Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PERNIKAHAN DI ATAS PUING
Tiga bulan berlalu sejak ketukan palu Pengadilan Agama meresmikan perceraian Ranti dan Sony.
Pagi itu, kawasan industri Jababeka disiram gerimis tipis. Di dalam ruang rapat pimpinan PT Anindita Gemilang Utama cabang Cikarang, Ranti berdiri di dekat papan presentasi digital. Ia mengenakan blazer berwarna krem gading dengan selendang sutra abu-abu terikat rapi di lehernya. Rambut bob-nya yang sehat mengilap memantulkan pendar lampu ruangan.
"Penyesuaian lini bahan baku organik ini akan memotong efisiensi waktu hingga empat belas persen," tegas Ranti dengan intonasi mantap dan jernih. "Pak Hendry, pastikan seluruh pengiriman kuartal keempat berjalan sesuai standar ekspor Vandera Corp."
"Siap, Bu Ranti," sahut Hendry penuh rasa hormat.
Usai rapat koordinasi berakhir, ruangan luas itu kembali lengang. Ranti melangkah ke arah jendela kaca besar, memandangi rintik hujan yang membasahi pelataran pabrik. Dari luar, ia tampak begitu tenang, berwibawa, dan tak terjangkau. Namun di dalam relung hatinya, Ranti sadar bahwa proses memulihkan diri dari trauma lima tahun bukanlah garis lurus yang mudah.
Ada hari-hari di mana ia merasa sangat kuat, tetapi ada pula momen sunyi—terutama di pertengahan minggu saat Bima tidak berada di sisinya—di mana kenangan pahit tentang pengkhianatan itu masih meninggalkan rasa ngilu yang samar.
Pintu ruangan diketuk pelan. Tasya melangkah masuk dengan dua cangkir hot chamomile tea di atas nampan kecil. Sahabatnya itu meletakkan cangkir di meja, lalu menatap Ranti dengan raut ragu.
"Ti..." panggil Tasya pelan.
Ranti membalikkan badan, menyunggingkan senyum tipis. "Kenapa, Sya? Laporan keuangan dari Sukabumi sudah masuk?"
Tasya menghela napas panjang, merogoh ponsel dari saku jasnya. "Bukan soal kantor. Ini... soal Sony."
Jari-jemari Ranti yang hendak meraih cangkir teh terhenti sejenak. Pendar matanya tetap tenang, meski dadanya berdesir halus. "Ada apa dengan dia? Bukankah sidang pidana korporasinya masih dalam proses penangguhan jaminan?"
"Iya, tapi..." Tasya menggeser layar ponselnya dan menyerahkannya ke tangan Ranti. "Pagi ini beredar foto-foto pernikahan siri mereka di grup alumni dan media sosial. Sony baru saja meresmikan pernikahannya dengan Raya."
Ranti menatap layar ponsel Tasya.
Di dalam foto bersudut pandang agak kabur itu, tampak sebuah acara pernikahan yang teramat sederhana—hampir terkesan terburu-buru dan tertutup—di sebuah rumah sewa kawasan pinggiran. Sony mengenakan kemeja putih polos dengan wajah tirus yang tampak jauh lebih tua dan kusam dari usianya. Di sampingnya, Raya duduk mengenakan kebaya putih murah dengan riasan tebal yang sengaja ditata untuk menutupi bekas luka parut samar di pipinya akibat insiden ledakan gas lalu.
Raya. Wanita yang dulu pertama kali Ranti kenal sebagai guru taman kanak-kanak Bima yang ramah, santun, dan tampak lugu. Wanita yang dulu Ranti kasihan hingga diangkat menjadi adik angkat, diberi tempat tinggal, dan dibantu ekonominya... sebelum akhirnya menggunting dalam lipatan, merebut suaminya, dan ikut merancang kebangkrutan rumah tangganya.
Kini, dua orang yang pernah menghancurkan hidupnya itu telah resmi bersatu di atas puing-puing pengkhianatan mereka sendiri.
Ranti memperhatikan foto itu selama beberapa detik. Tidak ada ledakan amarah, tidak ada jerit histeris seperti yang mungkin terjadi setahun lalu. Yang ada hanyalah rasa dingin yang hening.
"Ranti? Kamu tidak apa-apa?" tanya Tasya cemas, memegangi lengan sahabatnya. "Aku minta maaf kalau postingan ini bikin lukamu berdarah lagi..."
Ranti menyerahkan kembali ponsel itu kepada Tasya, lalu mengambil cangkir teh hangatnya. Ia menyesap cairan beraroma bunga itu perlahan, membiarkan kehangatannya membasahi kerongkongan.
"Aku tidak apa-apa, Sya," tutur Ranti dengan suara yang teramat jernih.
"Beneran, Ti? Maksudku... Raya itu dulu guru Bima, kamu jadikan adik angkat, kamu percaya sepenuh hati. Dan sekarang dia benar-benar duduk di samping mantan suamimu sebagai istri sah secara siri. Apa kamu tidak merasa dikhianati lagi?"
Ranti berjalan kembali ke dekat jendela, menatap bulir-bulir air hujan yang meluncur turun di kaca.
"Rasa sakit akibat pengkhianatan itu sudah selesai waktu aku mengetuk pintu pengadilan, Sya," bisik Ranti lembut. "Kalau sekarang dadaku masih terasa sedikit sesak... itu bukan karena aku cemburu atau ingin Sony kembali."
Ranti berpaling, menatap Tasya dengan kejujuran jiwa yang dalam.
"Itu adalah proses menyembuhkan luka. Seperti luka operasi di perutku... meskit tatonya sudah indah dan pendarahannya sudah berhenti, kalau disentuh di waktu-waktu tertentu, rasa ngilunya kadang masih terasa. Menyembuhkan diri itu butuh waktu, Sya. Dan aku tidak mau berpura-pura seolah aku ini robot yang sama sekali tidak punya perasaan."
Tasya menatap Ranti dengan pendar mata berkaca-kaca, terharu oleh kedewasaan dan keberanian sahabatnya dalam mengakui proses kerapuhannya sendiri.
"Kamu wanita yang sangat hebat, Ranti Anindita," puji Tasya tulus seraya merangkul bahu Ranti. "Biarkan mereka menikah dengan cara seperti itu. Orang yang membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah menemukan kedamaian yang sejati."
Sore Hari – Rumah Sewa Sempit, Kawasan Depok
Sementara itu, di sebuah rumah sewa beratap seng di pinggiran Depok, suasana usai akad nikah terasa begitu menyesakkan. Tidak ada pesta mewah, tidak ada ucapan selamat dari jajaran pejabat atau pengusaha, dan tidak ada karangan bunga yang memenuhi halaman. Hanya ada Ibu Hendrawan dan Sonya yang duduk di sudut ruangan dengan wajah dilipat masam.
Raya berdiri di depan cermin rias yang retak, melepaskan ronce bunga melati dari kerudungnya dengan gerakan kasar. Wajahnya yang tebal oleh bedak tak sanggup menyembunyikan rasa kecewa yang membakar dadanya.
Pernikahan impian yang dulu ia bayangkan—pernikahan mewah yang dibiayai oleh harta kekayaan Sony dari Anindita Tekstil—kini menjelma menjadi acara tergesa-gesa di rumah sewa yang sempit. Tidak ada gaun rancangan desainer ternama, tidak ada perhiasan berlian murni, dan tidak ada bulan madu ke Eropa.
Sony melangkah masuk ke dalam kamar, melepaskan pecinya dan membuangnya sembarangan ke atas tempat tidur.
"Kenapa mukamu dilipat seperti itu?!" bentak Sony dengan suara parau dan emosional. Pria itu stres berat karena minggu depan ia harus kembali menjalani persidangan pidana korporasi di Pengadilan Negeri.
Raya membalikkan badan, menatap Sony dengan pendar mata yang penuh kekesalan. "Mas tanya kenapa?! Ini hari pernikahan kita, Mas! Tapi kenapa suasananya seperti orang kena musibah?! Ibu dan Sonya dari tadi terus-menerus menyindirku!"
"Kamu harusnya sadar diri, Raya!" sahut Sonya yang mendadak muncul di ambang pintu kamar dengan bersedekah tangan dan senyum sinis. "Kamu pikir kamu itu siapa?! Dulu kamu cuma guru TK miskin yang ditolong sama Mbak Ranti! Sekarang gara-gara kamu, Mas Sony kehilangan semua asetnya, ditangkap polisi, dan keluarga kita harus tinggal di rumah sempit begini!"
"Jaga mulutmu ya, Sonya!" jerit Raya histeris, air matanya menetes merusak riasannya. "Yang menguras uang perusahaan itu Mas Sony sendiri! Kenapa sekarang aku yang disalahkan?!"
"Sudah! Diam kalian semua!" bentak Sony seraya memukul meja rias hingga kaca retaknya makin bertambah. BRAAKK!
Sony bernapas memburu, meremas rambutnya yang mulai memutih. Di dalam benaknya, bayangan Ranti yang kini hidup mewah, makin cantik dengan gaya hidup kelas atas, dan dipuja publik sebagai CEO sukses mendadak melintas seperti racun yang menyiksa jiwanya.
Sony menatap Raya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dulu, ia membayangkan Raya adalah wanita penurut yang akan memberinya kebahagiaan sempurna. Namun kini, yang berdiri di depannya hanyalah wanita penuntut yang menambah beban kepalanya di tengah ancaman hukuman penjara yang mengintai.
Pernikahan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan dan dengki itu mulai menampakkan wujud aslinya: sebuah penjara baru yang dipenuhi oleh pertengkaran, penyesalan, dan kemiskinan batin.
Malam Hari – Kafe Berinterior Kayu, Kawasan Senopati
Udah malam Jakarta terasa sejuk dan menenangkan. Di sudut meja dekat kolam ikan sebuah kafe privat di Senopati, Ranti duduk berhadapan dengan Farhan.
Di atas meja, tersaji dua cangkir hot latte dan sepiring apple pie hangat. Farhan mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu terang tanpa jas. Pria itu memperhatikan Ranti yang sedang mengaduk minumannya dengan pandangan mata yang sangat lembut dan peka.
Farhan sudah mendengar kabar tentang pernikahan siri Sony dan Raya dari laporan media hiburan siang tadi. Pria itu sengaja mengosongkan jadwal malamnya untuk menemani Ranti.
"Ranti..." panggil Farhan pelan, suaranya seperti usapan hangat di tengah dinginnya malam.
Ranti mendongak, menyunggingkan senyum tulusnya. "Iya, Farhan?"
Farhan menautkan jemarinya di atas meja, menatap Ranti di balik kacamata tipisnya dengan pendar cinta yang jujur.
"Kamu tidak perlu berpura-pura kuat di depanku," tutur Farhan dengan nada yang teramat halus. "Aku tahu berita pernikahan mereka hari ini pasti mengusik kembali memori pahitmu. Jika kamu merasa sedih, kecewa, atau ingin meluapkan amarah... luapkan saja, Ran. Jangan kamu tanggung sendirian."
Ranti tertegun. Kalimat Farhan yang begitu memahami kedalaman jiwanya membuat dada Ranti mendadak membuncah hangat. Rasa aman yang melingkupinya membuat Ranti tidak perlu lagi memakai topeng "wanita baja" di depan pria ini.
Ranti meletakkan sendok kecilnya, menghembuskan napas panjang yang teratur.
"Jujur, Farhan..." buka Ranti dengan suara pelan yang jujur. "Tadi pagi waktu pertama kali lihat fotonya... ada rasa sesak yang sempat mampir. Bukan karena aku masih mencintai Sony, bukan sama sekali."
Farhan mendengarkan dengan penuh kesabaran tanpa menyela satu kata pun.
"Rasa sesak itu hadir karena aku teringat betapa bodohnya aku dulu," lanjut Ranti, matanya berbinar basah oleh keharuan. "Aku dulu begitu menyayangi Raya seperti adikku sendiri. Aku membantunya, memberinya kepercayaan, tapi dia membalasnya dengan merusak rumah tanggaku. Melihat mereka akhirnya menikah... seolah mengingatkanku pada masa-masa di mana aku pernah berada di titik terendah dan paling tidak berharga."
Farhan memajukan tubuhnya, meraih jemari Ranti yang berada di atas meja dan menggenggamnya dengan hangat dan kokoh.
"Dengarkan aku, Ranti," ucap Farhan dengan intonasi bariton yang begitu dalam dan penuh penekanan jiwa. "Kamu tidak pernah tidak berharga. Pengkhianatan mereka bukan karena kamu punya kekurangan, melainkan karena mereka berdua tidak memiliki kapasitas moral untuk menghargai wanita semulia kamu."
Genggaman tangan Farhan memberikan getaran kekuatan yang menjangkau relung batin Ranti yang paling dalam.
"Proses menyembuhkan luka itu butuh waktu, Ranti," lanjut Farhan lembut seraya menatap mata Ranti tanpa kedip. "Jangan pernah membenci dirimu jika sesekali rasa sakit itu datang menyapa. Itu artinya kamu adalah manusia utuh yang punya hati. Dan kamu tidak perlu terburu-buru untuk melupakan segalanya... karena di setiap langkah proses pulihmu, aku akan selalu ada di sampingmu."
Ranti menatap Farhan. Di dalam keheningan malam itu, di antara pendar lampu kafe yang hangat dan genggaman tangan pria sejati di hadapannya, Ranti merobek sisa-sisa benung ketakutan di hatinya.
Raya dan Sony boleh saja bersatu dalam pernikahan mereka yang suram dan penuh kebohongan. Namun Ranti Anindita telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah proses penyembuhan diri yang jujur, keberanian untuk menerima lukanya sendiri, serta kehadiran seorang Farhan Arisya—pria yang tak pernah lelah menjadi perlindungan dan cinta sejati dalam hidupnya.
Ranti mengulas senyuman paling indah dan tulus dari bibirnya, membalas genggaman tangan Farhan dengan hangat.
"Terima kasih, Farhan..." bisik Ranti lembut. "Terima kasih sudah membantuku untuk pulih kembali."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tenang, embun di ujung daun perlahan menetes, menyegarkan tanah yang baru. Luka masa lalu Ranti tak lagi menjadi beban yang menyiksa, melainkan telah bertransformasi menjadi bukti kebangkitan seorang wanita yang kini siap mekar sempurna menyongsong masa depan yang dipenuhi kejayaan dan cinta yang abadi.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.