Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Mengikuti
Carmela terbangun sebelum matahari terbit.
Bukan karena suara, melainkan karena perasaan—seolah ada sesuatu yang memperhatikannya bahkan saat ia tidur. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk pagi yang seharusnya tenang.
Langit di balik jendela masih kelabu. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin dari ventilasi tersembunyi. Kamar itu tetap rapi seperti semalam, tidak berubah, tidak bernapas.
Ia duduk di ranjang, memeluk lututnya.
Ini nyata, batinnya. Aku benar-benar di sini.
Beberapa jam kemudian, Maria datang membawa sarapan. Nampan perak, makanan yang terlalu mewah untuk selera Carmela—roti lembut, buah segar, kopi panas.
“Kau tidak harus menghabiskannya,” kata Maria lembut, memperhatikan wajah pucat Carmela. “Tapi kau harus makan.”
Carmela mengangguk, meski perutnya terasa mengeras.
“Apakah… Tuan Matteo sudah bangun?” tanyanya ragu.
“Beliau hampir tidak tidur,” jawab Maria pelan. “Biasanya seperti itu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang membuat Carmela terdiam. Hidup Matteo bukan kehidupan normal. Ia mulai menyadari itu bukan sekadar dari kemewahan, melainkan dari ketegangan yang seolah mengendap di udara rumah ini.
Setelah sarapan, Carmela mencoba berjalan-jalan di koridor. Rumah itu terlalu besar, terlalu sunyi. Setiap lorong seperti menyimpan rahasia. Beberapa pintu tertutup rapat. Ada ruangan yang dijaga oleh pria-pria bersenjata—sesuatu yang membuat langkah Carmela terhenti setiap kali ia melihat kilatan logam di pinggang mereka.
Ia cepat-cepat menunduk dan berlalu.
Di taman belakang, Carmela akhirnya menemukan sedikit udara. Pohon-pohon rapi, kolam kecil dengan air yang tenang, dan bangku batu di bawah naungan daun lebat. Ia duduk di sana, mencoba bernapas.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
“Jangan duduk terlalu lama di luar sendirian.”
Suara itu datang dari belakang. Dalam. Dingin.
Carmela menoleh.
Matteo berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan jas gelap meski hari belum sepenuhnya terang. Wajahnya serius seperti biasa, rahangnya tegang.
“Kenapa?” tanya Carmela jujur.
Matteo menatap sekeliling taman sebelum menjawab. “Karena ada orang yang akan melihatmu bukan sebagai istriku—melainkan sebagai celah.”
Kata itu membuat Carmela bergidik. “Celah untuk apa?”
“Untuk melukaiku.”
Ia menatap Matteo dengan mata melebar. “Aku tidak ingin menjadi alasan orang lain terluka.”
Matteo mendekat satu langkah. “Di dunia ini, kau tidak perlu ingin apa pun untuk menjadi alasan.”
Ia berhenti tepat di depannya, cukup dekat hingga Carmela bisa mencium aroma maskulin yang bersih—tajam, dingin.
“Kau harus mulai memahami,” lanjut Matteo dengan suara rendah, “bahwa keberadaanmu di sini sudah menjadi pesan.”
“Pesan bagi siapa?”
“Bagi musuh-musuhku.”
Carmela menelan ludah. “Dan pesan itu adalah…?”
Matteo menatapnya tajam. “Bahwa aku punya sesuatu yang bisa mereka sentuh.”
Kalimat itu jatuh berat. Terlalu jujur. Terlalu telanjang.
Carmela berdiri. “Kalau begitu aku tidak ingin berada di sini.”
“Keinginanmu tidak mengubah fakta,” jawab Matteo tanpa emosi. “Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”
Nada suaranya bukan janji romantis. Itu pernyataan kekuasaan.
—
Hari itu, rumah mulai terasa lebih hidup—dan lebih berbahaya.
Beberapa pria keluar-masuk dengan wajah serius. Percakapan dilakukan dengan suara rendah. Telepon berdering berkali-kali. Matteo menghilang selama berjam-jam ke ruang kerjanya.
Carmela memperhatikan dari kejauhan, merasa seperti benda rapuh di tengah medan perang yang belum ia pahami.
Sore menjelang malam ketika suara tembakan terdengar.
Tidak dekat. Tetapi cukup jelas.
Carmela membeku di tempatnya.
Teriakan terdengar dari lantai bawah. Langkah kaki cepat. Pintu ditutup keras. Maria berlari ke arahnya dan menggenggam lengannya.
“Masuk kamar. Sekarang.”
“Apa yang terjadi?” tanya Carmela panik.
“Jangan tanya. Ikuti aku.”
Mereka baru beberapa langkah menaiki tangga ketika Matteo muncul. Wajahnya keras, matanya dingin seperti baja.
“Kunci kamar,” perintahnya singkat. “Jangan keluar apa pun yang kau dengar.”
“Ada apa?” Carmela menatapnya dengan mata gemetar.
Matteo berhenti sejenak. Pandangan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Carmela melihat sesuatu selain kendali di wajah pria itu—amarah yang ditahan.
“Peringatan,” katanya. “Dan mereka meleset.”
Ia menoleh pada Maria. “Pastikan dia aman.”
Lalu ia pergi, langkahnya cepat, bahunya tegang.
Carmela berdiri terpaku. Baru sekarang ia benar-benar mengerti: ancaman yang dibicarakan Matteo bukan kiasan.
Itu nyata. Berdarah. Dan dekat.
—
Malam itu, Carmela tidak bisa tidur.
Ia duduk di lantai kamar, bersandar pada ranjang, mendengarkan suara langkah penjagaan di luar. Setiap bunyi kecil membuat tubuhnya menegang.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Carmela tersentak. “Siapa?”
“Aku.”
Matteo.
Ia membuka pintu perlahan.
Matteo masuk tanpa banyak bicara. Jaketnya dilepas, kemejanya sedikit kusut. Ada goresan kecil di tangan kirinya.
“Kau terluka,” ucap Carmela refleks.
“Tidak signifikan.”
Ia berdiri di tengah kamar, tampak seperti singa yang baru kembali dari pertempuran.
“Maaf,” katanya tiba-tiba.
Kata itu membuat Carmela terkejut. “Untuk apa?”
“Untuk ketakutan hari ini.”
Carmela menatapnya lama. “Kau tidak menciptakan dunia ini sendirian.”
Matteo mendengus pelan. “Tapi aku membiarkanmu masuk ke dalamnya.”
Keheningan membentang.
“Apa mereka akan kembali?” tanya Carmela.
“Selalu,” jawab Matteo jujur. “Tapi tidak malam ini.”
Ia menatap Carmela, lalu berkata dengan suara lebih rendah, “Mulai besok, kau akan selalu ditemani. Jangan pernah berjalan sendiri.”
“Aku bukan tahanan,” ucap Carmela, meski suaranya tidak sepenuhnya yakin.
Matteo mendekat, berhenti tepat di hadapannya. “Aku tahu. Tapi dunia di luar kamar ini tidak peduli pada perbedaan itu.”
Untuk sesaat, jarak di antara mereka terasa terlalu sempit. Carmela bisa merasakan napas Matteo. Tegang. Terkendali.
“Aku akan melindungimu,” katanya pelan. “Bukan karena kau milikku. Tapi karena aku bertanggung jawab.”
Kalimat itu terasa dingin—namun entah kenapa, Carmela merasa sedikit lebih aman.
Matteo berbalik pergi. “Tidurlah.”
Pintu tertutup.
Carmela duduk di ranjang, dadanya naik turun perlahan. Ketakutan masih ada. Dunia ini tetap gelap dan asing.
Namun satu hal menjadi jelas malam itu:
Matteo Mariano bukan hanya pria yang terpaksa menjadi suaminya.
Ia adalah tembok terakhir antara dirinya dan dunia yang ingin menelannya hidup-hidup.