gue Dewangga. Panggil aja Dewa. Nggak usah terlalu formal. Gue nggak suka dipanggil tuan-tuan. Berasa tua." Dewangga mengulurkan tangan.

Lestari salaman. Tangan Dewangga... hangat. Genggaman nya lembut.

"Eh, kamu udah makan? Makan yang banyak ya. Jangan malu-malu. Di rumah ini nggak ada yang pelit soal makanan kok." Dewangga senyum lebar. Senyum yang... tulus.

Lestari ngangguk. "Terima kasih, tuan... eh, Dewa..."

"Nah gitu dong. Oke, gue cabut. Dadah!" Dewangga melambaikan tangan, terus lari keluar.

Tinggal Adriano sama Lestari di ruang makan.

Hening.

Adriano ngeliat Lestari. "Lanjutin sarapan."

"Baik, tuan..."

Tapi Lestari nggak lanjut makan. Dia masih bengong.

Keluarga ini... beda banget.

Mereka kaya. Mereka punya rumah gede. Mereka punya harta banyak.

Tapi mereka... nggak kayak keluarga kaya yang sombong di sinetron-sinetron.

Mereka... normal.

Mereka berantem kayak kakak adik biasa. Mereka ketawa bareng. Mereka... mereka kayak keluarga beneran.

Lestari ngerasa... ngerasa iri.

Iri yang nggak jahat.

Cuma... iri pengen punya keluarga kayak gini.

Keluarga yang hangat.

Keluarga yang nggak mukul.

Keluarga yang nggak hina.

Keluarga yang... yang sayang.

 

Sore itu. Jam setengah lima.

Lestari udah selesai kerja. Beresin tas nya, pamit sama Mbak Endah.

"Mbak, aku pulang duluan ya."

"Iya, hati-hati di jalan."

Lestari keluar rumah. Jalan ke gerbang.

Tapi pas sampe gerbang, hujan turun.

Deras banget.

Lestari berdiri di bawah atap gerbang, ngeliat hujan yang deres kayak air terjun.

"Aduh... hujan..."

Dia nggak bawa payung. Payung nya rusak kemarin, belum sempet beli yang baru.

"Gimana nih... kalo kehujanan nanti sakit... nanti nggak bisa kerja... nanti..."

"Kamu naik apa pulang?"

Lestari noleh. Adriano berdiri di belakang nya, pake jas hitam, bawa kunci mobil.

"N-naik angkot, tuan..."

Adriano ngeliat hujan. Ngeliat Lestari. "Naik mobil saja. Saya antar."

Lestari melongo. "Eh... tidak usah, tuan! Saya bisa naik angkot, nggak apa-apa kehujanan sedikit..."

"Masuk mobil. Hujan deras."

Nada nya... nada yang nggak bisa dibantah.

Lestari bingung. Mau nolak, tapi... tapi Adriano udah jalan duluan ke mobil nya. Mobil hitam yang kemarin.

Adriano buka pintu. Nunggu.

Lestari menelan ludah. Jalan pelan ke mobil. Masuk.

Pintu ditutup.

Adriano masuk dari pintu sebelah. Nyalain mesin. Mobil jalan keluar gerbang.

Di dalam mobil... hening.

Cuma suara hujan di luar. Suara wiper yang nyala bolak-balik.

Lestari duduk kaku. Tangan nya mengepal di pangkuan. Jantung nya berdebar cepet.

Ini pertama kali nya... pertama kali nya dia naik mobil mewah. Naik mobil sama pria yang bukan Dyon.

Adriano fokus nyetir. Nggak ngomong apa-apa.

Beberapa menit.

Terus Adriano buka suara. "Gimana Antoni?"

Lestari kaget. Noleh cepet. "Eh... tuan tau Antoni...?"

Adriano nggak ngeliat Lestari. Mata nya tetep di jalan. "Iya. Anak kamu. Gimana kabar nya?"

"D-dia... dia sehat, tuan... dia... dia sekarang lebih ceria... lebih sering senyum..."

Adriano ngangguk pelan.

Hening lagi.

Lestari bingung. Kok... kok Adriano tau Antoni? Emang mereka pernah ketemu?

Terus Lestari inget.

Inget... tujuh tahun lalu.

Waktu dia mau lahiran. Kontraksi nya parah. Bu Ratih bantuin dia. Terus ada mobil mewah yang berhenti. Ada pria yang nolongin bawa dia ke rumah sakit.

Pria itu... pria itu Adriano?

Lestari ngeliat Adriano dari samping. Liat wajah nya.

Rahang tegas. Hidung mancung. Alis tebal.

Iya.

Iya, dia.

Dia pria yang waktu itu nolongin Lestari.

Pria yang bayarin biaya lahiran.

Pria yang... yang sempet dipukul Dyon.

"Tuan... tuan itu... tuan yang dulu nolongin saya waktu mau lahiran... kan?"

Adriano diem sebentar.

Terus... ngangguk.

"Iya."

Lestari ngerasa sesak. "Kenapa... kenapa tuan nggak bilang dari awal...?"

"Nggak ada waktu yang tepat."

Lestari nunduk. Matanya panas. "Maaf... maaf waktu itu suami saya mukul tuan... dia... dia salah paham... dia pikir tuan... pikir tuan orang jahat... padahal tuan udah nolongin saya... maaf... maaf banget..."

"Sudah lama. Nggak usah diinget."

Hening lagi.

Adriano ngelanjutin. "Suamimu?"

Lestari kaku.

Suami.

Dyon.

Luka lama yang mulai sembuh... tiba-tiba robek lagi.

"Sudah tidak bersama lagi, tuan."

Suara Lestari pelan. Gemetar.

Adriano melirik sekilas. Liat mata Lestari yang berkaca-kaca.

Dia nggak nanya lebih jauh.

Dia tau... dia tau itu topik yang sensitif.

Mobil berhenti di depan gang kontrakan Lestari.

"Sudah sampai."

Lestari ngelap mata nya cepet. "Terima kasih, tuan... terima kasih banyak..."

Lestari buka pintu. Mau turun.

Tapi Adriano nahan. "Lestari."

Lestari noleh.

"Kalau ada masalah... bilang saja."

Lestari bingung. "Masalah apa, tuan?"

"Masalah apapun. Kalau kamu butuh bantuan... jangan ragu bilang."

Lestari diem.

Ngeliat mata Adriano.

Mata yang... mata yang penuh perhatian.

Mata yang nggak pernah dia liat dari Dyon.

Lestari tersenyum tipis. Senyum yang getir. "Terima kasih, tuan. Tapi... saya nggak mau merepotkan tuan..."

"Bukan merepotkan. Kamu... kamu pernah lewatin hal berat. Aku tau."

Lestari ngerasa pengen nangis.

Pengen nangis karena... karena ada orang yang ngerti.

Ada orang yang peduli.

Tanpa dia cerita apapun.

"Terima kasih, tuan... terima kasih..."

Lestari turun dari mobil. Tutup pintu. Lari masuk gang, kehujanan dikit.

Adriano ngeliat Lestari sampe dia masuk ke kontrakan.

Terus mobil nya jalan lagi.

Di dalam mobil, Adriano ngeluarin napas panjang.

Dia inget.

Inget tujuh tahun lalu.

Waktu dia lagi nyetir pulang dari kantor. Lewat daerah kumuh. Liat perempuan hamil yang lagi kesakitan, ditemenin ibu-ibu tua, nggak ada yang nolongin.

Adriano berhenti. Bantuin. Bawa ke rumah sakit.

Waktu itu... waktu itu Adriano baru jadi CEO. Umur nya dua puluh tiga. Masih muda. Masih... masih punya empati yang belum hilang karena dunia bisnis.

Dia bantuin perempuan itu. Bayarin semua biaya. Isi data-data penting karena suami nya nggak ada.

Terus... terus datang laki-laki mabuk. Mukul Adriano. Teriak-teriak bilang Adriano selingkuhan istri nya.

Adriano nggak lawan. Dia tau laki-laki itu lagi emosi.

Tapi... tapi Adriano liat mata perempuan itu.

Mata yang takut.

Mata yang... hopeless.

Adriano tau... dia tau perempuan itu nggak bahagia.

Dan sekarang... sekarang dia ketemu lagi sama perempuan itu.

Lestari.

Perempuan yang... yang sekarang kerja di rumah nya.

Perempuan yang udah nggak sama suami nya lagi.

Perempuan yang... yang masih punya luka yang belum sembuh.

Adriano ngeluarin napas lagi.

"Kenapa... kenapa gue peduli...?"

Dia nggak tau.

Mungkin karena dia masih inget gimana mata Lestari tujuh tahun lalu.

Atau mungkin... mungkin karena ada sesuatu di Lestari yang ngingetin dia sama seseorang.

Seseorang yang... yang udah nggak ada lagi.

Adriano gelengkan kepala.

Fokus nyetir.

Tapi pikiran nya... tetep ke Lestari.

 

Lestari masuk kontrakan. Basah kehujanan dikit. Baju nya basah di bagian bahu.

Antoni lagi duduk di lantai, main mobil-mobilan dari kardus bekas.

"IBU!" Antoni lari, peluk kaki Lestari. "Ibu basah! Ibu kehujanan?"

"Iya, Nak. Cuma dikit kok." Lestari ngangkat Antoni. Peluk erat.

"Ibu kenapa? Ibu nangis?"

Lestari kaget. Ngelap mata nya. "Nggak kok, Nak. Ibu cuma... cuma kena air hujan di muka..."

Antoni ngelap pipi Lestari pake tangan nya. "Udah, jangan nangis. Antoni sayang Ibu."

Lestari peluk Antoni lebih erat. Nangis beneran sekarang.

Nangis karena lega.

Nangis karena syukur.

Nangis karena... karena dia sadar.

Hidupnya sekarang jauh lebih baik dari dulu.

Dia punya kerjaan.

Dia punya tempat tinggal yang aman.

Dia punya Antoni yang sehat.

Dan sekarang... sekarang ada seseorang yang peduli sama dia.

Seseorang yang... yang mungkin bisa jadi temen.

Atau... atau mungkin lebih.

Tapi Lestari langsung gelengkan kepala.

"Nggak. Jangan mikir aneh-aneh. Dia majikan. Aku cuma pembantu. Dia orang kaya. Aku orang miskin. Dia punya masa lalu yang rumit. Aku... aku punya luka yang belum sembuh. Nggak mungkin..."

Tapi... tetep aja.

Tetep aja ada sesuatu di dada nya yang... hangat.

Hangat tiap inget wajah Adriano.

Hangat tiap inget suara nya yang bilang "kalau ada masalah, bilang saja."

Lestari nggak tau apa artinya perasaan ini.

Yang dia tau cuma satu.

Untuk pertama kali dalam hidup nya...

Dia ngerasa... ngerasa nggak sendirian.

 

1
checangel_
Akhirnya, setelah sekian gerhana 🤧, kan enak lihatnya 🤝
checangel_: Iya, saking actionnya, dramanya samar tergoreskan 🤧
total 2 replies
checangel_
Ada kalanya bercanda itu harus dalam setiap keseriusan, Adriano 🤧, walaupun ujung²nya memang serius dan serius banget/Facepalm/
checangel_
Logatnya jadi Sunda an 🤧
checangel_: /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Jangan bilang begitu, 'asal jalanin saja dulu' No .... lebih baik 'pikirkan saja dulu dan istikharahlah dulu' agar kata 'Menyesal' tak menggema 😇
checangel_
Yang bener, hanya peduli sama Lestari?, coba pikirkan berulang kali lagi/Facepalm/
checangel_: Yang pasti sulit ditanyakan 🤣
total 2 replies
checangel_
Berasa lagi nonton teater genre action romance🤣, kenapa saat kejadian tegang seperti itu, ada aja kalimat yang nyempil 'nggak bisa hidup tanpamu'/Facepalm/
checangel_: /Shhh//Silent/
total 2 replies
checangel_
Iya Adriano, Lestarinya 'always waiting for you'😇
checangel_
Lah, beneran di stalking 🤭/Facepalm/
checangel_
Saat firasat seorang wanita melampaui batas kepercayaan orang lain 🤭/Facepalm/
checangel_
Wah, Dante ternyata .... topeng yang bersembunyi 🤧
checangel_: Iya, mana kalau di inget lucu lagi 🤭
total 8 replies
checangel_
Ingat! Cinta itu berbagai macam rupa, selaraskan dulu yuk perasaan dan logikamu Lestari agar seimbang, jalur langit 😇
checangel_
Cieee ngajak jalan², Lestari jangan jatuh hati ya, takutnya kamu nggak bisa move on dari Adriano 🤭
Leoruna: dan jangan terlalu percaya dengan perlakuan yg baik di awal 🤭
total 1 replies
checangel_
Bisa-bisanya Antoni dengerin Omnya curhat, masalah percintaan lagi 🤣
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Leoruna: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Leoruna: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Leoruna: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!