NovelToon NovelToon
Rahasia Tersembunyi Mantan

Rahasia Tersembunyi Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Penpena

Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.

Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.

Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.

Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.

Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Akhirnya

Amira sudah berada didalam pesawat untuk kembali ke Indonesia setelah diantar Melly kebandara dan saling merasa sedih satu sama lain, setelah dua minggu berlalu akhirnya mereka kembali hidup masing-masing.

Amira memandangi indahnya langit pada sore itu, dan entah kenapa rasanya hatinya Rasanya seperti hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang mendadak kosong. Namun, itu bukan sekadar rasa sepi yang menyakitkan. Ada rasa takjub, rasa asing, sekaligus ketidakberdayaan yang bercampur jadi satu. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Glen."

Entah kenapa dia tiba-tiba menyebut nama pria yang membuat nya sakit hati.

"Apa dia masih di Indonesia?" Ucapnya tiba-tiba.

"Astaga, Mir. kenapa kamu malah memikir kan dia?" Ucapnya merasa kesal kepada dirinya sendiri.

Glen sudah sangat menyakiti hatinya, dan dia sudah pastikan tidak akan mau tahu tentang kehidupan Glen lagi. Bahkan kalau Glen kembali menemuinya, Amira sudah berjanji tidak akan menganggapnya seperti dulu lagi. Mungkin dia bisa memaafkannya, tetapi untuk dekat dengannya tidak lagi.

Berlahan mata Amira terasa berat, dia merasa ngantuk dan memilih untuk tidur setelah melakukan banyak aktifitas di bangku Premium Economy nya itu didalam pesawat, mulai dari menonton dan makan malam. Hingga tidak terasa hari sudah berlalu dan dia sudah tiba di salah satu Bandara Jakarta.

Amira memilih untuk pergi ke Coffeshop miliknya saja dari pada kerumah, karena hari sudah hampir siang dan dia ada janji temu dengan salah satu kolega nya dua jam lagi. Jika harus pulang kerumah terlebih dahulu maka akan banyak waktu yang terbuang dan tidak enak membuat Partner kerja nya itu menunggu terlalu lama. Dia memilih untuk mandi Di Coffeshop miliknya saja, kebetulan ada tempat khusus untuk istirahat pegawainya disana.

"Nesha."

Nesha, salah satu pegawai Amira sekaligus teman dekatnya Di indonesia melihatnya takjub, tidak menyangka kalau Amira akan pulang secepat ini, padahal sebelumnya Amira mengatakan padanya kalau dia akan berada di LN Selama satu bulan.

"Mira." Ucapnya tersenyum dan langsung berlari memeluknya, dan dibalas Mira.

"Kenapa tidak mengabari ku kalau mau pulang, aku pikir kamu pulangnya dua minggu lagi."

"Hahaha, biar jadi kejutan. Padahal gak ada yang spesial." UCapnya terkekeh.

"Haha, aku kaget kok, dan melihat kamu pulang kesini adalah sebuah kejutan." 

"Yang bener?."

"hem, bener. Semuanya rekan-rekan disini merindukan omelan mu tiap pagi tau."

"haha, ya pasti mereka senanglah aku tidak disini, gak ada yang cerewet."

"Iya sih, tapi yang aku lihat-lihat kita lebih senang dan teratur kok kalau kamu disini, Mir. Kalau kamu enggak disini, kami akan banyak binggungnya entar."

"Oh iya, kenapa kamu bawa koper kesini, Mir?. Kamu gak pulang kerumah dulu baru datang kesini?." Tanya Nesha setelah menyadari koper ditangan Amira.

"Oh iya kebetulan nanti aku ada pertemuan dengan seseorang yang mau mengajak bekerja sama, makanya aku pulang cepat. Sepertinya satu jam lagi dia akan kesini. Jadi aku siap-siap dulu deh, mau mandi."

"Oh, Sana pergi lah Mir, biar gak buru-buru."

**

"Makasih bro, udah mau membantu ku."

"hem, santai ajah. lagian aku tidak terlalu sibuk disini dan hanya fokus menunggu kedatangan Amira saja." Jawab Glen biasa saja.

"Masih berharap?."

"Pasti dong, menurutmu kenapa aku sampai rela datang kesini dan menunggunya?. Aku sudah memastikan kalau aku dan Amira akan segera bertemu dan memulai semuanya dari awal lagi."

"Wedeh... salut-salut." Puji Alvero melihat keseriusan sahabatnya itu. "Sebenarnya aku tidak mau mengurus hal seperti ini sih, buang-buang waktu saja. Tapi karna dia kakak ku dan dia akan segera menikah, jadi aku akan berbaik hati membantunya."

"Kenapa acaranya tidak di Moll atau sewa gedung saja?, kenapa Coffeshop?. bukan kah itu terlalu kecil untuk keluarga kalian yang No Limit?" Ucap Glen bercanda.

"Enggak gitu juga bro, tapi kata kakak ku Coffeshop nya punya Function Room yang lumayan besar, cukup lah hanya pesta Coctail untuk keluarga dan teman-teman terdekat saja. dan Coffeshop nya tentu sangat berkelas. Oh iya, aku mengundang mu untuk datang nanti, oke."

Glen mengangguk paham. "Baik lah, aku akan datang meramaikan."

Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya, Alvero dan Glen memasuki Coffeshop itu, dan melihat diluar ekspektasi mereka, Coffeshop itu jauh lebih estetik dibanding yang mereka pikirkan.

"Wah, ternyata sebagus dan sebesar ini." Puji Alvero melihat setiap sudutnya dan langit-langit kafe yang menjulang tinggi memberikan kesan megah, dipermanis oleh lampu gantung kristal minimalis yang memancarkan cahaya keemasan hangat. Dinding kaca besar di sisi kanan memperlihatkan pemandangan taman kota, menciptakan siluet yang dramatis sekaligus menenangkan.

"Aku setuju, ini cukup bagus." Tambah Glen yang juga takjub.

Lalu mereka pergi ke resepsionis disana untuk menanyakan diamana ruangan nomor 05, yang diberitahukan kepada Alvero untuk menemui owner cafe itu.

"Oh iya, ini tinggal lurus aja kekanan."

"Baik lah."

"Oh iya mau bertanya lagi, dimana toiletnya?."

"Hem, kebiasaan baru sampai di satu tempat pasti yang dicari dulu toilet." Ledek Glen.

"Toiletnya juga berada disebelah ruangan 05, kak."

"Oke baik lah, Terimakasih." Ucapnya kepada Resepsionis itu. "dari tadi aku menahannya di jalan, kamu masuk duluan ajah ya, nanti aku nyusul. mau ketoilet dulu." Ucapnya Alvero dan langsung berjalan cepat meninggalkan Glen.

"Kebiasaan." Kesal Glen dan ikut berjalan menuju ruangan 05.

Begitu membuka pintu, Glen langsung terpaku melihat ruangan itu terlihat estetik dengan aromanya yang membuat nyaman. Sembari menunggu Alvero dia duduk di sofa ruangan itu dan memainkan Handphone nya.

"Gimana sudah lega?." Tanya Glen setelah mendengar seseorang membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang.

"Maaf kan aku, membuat mu menunggu lama." 

Glen sontak terpaku, karena suara yang dia dengar bukan suara khas sahabatnya itu, melainkan suara perempuan yang sangat familiar baginya. Glen dengan cepat menoleh kebelakang dan melihat.

"Amira." Panggilnya pelan melihat Amira yang belum menyadarinya. Seketika Amira juga melihatnya.

Kini suasana di ruangan itu cukup tegang, apalagi jantung mereka berdua terasa berdegup kencang. 

Amira terpaku dan bingung, kenapa Glen ada disini, sementara yang mengajaknya bertemu namanya bukan Glen melainkan Alvero. Melihat Glen disini membuat hatinya kembali terasa sakit, dia ingin sekali menghajar Glen, dia ingin melampiaskan amarahnya, dan memaki-maki Glen, tapi entah kenapa untuk berkata sepatah kata pun rasanya sulit sekali, seperti ada yang membungkam mulutnya.

Glen menghampiri Amira dengan dipenuhi perasaan bersalah, akhirnya setelah menunggu cukup lama dia bisa bertemu dengan Amira, dn bahkan Amira sendiri yang memunculkan dirinya kepada Glen. 

"Mira, aku merindukan mu." Ucap Glen dengan mata berkaca-kaca, masih belum percaya bahwa wanita yang didepannya adalah Amira. lalu dia berusaha menggenggam tangan Amira.

Amira menghentakkan tanganya yang hendak di pegang Glen.

"Ngapain kamu disini?." Tanya nya datar dan memalingkan wajahnya dari Glen. "Pergi!." Tegasnya.

"Mir, aku minta maaf, dengar kan aku du-."

"Pergi!." Potong Amira dengan suara yang cukup tegas dan kuat dari sebelumnya.

Lalu suara pintu terdengar terbuka. Alvaro masuk dan kebingungan melihat situasi didalam seperti menegangkan. Alvaro melihat mereka berdua bergantian.

"Sa-saya minta maaf, membuat kalian menunggu lama. Apa kamu owner dari coffe ini?." tanya Alvaro mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Amira.

Amira belum bisa berpikir jernih, dengan perasaan campur aduk dia membalas jabatan tangan Alvaro.

"Iya benar, saya Amira." Ucapnya.

Alvaro terdiam dan menatap Glen bingung, bermaksud bertanya. apakah dia Amira yang Glen cari selama ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!