Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Sama
Dua hari setelah kejadian di jembatan, Nindi memberanikan diri untuk menghubungi nomor yang tertera di kartu nama yang sempat diselipkan Arga di saku jaketnya saat itu. Ia ingin mengembalikan sapu tangan Arga yang sudah dicucinya bersih.
Mereka sepakat bertemu di sebuah restoran langganannya Arga.
"Makasih ya, Ga," ucap Nindi sambil menyodorkan sapu tangan yang sudah terlipat rapi. "Maaf gue baru balikin sekarang."
Arga tersenyum, menerima sapu tangan itu. "Santai aja. Gimana kabar lo? Masih mau teriak-teriak lagi?"
Nindi tertawa kecil, kali ini tawanya lebih lepas. "Udah mendingan. Berkat omongan lo malem itu, gue sadar. Gue mutusin buat berhenti jadi bodoh. Hari ini..." Nindi menarik napas panjang, wajahnya berubah serius. "Gue mau ketemu sama cowok itu. Gue mau balikin semua barang
pemberian dia, dan bener-bener cut off"
"Bagus," puji Arga tulus, "langkah yang tepat. Cowok kayak gitu nggak pantes ditangisi."
"Tapi jujur, gue deg-degan, Ga," aku Nindi, meremas tangannya yang berkeringat dingin. "Gue takut gue lemah lagi kalau liat muka dia, apalagi dia bilang... dia bakal bawa cewek itu."
Arga mengerutkan kening. "Dia bawa pacar barunya buat ketemu lo? Wah, sakit jiwa tuh cowok, sengaja banget mau pamer?"
"Namanya juga Reno, dia emang nggak punya perasaan," ucap Nindi pasrah.
Arga merasa iba melihat kegugupan Nindi.
Tanpa sadar, naluri pelindungnya muncul.
"Gini aja," tawar Arga, "gue temenin lo. Gue nggak bakal duduk di meja yang sama, gue duduk di meja sebelah atau agak jauh. Gue cuma mantau. Kalau dia macem-macem atau bikin lo nangis lagi, gue orang pertama yang bakal ada di samping lo, gimana?"
Mata Nindi berbinar. "Lo serius? Lo nggak sibuk?"
"Kebetulan jam istirahat gue masih lama. Lagian gue penasaran, setampan apa sih si Reno ini sampai bikin cewek kayak lo hampir loncat dari jembatan," canda Arga.
Nindi mengangguk setuju, ia merasa jauh lebih aman jika ada Arga.
Akhirnya, keduanya pun langsung menuju tempat yang sudah dijanjikan bersama Reno.
Lima belas menit kemudian...
Nindi dan Arga tiba di tempat yang dijanjikan untuk ketemu sama Reno.
Nindi duduk di meja yang jauh dari Arga, gadis itu menunggu Reno dengan rasa gelisah.
Sedangkan Arga, ia duduk di meja pojok sambil membuka laptop, berpura-pura kerja. Jarak mereka berdua hanya tiga meter jauhnya.
Lonceng pintu kafe berbunyi.
Nindi menegakkan punggungnya. Arga melirik dari balik layar laptopnya, siap menilai sosok laki-laki yang menyakiti teman barunya itu.
Seorang pria masuk. Pria itu berpenampilan cukup keren, dengan kemeja agak terbuka. Wajahnya tampan tapi terlihat arogan.
Mata Arga menyipit. "Wajah itu... kok familiar?"
Arga melihat lebih tajam, di belakang pria itu, masuk seorang wanita yang menggandeng lengannya dengan posesif. Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan topi lebar, seolah menutupi identitasnya, namun gaya berjalannya yang angkuh sangat khas.
Arga membelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik.
Itu Reno! Reno teman SMA-nya, Reno mantan Tamara, dan wanita di sebelahnya... itu Tamara.
"Sialan," umpat Arga pelan, nyaris tak terdengar. "Jadi Reno yang dimaksud Nindi itu... Reno yang ini?"
Dunia terasa begitu sempit dan konyol bagi Arga.
Reno dan Tamara duduk di hadapan Nindi. Arga bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, karena jarak yang dekat dan suasana kafe yang tidak terlalu berisik.
"Ngapain lo ngajak ketemu, Nin? Gue sibuk," ucap Reno ketus, langsung to the point tanpa basa-basi. Tangannya merangkul bahu Tamara, sengaja memamerkan kemesraan.
Tamara membuka kacamata hitamnya, menatap Nindi dengan tatapan meremehkan. Wajah Tamara terlihat sedikit kusam tanpa perawatan mahal, tapi kesombongannya tidak berkurang.
"Oh, ini Nindi yang sering kamu ceritain, Ren?" tanya Tamara sinis. Dia memandang Nindi dengan tatapan meremehkan. "Yang katanya asisten pribadi gratisan kamu itu?"
Nindi mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya hancur mendengar sebutan itu, asisten gratisan. Jadi, selama ini Reno menganggap ketulusannya hanya sebagai jasa gratis?
"Gue ke sini bukan buat berdebat," suara Nindi bergetar, tapi ia berusaha tegar karena tahu Arga mengawasinya. Ia meletakkan sebuah paper bag di meja. "Gue cuma mau balikin jam tangan sama jaket lo yang ketinggalan di mobil gue. Mulai sekarang, jangan hubungi gue lagi."
Reno tertawa remeh. "Yaelah, Nin. Drama banget sih lo. Balikin barang segala, bilang aja lo kangen kan liat gue?"
"Geer lo ketinggian," balas Nindi tajam.
Reno yang mendengarnya hanya tertawa lucu.
"Gue udah sadar. Gue terlalu berharga buat cowok yang mungut sampah bekas orang lain."
Nindi melirik Tamara saat mengucapkan kata 'sampah'.
Wajah Tamara memerah padam. "Heh! Jaga mulut lo ya! Siapa yang lo sebut sampah?!"
"Siapa yang merasa aja," balas Nindi berani.
Reno menggebrak meja. "Nindi! Jaga sikap lo sama Tamara."
Arga yang melihat Reno mulai kasar, tidak bisa tinggal diam lagi. Ia menutup laptopnya dengan keras, menimbulkan bunyi brak yang membuat Reno, Tamara, dan Nindi menoleh.
Arga berdiri, berjalan santai namun dengan aura mengintimidasi menuju meja mereka.
"Dunia sempit banget ya," sapa Arga dingin.
Mata Reno dan Tamara membelalak lebar melihat siapa yang datang. Wajah Tamara langsung pucat pasi, seolah melihat hantu.
"Arga...?" cicit Tamara.
"Ga? Lo... lo ngapain di sini?" tanya Reno gugup. Reno tahu Arga adalah sahabat Devan, dan Arga tahu semua kejahatan dirinya dan Tamara.
Reno yang membawa Tamara lari di saat hari pernikahan hampir tiba, dan Reno yang terus mengejar Tamara.
Nindi menatap Arga bingung, lalu menatap Reno dan Tamara bergantian. "Kalian... saling kenal?"
Arga berdiri di samping Nindi, meletakkan tangannya di bahu gadis itu seolah melindunginya. Ia menatap Reno dengan tatapan tajam.
"Kenal banget, Nin," jawab Arga sambil menyeringai sinis pada Reno. "Gue kenal cowok brengsek ini. Dan gue lebih kenal lagi sama cewek di sebelahnya."
Arga menatap Tamara yang menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya.
"Gimana rasanya jadi buronan keluarga, Tam?" sindir Arga telak. "Dan lo, Ren. Gue nggak nyangka selera lo turun drastis. Dari ninggalin Tamara, terus sekarang mungut dia lagi pas dia udah dibuang keluarganya dan nggak punya duit? Sweet banget."
Reno ternganga. "Dibuang? Nggak punya duit? Maksud lo apa, Ga? Tamara bilang dia cuma lagi marahan sama bokapnya."
Arga tertawa keras. "Marahan? Dia diusir, Ren! Namanya dicoret dari warisan karena dia nyaris ngeracunin istri Devan. Dia sekarang gelandangan elit. Lo nggak tau?"
Reno menoleh cepat ke arah Tamara. "Tam? Bener itu? Kamu bilang kartu kredit kamu cuma limit sementara!"
Tamara diam, wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa. Rahasianya terbongkar di depan Reno, satu-satunya orang yang ia harapkan bisa menampungnya.
Nindi menatap Arga tak percaya. "Jadi... Arga tahu semuanya?"
"Ayo, Nin," ajak Arga, menarik tangan Nindi untuk berdiri. "Jangan buang waktu lo sama pasangan penipu ini. Biarin mereka selesain drama kebohongan mereka sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, Arga membawa Nindi keluar dari kafe itu, meninggalkan Reno yang mulai menuntut penjelasan pada Tamara dengan wajah marah, dan Tamara yang tertunduk hancur karena kebohongannya terbongkar lagi.
Di luar kafe, Nindi melepaskan tangan Arga, menatap pria itu dengan pandangan menuntut.
"Ga... jelasin ke gue. Lo siapa sebenernya? Kenapa lo tau segalanya soal mereka?"
Arga menghela napas panjang.
"Gue sahabat Devan, Nin. Suami dari Putri, perempuan yang mau dicelakai sama Tamara. Dan Tamara... adalah kakak tiri Putri yang jahat itu."
Nindi menutup mulutnya kaget. Benang merah itu ternyata sangat kusut, dan tanpa sadar, Nindi telah berdiri di sisi yang benar berkat Arga.