Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Antara Hidup dan Mati.
Lantai kayu dari pohon Aethel-Oak yang berusia ribuan tahun itu terasa hangat di telapak kaki pun tidak dapat menenangkan kegelisahan hati Aruna. Dia mondar-mandir tak menentu di koridor Sanatorium Pohon Dunia, sebuah fasilitas medis yang dibangun di dalam rongga batang pohon raksasa yang masih hidup.
Dindingnya adalah kulit pohon yang diukir dengan pola-pola kuno berpendar, dan atapnya adalah jalinan daun-daun hijau yang memberikan cahaya alami yang lembut.
Aruna berhenti sejenak, menempelkan telinganya ke pintu yang terbuat dari jalinan akar hidup. "Kenapa tidak ada suara? Apa mereka sedang menjahitnya pakai akar pohon? Kenapa lama sekali?!"
"Putri Auristela, tenanglah... duduk dan istirahat dulu," ujar Scwartz yang duduk tenang di atas akar yang membentuk kursi alami. "Kamu sudah mengitari lorong kayu ini lebih dari seratus kali. kamu akan membuat lantainya berlubang kalau terus begini."
Aruna menoleh dengan wajah yang sudah kusut masai. "Duduk?! Scwartz, si Es Batu itu hampir kehabisan d4rah! Dia mengorbankan nyawanya demi melindungiku! Kalau terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri..." 'dan sistem rongsokan ini juga, bukannya menolong malah memperparah keadaan!'
Aruna melirik benci ke arah tangannya yang masih memegang Handuk Basah pemberian sistem. 'Aaahhh!!!benar-benar sistem rongsokan, disaat genting bukannya memberikan barang yang berguna, ini malah...'
Ding! [Terdeteksi peningkatan hormon stres sebesar 80%. Menyarankan host untuk: Berhenti mondar-mandir dan mulai melakukan yoga pernapasan.]
'Yoga kepalamu! Kasih aku ramuan pemulih instan atau apa pun yang berguna, dasar sistem sialan!' maki Aruna dalam hati, hampir saja dia melempar handuk basah itu saking emosinya.
SREEKK...
Suara jalinan akar yang bergeser—pintu ruang perawatan—akhirnya terbuka. Seorang tabib Elf wanita dengan jubah sutra hijau keluar sambil mengelap tangannya.
Aruna langsung melompat maju, nyaris menabrak tabib itu. "Bagaimana?! Apa operasinya lancar?! dia... bagaimana keadaannya?! Apa dia sudah melewati masa kritisnya?!"
Sang tabib terlonjak kaget melihat wajah Aruna yang hanya berjarak beberapa senti darinya. "P-putri... Lord de Volland sudah stabil. Luka-lukanya sudah kami tutup dengan getah Yggdrasil dan sihir pemulih. Dia hanya butuh istirahat."
"Apa saya boleh masuk? aku ingin melihatnya sendiri! bisa, kan?!" tanya Aruna beruntun, matanya melongok ke dalam ruangan yang harum bau dedaunan obat.
Setelah mendapat izin dari tabib, Aruna melangkah masuk dengan sangat pelan, seolah-olah suara langkah kakinya bisa memecahkan suasana hening di ruangan itu. Ruangan medis itu sangat tenang, hanya ada suara gemericik air dari pancuran kecil di sudut ruangan dan aroma segar tanaman obat yang menenangkan.
Namun, ketenangan itu tidak meredakan sesak di dada Aruna.
Di atas ranjang yang terbuat dari jalinan kayu halus, Asher terbaring. Wajahnya yang biasa terlihat segar dan tegas kini sangat pucat, nyaris menyatu dengan warna bantalnya. Perban putih melilit bahu dan sebagian dadanya.
Aruna menarik kursi kayu kecil ke samping ranjang. Dia duduk di sana, menatap wajah Asher dalam diam. Matanya mulai terasa panas.
"Biasanya kau sangat menyebalkan dengan wajah datarmu itu," bisik Aruna pelan, suaranya sedikit bergetar. "Tapi melihatmu diam begini... jauh lebih menyebalkan."
Aruna menatap tangan Asher yang besar dan penuh kapalan karena latihan pedang bertahun-tahun. Ada rasa bersalah yang menghimpit jantungnya. Asher terluka separah ini bukan karena dia lemah, tapi karena dia harus menahan semua serangan kristal hitam itu sendirian demi memastikan Aruna tidak tergores sedikit pun.
Aruna mengulurkan tangannya yang gemetar, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh ujung jemari Asher yang terasa dingin.
"Ayo bangun, Es Batu... Kau bilang mau menjagaku sampai aku mendapatkan kedudukanku kembali, kan? Jangan jadi pembohong sekarang," gumamnya lagi, setetes air mata akhirnya jatuh dan membasahi punggung tangan Asher.
Ding!
[Terdeteksi fluktuasi emosi yang dalam dari host. Mengaktifkan analisis kedekatan...]
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 96%.]
[Catatan: Kesetiaan dan pengorbanannya adalah bukti nyata bahwa Anda adalah prioritas utamanya, meskipun dia tidak pernah mengatakannya.]
Aruna hanya bisa tersenyum kecut melihat notifikasi sistem itu. 'Dia tidak perlu mengatakannya, kau sistem bodoh. Dia sudah membuktikannya dengan tindakan.'
Tiba-tiba, Aruna merasakan ada sedikit gerakan dari jemari yang sedang dipegangnya. Mata Asher yang tertutup perlahan bergerak-gerak, dan sebuah rintihan halus keluar dari bibirnya yang kering.
"A-auristela...?" bisik Asher dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Aruna tersentak, ia segera menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya yang lain. "Asher?! Kau bangun? Jangan bergerak dulu! Aku akan panggilkan tabib!"
Namun, tangan Asher yang lemah justru mencoba mencengkeram jemari Aruna lebih erat, menahannya untuk tetap di sana. Matanya terbuka sedikit, menatap Aruna dengan pandangan yang masih kabur namun penuh dengan kekhawatiran yang aneh. "Kamu... bagaimana? apa kamu terluka...?"
Tangis Aruna pecah lagi. "Huft... Dasar bodoh! Kamu yang hampir m4ti, kenapa malah menanyakan keadaanku?! Lihat dirimu, kamu begitu pucat seputih kertas tahu tidak!"
Asher menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang sangat lemah. "Kalau kamu masih bisa memaki... berarti kamu baik-baik saja. Syukurlah."
Aruna menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak semakin pecah. Ia mengambil handuk basah dari dalam baskom, memerasnya dan dengan lembut menyeka kening Asher yang berkeringat dingin.
"Diamlah dan istirahat. Kalau kau bicara lagi, aku akan menyumpal mulutmu dengan handuk ini," ancam Aruna, meski tangannya bergerak dengan sangat lembut.
Asher terus menatap setiap gerakan Aruna, seolah ingin memastikan bahwa sosok di depannya ini nyata. "Terima kasih... Putri Auristela. Maaf sudah membuatmu menangis."
"Siapa yang menangis?! Ini cuma kelilipan! karna kemasukan debu..." bantah Aruna cepat, memalingkan wajahnya yang memerah.
Di depan pintu, Scwartz yang memperhatikan dari celah akar hanya bisa tersenyum tipis lalu menarik diri.
"Putri..." panggil Asher, kali ini suaranya terdengar lebih berat dan serius.
"aku sudah menyuruhmu diam, kan? apa kamu ingin aku menyumbat mulutmu pakai handuk ini?" ketus Aruna, meski ia tetap memperbaiki posisi selimut Asher.
Asher menggeleng pelan. "Ada sesuatu yang harus kukatakan... tentang kristal hitam itu. Itu bukan sekadar artefak yang bisa dimiliki assasin..."
DEG! Aruna teringat akan notif dari sistemnya yang sering error. Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya, membuatnya jatuh terduduk di lantai sambil mencengkeram jubahnya sendiri.
"PU-PUTRI AURISTELA?!" Asher mencoba bangkit dengan sisa tenaganya, wajahnya kembali panik melihat Aruna yang mendadak mengerang kesakitan.
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya