Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ratri merasakan aura yang tidak beres dari cara Dimas menatap adiknya.
Ia segera mencengkeram lengan Dimas, mencoba menyeret pria itu menjauh dari ranjang Swari.
"Cukup, Mas Dimas! Keluar dari sini sekarang!" desis Ratri tajam.
"Jangan biarkan aku berteriak dan membuat malu namamu di depan para pelayat yang masih tersisa di bawah. Keluar!"
Dimas sempat bergeming, matanya masih terkunci pada sosok Swari yang pucat. Namun, melihat kilat amarah di mata Ratri, ia akhirnya mundur perlahan dengan senyum miring yang menyebalkan.
Begitu Dimas melangkah keluar, Ratri langsung menutup pintu kamar dengan bantingan keras dan menguncinya dari dalam.
Ia bersandar di balik pintu, napasnya memburu karena ketakutan yang berusaha ia sembunyikan dari Swari.
Satu jam kemudian, suara mobil Navy memasuki halaman rumah.
Navy turun dengan baju koko hitam yang masih berbercak tanah makam.
Langkahnya terhenti seketika saat melihat mobil mewah yang sangat ia kenali terparkir tepat di depan pagar.
Navy masuk ke rumah dengan wajah mengeras dan menemukan Dimas sedang duduk dengan tenang di ruang tamu, di tengah sisa-sisa aroma melati dan kursi-kursi yang mulai kosong.
"Mau apa kamu di sini?" tanya Navy dengan nada rendah yang sarat akan ancaman.
Dimas berdiri, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku datang untuk memberikan solusi, Navy. Swari butuh perlindungan sekarang."
"Perlindungan?" Navy mendekat, menatap Dimas dengan tatapan merendahkan.
"Aku ingin melamar Swari," ucap Dimas lugas, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Navy tertegun sejenak sebelum akhirnya tawa sinis keluar dari mulutnya.
"Melamar? Apa kamu buta, Dimas? Atau hatimu sudah mati? Jasad Pradutha baru saja diturunkan ke liang lahat. Tanah makamnya bahkan belum kering, dan kamu bicara soal lamaran?"
"Dunia ini keras untuk janda muda seperti Swari," sahut Dimas tenang.
"Lebih baik dia bersamaku, orang yang sudah dikenalnya, daripada—"
BRAK!
Suara pintu kamar di lantai atas yang terbuka paksa memutus kalimat Dimas.
Di atas sana, Swari berdiri dengan tubuh yang harus berpegangan pada railing tangga.
Wajahnya pucat pasi, namun matanya menyala oleh amarah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Dengan langkah gontai namun pasti, Swari turun satu per satu anak tangga.
Ratri mencoba menahannya, namun Swari menepisnya dengan lembut. Ia berjalan hingga berdiri tepat di hadapan Dimas.
"Aku mendengar semuanya," suara Swari parau, namun setiap katanya terdengar sangat tegas.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menikahimu, Mas Dimas. Di hatiku, di hidupku, hanya ada Mas Pradutha. Bahkan maut tidak akan mengubah itu."
Suasana di ruang tamu yang tadinya sunyi karena beberapa pelayat masih ada di sana, kini dipenuhi bisik-bisik.
Para tetangga dan kerabat menggelengkan kepala, menatap Dimas dengan pandangan jijik dan tidak percaya.
Menanyakan lamaran di hari pemakaman adalah penghinaan besar bagi norma dan rasa kemanusiaan.
Dimas merasakan panas merambat ke wajahnya. Malu dan amarah bergejolak di dadanya saat melihat tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitarnya.
"Kamu akan menyesal, Swari. Kamu tidak bisa hidup sendirian," desis Dimas rendah agar tidak terdengar yang lain.
"Lebih baik aku sendiri selamanya daripada harus menatap wajahmu setiap hari," balas Swari dingin.
Tanpa sepatah kata lagi, Dimas berbalik dan melangkah lebar meninggalkan rumah itu.
Suara raungan mesin mobilnya yang dipacu kencang membelah kesunyian sore itu, meninggalkan kepulan debu dan kebencian yang kian mendalam.
Ratri menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap wajah Navy.
Ada kecemasan mendalam di matanya, membayangkan betapa nekatnya Dimas muncul di saat seperti ini.
Navy hanya membalas dengan remasan pelan di bahu istrinya, mencoba memberi kekuatan yang ia sendiri pun sulit kumpulkan.
Satu per satu pelayat mulai berpamitan dan suasana rumah yang tadinya sesak perlahan menjadi lengang, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Aroma bunga melati yang mulai layu dan sisa bakaran kemenyan masih tertinggal, menambah berat atmosfer di ruang tamu itu.
Ratri bergegas ke dapur, mengambil sepiring nasi dengan lauk pepes ikan yang pagi tadi dimasak Swari dengan penuh cinta dimana masakan yang seharusnya disantap bersama Pradutha.
"Makan sedikit ya, Dik? Mbak suapi," bujuk Ratri lembut sambil menyodorkan sesendok nasi di depan bibir Swari yang masih pucat.
Swari memalingkan wajahnya ke arah jendela yang menampilkan langit senja berwarna merah darah.
"Aku nggak lapar, Mbak. Rasanya tenggorokanku tersumbat."
"Kamu harus makan, Swari," potong Navy dengan nada tegas namun penuh perhatian.
"Tubuhmu butuh kekuatan. Jika kamu tumbang, siapa yang akan mendoakan Pradutha? Kamu tidak ingin Masmu di sana merasa sedih melihatmu seperti ini, kan?"
Mendengar nama mendiang suaminya disebut, pertahanan Swari runtuh.
Ia menerima suapan itu meski terasa seperti menelan batu.
Semuanya terasa hambar tanpa kehadiran pria yang biasanya duduk di kursi seberangnya.
Navy menghela napas panjang, lalu duduk di dekat adik iparnya itu.
"Mengenai tahlilan nanti malam, Mas sudah bicara dengan Pak Bakir. Acara akan diadakan di masjid saja, bukan di rumah ini."
Swari mendongakkan kepalanya dan sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari kakak iparnya.
"Tadi uang untuk biaya tahlilan dan konsumsi sudah Mas berikan semua ke Pak Bakir. Jadi, kamu tidak perlu keluar rumah dan tidak perlu memikirkan apa pun malam ini. Istirahatlah di kamar," lanjut Navy.
Navy sengaja melakukan itu karena ia tahu kondisi mental Swari sedang tidak stabil, ditambah lagi ia ingin meminimalisir celah bagi Dimas untuk kembali mendekat.
Di masjid, akan banyak warga yang melihat jika Dimas berbuat macam-macam.
Swari hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.
Ia merasa sangat bersyukur memiliki Navy dan Ratri, namun di saat yang sama, ia merasa jiwanya telah ikut terkubur bersama peti mati suaminya.
"Terima kasih, Mas Navy. Maaf aku sudah merepotkan kalian," bisik Swari lirih.
"Jangan bicara begitu. Kamu tanggung jawab kami sekarang," jawab Navy mantap.
Suara azan Magrib berkumandang dari kejauhan, memecah kesunyian rumah yang kini terasa asing bagi Swari.
Navy dan Ratri sudah bersiap-siap untuk berangkat ke masjid demi menghadiri acara tahlilan Pradutha.
"Nanti setelah acara selesai, Mas sama Mbak langsung ke sini. Kamu jangan ke mana-mana, kunci semua pintu," ucap Ratri sambil mengusap air mata di pipi adiknya.
Swari memeluk kakaknya erat, seolah tak ingin melepaskan satu-satunya pegangan yang tersisa.
Ia mengangguk lemah sampai Ratri dan Navy kemudian masuk ke dalam mobil, meninggalkan Swari sendirian dalam balutan duka yang pekat.
Begitu deru mobil menjauh, Swari segera mengunci pintu depan.
Langkahnya gontai menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Ia ingin mengadu pada Sang Pencipta, mencari ketenangan yang direnggut paksa oleh takdir.
Swari membentangkan sajadah di kamar utamanya dimana kamar yang masih menyisakan aroma parfum Pradutha.
Dengan hati yang hancur, ia memulai salat Magrib.
Air matanya terus mengalir setiap kali ia bersujud, membayangkan suaminya kini sudah berada di alam yang berbeda.
Baru saja ia mengucapkan salam terakhir, tiba-tiba lampu kamar mendadak padam.
Seluruh rumah jatuh ke dalam kegelapan total. Jantung Swari berdegup kencang.
Ia mengira itu hanya sekadar pemadaman listrik, namun sebuah deru napas berat di belakangnya membuyarkan pikiran itu.
Sebelum Swari sempat berteriak, sebuah tangan kekar membekap mulutnya dengan kasar.
Sebuah kain hitam tebal dililitkan dengan cepat menutupi matanya, membutakannya dalam kegelapan yang lebih pekat.
"MMMMPPHH!" Swari meronta sekuat tenaga, namun tubuhnya yang masih lemas tak mampu melawan tenaga pria itu yang sangat besar.
Pria misterius itu menyeretnya dengan kasar ke atas tempat tidur.
Swari merasakan pergelangan tangannya ditarik dan diikat kencang ke kepala ranjang menggunakan tali yang sudah disiapkan.
Napas Swari memburu, ia mencium aroma keringat dan sesuatu yang asing.
"Diam atau aku bunuh kamu!" desis pria itu dengan suara yang disamarkan, terdengar seperti geraman rendah yang mengerikan.
Swari menangis tersedu-sedu di balik penutup mata.
Ia merasa jiwanya benar-benar hancur, tepat di hari pemakaman suaminya, saat tanah makam belum kering, kehormatannya direnggut secara paksa dan keji.
Pria itu memperkosanya tanpa ampun di atas ranjang yang seharusnya menjadi saksi cinta sucinya dengan Pradutha.
"MMMMPPHH!!!" Swari menjerit dalam bungkam, rasa sakit fisik dan batin menghujamnya bersamaan.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor