Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — SAJEN DARAH DAN PELEPASAN GAIB
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat menembus kegelapan hutan rimba.
Angin malam Jumat Kliwon berembus sangat kencang, menggoyangkan pelepah pohon jati tua.
Kurungan bambu berisi ayam cemani hitam di tangan kiriku terasa dingin bagaikan bongkahan es.
Ayam hitam itu membisu kaku di dalam kurungan, seolah tahu takdir kematian yang menantinya.
“Aku harus menyelamatkan Dedek malam ini,” bisikku pelan menguatkan tekad dada.
“Aku tidak boleh sampai gagal menumpahkan darah sajen ayam cemani ini!” lanjutku berdesis.
“Tolong berikan hamba kekuatan, keberanian, dan perlindungan ya Allah buat melewati ujian gaib malam ini!” mohonku gemetar.
Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap.
Setiap kali jariku menyentuh pisau dapur di saku kemeja, dadaku berdegup kencang.
Srik!
Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Bayangan hitam tinggi besar melintas cepat di antara batang-batang pohon pisang liar.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk mendadak menyengat pekat di udara.
“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada suara bergetar hebat.
“Apakah ada penjaga gaib yang sengaja mengawasi langkahku?” tanyaku memegang erat kurungan bambu.
“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang manusia biasa!” seruku berusaha memberanikan diri.
Tidak ada suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi tersebut.
Namun helaan napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.
Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping telinga.
“Surya... bawa darah segar itu ke batu nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.
“Anakmu di rumah sudah menunggu tumpahan darah ayam cemani itu...” tambah suara mendesis dingin.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es.
Aku mengingat pesan Ujang untuk tidak pernah menoleh ke belakang.
“Ingat kata Ujang, jangan pernah menoleh ke belakang!” bisikku mengingatkan diri sendiri.
“Fokuskan pikiran cuma ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan hati.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari sekuat tenaga menaiki tanjakan.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak keras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon tua yang melilit.
Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.
Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.
Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Jumat Kliwon yang paling sakral dan mengerikan.
Aku melangkah mendekati batu nisan tua di ujung gundukan tanah makam dengan tubuh gemetar.
Lututku bergetar hebat saat aku berlutut di atas tanah basah yang dingin berembun.
“Permisi, Mbah... saya Surya dari desa sebelah datang membawa sajen darah Jumat Kliwon,” bisikku gemetar.
“Saya datang buat menepati janji keselamatan anak saya, Dedek,” tambahku dengan suara serak.
“Saya mohon dengan sangat, jangan pernah menyakiti anak dan istri saya lagi di rumah, Mbah!” pintaku memohon ampun.
Grombol!
Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang hebat.
Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.
Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.
Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.
Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.
Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.
“Surya... kamu datang membawa darah segar yang kuresapkan...” gemuruh suara gaib mengguncang bukit.
“Apakah kamu benar-benar membawa ekor ayam cemani hitam mulus tanpa cacat malam ini?” tanyanya bergemuruh menagih.
Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.
“Saya datang membawa seekor ayam cemani hitam mulus tanpa cacat sesuai dengan perintah, Mbah,” sahutku bergetar hebat.
“Ayam cemani hitam ini saya dapatkan langsung dari Pak Kasan sesuai petunjuk,” tambahku menjelaskan.
“Keluarkan ayam itu dan potong lehernya di atas nisanku sekarang!” perintah mahluk raksasa itu.
“Tumpahkan seluruh darah segarnya sampai membasahi permukaan batu nisanku sekarang juga!” seru suara gaib bergemuruh.
Dengan jemari gemetar hebat, aku membuka selot bambu kurungan ayam di depanku.
Aku mengeluarkan ayam cemani hitam mulus itu dari dalam kurungan dengan kedua tanganku.
Ayam hitam itu tetap membisu kaku, tidak mengepakkan sayap atau mengeluarkan suara sedikit pun.
Aku merogoh pisau dapur berbilah tajam dari dalam saku kemeja dengan tangan kanan.
“Pegang kepala ayam itu dan tumpahkan darahnya tepat di atas batu nisan!” gertak suara gaib.
“Jangan ragu menyembelih lehernya kalau kamu masih sayang pada nyawa anakmu!” ancamnya.
Aku meletakkan leher ayam cemani hitam itu tepat di atas permukaan batu nisan tua yang dingin.
Sret!
Bilah pisau dapur tajam kugoreskan keras menembus urat leher ayam cemani hitam tersebut.
Darah segar berwarna merah gelap memancar keras menyembur membasahi permukaan batu nisan tua.
Aroma wangi amis darah menyengat pekat membumbung tinggi bercampur dengan asap hitam makam.
Ayam hitam itu berguncang kejang sebentar di atas nisan sebelum akhirnya terkulai mati kaku.
Darah merah segar mengalir deras membungkus batu nisan, meresap masuk ke dalam celah tanah.
“Sajen darah ayam ini juga merupakan bagian dari cicilan raga Pak Kasan, Mbah!” jeritku teringat janji.
“Pak Kasan menyuruh saya menyebutkan namanya buat melengkapi sajen darah ini!” tambahku jujur.
“Pak Kasan memohon dengan sangat agar raganya tidak lagi disiksa di malam Jumat Kliwon ini!” seruku memperjelas.
Begitu nama Pak Kasan terucap dari mulutku, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.
Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.
“Kasan... penakut tua yang menumbalkan namamu...” kekeh mahluk raksasa itu dengan tawa serak.
“Tapi darah segar ayam cemani ini sangat nikmat meresap ke dalam tanah rumahku!” serunya puas.
“Darah manis dari ayam cemani ini membakar dahagaku yang sudah menanti sejak malam Selasa Kliwon lalu!” tambahnya.
Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas batu nisan yang berlumur darah.
Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap lelehan darah segar dari permukaan batu nisan.
Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin meredup saat darah ayam itu habis terserap tanah.
“Sajen darah Jumat Kliwon sudah kuterima utuh, Surya!” gemuruh suara gaib bergema di kepalaku.
“Bisa gaib di leher anakmu sudah kutarik kembali ke dalam tanah malam ini!” tegas mahluk itu.
“Anakmu sekarang sudah lepas dari cengkeraman rasa sakit demam tinggi!” lanjutnya memberitahu.
Jantungku melonjak keharuan luar biasa mendengar penarikan bisa gaib dari leher anak kandungku.
“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas keselamatan anak saya!” jeritku menangis lega.
“Saya bersujud syukur yang sebesar-besarnya karena anak saya bisa sembuh kembali malam ini!” tambahku terisak.
“Ingat baik-baik, ikatan perjanjian modal gaib ini tetap berlaku seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.
“Setiap Selasa Kliwon kamu wajib datang membersihkan makamku tanpa boleh terlambat!” tegasnya.
“Bawalah selalu sapu lidi baru dan tiga kuntum bunga kantil segar setiap kali kamu datang melangkah ke sini!” lanjutnya.
“Kalau kamu alpa... nyawa anakmu akan ditarik permanen tanpa ada ampunan lagi!” gertaknya keras.
“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku bersumpah.
“Saya akan rajin membersihkan batu nisanmu setiap Selasa Kliwon tepat tengah malam!” janjiku.
“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.
“Pergilah sekarang menemui anak dan seluruh anggota keluargamu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.
Aku menyambar bangkai ayam cemani dan pisau dapur, lalu berbalik berlari sekuat tenaga.
Aku berlari menuruni bukit tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun jua di sepanjang jalan.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.
Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.
Aku meletakkan pisau dapur bernoda darah dan bangkai ayam hitam di atas meja kayu dapur.
Dengan langkah kaki yang gemetar lemas, aku berjalan masuk ke dalam kamar tidur anakku.
Ningsih masih duduk berlutut di samping ranjang bambu sambil memeluk tubuh Dedek yang terlelap.
“Mas... bagaimana ritualmu di makam keramat itu?” tanya Ningsih berbisik dengan mata sembap.
“Apakah kamu berhasil menyembelih ayam cemani hitam itu di atas nisan?” tanya Ningsih tegang.
“Sajen darah ayam cemani sudah kuberikan ke atas batu nisan penunggu makam, Ningsih,” jawabku pelan.
“Penunggu makam sudah berjanji menarik kembali semua bisa gaib dari tubuh Dedek malam ini,” tambahku.
“Beliau bilang Dedek sudah bebas dari cengkeraman rasa sakit demam tinggi,” tuturku menghibur.
Ningsih bergegas melepaskan kain selendang yang melilit di leher halus anak kami.
Di bawah pendar redup lampu minyak tanah, pemandangan keajaiban mendadak terlihat jelas.
Bekas memar lima jari hitam raksasa di leher Dedek perlahan-lahan memudar memutih hilang.
Kulit leher Dedek yang semula membeku dingin kini kembali hangat dan berwarna kemerahan normal.
Suhu badan Dedek yang semula membara panas mendadak turun menjadi hangat biasa.
“Mas... lihat leher Dedek! Memar hitamnya sudah hilang bersih!” jerit Ningsih menangis bahagia.
“Bekas cengkeraman hitam raksasa itu benar-benar sudah lenyap tanpa bekas!” lanjutnya terharu.
“Alhamdulillah ya Allah... anak kita selamat, Mas!” seru Ningsih memeluk erat tubuhku.
“Terima kasih ya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menyembuhkan anak kami tercinta!” jerit Ningsih bersyukur.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan kelegaan yang amat sangat.
Dedek perlahan membuka kedua matanya yang bulat, menatap wajah kami berdua dengan polos.
Warna matanya telah kembali hitam jernih biasa, tanpa ada pendar hitam pekat gaib lagi.
“Ibu... Bapak... Dedek haus sekali kepingin minum air putih,” bisik Dedek dengan suara lembut.
“Tenggorokan Dedek rasanya kering sekali seperti habis berlari jauh,” tambah Dedek pelan.
“Iya, sayang, Ibu ambilkan air minum hangat sekarang juga buat Dedek!” sahut Ningsih gembira.
“Tunggu sebentar ya, Nak, Ibu ambilkan juga biskut manis di dapur!” tambah Ningsih berseri-seri.
Ningsih bergegas berlari ke dapur mengambil segelas air hangat dan beberapa keping biskut.
Dedek meminum air hangat itu dengan lahap, lalu tersenum manis memandangi wajahku.
“Leher Dedek sudah tidak sakit lagi, Pak,” kata Dedek mengusap lehernya yang bersih.
“Paman tinggi hitam yang berdiri di luar jendela tadi juga sudah pergi jauh,” cerita Dedek.
“Paman tinggi itu bilang terima kasih banyak karena Bapak sudah kasih makan ayam hitam di makam,” tambah Dedek polos.
Jantungku mendadak berhenti berdetak sejenak mendengarkan kepolosan ucapan dari anakku sendiri.
Rupanya sosok gaib itu benar-benar sempat singgah memantau kondisi rumah kami sebelum ritual.
“Sama-sama, sayang, sekarang Dedek tidur lagi ya biar besok bisa sekolah,” bujukku pelan.
“Besok pagi Bapak antar Dedek berangkat sekolah naik sepeda motor tua,” janjiku menghibur.
“Asyik! Besok Dedek bisa ikut ujian sekolah sama teman-teman!” seru Dedek gembira.
Dedek mengangguk pelan, lalu kembali memejamkan matanya tertidur pulas dengan tenang.
Ningsih mengusap air matanya, berpaling menatapku dengan pandangan mata yang penuh haru.
“Terima kasih banyak ya, Mas, kamu sudah mau berjuang menyelamatkan nyawa anak kita,” bisik Ningsih.
“Aku tahu betul perjuanganmu menembus hutan malam tadi sangat berat, sangat dingin, dan menakutkan,” lanjutnya.
“Tapi tolong janji padaku, Mas, jangan pernah berhubungan dengan mahluk gaib itu lagi,” pintanya.
“Kita bakar semua sisa uang pesugihan itu biar hidup kita tenang kembali,” bujuk Ningsih.
Aku menganggukkan kepala kaku, walau di dalam benakku terbayang ancaman perjanjian seumur hidup.
“Iya, Ningsih, besok pagi kita atur kembali semuanya demi kebaikan dan kedamaian keluarga kita,” jawabku berbohong.
Perjanjian gaib dengan penunggu Makam Keramat Panjang tidak akan pernah bisa diputus begitu saja.
Aku berjalan keluar kamar menuju dapur buat membersihkan bercak darah di telapak tanganku.
Di bawah kucuran air sumur, aku mengusap bercak darah ayam cemani yang mengering di jemari.
Namun betapa terkejutnya aku saat melihat noda hitam di bawah kuku ibu jari tangan kananku.
Noda hitam di bawah kuku itu berbentuk menyerupai gambar batu nisan Makam Keramat Panjang.
Aroma wangi bunga kantil busuk mendadak tercium lagi dari sela-sela jariku yang basah.
Ancaman perjanjian gaib itu kini telah terpatri abadi di dalam raga dan darah keturunanku.
Utang nyawa malam Jumat Kliwon memang telah terbayar lunas dengan darah ayam cemani.
Tetapi kewajiban ritual Selasa Kliwon akan terus menungguku di puncak bukit Makam Keramat Panjang.
---