NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Jamuan Penyambutan

"Kok kamu belum siap, Nduk?" Tanya Ratri saat masuk kedalam kamar putrinya.

Sudah dua hari Astri kembali dari liburannya. Sejak saat itu, putrinya itu tampak sangat sibuk dengan pekerjaan yang selama satu minggu itu ia tinggalkan.

"Loh, memangnya mau kemana, Bu?" Tanya Astri yang tampak bingung saat melihat Ibunya sudah siap dengan mengenakan kebaya, jarik dan juga sanggul.

"Kamu lupa, malam ini kita di undang ke Kediaman Utama Trah Soeradiningrat. Ada acara makan malam sebagai penyambutan kedatangan menantu Trah Soeradiningrat." Jawab Ratri.

"Jangan sampai kamu menolak datang lagi, Nduk. Ibu ndak enak karena kamu selalu absen di acara Raden Dwipa. Simbah Harti Soeradiningrat -Nenek Raden Dwipa, selalu menanyakanmu." Ujar Ratri.

"Njih, Ibu. Aku bersiap dulu." Jawab Astri pada akhirnya.

Ia tak bisa lagi menolak kali ini. Tentu saja ia juga merasa tak enak dengan kedua orang tuanya dan juga Simbah Harti yang cukup akrab dengannya.

Malam itu, Astri memakai kebaya berwarna navy dan juga kain jarik yang senada. Rambutnya ia gelung rapi dan dihiasi dengan sirkam kecil untuk mengunci gelungannya.

Setelah siap, Ia, Ayah, Ibu, dan Tirta -adiknya, segera berangkat menuju kediaman utama keluarga Trah Soeradiningrat. Tepatnya, di rumah Raden Broto -Ayah dari Raden Daksa dan Raden Dwipa.

Sepanjang perjalanan, Astri tampak melamun. Tak seperti biasanya yang selalu ceria, Astri lebih banyak diam dan sesekali menanggapi obrolan keluarganya.

Begitu sampai di lokasi acara, para pria dan wanita langsung berpisah menuju ke tempat masing-masing. Pada setiap acara, memang tempat pria dan wanita di buat terpisah sesuai dengan adat dan tradisi.

"Aduh, Cah Ayu. Sudah lama ndak terlihat." Sapa Mbah Harti, saat melihat kedatangan Astri yang bahkan masih berada di jarak yang cukup jauh dari wanita tua itu.

Meskipun sudah berumur, namun Mbah Harti masih terlihat anggun dan berkharisma. Wanita tua itu juga masih nampak cantik. Ucapan dari Mbah Harti, tentu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di Pendopo wanita itu. Mereka semua menatap ke arah Astri yang sangat cantik dan berjalan dengan keanggunannya.

Astri yang menggandeng tangan Ibunya, kemudian menghampiri Mbah Harti dan langsung menyalami wanita tua itu. Mereka berbasa basi sebentar sebelum Astri berpindah menyalami Bude Marini dan menantu barunya, Serayu.

Seperti biasa, Bude Marini selalu menatapnya dan Ibunya dengan wajah yang menunjukkan ketidaksukaan. Entah mengapa, Astri pun tak tau masalahnya. Padahal, ia dan Ibunya selalu bersikap baik dan sopan pada Ibu dari Raden Daksa dan Raden Dwipa itu.

Astri hanya berpikir jika Bude Marini itu tak suka karena Trah Kartawidjaja bisa hampir menyetarai Trah Soeradiningrat. Maka dari itu, baik Astri maupun Ratri -Ibunya, tak pernah ambil pusing dengan sikap dari Siti Marini Soeradiningrat itu.

Tak jauh berbeda dengan Bude Marini, Serayu pun menatap Astri dengan tatapan dingin. Sorot matanya menunjukkan jika ia tak suka pada Astri.

"Apa Serayu tau kalau aku dan Mas Dwipa-" Batin Astri.

"Ah! Tidak mungkin Mas Dwipa mengatakannya pada Serayu. Bagaimanapun, ia tetap harus menjaga perasaan istrinya yang tak tau apa-apa." Astri menepis pikirannya sendiri.

"Selamat ya, Serayu, Bude Marini. Maaf karena Astri ndak bisa datang di acara pertunangan dan pernikahan Raden Dwipa juga Serayu." Ucap Astri.

"Ya ndak apa-apa. Lagi pula ya Dwipa dan menantuku tetap menikah meskipun kamu ndak hadir." Jawab Marini dengan ketus hingga membuat Astri tersenyum canggung.

"Mbak Astri!" Terdengar suara Sukma Mawarni Soeradiningrat yang memanggilnya. Adik bungsu dari Raden Daksa dan Raden Dwipa yang merupakan satu-satunya putri Subroto Soeradiningrat itu, berjalan menghampirinya.

"Mbak Astri, aku kangen banget. Udah lama ndak ketemu Mbak Astri." Ujar Mawar. Keduanya berpelukan setelah Mawar menyalami Astri dengan sopan.

"Mbak Astri juga ndak datang ke acara lamaran dan pernikahan Mas Dwipa dengan Mbak Serayu." Imbuhnya kemudian.

"Maaf ya, Nduk, kebetulan saat itu Mbak Astri sedang sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang ndak bisa Mbak Astri tinggalkan. Makanya baru hari ini Mbak Astri bisa datang untuk mengucapkan selamat pada menantu baru keluarga Soeradiningrat." Jawab Astri sambil tersenyum ke arah Mawar.

"Ini-?" Astri bertanya tentang sosok gadis kecil yang tiba-tiba menghampiri dan menyalaminya dengan sopan.

"Ini putrinya Mas Daksa, Mbak." Jawab Mawar.

Astri mengangguk mengerti. Setelah tiga ahun lamanya, sepertinya baru kali ini Raden Daksa membawa putrinya dan menunjukkannya di depan umum. Astri kemudian berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan gadis kecil yang tampak cantik dan menggemaskan itu. Astri mengusap lembut puncak kepala gadis kecil yang tersenyum manis kepadanya.

"Siapa namanya, Cah Ayu?" Tanya Astri.

"Sasmaya Lituhayu Soeradiningrat-" Jawabnya sembari menoleh ke arah Buliknya -Mawar.

"Aku harus panggil apa, Bulik?" Tanyanya pada Mawar yang membuat Astri dan Mawar tersenyum.

"Bulik. Bulik Astri." Jawab Mawar.

"Bulik Astri cantik. Sasa mau cantik seperti Bulik Astri." Kata Sasmaya.

"Sasa juga cantik. Kalau sudah besar, pasti jauh lebih cantik dari Bulik Astri." Ujar Astri sambil membelai lembut pipi Sasmaya.

Selama berada di jamuan makan malam itu, Sasmaya tampak selalu menempeli Astri. Ia bahkan meminta untuk duduk di sebelah Astri yang baru pertama kali ia temui.

"Sasmaya, ndak boleh menempeli tamu kita seperti itu. Kita harus menjaga kenyamanan tamu kita, Nduk." Tegur Marini saat Sasmaya terus menempeli Astri.

Mendengar teguran dari Eyang Putrinya, Sasmaya pun menunduk dengan wajah sedih. Sedari kecil, gadis itu sudah di didik dengan cukup keras mengenai tata krama dan sopan santun ala Trah Soeradiningrat.

Hampir setiap hari, sejak berusia dua tahun, Sasmaya akan selalu di jemput dari rumahnya dan di bawa ke rumah utama untuk mendapatkan pendidikan tata krama ala wanita di keluarga Soeradiningrat.

Tak jarang, Sasmaya menangis dan menolak saat hendak di bawa ke rumah utama. Gadis kecil itu tampak seperti tertekan di bawah aturan Eyang putrinya.

"Ayo, kembali ke tempatmu, Sasmaya." Titah Marini.

"Njih, Eyang Putri." Jawab Sasmaya dengan lirih sambil menunduk sedih.

"Ngapunten, Bude. Ndak apa-apa kalau Sasmaya ingin di dekat Astri. Astri tidak merasa terganggu. Biarkan Sasmaya duduk disini saja." Ujar Astri sambil menahan tangan Sasmaya agar tak berpindah dari tempat duduknya.

Sasmaya pun kembali mengangkat kepalanya. Ia tampak tersenyum senang saat Astri menahannya agar tak kembali ke empat duduknya.

"Tapi-"

"Biarkan, Marini. Biakan Sasmaya bersosialisasi dengan yang lain. Sepertinya Sasmaya sangat senang ada di dekat Astri," Simbah Harti menahan ucapan menantunya.

Marini pun mengangguk sambil tersenyum kecut. Ia tak bisa melawan ucapan Ibu mertuanya meskipun hatinya terasa panas karena Ibu mertuanya itu terlihat menyayangi Astri dan juga Ratri.

"Kasihan sekali, Sasmaya. Masih kecil sudah di didik sekeras itu oleh Mbak Marini. Harusnya Mbak Marini bisa mendidik cucunya dengan lebih lembut dan penuh kasih sayang meskipun ia kecewa dengan mendiang ibu Sasmaya." Lirih Ratri sambil menatap ke arah Sasmaya yang tampak ceria bermain dengan Astri.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!