"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31. Aksara tak terkendali
Semua orang tegang dan terkejut, melihat kolonyowo ambruk dengan lidah terpotong dan dada kiri yang terkoyak lebar.
Nadira berdiri dengan mata birunya yang menyala terang. pedang naga berlumuran dengan darah hitam.
ternyata, sebelum Lidah kolonyowo mencapai ubun-ubun Elsa, Nadira berhasil memotong Lidah panjang itu sekaligus menyabet dada kirinya.
"Musnahlah kau Kolonyowo!" Nadira mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk memecahkan batu merah yang menjadi inti kehidupan kolonyowo
"Tidaaak Askaraa!!!!" teriak kolonyowo memanggil Aksara untuk menolongnya.
Namun sayang, Aksara sudah terikat dengan rantai pengikat Jiwa kiyai Syafiq.
Kiyai Syafiq telah mengumpulkan tenaganya untuk mengikat Aksara, agar Kolonyowo mudah di tumbangkan
"Bagaimana? siapa yang mau menolong mu sekarang?" tanya Nadira tajam
"kau akan menyesal Nadira! Kau akan menyesal!" teriak kolonyowo
"Aku mengutukmu dan seluruh keturunan mu!! Anakmu akan bersifat seperti iblis kejam yang akan membuatmu sengsara hingga akhir hidupmu!"
Jleebbb
Aaagghhhhh
Bughh bughhh pyaarrrr
Nadira menusuk dan memecahkan batu merah. Seketika itu Tubuh Kolonyowo hancur menjadi abu.
Brughh
"kak Nadira! kamu nggak papa?" tanya Rehan cemas
"Apakah, apakah kutukan iblis tadi akan menjadi kenyataan Re?" tanya Nadira lirih
"jangan pikirkan itu kak. Yang penting kita sudah menang" ucap Rehan sambil tersenyum
"tapi, Kolonyowo mengutuk-"
"sudah, jangan hiraukan nak. Dia hanya seorang iblis. serahkan semua pada Allah" ucap kiyai Syafiq
"lepaskan aku!!!! Aaagghhh lepaskan!!" teriak Aksara yang memberontak untuk dilepaskan
"ya Allah anakku!!" Bu Mutia menghampiri Aksara berniat ingin memeluknya.
Namun, ketika ia mendekat, justru rasa sakit yang ia dapatkan.
Duaakkkhh
"Aksara!!" Mereka semua terkejut melihat bu Mutia terpelanting akibat tendangan dari Aksara
"Bu, ibu nggak papa?" tanya pak rusdi sambil mambantu sang isteri bangun
"Askara! Itu Ibu kamu!" ucap Rehan geram
"Lepaskan aku!!!" Aksara masih berusaha untuk melepaskan diri
"Ki, bagaimana caranya agar Aksara kembali seperti semula?" tanya Nadira kepada Ki Satya
"Tidak ada" ucapan Ki Satya membuat mereka terkejut. terlebih Bu Mutia dan pak Rusdi yang sangat terpukul karena keadaan sang putra.
"Katakan sejujurnya, bagaimana kalian bisa bersekutu dengan kolonyowo?!" Nadira dan Rehan serta Elsa yang baru saja sadar langsung terkejut mendengar perkataan Ki Satya
"bersekutu dengan kolonyowo?" Gumam Nadira
"sebenarnya... Aksara tidak ada sangkut pautnya dengan Kolonyowo. Tetapi iblis itu sendiri yang mengklaim Aksara anaknya karena..." ucapan pak Rusdi terhenti
"Karena, Mutia sendiri hampir kehilangan nyawanya saat hamil Aksara di usia tujuh bulan" Lanjut pak Rusdi
"Memangnya apa yang terjadi dengan Bu Mutia?" tanya Rehan
"Karena dia... pernah ditandai sebagai tumbal untuk Kolonyowo oleh Juragan Sapto" ucap Pak Rusdi menatap Nadira
"Astaghfirullah ya Allah!" Nadira merasa sangat bersalah karena banyak sekali korban yang di akibatkan oleh sang kakek.
"tapi, bukankah tumbal untuk Kolonyowo itu harus gadis yang masih suci? kan Bu Mutia udah nikah" ucap Elsa
"Mutia ditandai waktu masih remaja. Dan saat itu orang tua Mutia menyadari dan menikahkan kami agar dia tidak jadi korban"
"Lalu, saat kami sudah menikah, kami sering diteror. Hingga pada saat Mutia hamil tujuh bulan, Kolonyowo datang bersama juragan Sapto untuk mengambil bayi kami"
"Saat itu, pikiranku buntu. Mutia mengalami kontraksi dini hingga hampir kehabisan nafas. Akhirnya aku mengajukan tawaran agar Aksara dia ambil pada umur 20 tahun. Tetapi, beruntung kiyai Syafiq berhasil menyegel Kolonyowo hingga kamu merasa lega karena Aksara tidak jadi di ambilnya"
"Tanpa kami sadari, jika saat ini. justru lebih rumit, Kolonyowo menjadikan putra kami bagian darinya. seorang iblis!" pak Rusdi dan Bu Mutia menangis
Nadira dan Elsa serta Bu Tuti juga ikut menangis mendengar cerita Rusdi. Orang tua mana yang tak sedih, jika anak yang mereka besarkan, justru menjadi iblis sekarang ini.
"Ki, tidak mungkin tidak ada penawarnya untuk Aksara?" tanya Nadira
"untuk sementara, kita ikat saja dulu seperti ini sambil mencari tahu penawarnya" Ucap Ki Satya
"Tidak bisa Satya! Jika terlalu lama, maka dia bisa melepaskan diri dan akan lebih parah. Dia akan menghacurkan apapun yang ia lihat" ucap kiyai Syafiq
"lalu bagaimana ini? Anakku!" bu Mutia terisak pilu meratapi nasib sang putra
"Assalamualaikum!"
Mereka menoleh ke arah orang yang mengucapkan salam barusan
"Ayaahh, bunda , kakak!!" Nadira berlari menghampiri keluarganya
"Bunda nggakpapa? maafin Nadira yang nggak tahu kondisi bunda" Nadira menangis di pelukan sang ibu
"husstt jangan nangis sayang, bunda nggak papa. Untung ada simbok Minah yang nyelamatin bunda" ucap bunda Liana yang membuat mereka terkejut
"simbok Minah?" tanya Nadira
"bukannya simbok udah meninggal?" tanya Nadira
"Simbok Masih hidup kok nduk" Nadira menoleh ke belakang dan mendapati wanita tua itu tersenyum lembut ke arahnya
"simbok!" Nadira memeluk simbok erat
"ini beneran simbok! Bukan simbok yang menjelma jadi hantu kering" ucap Elsa
"Iya, simbok cuman mengelabui Si Tua ini" ucap simbok menunjuk Saruji yang ia ikat dengan tali
"ini paklek Saruji mau di apain jadinya?" tanya Rehan
"Dia sebentar lagi m*ti kok" ucap simbok Minah santai
"lalu, Aksara mau kita bawa kemana Abi?" tanya Nadira menatap kiyai Syafiq
"Abi mau coba meruqyahnya dulu. Jika tidak berhasil maka terpaksa kita asingkan dahulu di gunung Kawi" ucap kiyai Syafiq
"Saya sendiri akan mencari penawarnya dulu. semoga masih bisa" ucap Ki satya
"saya mohon kiyai, Aki tolong sembuhkan putra saya. Hanya dia anak kami satu-satunya" Bu Mutia memohon
"insya Allah, do'akan yang terbaik ya Bu. do'a seorang ibu adalah senjata paling kuat" ucap kiyai Syafiq
"Kalian akan menyesal karena memperlakukan ku seperti ini!" teriak Aksara
"Aaagghhh!!!"
"Astaghfirullah!" kiyai Syafiq terkejut
"ada apa?" tanya Ki Satya
"Lihatlah rantainya!" Tunjuk kiyai Syafiq
"rantainya hampir putus?!" mereka semua terkejut
"Tidak mungkin! Ayo kita salurkan tenaga dalam untuk memperkuat rantai itu!" Kiyai Syafiq dan Ki Satya maju dan mengulurkan tangan ke arah rantai yang mengikat Aksara.
Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa Rantai pengikat Jiwa bisa hampir putus. padahal itu adalah hal mustahil karena sejak dulu, rantai ini yang digunakan untuk membelanggu para iblis.
"Aaagghhhhh!!"
Duaarrr duaarrr
"Uhukkk uhuukkkk!!" kiyai Syafiq dan Ki Satya Terlempar jauh ketika Aksara mengerahkan tenaganya untuk memutus rantai.
"Abii!! Ki Satya!!" Nadira dan Rehan serta Elsa berlari ingin menolong keduanya. namun, dicegat oleh Aksara dengan mata merah menyala
"Kalian akan ku hancurkan!" Ucap Aksara menyeringai
"Aksara sadarlah! Jangan mau di kawal dengan iblis!" ucap Rehan
"Aksara kami teman-teman mu! ingatlah kita berjuang di pondok pesantren dan di gunung Kawi sama-sama" Ucap Elsa
Nadira masih terdiam menatap sendu ke arah laki-laki yang pernah mengatakan cinta kepadanya.
"Aksara, ingatlah bahwa kau pernah berjanji untuk selalu bersama ku. Mendampingi ku!" ucap Nadira Sedih
"Ingatlah jika kau pernah mengatakan akan selalu melindungi ku!" teriak Nadira
"Grrrhhhh" Aksara menggeram dan langsung menyerang mereka bertiga
"Aksara tidak bisa mengendalikan dirinya lagi!" ucap Rehan
"Kita harus melumpuhkannya!" ucap Elsa
Syuutt syuuttt
Jleebb
Aksara terkena anak panah yang di luncurkan oleh Zayyan. Namun, anak panah itu seperti tidak mempan di tubuhnya
"beraninya kau!!" Aksara geram dan langsung melompat ke arah Zayyan yang belum siap menghindar
"Kakak Awasss!!!" teriak Nadira
Crassshhhh
Jleebb aaghhhh