NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana di ruang makan, malam itu terasa jauh berbeda tampak lebih dingin dari biasanya. Lampu kristal menggantung di atas meja, memantulkan cahaya kekuningan yang menerangi hidangan malam buatan Bi Inah.

​Bu Ratna dan Sarah sedang menikmati suapan pertama mereka ketika suara derit pintu kamar utama di lantai atas berderit terbuka. Keduanya spontan mendongak. Napas mereka seakan tertahan di tenggorokan saat melihat Rian dan Nadia keluar bersama-sama, berjalan berdampingan dengan raut wajah yang tenang tanpa ada sisa ketegangan sama sekali.

​Sarah hampir tersedak teh hangat di gelasnya. Ia menyenggol lengan Bu Ratna, melempar pandangan penuh tanda tanya dengan arah dagunya.

​Begitu Rian dan Nadia menarik kursi dan duduk di meja makan, Bu Ratna langsung membuka suara dengan nada ketus yang dipaksakan. "Loh, Nadia? Kamu... kapan pulangnya? Kok Ibu tidak tau kamu sudah pulang dan mendengar suara kamu waktu sejak tadi?"

​Nadia menyendok nasi ke piringnya dengan santai tanpa beban sedikit pun. Tanpa terburu-buru, ia menoleh ke arah ibu mertuanya dan tersenyum tipis.

​"Aku sudah pulang sejak jam empat sore tadi, Bu," jawab Nadia santai, sengaja menekankan setiap kata yang ia ucapkan. "Bahkan Bi Inah yang membukakan pintu depan waktu aku datang. Padahal Ibu sama Sarah baru pulang dari mal kan, sekitar satu jam yang lalu?"

​Wajah Bu Ratna seketika menegang. Sudut bibirnya berkedut menahan malu sekaligus kesal karena kebohongannya langsung terbongkar di depan sang anak. Ia melirik sekilas ke arah Rian, berharap putranya akan membelanya atau setidaknya mencairkan suasana.

​Namun, Rian hanya duduk diam membisu. Pria itu menatap piringnya dengan rahang mengeras. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rian untuk membela ibunya, dan sikap dingin Rian itu membuat Bu Ratna serta Sarah terdiam seribu bahasa.

​Sepanjang sisa makan malam itu, mereka yang biasanya ngobrol sambil melemparkan sindiran-sindiran kepada Nadia, kini tidak ada satu pun percakapan yang tercipta di antara mereka berempat. Suara dentingan sendok beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan malam tersebut.

​Keesokan paginya, suasana rumah terasa jauh lebih lengang. Nadia terbangun, bersiap, dan berangkat menuju galerinya tanpa ada drama omelan pagi dari Bu Ratna, pun tanpa tawaran manis dari Rian untuk mengantarnya kerja seperti kemarin.

​Pagi yang terlalu tenang ini justru membuat Nadia merasa sedikit janggal. Di dalam taksi online yang membawanya, Nadia merenung sejenak. Ketenangan semacam ini terasa tidak biasa di rumah itu, ia tahu betul, ketenangan yang mendadak sering kali menjadi pertanda awal akan datangnya badai besar yang siap menghantam.

​Namun, Nadia segera menggelengkan kepalanya pelan, menepis segala prasangka buruk. Biarlah, batinnya. Aku tidak mau ambil pusing. Fokusku sekarang adalah galeri dan masa depanku.

​Agenda pertama Nadia hari ini adalah pergi ke bank. Setibanya di sana, ia mengurus proses pencairan dana dari deposito yang telah ia simpan sejak lama—tabungan hasil kerja kerasnya di masa lalu, warisan dari kedua orang tuanya, ditambah sedikit sisa-sisa uang yang ia kumpulkan dengan susah payah sejak menjadi ibu rumah tangga. Kini uang itu terkumpul lebih dari ekspektasinya. Cukup untuk membayar uang sewa satu tahun, bahkan untuk membeli mobil dia bisa. Tapi dia tidak akan melakukannya karena tidak ingin mencolok dan menjadi bahan gunjingan ibu mertuanya setiap hari.

"Akhirnya, semua bisa di cairkan. " gumam Nadia dengan penuh haru.

​Setelah urusan perbankan selesai dan sejumlah dana tunai berpindah dengan aman, Nadia segera menghubungi Amira. Mereka sepakat untuk bertemu langsung di galeri bersama Dimas, sang pemilik gedung, guna melunasi pembayaran sewa tahunan secara tunai.

​Setibanya di galeri, proses transaksi berjalan sangat lancar. Dimas tersenyum puas menyerahkan kwitansi pelunasan dan kunci penuh bangunan tersebut kepada Nadia.

"Ini mbak Nadia, semoga mbaknya betah dan usahanya sukses. " ucap Dimas dengan tulus.

"Terima kasih mas Dimas," jawab Nadia.

​"Selamat ya, Nad! Resmi kamu sudah resmi jadi pemilik galeri nih sekarang!" seru Amira senang sambil memeluk sahabatnya begitu Dimas pamit pergi.

​"Terima kasih banyak, Ra. Tanpa bantuan kamu, aku nggak bakal nemuin tempat sebagus ini," balas Nadia tulus, matanya mengerjap menahan haru melihat ruangan luas yang kini resmi menjadi miliknya.

"Kamu kan baru kena PHK, gimana kalau kita rintis pekerjaan ini sama-sama. Kalau sewa kost mu sudah habis, ga usah sewa kost lagi kamu bisa tidur di lantai atas. Ya itung-itung jaga galeri sekalian bersih-bersih." kata Nadia menyampaikan ide yang sudah ia pikirkan sejak beberapa hari yang lalu.

"Wah, benarkah? aku boleh tinggal disini? gratis? " pekik Amira senang.

"Nggak gratis juga, kamu bayarnya pake tenaga. nyapu, ngelap, pokoknya bersih-bersih lah. " ucap Nadia sambil terkekeh.

"Kalau itu mah, serahkan padaku. Jangan khawatir, aku akan menjaga tempat ini dengan baik."

"Ya sudah, kita deal. Tapi untuk bulan-bulan di awal aku masih belum bisa menggajimu, ya, kamu tau sendiri kan aku masih merintis. Aku harus membuat beberapa lukisan untuk dipajang dan juga beberapa persiapan di sini."

"Tenang saja, Nad. Uang pesangon ku masih cukup untuk makan satu bulan." Amira tertawa lepas mengatakan itu.

Nadia tersenyum, ikut bahagia melihat Amira bahagia. Nasibnya dengan Amira sama-sama malang, karena mereka sama-sama tidak memiliki keluarga di tempat yang keras ini. Tapi mereka tetap semangat di tempat yang keras ini.

​Setelah merapikan beberapa kardus perlengkapan melukis yang baru dikirim kemarin, Nadia merasa perutnya mulai keroncongan. Ia mengajak Amira untuk jalan-jalan ke sebuah mal ternama di kawasan Jakarta Selatan untuk mencari makan siang sekaligus membeli beberapa dekorasi tambahan untuk galerinya.

​Mal sore itu cukup ramai dikunjungi orang. Nadia dan Amira berjalan berdampingan menyusuri koridor lantai dua yang dipenuhi butik-butik mewah, sesekali tertawa kecil membahas tata letak interior galeri.

​Namun, langkah kaki Nadia mendadak terhenti di depan sebuah toko pakaian pria. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika saat matanya menangkap sosok seorang pria tinggi berbalut kemeja abu-abu rapi yang sangat ia kenal.

​Itu Rian, suaminya.

​Nadia tertegun di tempatnya. Namun, bukan keberadaan Rian seorang diri yang membuat darah Nadia berdesir dingin, melainkan sosok wanita yang berjalan tepat di sampingnya.

​Wanita berambut panjang bergelombang itu tampak merangkul lengan Rian dengan begitu akrab, tersenyum lebar sambil menunjukkan sebuah dasi di etalase toko. Maya. Mantan kekasih Rian yang kini kembali menjadi klien perusahaan suaminya.

​"Nad? Kenapa berhenti? Kamu liat apa?" tanya Amira penasaran, mengikuti arah pandangan sahabatnya.

​Seketika itu juga, senyum di wajah Amira memudar, berganti dengan ekspresi terkejut saat melihat apa yang sedang disaksikan oleh Nadia di depan sana.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!