Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Keesokan paginya, suasana markas terasa hangat dan menenangkan.
Sinar matahari pagi menembus jendela dapur, membiaskan cahaya lembut saat Musa dan Laila menikmati sarapan pagi sederhana yang disiapkan bersama.
Tidak ada kemewahan berlebih, hanya kebersamaan hangat yang membalut hari baru mereka.
Sebelum bersiap-siap berangkat, Laila meminta Musa duduk di tepi ranjang.
Dengan telaten, jemari lembut sang dokter membuka kancing kemeja suaminya untuk memeriksa kondisi bekas luka tembak di dada kiri Musa.
"Lukanya sudah semakin mengering dan bagus sekali posisinya, Musa. Tidak ada tanda-tanda infeksi," ucap Laila lembut sembari mengoleskan salep tipis dan mengganti perban lamanya dengan balutan kain kasa yang baru.
Musa menatap wajah teliti istrinya dengan pendar rasa syukur yang tak terhingga.
Ia menggenggam jemari Laila yang sedang merapikan piyamanya.
"Terima kasih banyak ya, Dokter Pribadiku. Berkat perawatanmu, aku merasa sangat fit hari ini."
Setelah selesai, keduanya pun bersiap-siap. Musa mengenakan baju koko elegan berwarna gelap, sementara Laila tampak anggun dengan busana muslimah yang terkoordinasi rapi beserta cadarnya.
Tujuan utama mereka pagi ini adalah berkunjung ke rumah Kyai Adi untuk menyampaikan undangan resmi acara pembukaan klinik gratis esok hari.
Sesampainya di kediaman Kyai Adi, ketukan pintu dari Musa dan Laila disambut langsung oleh Umi Mina.
Begitu pintu terbuka dan melihat sosok putri angkat serta menantunya berdiri dalam keadaan sehat dan harmonis, Umi Mina tak sanggup menahan rasa harunya.
"Astagfirullah. Laila, Musa." bisik Umi Mina dengan suara bergetar, langsung merengkuh tubuh Laila ke dalam pelukan hangat seorang ibu.
Kyai Adi yang mendengar suara di depan segera melangkah keluar dari ruang tengah.
Wajah tegasnya melunak seketika, dipenuhi rasa haru dan takzim melihat kedatangan Musa dan Laila.
"Mari, Nak, masuk," panggil Kyai Adi penuh kehangatan, mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.
Suasana di ruang tamu terasa begitu hangat sekaligus penuh rasa syukur.
Laila kemudian mengeluarkan sebuah amplop undangan elegan berwarna putih bersih dari tasnya dan menyerahkannya secara hormat kepada Kyai Adi.
"Abah, Umi, ini undangan resmi untuk acara pembukaan klinik gratis kami besok pagi. Kami sangat berharap Abah dan Umi berkenan hadir mendampingi kami," tutur Laila dengan tulus.
Kyai Adi menerima undangan itu dengan kedua tangannya yang gemetar pelan.
Matanya berkaca-kaca membaca nama klinik dan niat mulia di baliknya.
Beliau menepuk pundak tegap Musa dengan rasa bangga yang luar biasa.
"Alhamdulillah. Abah sangat bangga pada kalian berdua. Niat kalian mulia sekali, Nak. Insya Allah Abah dan Umi pasti hadir esok hari untuk mendoakan keselamatan dan keberkahan klinik kalian," tegas Kyai Adi penuh haru.
Namun, di balik suasana hangat dan haru yang memenuhi ruang tamu itu, ada sorot aura dingin dan pekat yang bersembunyi di sudut lain kediaman tersebut.
Di balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Musdalifah berdiri mematung.
Cengkraman tangannya pada gagang pintu terasa amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya menyalang penuh kebencian, iri hati, dan rasa cemburu yang membakar saat melihat Laila tersenyum bahagia di samping Musa, disambut penuh rasa bangga oleh kedua orang tuanya.
"Tertawalah sepuas kalian hari ini." desis Musdalifah sangat lirih dengan senyum miring beracun di bibirnya yang pucat.
"Karena besok di acara pembukaan klinik itu, aku akan memastikan senyuman kalian berganti dengan kehancuran yang tak akan pernah bisa kalian perbaiki."
Pintu kamar Musdalifah berdecit pelan saat terdorong terbuka.
Langkah kakinya melenggang keluar menuju ruang tamu.
Dalam sekejap mata, raut wajahnya yang tadinya memancarkan aura dendam mendadak berubah drastis—ia memasang wajah manis, teduh, dan penuh rasa penyesalan, seolah-olah telah bertobat sepenuhnya di hadapan Kyai Adi dan Umi Mina.
"Laila, Musa." sapa Musdalifah dengan suara lembut dan sedikit serak yang sengaja ia atur.
Kyai Adi dan Umi Mina menoleh terkejut, namun raut wajah mereka berdua perlahan melunak melihat kedatangan putrinya yang tampak jauh lebih tenang.
Musdalifah melangkah mendekat, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Laila.
"Selamat ya atas pembukaan klinik gratisnya... Aku benar-benar bangga pada kalian berdua. Maafkan semua kesalahanku di masa lalu. Besok, izinkan aku ikut hadir dan membantu persiapan di sana, ya?"
Laila menatap Musdalifah dengan pendar mata yang hangat.
Tanpa ada sedikit pun rasa curiga atau prasangka buruk di hatinya, Laila tersenyum tulus dari balik cadarnya.
"Terima kasih banyak, Mbak Musdalifah. Tentu saja, kehadiran Mbak Musdalifah sangat berarti untuk kami."
Berbeda dengan Laila yang menyambutnya dengan kelapangan dada, Musa justru menegakkan posisinya.
Sorot mata Musa menajam dingin, menatap gerak-gerik Musdalifah dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Naluri pelindungnya teruji—ia tahu persis bagaimana watak Musdalifah.
Musa secara refleks menggeser duduknya sedikit lebih rapat menyamping di dekat Laila, menjaga jarak yang sangat tegas dan enggan membalas tatapan manis buatan Musdalifah.
"Terima kasih atas doanya. Besok acara dimulai sejak pagi," sahut Musa singkat dan datar, tanpa senyuman sedikit pun.
Melihat respons dingin dari Musa, Musdalifah hanya mengangguk pelan sembari mempertahankan wajah "penyesalannya", padahal di dalam dadanya kebencian itu justru kian membara secara destruktif.
Setelah berbincang sejenak dan memastikan undangan telah diterima dengan baik, Musa dan Laila berpamitan kepada Kyai Adi dan Umi Mina.
Mereka melangkah keluar menuju mobil untuk melanjutkan persiapan teknis pemasangan tenda dan koordinasi tim medis di ruko.
Begitu deru mesin mobil Musa terdengar menjauh dari halaman rumah, topeng kebaikan Musdalifah seketika tanggal.
Musdalifah kembali melangkah menuju kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.
Suasana kamar berubah menjadi gelap dan dingin saat ia menarik tirai jendela.
Di dalam keheningan yang mencekat, Musdalifah mematung di tengah ruangan, menganalisis situasi besok dengan pikiran yang dipenuhi intrik dan tipu daya.
"Hari esok, adalah kesempatan emas bagiku," desis Musdalifah dengan suara sangat lirih, mengulas senyum miring beracun.
Ia menyadari betul bahwa pada hari pembukaan klinik besok, fokus Laila akan terpecah sepenuhnya.
Laila akan sangat sibuk menangani para pasien lansia, balita, serta menyambut para tamu undangan dan rekan dokter dari rumah sakit.
Sesampainya di ruko, suasana sibuk namun hangat langsung menyambut Musa dan Laila.
Di halaman depan dan ruang utama, terlihat persiapan sudah berjalan hampir matang.
Kyai Adam tampak begitu bersemangat turun tangan langsung membantu para pekerja menyusun kursi dan merapikan area pendaftaran.
Di sudut ruangan yang lebih tenang, Umi Sinta duduk dengan tekun sambil menyusun dus-dus makanan ringan dan minuman yang disiapkan untuk para tamu undangan serta warga yang akan berobat esok hari.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan ruko.
Dokter Hadi—salah satu dokter senior sekaligus rekan sejawat Laila dari rumah sakit—turun membawa beberapa dus besar berisi bantuan suplai obat-obatan, vitamin, serta peralatan medis esensial untuk mendukung acara bakti sosial tersebut.
"Dokter Hadi! Masya Allah, terima kasih banyak sudah menyempatkan datang," sapa Laila antusias sembari menyambut kedatangan seniornya itu.
Dokter Hadi tersenyum hangat sembari menyerahkan dus-dus obat kepada tim di lokasi.
"Sama-sama, Dokter Laila. Ini bentuk dukungan kami dari rumah sakit untuk niat mulia Anda dan suami. Semoga acara besok berjalan lancar, penuh keberkahan, dan membawa manfaat besar bagi warga sekitar."
"Aamiin ya Rabbal 'alaamin. Terima kasih banyak, Dokter," balas Laila tulus.
Melihat Dokter Hadi yang tampak lelah setelah menembus perjalanan, Kyai Adam menepuk pundak Musa yang berdiri di dekatnya.
"Musa, tolong ambilkan minuman hangat untuk Dokter Hadi yang baru datang."
"Baik, Abah," sahut Musa sigap. Pria itu melangkah ke bagian belakang ruko untuk menyiapkan teh hangat bagi sang tamu, sembari tetap menjaga pandangan mata dan kewaspadaannya menjelang hari esok yang kian dekat.
Musa melangkah ke dapur mini di bagian belakang ruko.
Ia menyeduh segelas teh hangat dengan cermat, lalu membawanya kembali ke ruang depan tempat Dokter Hadi dan Kyai Adam sedang berbincang hangat mengenai ketersediaan stok obat untuk para lansia besok.
"Silakan diminum dulu, Dokter Hadi," tutur Musa penuh kesopanan sembari menyajikan cangkir teh hangat tersebut di atas meja.
"Terima kasih banyak, Mas Musa. Sungguh luar biasa persiapan kalian," puji Dokter Hadi sembari menyambut cangkir itu dengan senyuman ramah.
Sementara itu, Laila bersama Umi Sinta terus merapikan berkas administrasi dan memilah jenis-jenis obat bantuan dari Dokter Hadi agar esok pagi saat pelayanan dibuka, seluruh alur pemeriksaan dapat berjalan cepat dan sistematis.
Senyum bahagia tak pernah lepas dari balik cadar Laila—impian besarnya untuk menebar manfaat bagi sesama kini tinggal menghitung jam.
Di luar ruko, Yusuf bersama beberapa pemuda setempat sibuk menyelesaikan pemasangan spanduk besar bertuliskan: "PERESMIAN & BAKTI SOSIAL PENGOBATAN GRATIS KLINIK BERSAMA".
Tenda peneduh di halaman juga sudah berdiri kokoh, siap menampung antrean warga dari kalangan balita hingga lansia.
Hari pun merambat makin malam. Setelah memastikan seluruh persiapan teknis di ruko beres seratus persen, rombongan kecil itu berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing untuk mengumpulkan tenaga menghadapi hari besar esok.
makasih buat cerita ny yx kak ,,
semoga ,,
lanjuuut kak ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁