NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Suara gemercik air mandi yang samar-samar mereda di balik pintu kaca buram akhirnya berhenti. Asap tipis beraroma sabun lavender merebak ke udara, membawa kesegaran yang sedikit menepis kelelahan fisik akibat kegilaan malam sebelumnya.

Di dalam kamar utama sebuah apartemen pribadi yang mewah di pusat kota Los Angeles, Seraphina berdiri mengeringkan rambutnya di depan cermin besar.

Matanya yang tajam dan ekspresif tiba-tiba menangkap sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan kimono mandi berbahan sutra putih yang longgar.

Mata Seraphina membelalak.

Pandangannya terkunci pada leher jenjang dan area tulang selangka wanita itu. Umpatan-umpatan spontan tak tertahankan meluncur begitu saja dari bibirnya yang dipoles lipstik merah muda.

"Kau gila, Hazel! Kau gila!" pekik Seraphina sembari menepuk jidatnya sendiri.

"Kau menyerahkan dirimu begitu saja pada pria asing? Lihat dirimu... kau persis seperti mangsa yang habis dicabik macan! Bercak merah di mana-mana!"

Seraphina melangkah mendekat, memutari tubuh sahabatnya dengan raut wajah campuran antara takjub, gila, dan iri yang tak tertutup.

Di bawah pendar lampu kamar yang terang, jejak-jejak ciuman panas—merah keunguan yang kontras di atas kulit mulus Hazel—terpampang nyata dari leher, tulang selangka, hingga menyusup ke balik garis kimono mandi.

Tato kupu-kupu hitam di leher Hazel bahkan tampak seolah dikelilingi oleh kelopak bunga merah akibat ulah bibir pria semalam.

Seraphina menghela napas berat, menggelengkan kepalanya dramatis.

"Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa beruntungnya dirimu mendapatkan pria seperti itu di malam pertama gila yang spontan..."

Deg.

Hazel yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil mendadak menghentikan gerakannya. Matanya yang jernih melebar seketika, menatap pantulan wajah Seraphina di cermin dengan kilatan tajam yang dingin.

"Beruntung?" potong Hazel, suaranya sedikit serak namun sarat akan keangkuhan yang tak tergoyahkan.

"Dia yang beruntung mendapatkanku, Seraphina! Aku tidak meminta pertanggungjawaban apa pun padanya. Aku bahkan memungut pakaianku, membereskan diriku sendiri, dan membayarnya."

Seraphina melompat kecil di tempatnya, matanya hampir melompat keluar dari kelopak.

"What?! Membayar?! Maksudmu... pria yang kau tiduri semalam itu seorang gigolo?!" tanya Seraphina ragu-ragu, setengah tidak percaya bahwa Hazel akan menyewa pria pemuas gairah.

Hazel mendengus pelan, duduk di tepi ranjang sembari merapikan helaian rambut pirang gelapnya yang masih basah.

"Bukan... aku tidak tahu. Pria itu tampak sangat kaya dan sombong, tapi aku meninggalkan segepok uang tunai dolar di meja riasnya. Aku hanya tidak ingin berutang apa pun pada pria asing."

Seraphina memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kegilaan jalan pikiran sahabatnya.

"Tunggu... kalau dia bukan gigolo, kau meninggalkan uang ganti rugi kamar atau uang untuk apa? Dan kau sama sekali tidak menanyakan namanya?"

"Dia menyuruhku mendengarkan saat dia Menelepon sahabatnya..." Hazel mengerutkan keningnya, jemarinya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.

"Semalam dia menyuruhku menyebut nama... argggh, aku lupa! Aku tidak terlalu fokus. Lagipula kepalaku terlalu penuh oleh alkohol dan rasa sakit."

Brak!

Suara gebrakan meja rias yang cukup keras membuat Hazel meloncat kaget.

Seraphina baru saja menggebrak permukaan kayu mahoni dengan kedua telapak tangannya, menatap Hazel dengan pandangan seolah sahabatnya itu baru saja membuang warisan kerajaan.

"Agh! Kau benar-benar membuang pria hebat, Hazel!" racau Seraphina gemas, mengacak rambutnya sendiri.

"Harusnya kau meminta nomor teleponnya! Minimal tahu media sosialnya! Siapa tahu dia pria tampan kaya raya yang bisa menyelamatkan hidupmu dari keterpurukan ini! Lupakan mantan kekasihmu—"

"Dia bukan sekadar mantan, Seraphina... dia sahabatku," potong Hazel cepat, suaranya melunak, membawa nada protektif yang begitu tulus.

Seraphina menghentikan celotehannya. Ia menatap Hazel dengan tatapan penuh rasa kasihan yang mendalam.

Kemarahan konyolnya melenyap seketika, berganti dengan keheningan yang menyayat hati.

Di balik keangkuhan, sikap dingin, dan tindakan nekat Hazel semalam, Seraphina sangat paham betapa hancurnya hati wanita berdarah Inggris di hadapannya ini.

Hazel Rosemary Brooks bukanlah wanita liar yang gemar berganti pasangan. Ia adalah wanita malang yang baru saja melepaskan cinta pertamanya dengan cara paling dewasa namun menyiksa.

Pria yang menikah di London semalam adalah teman kecil Hazel.

Ketika hubungan mereka yang terasa hambar dan hampa, Hazel Memutuskan untuk menyerah dan menyuruh pria yang dicintainya untuk memilih dan meninggalkan semua patah hatinya di Inggris tanpa membuat drama.

Dengan kedewasaan yang luar biasa—dan kebodohan yang menyakitkan—Hazel telah memilih untuk putus secara baik-baik. Ia merelakan pria yang sangat dicintainya menikahi wanita pilihannya.

Bahkan ia berjanji untuk mengubur perasaan mereka dan kembali menjadi sahabat baik seperti masa kecil mereka. Hazel bahkan secara tulus mengirimkan ucapan selamat dan doa terbaik untuk pernikahan sahabatnya itu.

Namun, mengikhlaskan ternyata tidak semudah mengucapkannya.

Rasa sakit akibat kehilangan cinta sejati itulah yang mendorong Hazel terbang melintasi samudra menuju Los Angeles, berusaha menata hidup baru, hingga akhirnya terjebak dalam malam gila bersama Jameson Baxter Ashford.

Seraphina menatap Hazel yang kini menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut kaku di atas pangkuan.

Cinta memang buta, batin Seraphina prihatin.

Dan orang seperti Hazel... bukan cuma buta, tapi juga terlalu bodoh karena membiarkan hatinya dihancurkan demi kebahagiaan orang lain.

Seraphina menghela napas panjang, lalu melangkah pelan dan duduk di samping Hazel. Ia merangkul bahu mulus sahabatnya itu dengan hangat.

"Baiklah... tidak usah memikirkan hal lain lagi," ujar Seraphina lembut, mencoba merubah suasana menjadi lebih ringan.

"Ayo kita bersiap-siap ke kampus. Kau lupa? Ini hari pertamamu di kampus baru. Semoga ini kampus terakhir untukmu berlabuh, dan tempat terbaik untuk melupakan pangeran bajinganmu itu."

Hazel menoleh, mendengus pelan namun ada senyum tipis di bibirnya. "Dia bukan bajingan, Seraphina. Dia pria yang baik."

Seraphina memutar matanya malas, mengibaskan tangan ke udara.

"Ya, ya, ya! Dia pangeran tampanmu yang akan selalu ada di hatimu selamanya... terserah padamu, Hazel tersayang! Sekarang kemarilah. Biar aku membereskan kebodohan sepanjang lehermu itu."

Seraphina bangkit dan mengambil kotak kosmetik tebal dari meja riasnya. Ia menyuruh Hazel duduk tegak di depan cermin.

Dengan penuh ketelitian dan keahlian tinggi, Seraphina mengoleskan concealer tebal bernuansa natural di seluruh leher Hazel, menyamarkan jejak-jejak ciuman merah keunguan yang mencolok hingga tak berbekas.

"Nah, sempurna," gumam Seraphina puas saat melihat leher jenjang Hazel kembali mulus tanpa noda.

"Sekarang pakai baju berkerah tinggi tipis untuk double perlindungan. Kita tidak ingin dosen atau mahasiswa di kampus barumu berpikir kau habis diserang binatang buas."

Hazel terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang tulus untuk pertama kalinya sejak kemarin.

"Terima kasih, Sera."

"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada tuhan karena kau punya sahabat secerdas dan secantik aku," gurau Seraphina percaya diri.

...*********...

Satu jam kemudian.

Sinar matahari pagi Los Angeles menyiram pelataran megah California University—salah satu universitas paling bergengsi dan berpengaruh di Amerika Serikat.

Gedung-gedung berarsitektur klasik modern berdiri megah di antara pepohonan palm yang menjulang tinggi. Ratusan mahasiswa berjalan melintasi koridor batu, bersenda gurau, dan menikmati awal semester baru.

Hazel melangkah menyusuri pelataran kampus dengan keanggunan alami yang menarik perhatian beberapa pasang mata. Ia mengenakan atasan turtleneck rajut tipis berwarna krem yang menutupi lehernya hingga batas rahang, dipadukan dengan celana kain berpotongan tinggi dan blazer abu-abunya yang elegan.

Rambut pirang gelapnya dibiarkan terurai indah, mengayun lembut seirama langkah kakinya.

Meskipun rasa perih di area intimnya masih menyengat pelan setiap kali ia melangkah terlalu lebar, Hazel menyembunyikannya dengan sangat sempurna di balik gestur tubuh yang tegak dan percaya diri.

"Gedungnya sangat luas, kan?" bisik Seraphina yang berjalan di sampingnya sembari melihat denah kampus di layar ponselnya.

"Jurusan Manajemen Bisnis Internasional ada di Gedung A3. Dan kudengar... kelas pertama kita hari ini diampu oleh dosen paling legendaris di kampus ini."

Hazel menoleh tipis.

"Legendaris? Maksudmu dosen tua yang galak?"

"Oh, jauh dari kata tua!" Seraphina menyenggol lengan Hazel dengan antusias.

"Dia dosen muda! Jenius, tampan setengah mati, dan berasal dari keluarga paling kaya di California. Tapi sayangnya... dia terkenal dingin bagai es dan sangat tidak bersahabat jika ada mahasiswa yang terlambat atau tidak fokus di kelasnya."

Hazel hanya tersenyum tipis, tidak terlalu tertarik. Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan transfernya dengan baik dan membangun kehidupan baru yang tenang di kota ini.

Lagipula, hobi utama Hazel adalah melukis—bahkan di kampus sebelumnya di Inggris, ia mengambil jurusan Seni Murni karena bakat lukisnya yang luar biasa.

Meski di kampus barunya ini ia berpindah ke jurusan Bisnis demi menuruti alur hidup barunya, Hazel sudah mendaftar kelas pilihan Seni Rupa untuk tetap menyalurkan kuas dan kanvas kesayangannya.

Dosen tampan atau kaya sama sekali tidak masuk dalam daftar perhatiannya.

Mereka berdua akhirnya memasuki aula kuliah utama yang megah. Ruangan berbentuk amfiteater itu sudah diisi oleh puluhan mahasiswa yang duduk rapi di bangku-bangku bertingkat.

Suara bisik-bisik antusias terdengar riuh di seluruh penjuru ruangan.

Hazel dan Seraphina memilih duduk di barisan tengah yang sedikit terlindung.

Hazel meletakkan tas tangannya, mengeluarkan buku catatan berbingkai kulit yang selipan lembarannya dipenuhi sketsa-sketsa lukisan buatannya, lalu mengambil pena dan menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya.

Tepat saat jarum jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, pintu kayu ganda di bagian depan aula terbuka.

Seketika, seluruh kehebohan dan bisik-bisik di dalam aula lenyap.

Suasana ruangan berubah menjadi hening ketat, menyisakan aura intimidatif yang mendadak memenuhi udara.

Langkah kaki yang tegas dan berirama terdengar mengetuk lantai marmer. Seorang pria melangkah masuk dengan penuh wibawa.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sempurna, menonjolkan bahunya yang lebar dan tubuh tegapnya yang atletis. Kemeja putih di dalamnya terkancing rapi hingga batas leher, dipadukan dengan dasi gelap.

Wajahnya yang tampan bagai pahatan patung Yunani memancarkan dingin yang membekukan—rahang tegas, hidung tinggi, dan sepasang mata berwarna hazel pekat yang tajam menyapu seluruh isi ruangan.

Di dalam genggaman tangannya yang berotot, pria itu membawa sebuah map dokumen hitam.

Deg!

Hazel yang sedang menunduk mendadak mendongakkan kepalanya saat merasakan tekanan udara yang aneh di dalam ruangan.

Pandangan mata Hazel jatuh tepat pada sosok pria yang kini berdiri tegak di balik podium dosen.

Jantung Hazel seolah berhenti berdetak dalam satu milidetik.

Seluruh darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir dingin. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di kerongkongan.

Profil wajah tegas itu...

Bahu lebar yang atletis itu...

Gaya berjalan yang penuh dominasi dan keangkuhan itu...

Tidak mungkin... batin Hazel menjerit histeris di dalam hatinya.

Meskipun semalam bar itu temaram dan kamar hotel hanya diterangi pendar lampu kota, Hazel tidak mungkin melupakan bentuk rahang itu.

Rahang yang semalam melumat bibirnya dengan ganas, bahu yang semalam ia cengkeram erat saat rasa sakit dan gairah menyatu, dan pria yang beberapa jam lalu ia tinggalkan di atas ranjang king size bersama segepok uang tunai!

Seraphina yang duduk di samping Hazel berbisik antusias tanpa menyadari perubahan wajah sahabatnya yang mendadak pucat pasi.

"Lihat itu, Hazel! Itu Profesor Jameson Baxter Ashford! Pahlawan kota sekaligus dosen termuda di fakultas ini. Bukankah dia sangat tampan?" bisik Seraphina kagum.

Jameson... Baxter... Ashford...

Nama itu bergema berulang kali di dalam kepala Hazel bagai dentuman meriam yang menghancurkan seluruh pertahanannya.

Pria asing semalam... ternyata adalah seorang dosen di kampus baru ini!

Sementara itu, di depan podium, Jameson meletakkan map dokumennya dengan ketukan pelan. Matanya yang tajam dan dingin mulai menyapu satu per satu wajah mahasiswa di hadapannya untuk melakukan presensi awal.

Namun, gerakan mata Jameson terhenti seketika.

Pandangannya terkunci rapat pada barisan tengah amfiteater.

Di sana, seorang mahasiswi baru berpakaian turtleneck krem sedang menatapnya dengan mata terbelalak dan wajah pucat pasi.

Walaupun wanita itu mengenakan pakaian tertutup, ketajaman mata seorang Jameson Baxter Ashford tak bisa dibohongi.

Bentuk bibir tipis yang sedikit bengkak itu...

Hidung mancung yang tegak itu...

Dan yang paling utama, pendar kecantikan dingin bernuansa Inggris yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Seketika, sudut bibir Jameson terangkat tipis—membentuk sebuah senyuman miring yang sangat dingin, berbahaya, dan penuh dengan kepuasan yang mematikan.

Kilatan mata Jameson berubah pekat oleh amarah dan dominasi yang tertahan. Ketemu kau, Wanita Asing...batin Jameson dengan sorot mata yang mengunci Hazel sepenuhnya.

Jameson berdehem pelan, memegang mikrofon podium, lalu bersuara dengan nada berat yang bergema memenuhi seluruh aula:

"Selamat pagi semuanya. Saya Jameson Baxter Ashford, yang akan mengampu mata kuliah Manajemen Bisnis Internasional semester ini. Sebelum kita mulai... saya ingin memastikan bahwa di kelas saya, tidak ada yang berani melarikan diri dari tanggung jawab."

Mata Jameson menatap lurus tepat ke arah Hazel yang kini meremas penanya hingga jemarinya memutih.

"Karena saya sangat membenci seseorang yang bertindak seenaknya... lalu mencoba membayar kesalahan dengan segepok uang."

Seluruh mahasiswa di aula saling pandang bingung, tidak mengerti maksud dari perumpamaan sang dosen muda.

Namun bagi Hazel, kalimat itu adalah sebuah eksekusi mati yang menandai berulangnya mimpi buruknya di kota ini.

...----------------...

Happy reading 🦋

1
safaana
pengen tampar tu muka Cristine,,udah selingkuh tak tau malu lagi,slalu ada ular berbisa
Rosdianah 🌷: kwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel keren 😁😁😁
Rosdianah 🌷: iya dong 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... cantik dan ganteng 😁😁🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut
Lilla Ummaya: Yaaa skrng thore
total 2 replies
safaana
nikahi saja jame,dan suruh mommy bilang pada hazel yang baik2
Lilla Ummaya
Lanjuut
safaana
deddy lean dulu kan nikah dulu
Rosdianah 🌷: author lupa 🙏🏻🤣
total 1 replies
safaana
berasa aku yang berada di sana tegang bnget
Rosdianah 🌷: hhah🤣
total 1 replies
Debu Nakal
langsung nikahkan aja mom glow 🤣
Rosdianah 🌷: iya benar2 bahaya dia orang ini🤣
total 1 replies
safaana
hahaha ceroboh sekali si jame,jdi tontonan gratis
Rosdianah 🌷: agak lain 😭🤣
total 1 replies
Nita Nita
malah tebar pesona🤣😄🤭
Rosdianah 🌷: Sipaling sempurna 😭
total 1 replies
safaana
maka kejarlah sejauh mungkin jame
safaana
jangan menjebaknya hazel ntar kau sendiri yang masuk jebakan sendiri
Rosdianah 🌷: nah benar 🤭
total 1 replies
Nita Nita
aduh aduh aduh 😄😄🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Seru seru lg terus thor,,malming baca karyamu..kerenn
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Debu Nakal
siap dikejar tayang ma reader ngak thor
up up up 🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut thoor yg bnyak donk
Lilla Ummaya: Ini dlu thoor
total 2 replies
Yusry Ajay
ternyata hazel pembunuh Thor 😶😶
safaana
perang melawan hati baru saja di mulai,,
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
safaana
tuh kan udangnya ternyata suruh datang ke rumahnya,,
Rosdianah 🌷: modus 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!